Beberapa Bulan Kemudian. Matahari terbit dari ufuk timur. Cahayanya menelisik masuk melewati celah dari jendela kamar. Sengatan cahayanya, menerpa area wajah Anas, ketika matanya masih terpejam sangat lelap. Tiba-tiba, ia mengerjap. Merasa ada gangguan dari panas sinar, menempel pada kulit wajah. Ia bergerak, mencoba menyelaraskan pandangannya. Tangannya yang terlentang, tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang hilang. Ya, Jaxton tidak ada di atas ranjang. Dengan perlahan, Anas membawa tubuhnya. Mengusap kedua matanya, sebelum ia menjejakkan kedua kakinya. "Kau sudah bangun?" Jaxton muncul dari balik pintu kamar mandi. "Jax. Aku pikir kau sudah berangkat bekerja," ucap Anas. Jaxton datang menghampiri Anas. Masih mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya, tubuh tegap Jaxton yang masi

