Posesif

1153 Kata
"Anaknya udah pergi juga, mending Lo temui Faisal dulu. Sama Celia nanti bisa di rumah." Vano setengah memaksanya masuk ke cafe. Beruntung Tara tidak memprotes dirinya. "Mereka bicara apa ya, Van? Anak gue udah dicipok lagi sama itu kadal! Ish, kok gak nolak sih anak gue!" "Itu mulut bisa diem gak sih, beresin satu-satu. Prinsip gue, selama Celia gak nolak, artinya dia nyaman." Vano menunjukkan dimana pria bernama Faisal itu duduk. Tara menghela nafasnya, kesal karena Vano selalu menginterupsi apa yang akan ia lakukan. "Eh, selamat sore Pak Tara." Faisal berdiri dan menyalami Tara dan Vano bergantian. Tara langsung duduk di sofa dan bertanya maksud dari tindakannya tadi. "Lo kalau cinta sama anak gue, perasaannya jangan dimainin. Bilang cinta, tapi Lo ketemu gue aja ilang-ilangan. Maksud Lo apa tadi ke anak gue?" Tara langsung memberondong Faisal dengan beberapa pertanyaan. "Ini orang bener-bener!" Vano hanya geleng-geleng kepala. "Hhmm, gak ada Pak. Hanya ucapan perpisahan." Ragu-ragu Faisal berbicara apa adanya kepada Tara. "Ucapan perpisahan itu hanya kata-kata. Bukan mulut Lo yang lemes itu genit ke anak gue!" Tara mengeram kesal menatap pemuda dua puluh lima tahun itu. "Dengar, kalau anak gue udah terima lamaran laki-laki lain, gue sebagai papanya Celia minta Lo jangan ganggu hidupnya lagi. Beda cerita kalau anak gue masih berharap sama Lo. Asal Lo bikin anak gue seneng, gue gak akan nyentuh Lo." "Ba-baik, Pak." "Lo kayak gak tahu anak muda aja sih!" Kali ini Vano tidak tahan untuk memprotes Tara. Faisal yang merasa mendapatkan dukungan dari Vano, menjadi lebih percaya diri. Wajahnya penuh keyakinan untuk sekedar berbicara tentang hubungannya dengan Celia. "Berarti saya masih ada kesempatan, Pak?" Kepalang tanggung, Faisal berani bertanya tentang nasib statusnya dengan Celia. "Selama belum ada lamaran. Tergantung usaha Lo, tapi gue mau yang gentleman. Oke." "Siap, Pak. Terima kasih." "Ayo, Van. Kita udah ditunggu, Dicky sama Sarah udah di lokasi." Tara beranjak dari duduknya dan meninggalkan Faisal begitu saja. Sementara Vano, ia menepuk pelan lengan Faisal sebelum meninggalkan pria itu. "Hati-hati, Pak!" Tara memang akan menjemput Sarah dan Dicky. Keduanya sudah janji temu di salah satu hotel dalam komplek gedung perkantoran milik Dirgantara itu. "Lo yang bener, jangan sampai ntar di rumah Lo nanya ke Celia." "Ya pasti gue tanyain lah. Ngapain mau dicipok sama kadal!" "Astaga! Biar itu urusan Rara lah. Lo mending diem deh." "Gue Bokapnya, Van. Masa gak boleh tahu sih." "Lo bego apa gimana? Yang ada Celia bakal malu punya Bokap kayak Lo. Terus, dia merasa Lo ikutin kemana-mana. Lala aja udah cukup bikin dia ngerasa seperti itu, masih mau Lo tambahin? Kasian amat hidup ponakan gue." "Ehem, pada bahas apaan? Seru kayaknya," sahut Sarah yang datang dengan suaminya. "Tuh, gara-gara Lo ngoceh-ngoceh. Kita gak lihat Lo datang, Sar." Tara mengomel karena Vano terus berceramah kepadanya. "Gimana gue gak ngoceh. Lo mau tanya apa ke anak Lo? Sayang, kenapa mau dicipok sama Faisal. Begitu?" "Lho, ada apa ini Van?" Dicky yang lebih kalem mencoba mencerna arah pembicaraan mereka. "Gue tadi mau ketemuan sama si kadal. Eh, gue liat itu bocah main sosor anak gue. Gimana gak kesel coba!" Dicky mengulas senyumnya. Ia tahu, Tara memang cukup protektif kepada anak gadisnya itu. Namun, kali ini ia setuju dengan pendapat Vano. "Sebaiknya tidak usah ditanya, takutnya nanti yang diucapkan Vano benar. Itu sudah privacy Celia, Mas Tara." "Tapi gue bokapnya." Tara tidak puas dengan pendapat Dicky, masih ngotot dengan cara dia melindungi Celia. "Sampai kiamat juga Lo bokapnya, nyet! Heran gue, mimpi apa sih Rara punya laki kayak Lo." "Udah-udah, ini Rara udah japri lho. Jalan yuk." Sarah yang sudah paham watak Tara tidak banyak bicara, ia menghargai sang suami yang mau menerima masa lalunya dengan ikhlas. Mereka berangkat menuju kediaman Tara, hunian yang sengaja dibeli Tara sebagai hadiah ulang tahun untuk sang istri itu terlihat nyaman dan lebih mencolok dibandingkan dengan rumah lainnya. "Akhirnya, kalian datang juga." Rara menyambut langsung kedatangan Sarah dan Dicky. Rara sengaja melibatkan Sarah agar Celia tetap bisa dekat dengan ibu kandungnya itu. "Makin glowing aja, gimana yang kemaren, cocok?" Pembicaraan Sarah dan Rara tidak jauh dari obrolan umum para wanita. "Cocok, gak ada alergi kok. Yuk, biarkan para pria disini. Kita masuk aja ke dalam." Rara menggandeng tangan Sarah masuk ke ruangan kerjanya. "Jadi sama orang Surabaya itu, Ra?" Sarah menanyakan calon suami untuk anaknya. "Iya, sejauh ini. Evan yang paling normal menghadapi Celia. Dari laporan Lala juga, anaknya lebih ekspresif. Gimana?" "Yang utama sih anaknya dulu, Ra. Lo tahu sendiri bokapnya kek mana. Gue percaya sama Lo, jadi ikutin aja kalau memang itu yang terbaik. Cuma, ada yang mau gue tanyain ke Lo neh," ucap Sarah. "Tanya apaan?" Rara menyimak Saran sambil menuangkan teh hijau di cangkir untuk Sarah. "Laki Lo makin meresahkan. Gue tadi gak sengaja dengar pembicaraan doi sama Vano. Kalau bisa suruh kurang-kurangi lah kepo nya. Sebenarnya bukan kepo juga sih, tapi melindungi," ungkap Sarah gelisah. "Ngobrol apa memangnya?" Rara menautkan kedua alisnya penasaran. "Tadi doi gak sengaja liat Celia sama pacarnya itu ciuman. Masa dia mau nanyain anaknya, tepok jidat gue kalau beneran terjadi, Ra!" "Hahahaha, biar gue gak bicara. Ce Sarah tenang aja." Rara menahan tawanya agar Tara tidak bertanya terlebih dahulu. "Lo mah ketawa mulu, iket dulu kek mana lah itu laki. Kasian anak kita, Ra. Dia udah dua puluh satu tahun, takutnya merasa gak ada privacy." "Iya, tenang aja. Biar gue yang atasi. Neh, gue kasih liat foto dan profil Evan. Mas Tara sampai sedetail ini cari tahu nya. Sampai pacar rahasianya aja tahu," ungkap Rara membuka tabletnya, ia membuka dokumen yang dikirim Tara kepadanya mengenai calon suami Celia. "Evan Mahendra Putra, kayak gak asing ya." Sarah mengingat-ingat kerabat keluarga Gunawan ataupun Sanny di Surabaya. "Harusnya tahu sih, cuma ini anak memang lama kuliah di luar." "Hhhmm, Mahameru Group?" Sarah mengingat nama perusahaan milik keluarga besar Evan yang berada di Surabaya itu. "Betul, mereka baru saja teken kontrak sama kita. Buat hotel di Batu," jawab Rara berbinar. "Pantesan laki Lo ngotot banget, ini sih dijamin dunia akherat anak kita, Ra." "Fit and proper test nya udah lulus. Yah, semoga Evan gak akan mengecewakan kita." "Amin. Ngomong-ngomong, Celia belum muncul? Kemana?" "Paling udah sama para bapak tuh, kita samperin aja. Lagian, mereka sudah dekat." "Oke," jawab Sarah sambil membuka pintu ruangan kerja Rara. Tara menyambut kedatangan Evan dan keluarganya dengan senang hati. Ia bersama Rara beserta Sarah dan Dicky mengajak mereka berbincang terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Celia. "Jadi, tentukan tanggal dan lainnya, kami ikut kalian saja. Evan dan Celia juga sama-sama sibuk, saya rasa mereka juga tidak suka bertele-tele." Tyo sebagai ayah Evan memulai pembicaraan dengan orang tua Celia. "Boleh, niat baik secepatnya saja. Nanti biar istri saya uang info untuk tanggal dan lainnya. Mungkin pakai wedding organizer untuk memudahkan." Celia yang sudah duduk di antara Sarah dan Rara, berbisik. "Ini sih bukan kenalan, tapi nyari tanggal, Bun." "Sabar, kita dengarkan dulu ya, sayang." Rara berusaha menenangkan anaknya. Sarah pun melakukan hal yang sama dengan mengusap lembir punggung gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN