Part 10
Rina melajukan motornya keluar dari rumah mertuanya, dan di saat itu lah air matanya tumpah di wajahnya. Padahal ia sudah biasa seperti ini, direndahkan dan bahkan tidak pernah dianggap ada oleh mertua perempuannya, namun tetap saja Rina tidak bisa menahan rasa sesak hatinya acap kali diperlakukan buruk di sana.
Rina yang saat ini masih harus menyetir motornya, berusaha menghapus air mata di pipinya, tentu saja karena ia tidak ingin dilihat orang-orang yang berpapasan dengannya. Meskipun yang terjadi justru sebaliknya, Rina justru terus menangis tanpa henti, di dalam hati ia juga bertanya-tanya sampai kapan penderitaannya ini berhenti.
Suaminya sudah sangat buruk memperlakukannya, begitupun dengan mertua perempuannya, lalu alasan apalagi yang membuat Rina harus bertahan? Balas Budi? Rasanya cukup menyesakkan bila cuma itu alasan ia mau direndahkan. Sedangkan di luar kota, bundanya begitu merindukannya dan berharap ia datang menemuinya, namun Rina tidak bisa melakukannya karena Ali tidak pernah mau mengizinkannya.
Sebagai seorang anak, tentu saja Rina sangat merindukan bundanya, sedangkan ia hanya datang satu kali dalam satu tahun di saat lebaran. Itupun tidak bisa dikatakan lama karena Rina harus kembali ke rumah suaminya setelah hari ke lima.
Apa saat Rina datang ke rumah bundanya, Ali ikut ke sana? Tentu saja jawabannya tidak, karena Rina hanya datang sendirian tanpa suaminya ataupun Rian, putranya itu bahkan tidak diperbolehkan ikut karena mertuanya ingin cucunya berada di acara lebaran di rumahnya.
Rina yang datang sendirian setiap tahunnya tentu saja ditanya oleh bundanya, di tahun pertama Rina masih bisa membohongi bundanya dengan alasan bila suaminya sibuk bersama keluarganya. Namun di tahun-tahun berikutnya, bundanya tidak pernah percaya dengan apa yang Rina katakan, sampai pada akhirnya Rina mengatakan yang sebenarnya kenapa suami dan putranya tidak pernah pulang bersamanya.
Di tahun ke tiga Rina mengatakan yang sebenarnya, tentang semua perlakuan suami dan mertuanya. Bundanya yang memang tidak tahu apa-apa, tentu saja kaget pada saat itu dan bahkan langsung menangis mendengarnya, karena baru tahu bila rumah tangga putrinya tak seindah apa yang dibayangkannya.
Setelah mengatakan semuanya, Rina meminta pada bundanya untuk tetap diam dan jangan bersikap menuntut pada mereka, karena mau bagaimana pun ia dan bundanya bisa hidup sampai sekarang juga karena mereka. Awalnya bundanya menolak dengan alasan bila Rina juga berhak dibahagiakan, namun Rina menggeleng pelan karena ia sadar dirinya bukan siapa-siapa di sana.
Rina sudah tahu sejak awal bila suaminya itu tidak mencintainya, sangat tidak tahu malu bila ia meminta perlakuan manis darinya. Sebagai seorang ibu, tentu saja bundanya Rina tidak setuju. Hanya karena tidak mencintainya, bukan berarti dia berhak menganiayanya.
Ya, kalimat itu begitu menusuk hati dan pikiran Rina pada saat itu terutama saat menatap mata bundanya yang begitu sangat kecewa, belum lagi kerinduannya akan cucunya juga cukup berat untuk dia sanggah. Selain seorang ibu, bundanya juga seorang nenek, tentu saja dia sangat merindukan putra dari anaknya tersebut. Namun dia tidak bisa menemuinya terlebih lagi menggendongnya, karena Rina sendiri tidak pernah membawanya pulang untuk menemuinya, hanya telepon suara dan video call yang bisa mereka lakukan setiap malamnya.
Selama ini Rina hanya bisa menahan kerinduannya akan banyak hal, terutama keinginannya untuk bertemu dengan bundanya. Namun jauh di dalam hatinya, ia juga rindu dan ingin merasakan dirinya menjadi seseorang yang disayang orang-orang terdekatnya, seperti suaminya dan juga mertuanya.
Rina seorang perempuan, wajar bila ia juga ingin merasakan bagaimana mendapatkan kasih sayang dari seorang laki-laki. Karena sejak kecil pun ia sudah ditinggal mati ayahnya, ia tak sempat merasakan kasih sayangnya lebih lama. Meskipun papa dari Ali sudah dianggapnya ayah sendiri, yang selalu membiayainya dan bahkan menjadi walinya, namun tetap saja Rina merasa itu sesuatu hal yang berbeda.
Entah apa yang Rina pikirkan sekarang, namun satu hal yang pasti hatinya tengah merasa banyak kerinduan yang ingin ia tuntaskan. Mulai dari ayah, bunda, dan juga menjadi seorang wanita yang dicintai lelakinya.
Memikirkan seorang lelaki, tiba-tiba Rina mengingat tingkah laku Ali, seperti biasa suaminya itu sudah berangkat kerja tadi pagi. Namun entah kenapa kecurigaan Rina semakin diperkuat kali ini, tentang hari libur suaminya di hari Sabtu. Dan entah bagaimana Rina berpikir untuk membuktikannya sendiri, apa benar bila perusahaan suaminya itu masih menyuruh karyawannya bekerja meskipun di akhir pekan.
Kalau dulu mungkin Rina tidak terlalu memikirkannya meskipun hatinya merasa curiga, namun perselingkuhan suaminya yang baru diketahuinya membuat Rina merasa ada yang salah. Terlebih lagi suaminya itu masih melakukannya hal yang sama, meskipun lelaki itu sempat berjanji akan meninggalkan selingkuhannya.
Sebenarnya Rina hanya ingin tahu apa yang dikatakan Ali itu apa benar atau tidak, karena ia yakin banyak yang suaminya sembunyikan darinya. Karena itu lah Rina memutuskan untuk melewati perusahaan, tempat di mana Ali bekerja.
Sesampainya di sana dan dengan motor maticnya, Rina masuk ke dalam kantor tujuannya. Namun saat memasuki halamannya, kantor itu justru sepi dan hanya dijaga oleh para satpam. Rina sempat merasa heran meski pada akhirnya ia menghentikan motornya lalu membuka helm-nya. Dengan wajah keheranan, Rina memperbaiki tatanan hijabnya sembari menatap sekelilingnya.
"Selama siang, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" Seorang satpam datang menemuinya dan Rina langsung menganggukinya.
"Iya, Pak. Saya cuma mau tanya, apa perusahaan ini masih beroperasi?"
"Tentu saja, Bu. Perusahaan ini bahkan masuk ke dalam dua puluh besar perusahaan paling sukses di Indonesia, jadi bagaimana mungkin tidak beroperasi?"
"Saya tahu itu kok, Pak." Rina mengangguk lirih, merasa bodoh saja dengan pertanyaan sendiri.
"Lalu kenapa Anda masih bertanya kalau sudah tahu?"
"Saya cuma memastikannya. Karena saya bingung, kenapa kantor ini sepi sekarang?"
"Karena hari Sabtu kantor libur, Bu."
"Apa? Libur?" tanya Rina terdengar kaget, yang tentu saja mendapatkan tatapan heran dari si satpam.
"Tentu, Bu. Memangnya kenapa ya? Apa ada masalah?"
"Enggak kok, Pak. Saya pikir meskipun hari Sabtu, kantor ini tetap buka." Rina menjawab dengan nada canggungnya, yang tentu saja mendapatkan tatapan heran dari si satpam.
"Hari Sabtu kantor ini memang tetap buka, karena sebentar lagi pemiliknya akan datang untuk memeriksa beberapa hal. Kalau yang Ibu maksud karyawannya juga masuk, itu biasanya di hari Senin sampai Jum'at."
"Iya, Pak. Saya mengerti kok. Maaf sudah mengganggu, kalau begitu saya permisi dulu." Rina yang merasa tak enak hati, menaiki motornya namun aktivitasnya itu terhenti saat melihat sebuah mobil mewah memasuki halaman kantor.
Sebagai orang asing di sana, tentu saja ia sadar diri dan langsung menyalakan motornya untuk segera pergi dari sana. Namun Rina tidak akan sadar, bila ia tengah diperhatikan seseorang yang sedang berada di dalam mobil tersebut.
Lelaki bertubuh tinggi itu menatap Rina yang pergi dengan motornya, tatapan matanya tampak heran saat melihatnya. Dengan perasaan penasaran, lelaki itu turun dari mobilnya setelah memastikan Rina pergi dari sana.
"Selamat pagi, Pak Reihan." Sang satpam menyapa lelaki itu, yang diketahuinya sebagai pemilik perusahaan bernama Reihan.
"Kenapa Rina bisa ada di sini?" tanya Reihan penasaran sembari menunjuk ke arah jalan yang sempat Rina lewati sebagi jalan keluar.
"Maksud Anda siapa, Pak?"
"Maksud saya wanita yang naik motor tadi? Untuk apa dia kesini?" tanyanya kian penasaran.
"Oh wanita yang tadi bernama Rina ya, Pak? Jadi Bapak mengenalnya? Tapi dia kaya kebingungan, Pak."
"Kebingungan bagaimana?"
"Dia bertanya apa kantor ini masih beroperasi? Karena dia sempat berpikir kalau hari ini, hari Sabtu kantor tetap buka. Begitu, Pak." Sang satpam menjawab jujur, membuat Reihan merasa bingung dengan maksud dari kedatangan Rina di perusahaannya.
"Apa cuma itu yang dia tanyakan?"
"Iya, Pak. Memang cuma itu." Sang satpam menjawab yakin sembari mengangguk pelan.
"Apa dia mau bertanya tentang pekerjaan di kantor ini?"
"Saya juga kurang tahu, Pak. Saya tidak menanyakannya. Maaf," jawab satpam merasa bersalah, karena sepertinya bosnya itu tampak penasaran dengan maksud dari kedatangan perempuan tersebut.
"Lain kali kalau dia datang lagi, kamu tanyakan dulu maksud dari kedatangan dia ya? Kalau dia mau pekerjaan, langsung arahkan dia ke bagian HRD. Kasih dia pekerjaan apa saja, yang penting dia diterima dulu di sini." Reihan berujar serius yang langsung diangguki oleh si satpam, meskipun ekspresi wajahnya tampak keheranan dengan sikap bosnya tersebut.
"Siap, Pak. Saya mengerti." Mendengar itu, Reihan hanya mengangguk lalu pergi masuk ke dalam dengan hati yang masih mengganjal.
***
Setelah pergi dari kantor tempat Ali bekerja, Rina baru tahu bila selama ini ia sudah dibohongi oleh suaminya sendiri. Karena pada kenyataannya lelaki itu tidak pernah bekerja di hari Sabtu, kantornya libur dan mustahil dia masuk.
Padahal selama ini suaminya itu sering berangkat pagi dan pulang sampai malam di hari Sabtu, tak jarang juga dia tidak pulang sampai di hari minggunya. Dan alasannya selalu sama, bila dia disuruh lembur bekerja sampai harus menginap di sana. Namun bila melihat situasi di kantornya, Rina yakin suaminya itu sudah membohonginya.
"Apa selama ini Mas Ali berada di rumah Sinta? Dia menginap di sana dengan alasan lembur kerja." Rina bergumam yakin, namun ia berpikir ulang sekarang.
"Kalaupun iya Mas Ali sering di rumah Sinta, harusnya Mas Ali tetap berada di rumah sekarang, karena dia sudah janji akan meninggalkan wanita itu." Rina menghembuskan nafas panjangnya lalu menghentikan motornya saat ada lampu merah di hadapannya.
"Apa diam-diam Mas Ali kembali menjalin hubungan dengan Sinta di belakangku?" Rina kian frustrasi memikirkannya, ia tidak tahu lagi harus bagaimana dengan otaknya yang tidak henti-hentinya berpikir buruk tentang suaminya. Sampai saat Rina memerhatikan sekitarnya, di saat itu lah ia sadar ada mobil yang cukup dikenalnya dan baru berhenti tak lama dari kedatangannya.
"Itu bukannya mobil Mas Ali?" Rina memicingkan matanya dari balik helm-nya, ia merasa yakin dengan pemikirannya.
"Iya, itu memang mobilnya Mas Ali. Tapi mau ke mana dia?" Rina bergumam penasaran, di dalam hati ia sudah merasa tak karuan sekarang, namun ia justru bersyukur seolah Tuhan memihaknya dan langsung menunjukkan jawaban atas pertanyaannya.
"Aku akan membuntutinya dari belakang," gumam Rina yakin sembari bersiap-siap melajukan motornya saat lampu merah sudah berganti warna. Dan saat itu terjadi, Rina benar-benar membuntuti mobil tersebut dengan jarak yang tak bisa dikatakan dekat, karena ia juga tidak mau keberadaannya diketahui.
Cukup lama berada di jalan, akhirnya mobil yang Rina buntuti memasuki sebuah perumahan mewah dan Rina masih berada di jarak aman. Tak lama, mobil tersebut berhenti dan terparkir di sebuah halaman rumah berlantai dua dan Rina yang melihatnya tentu saja berhenti di tempat yang sekiranya tidak dicurigai orang.
Rina memerhatikan mobil tersebut sampai ada seseorang turun dari sana dan tentu saja Rina sangat mengenalnya, seorang laki-laki yang sudah ia duga sejak awal bila itu adalah suaminya sendiri. Dan di detik berikutnya, seorang perempuan juga turut turun sembari membawa banyak tas belanjaan di tangannya.
"Jadi benar dugaanku, Mas Ali dan Sinta enggak benar-benar berpisah, karena ternyata mereka masih menjalin hubungan." Rina bergumam kecewa setelah menyadari bila perempuan itu adalah Sinta, itu berarti rumah yang mereka tempati sekarang adalah pemberian Ali, suaminya.
"Kamu sudah benar-benar keterlaluan, Mas." Rina menitikkan air matanya, ia tidak tahu lagi harus merespon bagaimana kecuali melakukan yang sudah ia utarakan pada suaminya.
"Seperti apa aku katakan, aku pasti akan memberitahukan ini ke Papa, Mas." Rina bergumam yakin kali ini, ia sudah tidak peduli lagi dengan sikap suaminya, karena sejak awal pun ia paling tidak suka bila ada perempuan lain di rumah tangganya. Belum lagi sikap Ali padanya, yang kian meyakinkannya untuk mengatakan semuanya pada mertuanya.