Lala membawanya keluar dari kota tua. Bagi Celia, tempat itu terlalu indah untuk ia gunakan menangisi pria yang tidak pantas diperjuangkan.
"Kita ngadem dulu di PI, Pak." Lala berbicara kepada sopir yang mengendarai milik Celia.
Mereka sudah berada di salah satu tempat makan favorit Celia. Restoran yang menyediakan pancake dan ice cream itu sering ia kunjungi bersama Rara dan Kevin, sang adik.
"Ice cream yang biasa yah." Lala memesan menu yang biasa Celia pesan. Jangan ditanya, tangis Celia pecah begitu saja setelah pelayan restoran pergi dari mejanya.
Untuk beberapa saat, Lala membiarkan Celia menuntaskan tangisnya. "Harusnya, gue tonjok dulu itu laki!" Batin Lala sambil mengetik pesan singkat di ponselnya. Menanyakan kepada Roy keberadaan Evan dan dirinya.
"Mbak Lala, Celia cuci muka dulu ya." Celia tidak mau terlihat menyedihkan di depan Evan. Ia memasuki toilet wanita untuk memperbaiki tampilan wajahnya yang sudah acak-acakan. Lala mengangguk setuju.
Evan baru saja datang, sedikit terlambat karena harus antri di lift bersama dengan pengunjung lain di mall tersebut.
"Mana anaknya?" tanya Roy pada Lala.
"Masih di toilet, sebentar lagi juga nongol," jawab Lala.
"Ah itu dia, sini bocil. Sekalian makan siang yah, jangan sampe telat makan. Nanti sakit," ucap Evan aanil memanggil pelayan restoran. Gadis itu mengangguk, tidak banyak bicara dan cenderung pasrah. Sengaja Evan mengajak mereka makan siang terlebih dahulu untuk memberi jeda kepada Celia untuk menenangkan hatinya.
"Udah kenyang neh, gue mau ngomong," ucap Celia kepada Evan.
"Ya udah ngomong aja, kenapa liatnya kayak gitu sih?" Evan tidak mengerti arti dari tatapan gelisah Celia. Gadis itu tidak berbicara tapi memandangi bergantian Roy dan Lala. Sebagai asisten pribadi, Lala paham apa yang diinginkan Celia.
"Titip Nona saya, ayo Pak Roy. Ada yang harus kita bahas. Sepertinya ada meja kosong di pojok sana," ucap Lala setengah memaksa Roy untuk ikut dengannya. Sedangkan Roy, ditengah kebingungannya, ia terpaksa mengikuti Lala ke meja sebelah.
"Sorry Pak Roy, itu tadi Celia minta berbicara empat mata dengan majikan njenengan," ucap Lala setelah keduanya duduk di meja kosong lainnya.
"Astaga, ada-ada saja!"
Sedangkan di meja Celia, gadis itu terlihat mulai berbicara dengan Evan. "Gue gak minta di spesialkan, dianggap ada saja sudah cukup, kok."
"Kenyataannya gimana? Tadi hasilnya kek mana?" Walaupun ia sudah tahu apa yang terjadi dengan gadis itu, ia ingin mendengar langsung dari Celia.
"Kan gue udah bilang, udah putus. Artinya, Lo jangan nunda pernikahan lagi," ucap Celia kembali ke mode galak.
"Iya-iya, gak usah nada tinggi begitu. Kasian tenggorokannya, nanti radang." Evan hanya tersenyum kecil melihat Celia kembali uring-uringan.
"Gue memang cinta sama dia, tapi gak ngemis juga." Celia menundukkan kepalanya, ia menahan agar tangisnya tidak keluar di hadapan Evan.
"Sini, jangan mikir aneh-aneh yah. Saya cuma peluk, bukan memperkosa." Evan sampai berpindah tempat duduk di samping Celia, mengusap-usap punggung Celia dengan lembut.
"Udahan pelukannya, nanti dikira Teletubbies!"
"Oke-oke, jadi kamu maunya gimana?"
"Gak ada, aku udah gak ada yang perlu diselesaikan dengan orang itu. Sekarang bisa fokus dengan urusan pernikahan, gimana?"
"Baik, karena kita sama-sama sibuk ya urusan wedding organizer, kita serahkan ke para Ibu yah. Kamu hanya perlu beradaptasi dengan saya. Eh, sebentar yah," ucap Evan menjeda pembicaraan dengan Celia karena ponselnya berbunyi. Celia sempat melihat nama seorang wanita di layar ponsel Evan. Pria itu berdiri dan sedikit menjauh untuk menerima panggilan telepon dari wanita itu.
"Aku sudah bilang padamu, kita gak bisa menikah kalau cara hidupmu seperti itu, Anin! Apa kata keluargaku, lagian aku sudah dijodohkan dengan anak gadis teman Ayah. Tolong dimengerti," jawab Evan tegas.
"Kalau aku hamil gimana, Van?" Pertanyaan gadis Anin membuat Evan naik darah, pria itu menghela nafasnya kasar lalu membuangnya dengan cepat.
"Dengar Anindya, hubungan kita sudah berakhir enam bulan yang lalu. Bagaimana bisa kau bicara hamil denganku? Apa kau bermasalah dengan ilmu biologimu?" Evan menahan amarahnya, wajahnya memerah emosional.
"Kau jangan bicara sembarangan, aku melakukannya hanya denganmu, Van!" Wanita itu mendebat Evan.
"Hahaha, kenapa? Apa pria itu tidak mau bertanggung jawab? Kau yakin hanya denganmu? Tidak dengan pria bermobil Camry itu?" Evan setengah mengejek Anindya.
"b******k!" Anindya menutup panggilan telepon tersebut sepihak.
Evan dengan tenang, memasukkan ponselnya ke dalam saku. Kembali duduk di samping Celia, ia meminta maaf karena membuat gadis itu menunggu.
"Pacarnya ya?" Pertanyaan Celia membuat Evan terkekeh.
"Sudah mantan, kami bubar enam bulan lalu. Sudah tidak ada apa-apa. Lalu, sampai mana tadi?"
"Soal adaptasi, gimana?" Celia menahan senyumnya karena melihat wajah salah tingkah Evan.
"Oh, iya seperti itu. Jadi, karena aku sudah tahu masa lalumu, sekarang kuberitahu semua masa laluku. Kedepannya, tidak akan ada kesalahpahaman karena kau sudah tahu dari sumbernya." Evan mulai menunjukkan foto mantan pacar pertamanya hingga terakhir, wanita bernama Anindya Putri itu sedikit mengusik ketenangan Celia.
"Hey, banyak sekali mantanmu? Kau penjaja cinta apa bagaimana? Murah banget!" Celia geleng-geleng kepala setelah mengetahui jumlah mantan pacar Evan.
"Yah, itu tidak termasuk yang hts-an ayah sekedar saling baper tapi gak jadian. Tapi, kamu tenang aja. Aku setia kok, pernikahan sekali seumur hidup. Jadi, wajar kalau mencari yang terbaik," ungkap Evan membela diri.
"Ish, bilang aja suka tebar pesona!"
"Bukan, aku hanya masih pilih-pilih saja. Mencari pasangan itu artinya mencari wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Harus yang baik lah," jawab Evan kembali ke mode serius.
"Terus, Lo baik gitu dibanding mantan-mantan Lo itu?" Celia menatap tajam pria itu.
"Astaga, baru beberapa menit yang lalu dia nangis-nangis! Sekarang, matanya udah kayak mau nelen lawan bicaranya!"
"Gue gak nangis, cuma sedih," sahut Celia tidak terima.
"Yaudah, bocil. Kamu mau makan lagi? Kalau gak, kita keluar dari sini. Itu asisten kasian kayak kambing congek." Evan mengarahkan jari telunjuknya ke meja Lala dan Roy.
"Eh iya, astaga! Gara-gara kakak neh!"
"Lah, kok aku disalahkan?"
"Ya salah, kenapa gak bilang dari tadi."
"Ya udah, gak usah do tinggi gitu nadanya. Kasian itu urat ntar keluar semua." Evan menuju meja kasir untuk membayar makan siang mereka. Pria itu hanya tersenyum kecil melihat makanan yang dipesan Celia. Gadis itu sanggup menghabiskan 2 porsi ice cream berukuran besar dalam waktu bersamaan.
"Jadi, kakak gak keberatan ya? Celia mau kayak pestanya Ate."
"Atur aja, asal gak pingsan aja pas acara. Kamu harus banyak makan, bukan jajan ice cream."
"Hai, Van. Apa kabar?" Sapaan dari seorang wanita cantik dan seksi menghentikan langkah keduanya. Celia mendadak kurang percaya diri setelah memperhatikan keindahan tubuh wanita di depannya itu.