"Benarkah besok kamu akan bertunangan?" tanya Papa Ardian. "Dari mana Papa tau?" Papa Ardian tersenyum. "Jaxton yang telepon, Papa." "Ngah ... benarkah? Jadi bagaimana Pa?" tanya Anas ke Papa Ardian. "Ya ... Papa setuju. Kenapa kamu ragu Nak?" "Tidak Pa. Anas tidak ragu. Anas sudah yakin dengan Jaxton," kata Anas dengan tegas. Papa Ardian kembali tersenyum. "Papa senang dengan pendirianmu, Nak. Semoga, kebahagiaan Anas ada di tanganmu, Nak." Anas tersenyum senang. Kakinya berdiri dan mendekati sang Papa. "Terima kasih ya Pa." Anas merangkul pundak Papa Ardian. "Sudah-sudah ... naiklah ke kamarmu. Anas harus beristirahat. Besok, Jaxton yang akan menjemput kita." "Baiklah Pa. Selamat malam. Papa juga tidurlah," kata Anas. "Iya ... Anas duluan. Papa sebentar lagi akan menyusul,

