Celia dan Evan berbincang di taman belakang rumah tersebut. Di saat para orang tua sedang berdiskusi mengenai bisnis masing-masing, keduanya mojok di taman dengan minuman dingin dan beberapa cemilan.
"Konsep pernikahan adat Jawa dan klasik?" tanya Evan menaikkan alisnya bertanya.
"Iya, keberatan? Lo kan kaya, masa gak mampu kasih gue pesta yang bagus," ucap Celia menatapnya tidak suka.
"Astaga, bukan soal uangnya. Tapi konsepnya yakin? Banyak ritual lho, gak cuma party ala-ala. Apa jangan-jangan mau seperti resepsi Kak Chika?"
"Nah itu tau, peka dikit lah jadi laki!"
"Hadeh, oke deh. Lalu, yang membuat seorang Celia gelisah apa neh? Mau bicara apa sama calon suaminya?" Evan meneguk habis minuman dingin yang dibawakan Celia untuknya.
"Hmmm, gue ada pacar. Tapi, Papa gak tau dan Bunda tahu. Ngerti kan maksudku?"
"Lalu? Pacarmu mana? Dia tahu kalau kita dijodohkan?"
"Tau, udah gue putusin tadi sore." Tidak ada air mata yang jatuh, walaupun dari raut wajahnya terlihat jelas kesedihan. Evan mencoba menelaah apa yang akan dilakukan gadis itu.
"Masih cinta? Sedalam apa?" Pertanyaan Evan membuat Celia panik, darimana pria itu tahu apa isi hatinya.
"Biasa aja," jawab Celia berdusta.
"Hahaha, gak usah bohong. Aku tahu kok. Terus, aku bisa bantu apa?" Evan meraih kedua tangan Celia dan menuntunnya duduk.
"Boleh ketemu sekali lagi?" Mata Celia sudah berkaca-kaca, seolah memohon untuk dikabulkan.
"Eits, gak boleh nangis. Nanti dikira aku yang ngapa-ngapain. Sini, sayang make-up nya. Udah cantik begini," ucap Evan sambil mengusap pipi Celia dengan tisu.
"Makasih."
"Mau diantar apa sendirian?"
"Sama Mbak Lala aja, besok janjian di kota tua."
"Oke, kita ketemuan disana aja gimana? Biar gak banyak pertanyaan, terutama dari Papamu."
Celia mengangguk setuju, hatinya lebih tenang setelah membicarakan soal Faisal kepada calon suaminya. Ia tidak mau dianggap wanita kurang ajar karena masih memiliki pasangan tapi berani menerima lamaran pria lain.
"Ya udah, kita ngumpul bareng orang tua dulu. Gak enak lama-lama mojok disini. Bisa-bisa setan berbisik yang tidak-tidak." Evan terkekeh karena Celia memukul lengannya kesal.
"Ish, m***m!"
Tanpa sepengetahuan Celia, Evan memperhatikan penampilan manisnya. "Cantiknya gak ragu, cuma agak gesrek aja." Batin Evan tertawa melihat emosi Celia yang meledak-ledak.
"Eh sayang, udahan ngobrolnya?" Rara menyambut Evan dan Celia yang bersamaan masuk ke ruang keluarga.
"Udah Tante, izin sekalian neh. Besok mau ajak jalan Celia."
"Oh, boleh dong. Biar lebih dekat juga," jawab Rara berbinar. Akhirnya Celia menerima calon yang Tara pilih.
***
Di cafe Batavia, Celia dan Faisal bertemu untuk membahas keputusan yang akan Faisal ambil. Menyerah dengan keadaan atau berjuang walaupun sedikit terlambat.
Tempat yang bersejarah bagi Celia ini, mengingatkan kejadian bertahun-tahun yang lalu. Saat itu, Tara masih berjuang untuk meluluhkan hati Rara. Namun, tempat ini akan menambah kenangan lagi baginya. "Sepertinya, tidak akan seindah Papa dan Bunda. Tidak apa, gue ingin tahu apa dia ada usaha. Kata-kata cinta hanyalah bualan jika tanpa tindakan."
Celia memasuki cafe bernuansa Belanda itu. Celingukan mencari keberadaan pria yang memenuhi isi hatinya selama setahun ini. Pandangannya tertuju pada seorang pria memakai kaos berwarna biru melambaikan tangan ke arahnya.
"Udah lama?" Celia duduk di hadapan Faisal dengan tenang.
"Baru aja kok, pesan minum dulu yah. Atau mau breakfast?" tawar Faisal sambil memanggilkan pelayan restoran.
"Minum aja, tadi sudah sarapan di rumah."
Sambil menunggu pesanan minuman datang, Celia langsung bertanya kepada pria itu. "Jadi, keputusannya gimana? Jangan terlalu lama, mungkin aku bisa sabar. Tapi Papa tidak mungkin mau menunggu yang tidak jelas."
Faisal menatap dalam gadis cantik itu, meraih jemari tangannya, ia sedang mengingat kata-kata yang sudah ia susun sejak semalam. "Aku sudah bertemu Papamu. Sejujurnya, dia sudah memberiku kesempatan. Bagaimana jika kau sampaikan pada orang tuamu untuk memberi waktu dua atau tiga bulan lagi," ucap Faisal tanpa melihat ke arah Celia.
"Untuk apa? Apa kau ragu?" d**a Celia sesak setelah mendengar ucapan Faisal. Bukan seperti ini yang ia inginkan.
"Bukan, aku tidak meragukanmu. Hanya saja, ada yang harus ku selesaikan. Internal keluarga," jawab Faisal.
"Iya apa? Mungkin Papa atau aku bisa bantu."
"A-aku tidak bisa cerita." Faisal menjeda ucapannya. Menghela nafasnya, menatap bingung Celia yang mulai berkaca-kaca.
"Kamu tahu, untuk mendapatkan aku, orang lain setengah mati berusaha, tapi aku cuekin. Itu demi kamu, lho. Sedangkan kamunya, seakan aku harus mengemis dulu."
"Tidak seperti itu, aku sayang sama kamu. Tolong bersabarlah sedikit."
"Masih pagi dan aku sudah melihat banyak kebohongan di matamu. Tidak apa, mungkin ini saatnya aku berhenti. Berhenti untuk berjuang sendirian." Celia melepas kalung yang ia kenalan lalu memasukkan kembali ke dalam kotaknya. "Berikan pada wanita yang benar-benar mencintaimu. Jangan membuat dia terlalu lama menunggu. Terima kasih untuk semuanya. Selamat tinggal." Celia meraih tangan Faisal lalu meletakkan kotak perhiasan tersebut di telapak tangannya."
"Lho, gak bisa kayak gini dong. Celia, kita bisa bicarakan baik-baik." Faisal masih menggenggam tangan Celia. Enggan melepaskan sampai gadis itu setuju dengan keputusannya.
"Gak ada telepon, gak ada pesan singkat. Gak ada ucapan selamat pagi sayang atau perhatian kecil pun kamu bisa menjalaninya tanpa rasa bersalah padaku, tidak masalah kok. Jadi, tidak masalah kalau ada yang lebih perhatian dan memberi kepastian. Aku bukan gedebok pisang yang gak punya hati dan perasaan. Punya akal yang bisa berpikir."
"Sayang… "
"Aku lelah. Aku beri kehormatan padamu untuk menyudahi apapun tentang kita. Ikatan yang belum kita mulai, ada baiknya kita akhiri saja." Celia perlahan melepas genggaman tangannya, mengusap pipinya yang basah. Ia berpamitan kepada Faisal.
"Aku antar!" Faisal mencoba menyusulnya keluar dari restoran, namun ia urung meneruskan langkahnya karena melihat Lala menghampiri gadis itu.
Lala dengan sigap merangkul Celia yang terlihat tidak baik. Wajahnya memerah dan murung.
"Kita langsung ke mobil yah, panas Nona." Celia mengangguk, tanpa banyak bicara ia mengiyakan apapun yang diucapkan Lala.
Sedangkan Evan, pria itu sudah tahu apa yang terjadi dengan Celia dan Faisal. Hubungan tanpa status karena sang pria tidak ada keberanian menghadapi Tara, Papa Celia yang terkenal protektif kepada anak gadisnya.
"Rumit!"
"Yang membuat rumit lakinya. Tinggal temui Pak Tara, izin kek apa. Ternyata gak dilakukan, mengulur waktu karena butuh Celia untuk kepentingan bisnisnya."
"Licik dong!"
"Seperti itulah laki-laki. Saya paham kenapa Pak Tara tidak setuju dengan Faisal. Udahanya tidak ada, selalu menuntut tanpa imbal balik yang sepantasnya."
"Jadi itu akar masalah mereka. Celia seperti cinta bertepuk sebelah tangan. Cintanya udah dalam kayaknya."
"Ya udah, kita kudu jalan. Udah dicariin sama Lalapoh. Buruan." Roy memanggil pelayan restoran untuk membayar pesanannya dan mengajak pergi Evan dari tempat itu.
"Sebelas dua belas sama majikannya. Gak sabaran!" Evan merogoh ponselnya yang bergetar. Notifikasi pesan singkat dari Celia menarik perhatiannya.
"Gue udah lepasin dia. Tolong jangan membuatku mengeluarkan air mata kekecewaan." Evan tidak membalas pesan singkat itu, ia memilih akan bertanya langsung kepada Celia. "Gitu bilangnya biasa saja."