Part 09

1632 Kata
Part 09 Setelah kepergian Sinta dari rumah suaminya, kini Rina merasa sedikit lega, wanita yang menjadi pengganggu rumah tangganya itu tak akan lagi datang terlebih lagi bersikap seenaknya. Itu karena ia sempat mengancam Ali agar mau meninggalkannya, atau kalau tidak ia akan mengatakan semuanya pada orang tuanya terutama pada papanya. Sebenarnya Rina juga bukan wanita sejahat itu, karena pada kenyataannya hati dan pikirannya tidak bisa sejalan. Mungkin pikirannya sudah sangat lelah dan bahkan berkali-kali ingin menyerah, namun lagi-lagi hatinya menolak seolah enggan untuk memberontak. Untuk saat ini Rina memilih untuk mengambil tindakan, entah Ali akan menuruti keinginannya atau mungkin lelaki itu memiliki rencana lain, Rina sudah tidak peduli lagi. Karena yang penting sekarang Sinta sudah pergi dari rumah suaminya itu, dengan begitu putranya tidak harus melihatnya dan berpikir yang tidak-tidak tentang rumah tangga orang tuanya. Rina tahu, Rian masih kanak-kanak, bocah itu tidak akan paham apa-apa. Namun sebagai orang tua, tentu saja Rina merasa takut dan perlu waspada. Ia tidak mau Rian mengalami trauma atau hal-hal buruk lainnya, Rina sendiri tidak bisa menyetir ataupun mengontrol perasaan putranya, mencegahnya adalah caranya untuk melindunginya. Setelah mengantarkan Sinta tadi malam, suaminya itu memang langsung pulang, namun entah kenapa Rina merasa tidak bisa percaya dengan lelaki itu begitu saja. Karena ia yakin, ada rencana yang sedang disusun bila mengingat sikap buruk suaminya yang tak pernah ingin mengalah. Sedangkan saat ini Rina memasak untuk sarapan seperti biasanya, ia juga membuatkan putra dan suaminya itu bekal. Karena sejak awal memang tidak pernah ada kehangatan di rumah tangganya, tentu saja acara sarapannya dilakukan secara bergantian tanpa pembicaraan. Ali memakan makanannya, sedangkan Rina menyiapkan putranya untuk siap-siap bersekolah, baru setelah itu menyuapinya untuk sarapan, sedangkan pada saat itu Ali sudah berangkat bekerja. Hal-hal itu sudah biasa terjadi, dan Rina memilih bertahan untuk menjalaninya, meskipun ia sering merasa bosan dan lelah, namun entah kenapa senyum putranya selalu menguatkannya. Terlebih lagi sekarang ada janin yang berada di kandungannya, memberi Rina energi yang lebih besar lagi untuk semangat menjalani kehidupannya saat ini. "Tante Sinta sudah pergi ya, Ma?" tanya Rian setelah melihat Ali berangkat bekerja, tentu saja ia tidak akan menanyakan hal itu saat papanya masih berada di rumah. "Iya, Sayang. Kenapa?" Rina menyunggingkan senyumnya sembari menyuapkan makanan untuk putranya tersebut. "Enggak apa-apa, Ma. Tapi bagus lah kalau Tante itu sudah pulang." Rian mengunyah makanannya sembari menjawab dengan nada polosnya. "Ada apa? Kok ngomongnya gitu?" "Ya karena Tante Sinta orang jahat, Ma." Rian menjawab dengan kesal, ekspresi wajahnya bahkan berubah cemberut sekarang. "Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?" Rina bertanya hati-hati, diam-diam ia merasa khawatir dengan apa yang dirasakan putranya saat ini. "Mama ingat kan tadi malam Mama dan Papa bicara di kamar? Dan aku sama Tante Sinta di sini, di ruang makan?" "Iya, ingat. Kenapa?" "Masa Tante Sinta bilang kalau dia itu calon mamanya aku sih, Ma? Kan mamanya aku cuma Mama." Mendengar ucapan Rian, Rina seketika terdiam, karena apa yang ditakutinya ternyata kejadian meskipun tidak bisa dikatakan keterlaluan, namun tetap saja sebagai ibu Rina merasa takut. "Tante Sinta cuma bercanda kok, Sayang. Jangan dipikirkan ya?" jawab Rina dengan berusaha terlihat baik-baik saja. "Awalnya aku juga berpikir kaya gitu, Ma. Tapi Tante Sinta bilang kalau sebenarnya dia adalah pacarnya Papa, yang sebentar lagi akan menikah dengan Papa, terus jadi Mama tiri aku, Ma." Rian tampak sedih saat bercerita membuat Rina merasa kesal dan ingin marah, kenapa harus putranya yang diintimidasi, padahal bocah itu tidak tahu apa-apa selama ini. "Terus kamu percaya?" tanya Rina dengan penuh kesabaran, namun untungnya Rian menggeleng pelan. "Aku enggak percaya, Ma. Makanya aku langsung ke lantai atas dan menunggu di pintu kamar tadi malam, aku enggak mau dengar ucapan Tante Sinta lagi." Jawaban Rian kini menenangkan Rina, bisa dilihat dari caranya menyunggingkan senyumnya. "Anak pintar. Apa yang kamu lakukan itu sudah bagus, lain kali kamu juga enggak boleh mendengarkan hal-hal buruk yang cuma akan mempengaruhi amarah kamu ya?" "Iya, Ma." Rian mengangguk patuh yang disenyumi lega oleh Rina, merasa bangga saja dengan pemikiran putranya. *** Hari ini adalah hari Sabtu, waktu untuk Rina mengantarkan Rian ke rumah mertuanya, karena nenek dan kakek dari putranya itu sudah sangat merindukannya. Sebenarnya Rina tidak mengantarkan putranya setiap akhir pekan, hanya satu bulan sekali ia membawanya ke sana untuk menginap sampai hari Minggu. Bukannya Rina tidak mengizinkannya, namun justru putranya itu yang menolak dengan alasan yang cukup menyayat hati bila didengar. Rian hanya tidak mau terlalu sering menginap di rumah kakek dan neneknya, karena dia tidak bisa tidur bersama Rina. Ya, meskipun Rian menginap di sana, namun Rina tidak bisa ikut menemaninya karena mertua perempuannya itu tidak menyukainya. Beliau kurang suka melihat keberadaan Rina di dekatnya, terlebih lagi melihatnya menginap dan tidur di rumahnya. "Ma, besok jemputnya jangan sore-sore ya? Aku enggak mau lama-lama di rumah Nenek, apalagi saat enggak ada Mama." Rian yang sudah berada di atas motor Rina menoleh ke belakang dengan tatapan memohonnya. "Iya, Sayang. Mama janji besok akan jemput kamu siang hari, bagaimana?" tawar Rina yang diangguki setuju oleh putranya. "Iya, Ma." "Ya sudah kalau begitu kita berangkat sekarang ya?" ujar Rina yang lagi-lagi diangguki oleh Rian. Rina melajukan motornya, sedangkan putranya duduk di depannya seperti biasa. Keduanya begitu menikmati perjalanan mereka, yang untungnya rumah mertuanya itu tidak terlalu jauh dari rumah Ali, jadi Rian maupun Rina tidak akan terlalu kelelahan meskipun hanya mengendarai sebuah motor matic biasa. Sesampainya di rumah mertuanya, Rina memarkirkan motornya lalu membantu Rian untuk turun dari sana. Bocah itu juga tampak menunggu mamanya yang masih mengambil tas yang berisikan pakaiannya. "Sudah, ayo masuk!" ujar Rina sembari menggandeng putranya lalu masuk ke dalam rumah yang bisa dikatakan mewah itu. "Rian," panggil seseorang dari arah dalam, seseorang yang tentu saja sangat Rina kenal, siapa lagi kalau bukan mertua perempuannya yang saat ini tengah berlari kecil ke arah putranya. "Nenek," sapa Rian sembari menyunggingkan senyuman, sedangkan di belakangnya neneknya ada kakeknya yang turut tersenyum melihat kehadirannya. "Nenek kangen banget sama Rian." "Aku juga kangen sama Nenek. Nenek sehat?" tanya Rian polos yang kian membuat wanita tua itu tersenyum mendengarnya lalu menganggukinya. "Nenek sehat. Kalau kamu sendiri bagaimana? Sehat kan? Tapi kok kamu kaya tambah kurus sih? Pasti Mama kamu enggak becus ngerawat kamu ya?" ujar wanita itu sembari menatap sinis ke arah Rina, yang hanya bisa menunduk saat ini. "Kata Bu guru berat badanku masih sama kok, Nek. Jadi aku enggak tambah kurus, apalagi Mama selalu merawat aku dengan baik." Meskipun masih kecil namun Rian selalu berusaha melindungi mamanya, karena ia tahu neneknya kurang menyukai mamanya. "Rian, sini peluk Kakek." Seorang laki-laki tua menyamakan tingginya dengan Rian lalu melebarkan tangannya untuk penerima pelukan dari cucunya tersebut. "Kakek," sapa Rian dengan senyuman ketulusan lalu memeluk kakeknya dengan hangat, ia begitu menyayanginya karena ia tahu cuma kakeknya yang baik dengan mamanya. "Rina, kamu sudah sarapan? Kalau belum, ke ruang makan ya? Kamu makan di sana." Lelaki itu berujar ke arah Rina yang menggeleng sopan. "Enggak usah, Pa. Aku sudah sarapan kok di rumah." Rina menjawab sopan, yang tentu saja sangat paham bagaimana ekspresi mertua perempuannya sekarang. "Ya sudah kalau begitu kita duduk dulu ya? Kita ngobrol-ngobrol di ruang keluarga." "Enggak-enggak, Papa apa-apaan sih? Mama enggak mau ya dia lama-lama ada di rumah kita," sahut mertua perempuan Rina dengan nada sinisnya, yang tentu saja bisa Rina mengerti karena ia sudah biasa mendapatkan perlakuan yang sama. "Ini aku juga sudah mau pulang kok, Ma. Dan oh ya, aku ke sini juga mau kasih kabar baik ke Mama dan Papa." Rina menjawab dengan sopan, yang kali ini ditatap penasaran oleh mertua lelakinya, bisa dilihat dari caranya mendirikan tubuhnya dan menunggu kabar baik apa yang akan Rina katakan. "Kabar baik apa?" "Aku hamil, Pa." Rina menyunggingkan senyumnya, ia benar-benar bahagia bisa memberitahukan mereka. "Oh ya? Bagus lah. Sebentar lagi Rian akan punya adik, jadi dia enggak akan terlalu kesepian di rumah." "Iya, Pa." Rina mengangguk setuju, lalu menatap ke arah mertua perempuannya yang tampak bahagia namun seolah enggan untuk menunjukkannya. "Baguslah, kalau kamu hamil lagi. Ya setidaknya cuma itu yang bisa aku syukuri punya menantu kaya kamu." "Mama ngomong apa sih?" tegur suaminya terdengar kesal, namun seperti biasa wanita itu tidak akan merasa bersalah. "Enggak apa-apa kok, Pa. Ya sudah kalau begitu aku pamit pulang dulu ya?" Rina menyalami tangan kedua mertuanya, lalu menyalami putranya yang dengan sigap mencium tangannya. "Mama pergi dulu ya, Sayang. Kamu hati-hati di sini, jangan nakal." "Iya, Ma." "Assalamualaikum." "Wa'alaikum salam." Hanya Rian dan kakeknya yang menjawab salam Rina, sedangkan nenek Rian hanya melirik sekilas seolah tak pernah peduli dengan perasaan menantunya. "Rian, kamu ke ruang keluarga dulu ya? Kakek mau bicara sebentar sama Nenek ya?" Rian langsung mengangguk patuh saat kakeknya itu menyuruhnya, dengan cepat ia berjalan ke arah tempat yang dimaksud lalu menonton televisi di sana, sedangkan saat ini kakek dan neneknya masih berada di tempat yang sama. "Sebenarnya mau sampai kapan kamu akan memperlakukan Rina seperti itu, Ma?" tanya sang suami terdengar kecewa. "Memperlakukan Rina seperti apa sih, Pa? Memangnya Mama ini ngapain dia? Jambak dia? Menganiaya dia? Enggak kan?" "Tapi ucapan Mama selalu kasar sama Rina, Papa enggak tega lihatnya, Ma. Apalagi sekarang dia sedang hamil, setidaknya bersikaplah sedikit lebih baik lagi ke Rina." "Papa kan tahu kalau Mama memang enggak pernah suka sama dia, jadi jangan salahkan Mama dong, ini kan terjadi juga kesalahan Papa. Kalau bukan karena Papa ingin Ali menikah dengan wanita itu, mungkin Mama juga enggak akan bersikap seperti ini ke dia." "Selalu itu saja yang Mama bahas. Sudahlah, Papa capek dengarnya. Tapi kalau sampai Rina setres dan terjadi sesuatu dengan kehamilannya, Mama pasti jadi salah satu alasannya." Lelaki itu menjawab pasrah lalu berjalan ke ruang keluarga, meninggalkan istrinya yang keras kepala. "Kok jadi Mama terus yang salah sih, Pa?" Sedangkan wanita yang tidak terima itu langsung menyusulnya, ia tidak ingin terus-terusan disalahkan. "Terserah Mama lah, Papa capek," jawab lelaki itu terdengar acuh tak acuh, membuat istrinya cemberut mendengarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN