Pengecut

1055 Kata
"Kembalilah jika dia menyakitimu." Pesan singkat yang Celia terima dari seseorang. Laki-laki yang sudah memberinya harapan membuat gadis itu gundah gulana. "Pengecut!" Celia meletakkan ponselnya di meja dengan keras. Bisa dipastikan jika layarnya retak, Lala yang sudah hafal tabiat majikannya terlihat tenang. Tidak mendekat apalagi bertanya. Lala keluar dari ruangan Celia sambil menghubungi Vano, lebih baik ia berbicara terlebih dahulu dengan Vano untuk meminta pendapat pria itu dibandingkan dengan berbicara dengan Tara. Ia bergegas membelikan ponsel terbaru untuk majikannya yang sedang bermuram durja. "Beli lagi, Bu?" Pertanyaan staff Lala yang ia tugaskan untuk mengambil ponsel di salah satu gerak ternama. "Gak usah banyak tanya, kalau Nona dengar bisa runyam!" Lala meminta staff pria tersebut cepat kembali setelah mengambilnya barang pesanannya. Masuk ke dalam lift, ia memutuskan membeli sendiri kopi latte dingin untuk Celia. Beberapa cemilan dan tentu saja ice cream rasa vanilla favorit gadis itu. Kembali ke ruangan Celia, Lala tidak mendapati majikannya di balik meja kerja. Panik, sudah jelas. Ia tidak boleh membiarkan Celia pergi kemanapun sendirian. "Aduh, kemana lagi itu bocil!" Lala berusaha menghubungi gadis cantik itu. "Apaan sih, Mbak Lala! Celia cuma ke bawah, cari angin sebentar." Jawaban Celia membuat Lala tenang, ia menutup panggilan telepon tersebut dengan sopan lalu membereskan meja kerja Celia. Ternyata, gadis itu sudah menyelesaikan sebagian pekerjaannya. Celia masuk ke ruangannya dengan wajah datarnya. Ia menyapa Lala yang sedang berkutat dengan laptopnya. "Apa Nona ingin menemuinya?" Pertanyaan Lala membuat Celia sejenak menghentikan langkahnya lalu duduk di samping wanita itu. "Nanti besar kepala, aku tidak mau menemuinya. Lagian untuk apa?" "Mungkin menyelesaikan yang belum dimulai." Jawaban Lala justru membuat gadis itu uring-uringan. Memang ucapan Lala tidaklah salah. Dibilang pacaran, jadian pun tidak. Tapi rasa cinta Celia kepada pria itu terlanjur dalam. "Gak mau, mending kerja aja buat beli berlian sama tas syanel!" Celia memilih kembali ke meja kerjanya. Sebuah perusahaan fashion ternama menjadi miliknya karena Rara fokus di Dirgantara membantu sang suami. Sesekali gadis itu datang ke kantor orang tuanya untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang direktur. "Yakin? Kalau diajak ketemuan gimana?" "Gak tau dan gak mau tahu." Lala tidak mengomentari jawaban judes Celia. Ia justru menjawab pesan singkat dari staf yang ditugaskan untuk mengambil ponsel terbaru untuk Celia. Lala mempersilahkan pria itu masuk ke ruangan setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. "Warnanya sesuai, kan?" Lala memastikan warna ponsel tersebut sesuai dengan permintaannya. "Sesuai pesanan, Bu." "Oke, terima kasih. Kamu balik ke ruangan saja." Lala menutup pintu ruangan tersebut lalu menghampiri Celia yang sedang sibuk dengan berbagai dokumen di mejanya. "Nona sayang, ponselnya kita ganti dulu yah. Yang dipakai itu layar LCD nya udah rusak. Tidak layak dipakai lagi." Dengan lembut Lala meminta ponsel yang diletakkan di samping gadis itu. Celia sedikit terkejut dengan ucapan Lala, ia meraih ponselnya dan menyerahkan kepada Lala untuk memindahkan data dan lainnya. "Memang kenceng banget yah? Kok Mbak Lala tahu?" Celia malu-malu karena melihat asisten pribadinya mengusap layar ponselnya yang retak. "Gak sih, hanya sampai retak doang." Celia hanya tertawa kecil mendengar jawaban Lala. Gadis itu kembali berkutat dengan laptopnya sebelum telepon di mejanya berbunyi. "Halo, dengan siapa? Kalau gak penting gak usah telepon!" Ocehan Celia langsung diprotes oleh Rara. "Sayang, gak boleh kasar begitu. Bunda kaget," sahut Rara terkejut mendengar ocehan Celia. "Bunda, maaf. Tadi agak kesal saja. Kenapa Bun?" "Handphone nya rusak lagi? Bunda telepon kok gak aktif, Nak?" "Lagi dibenerin Mbak Lala. Maaf ya, Bun. Gak sempet kasih tau." "Oh rusak, ya sudah. Nanti kita bicara di rumah saja. Celia makan di rumah apa gimana?" "Di rumah Bunda sayang, ditunggu yah," jawab gadis itu manja. Rara menghubunginya memang untuk memastikan jika gadis itu pulang tepat waktu. Persiapan pertemuan dengan keluarga Evan sudah hampir selesai dan ada pembicaraan serius dengannya. "Mbak, kita makan malam di rumah, habis ini gak ada kerjaan lain, kan?" "Tidak ada. Mau pulang sekarang? Ini sudah selesai kok." Lala menyerahkan ponsel baru untuk Celia, merk dan seri yang sama dengan yang ia gunakan. "Hehehe, makasih. Kita bereskan satu dokumen lagi. Ini tolong dicek lagi, aku gak mau tanda tangan kalau masih ada yang salah." Celia mengembalikan satu dokumen pembelian bahan baku yang menurutnya terlalu mahal. "Baik, Nona. Segera diperbaiki." Selagi Lala mengembalikan dokumen tersebut ke Divisi terkait, Celia mendapatkan pesan singkat dari sang pujaan hati. "Aku tunggu di cafe bawah, jam pulang kerja. Kita harus bicara. " "Oke, tunggu gue datang." Jawaban singkat Celia sempat membuat pria itu kecewa. Tidak ada rengekan atau permohonan agar tidak ditinggalkan. Celia menemui Faisal ditemani oleh Lala. Tentu saja asisten pribadinya itu mengawasi dari jarak yang aman. "Saya duduk disitu, hati-hati." Lala menunjuk sebuah kursi yang berasa paling belakang, Celia yang menghampiri pria itu. Duduk di hadapannya, tanpa basa-basi. "Lalu, apa maumu? Menemui Papa saja gak berani. Terus kamu minta aku bagaimana?" Pertanyaan Celia ditanggapi dengan sebuah senyuman. "Sabar dulu, aku memang belum ada keberanian untuk menemui Pak Tara. Tapi, bukan berarti aku gak cinta sama kamu, sayang." Faisal mengusap lembut punggung tangan gadis itu. "Sayang? Gue gak butuh hanya sekedar kata sayang. Tidak bisa membuat Papa luluh. Dan terlambat juga kalau Lo mau temui Papa. Besok gue bakal ketemu keluarga calon suami gue. Kesempatan Lo sebenarnya udah gak ada. Jadi, jangan kaget kalau dengar berita pernikahan gue dalam waktu dekat!" Celia kembali berdiri dan hendak meninggalkan pria itu. Namun, Faisal berhasil menahan dengan meraih pergelangan tangan gadis itu. Faisal menangkup wajah Celia dengan kedua tangannya dengan lembut. "Gue coba hubungi Pak Tara, demi Lo. Tapi, belum ada jawaban. Sorry kalau nunggu sampai seperti ini." "Bohong!" Celia tidak percaya dengan ucapan Faisal. Tanpa Celia duga, Faisal mengecup bibirnya dengan lembut. Gadis itu mematung, mungkin lebih tepatnya terkejut. Tidak menolak tapi tidak juga menyambut kecupan itu. "Hhhh, udah! Anggap aja ini ciuman perpisahan kita." Celia bergegas pergi setelah Faisal melepas pagutan asmaranya itu. Menghampiri Lala, Celia buru-buru mengajak asistennya pergi. "Udahan?" tanya Lala sambil mensejajari langkah Celia. "Laki-laki gak ada effortnya untuk wanita buat apa dipertahankan. Walaupun Celia cinta sama dia, gak akan sudi aku mengemis cinta!" "Lalu, bagaimana Nona?" "Mending gue nikah sama kakak ngeselin itu daripada dengan Faisal. Cinta sih tapi gue jadi bego kalau ngotot memperjuangkan dia." Ada hal yang luput dan pandangan Celia dan Lala. Tara dan Vano sejatinya akan menemui Faisal di cafe tersebut menahan diri untuk tidak menghampiri mereka dulu. "Anak gue, Van! Diapain itu sama si kodok!" Tara uring-uringan karena Vano mencegahnya untuk menghampiri Celia dan Faisal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN