Selva masih memeluk dan menangis. Sementara, Belva tetap bergeming. Tidak mengeluarkan suara apapun selain embusan napas. Bukan tidak ingin menanggapi setiap kalimat yang berisi penyesalan dan permintaan maaf Selva. Hanya saja, Belva terlalu sibuk mengendalikan perasaannya. Ia tidak ingin hanyut dalam suasana pilu yang saudara kembarnya ciptakan. Tidak bisa dipungkiri, jika tangisan Selva sangat mempengaruhi pengendalian dirinya. Isak pilu sang kembaran bagaikan jarum yang menusuk-nusuk sekepal daging yang bersembunyi di balik rongga tulak rusuk. Rasa perih dan nyeri yang dihasilkan menjalar ke seluruh tubuh, membuat ia mati-matian menahan laju air mata yang sejak tadi sudah mengintip di pelupuk. “Maaf, Bel. Tolong jangan benci aku.” “Nggak ada yang berniat benci kamu. Kamu sendiri yan

