Part 08
Rina dan Ali berada di kamar Rian, keduanya memutuskan untuk berbicara di sana, sedangkan Sinta dan putra mereka masih berada di lantai bawah. Rina yang sudah sangat kecewa hanya bisa menangis di tempatnya, berbeda dengan Ali yang justru terlihat tenang sekarang dan bahkan terkesan tidak peduli dengan keadaan Rina.
"Ada apa? Kamu mau berbicara apa?" tanya Ali dengan santainya, sorot matanya bahkan tampak tak kasihan dengan istrinya yang tengah menangis sekarang.
"Tolong tinggalkan Sinta, Mas!" pinta Rina sembari menatap ke arah Ali dengan tegas, air mata yang sedari tadi mengalir berusaha ia hapus dari wajahnya saat ini.
"Apa kamu bilang? Tinggalkan Sinta? Gila kamu ya? Untuk apa aku menuruti keinginan kamu yang enggak masuk akal itu?" tanya Ali tak habis pikir, ia sendiri bukan orang yang mau disuruh-suruh, apalagi dengan seorang istri yang tidak pernah ia hargai kehadirannya.
"Aku tahu, kamu sudah membelikan Sinta rumah dan mobil kan?" Rina kini bertanya dengan nada yang sama, namun lagi-lagi tak membuat Ali terkejut ataupun takut dengan sikapnya.
"Kalau iya, kenapa?"
"Tega ya kamu? Aku istri sah kamu, tapi aku sudah seperti pembantu di rumah ini. Jangankan dibelikan mobil dan rumah, aku ke sekolah Rian aja pakai motor, bukan diantar mobil kamu apalagi mobilku sendiri. Lalu bagaimana mungkin kamu justru membelikan wanita lain, yang bahkan enggak pernah merawat dan melayani kamu di rumah ini?"
"Oh jadi kamu iri dengan Sinta? Iya?" sentak Ali kesal, namun Rina tentu saja menggeleng pelan, karena bukan itu maksud dari ucapannya.
"Ya wajar lah kalau aku kasih Sinta mobil dan rumah, karena cuma dia yang buat aku bahagia, bukan istri kampungan kaya kamu." Ali melanjutkan ucapannya, yang kian menyayat hati Rina.
"Tapi aku yang selalu ada buat kamu, Mas. Aku yang merawat, melayani, dan mengurusi semua keperluan kamu, bukan Sinta."
"Memangnya kenapa kalau kamu mengurusku? Bukannya itu semua sudah menjadi kewajiban kamu sebagai seorang istri? Ingat ya, kamu memang istriku, tapi bukan berarti kamu berhak menuntutku melakukan apapun yang kamu mau." Ali menunjuk wajah Rina dengan ekspresi geram.
"Aku enggak pernah menuntut kamu, aku bahkan selalu menuruti perintah kamu dan mengurus semua kebutuhan kamu. Tapi aku cuma enggak terima, kamu begitu baik dengan wanita lain sedangkan ke aku kamu bersikap begitu buruk." Rina menepuk dadanya, ia benar-benar sangat kecewa dengan kalimat suaminya yang justru menyudutkannya.
"Meskipun aku enggak pernah kamu hargai, tapi aku enggak pernah marah saat kamu begitu kasar memperlakukan aku. Bahkan saat kamu menghinaku dan keluargaku, yang aku lakukan hanya diam kan? Aku enggak pernah membalas kamu, tapi apa harus ada wanita lain di pernikahan kita? Bahkan setelah semua yang sudah aku lakukan, yang aku korbankan, dan semua yang aku berikan. Waktu, tenaga, kasih sayang? Apa semua itu enggak bisa buat kamu berpikir untuk enggak memiliki wanita lain?" tanya Rina dengan nada amarah, ia benar-benar kecewa sekarang.
"Enggak. Karena kamu memang bukan wanita yang aku mau, kamu enggak bisa buat aku bahagia hidup sama kamu, lalu apa salah kalau aku memiliki wanita lain?" Ali bertanya dengan nada tak bersalah sembari menunjuk ke arah dadanya.
"Selama menikah dengan kamu, cuma Sinta yang bisa buat aku bahagia. Jadi aku memberikan apapun yang dia inginkan, kebahagiaan yang dia mau, mobil, rumah, semuanya asalkan dia bahagia. Itu yang namanya cinta, saling melengkapi. Bukan kaya kamu dan aku, karena sebenarnya kita memang enggak ditakdirkan untuk hidup bersama apalagi bahagia bersama. Najis," lanjut Ali sinis, nada suaranya terdengar jijik seolah membayangkan dirinya dan Rina bahagia di rumah tangga mereka.
"Sebegitu buruknya kah aku di mata kamu, Mas?" tanya Sinta sembari kembali menangis, air mata yang mengering di pipi kini kembali mengalir setelah mendengar ucapan Ali yang begitu merendahkannya.
"Iya, di mataku kamu begitu buruk. Sampai aku enggak tahan kalau enggak merendahkan kamu." Ali menjawab tegas dan mantap, seolah tidak akan ada penyesalan dari mulutnya.
"Aku sedang hamil sekarang, Mas. Apa harus kamu mengucapkan kalimat itu? Apa enggak ada sedikit saja rasa iba kamu ke aku? Aku mengandung anak kamu, darah daging kamu, bagaimana kalau dia mendengar ucapan kamu? Apa kamu enggak takut kalau dia membenci kamu?" Rina mengusap air matanya, ia benar-benar merasa tak habis pikir kenapa Ali begitu mencintai Sinta sampai tega merendahkannya.
"Enggak ada yang harus dijaga dari ucapanku, apalagi cuma untuk sebuah janin yang enggak aku inginkan, karena sejak awal aku enggak pernah peduli dengan anak itu. Kalau kamu enggak mau mempertahankannya, aku bisa membayar dokter untuk membunuhnya." Ali menunjuk perut Rina, sorot matanya seolah mengatakan bila ia tidak main-main dengan apa yang ia katakan.
"Kamu sudah sangat keterlaluan, Mas." Rina menjawab suara nada serak dan bergetar, ekspresi wajahnya tampak kecewa dan tak percaya dengan apa yang Ali katakan.
"Keterlaluan? Aku sudah biasa mengatakan ini ke kamu kan, tapi kamunya saja yang enggak pernah mau menyerah. Andai saja kamu enggak keras kepala, mungkin kamu juga enggak akan terluka. Tapi sayangnya, kamu memilih bertahan dan enggak mau menceraikan aku, jadi terima saja konsekuensinya!"
"Aku bertahan karena aku enggak mau mengecewakan Papa, Rian, dan Bunda. Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya memiliki wanita lain dan membelikan semua yang dia inginkan, aku ini perempuan, aku juga punya batas kesabaran. Mungkin aku menerima semua perlakuan buruk kamu, tapi aku enggak bisa terima kamu mengkhianati pernikahan kita, Mas."
"Terus kamu mau apa sekarang? Kalau kamu mau aku meninggalkan Sinta, aku enggak akan pernah mau melakukannya." Ali menjawab tegas, namun Rina juga tidak akan menyerah begitu saja.
"Kalau kamu enggak mau meninggalkan Sinta, aku akan memberitahu Papa semuanya, tentang semua sikap buruk kamu dan juga perselingkuhan kamu. Aku yakin, Papa akan marah besar dan enggak akan membiarkan kamu mendapatkan warisan." Rina berujar tak kalah tegas yang kali ini berhasil memutar balik keadaan, bisa dilihat dari sikap Ali yang gelagapan.
"Jangan memberitahu Papa tentang masalah di rumah tangga kita, atau aku akan ...."
"Atau apa? Kamu akan memukuli aku lagi? Bukannya kamu yang paling tahu bagaimana selama ini aku bertahan dengan semua itu? Aku menderita, tapi aku enggak pernah menyerah. Kalau hanya sebuah pukulan, aku yakin kamu bisa menutupinya. Tapi kalau kamu membunuhku, kamu enggak akan bisa selamat dari itu." Rina memperingatkan Ali, membuat lelaki itu tampak geram dengan situasinya saat ini.
"Sialan. Oke, jadi apa yang kamu inginkan sekarang?" Pada akhirnya, Ali memilih menyerah dan berusaha untuk tetap tenang menghadapi Rina.
"Tinggalkan Sinta dan jangan pernah lagi kamu bawa dia ke rumah ini, karena aku enggak mau Rian berpikir buruk tentang kita, apalagi tentang papanya." Mau bagaimana pun sikap Ali, Rina tetap ingin menjaga nama baik lelaki itu di depan semua orang tak terkecuali di mata putranya. Meskipun ia sendiri sangat yakin, bila putranya itu sudah paham bagaimana papanya memperlakukan mamanya dengan kejam. Namun setidaknya, Rina ingin putranya itu tahu bila papanya hanya memiliki satu wanita di dalam hidupnya, dengan begitu bocah itu akan mencontohnya dengan baik kedepannya.
"Kalau kamu masih tetap memiliki hubungan dengan Sinta, terpaksa aku akan mengatakan semuanya ke Papa." Rina melanjutkan ucapannya, yang kian membuat Ali geram namun tidak ada yang bisa lelaki itu lakukan selain menuruti keinginannya.
"Oke. Aku akan meninggalkan Sinta, tapi awas saja kalau sampai Papa tahu masalah kita, aku enggak akan segan-segan menyakiti kamu lebih kejam dari apa yang sudah aku lakukan." Ali menunjuk ke arah wajah Rina, lalu pergi meninggalkan wanita itu di kamarnya.
Ali yang baru membuka pintu kian dibuat geram saat tahu Rian sedang berdiri di depan sana, namun ia yakin bocah itu tidak akan mendengar obrolan mereka, meskipun tahu pun Ali juga tidak akan memedulikannya. Dengan perasaan kesal, Ali turun dan menghampiri Sinta yang masih ada di ruang makan rumahnya.
"Ma," panggil Rian setelah masuk ke dalam kamar dan mendapati Rina tengah duduk di lantai sembari menangis tak berdaya.
"Mama nangis lagi ya?" tanya Rian setelah berada di hadapan Rina dan duduk bersamanya.
"Enggak kok, Sayang." Rina menjawab bohong sembari menghapus air matanya, lalu bibirnya berusaha ia sungging membentuk senyuman.
"Mama bohong lagi," jawab Rian terdengar bosan, karena ia tahu mamanya membohonginya lagi dan lagi.
"Mama enggak bohong kok. Oh ya, kamu belum makan kan? Kita tunggu sebentar lagi ya, tunggu Tante Sinta pulang dulu terus kita makan malam. Bagaimana?" ujar Rina berusaha mengalihkan topik, sedangkan Rian hanya mengangguk setuju membuat Rina tersenyum melihatnya, namun tidak dengan hatinya yang masih kecewa dan terluka.
***
"Ikut aku!"
Ali menarik tangan Sinta yang tengah asyik makan di ruang tamu, melihat sikapnya tentu saja Sinta merasa kebingungan, dengan cepat ia menahan tangannya agar Ali mau berhenti menariknya. Sinta tahu bila Ali dan istrinya itu sedang berbicara, keduanya mungkin bertengkar di sana, lalu kenapa lelaki itu justru bersikap seolah ingin membawanya dari rumahnya.
"Ada apa, Mas?"
"Aku akan mengantarkan kamu pulang," jawab Ali sembari kembali menarik tangan Sinta.
"Kenapa? Bukannya kamu memperbolehkan aku tinggal di sini sampai kapanpun yang aku mau?" Meskipun merasa kebingungan, namun Sinta masih mau berjalan mengikuti langkah Ali.
"Kita bicara saja di mobil." Ali membukakan pintu untuk Sinta, setelah keduanya sampai di mobilnya. Sedangkan Sinta hanya menurut dan langsung masuk, lalu menunggu Ali menyusulnya. Di dalam sana, Sinta masih menatap heran ke arah Ali bahkan saat lelaki itu mulai menjalankan kendaraannya.
"Ada apa sih, Mas? Kenapa kamu mau mengantarkan aku pulang?" tanya Sinta ke arah Ali yang masih fokus menyetir saat ini.
"Aku mau kita putus," ujar Ali serius yang tentu saja membuat Sinta terkejut.
"Ha, putus? Tapi kenapa, Mas?"
"Ya semua itu gara-gara kamu lah." Ali menjawab frustrasi, ekspresi wajahnya tampak kesal namun tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang.
"Kok gara-gara aku?"
"Siapa lagi? Kamu kan yang bilang ini itu ke Rina? Sekarang dia marah sama aku."
"Bagus dong? Kok kamu malah jadi ikutan marah?"
"Bagus kamu bilang?" tanya Ali tak percaya.
"Ya bagus lah, kan Mbak Rina jadi marah, dia kecewa, terus minta cerai ke kamu, setelah itu kamu bisa bebas kan? Itu kan rencana kamu." Sinta menjawab sesuai dengan rencana mereka, namun Ali justru terdiam memikirkannya.
"Tapi masalahnya Rina malah mengancam ku sekarang," jawab Ali kesal sembari terus fokus ke arah jalanan.
"Mengancam bagaimana?"
"Ya Rina mau aku meninggalkan kamu, kalau enggak, dia akan mengatakan semuanya ke Papaku." Ali menjawab dengan nada yang sama, namun Sinta tampak tak heran dengan jawabannya.
"Cuma karena ancaman itu kamu mau meninggalkan aku?"
"Iya lah. Kalau Rina mengatakan semuanya ke Papa kalau aku berselingkuh, bersikap buruk, dan sering menyakitinya. Otomatis, Papa marah sama aku dan kesempatan aku dapat perusahaan Papa itu hampir enggak ada." Ali menjawab kesal, ia sempat tidak menyangka istrinya itu berani mengancamnya.
"Kamu tahu kan, meskipun aku sekarang menjadi direktur tapi perusahaan itu bukan milikku. Aku mau perusahaan Papaku, supaya aku juga enggak perlu kerja di bawah tekanan." Ali melanjutkan ucapannya, ia benar-benar tidak bisa kehilangan kesempatannya.
"Ya sudah kamu lanjutkan saja rencana kamu itu, terus kenapa kamu malah minta kita putus?"
"Ya karena masalah utamanya kamu. Rina mau aku meninggalkan kamu, jadi mau enggak mau aku harus memutuskan kamu."
"Ya bilang aja kamu sudah meninggalkan aku! Tapi bukan berarti, kita benar-benar berpisah kan?" ujar Sinta yang membuat Ali terdiam.
"Maksud kamu apa?"
"Ya kita masih berhubungan lah, Mas. Tapi tanpa sepengetahuan Mbak Rina, aku enggak mau ya kalau kamu benar-benar meninggalkan aku, aku itu cinta sama kamu." Sinta merajuk sendu yang lagi-lagi didiami oleh Ali.
"Nanti kalau perusahaan Papa kamu sudah menjadi milik kamu, kamu tinggal ceraikan saja Mbak Rina terus nikah sama aku, Mas." Sinta melanjutkan ucapannya yang disenyumi oleh Ali saat ini.
"Maksud kamu kita backstreet lagi?"
"Iya lah. Toh, sejak awal kita seperti itu kan, Mas? Apa kamu benar-benar berpikir akan meninggalkanku cuma karena wanita itu mengancammu?" Sinta memicingkan matanya, sorot tatapan tampak curiga.
"Ah iya, aku mengerti sekarang. Aku minta maaf, aku tadi benar-benar kacau sampai enggak bisa berpikir jernih." Ali menyunggingkan senyumnya lalu merengkuh tangan Sinta dengan tangan kirinya.
"Astaga, kamu ini benar-benar ya, Mas? Aku tadi sempat takut kalau kamu beneran mau ninggalin aku." Sinta memanyunkan bibirnya, yang lagi-lagi disenyumi oleh Ali.
"Aku minta maaf ya?" ujarnya tulus yang diangguki setuju oleh Sinta yang tersenyum malu.
"Iya." Kini keduanya memutuskan untuk kembali bersama dan melanjutkan semuanya seperti di awal yang tentunya tanpa ketahuan.