Gitar Spanyol

1115 Kata
"Buset, bodinya kayak gitar spanyol!" Batin Celia menjerit, seketika rasa percaya dirinya runtuh di depan wanita yang menyapa Evan. Walaupun digandeng Evan, ia merasa kalah secara fisik dengan wanita itu. Sejenak, Evan berusaha mengatur nafasnya. Seperti biasa, Evan tetap tenang dan kalem. "Halo, apa kabar? Sama siapa?" Pertanyaan Evan membuat Celia bertanya-tanya, sebenarnya wanita itu ada hubungan apa dengan calon suaminya itu. Masalahnya, kalau dilihat dari cara wanita seksi itu menyapa, tidak mungkin keduanya hanya berteman. "Baik, kebetulan sedang sendiri saja. Eh, adik manis ini siapa? Adik kamu, ya? Kenalan dulu kali." Wanita itu tanpa malu mencium pipi Evan di depan Celia. "Sorry, jangan kayak gini. Gak enak, Lin. Oiya, yang kamu panggil adik manis itu, calon istriku. Seperti yang sudah kusampaikan tempo hari, aku akan menikah dalam waktu dekat. Jadi, tolong jaga jarak aman, oke." "Ups sorry, jadi Lo yang namanya Celia?" Wanita itu terbahak tidak percaya dengan penampilan Celia yang masih cocok dibilang anak SMA. "Mbak lagi kumat ayannya yah? Gak ada yang lucu lho." Celia buka suara karena tidak terima seperti diejek oleh wanita itu. Tatapan jutek Celia membuat Evan panik. Pria itu berusaha mencari bantuan kepada para asisten. "Waduh, jangan sampe adu mekanik neh!" Lala meminta bantuan Roy untuk memecah situasi rumit ini. "Mbak Lin, ngapunten yah. Mas Evan sedang ada keperluan, boleh kami jalan duluan," ucap Roy memberi kode kepada Evan untuk membawa Celia pergi, sayangnya Celia enggan pergi begitu saja karena penasaran. Ada hubungan apa sebenarnya antara Evan dan wanita berpenampilan seksi itu. "Nanti dulu, Mbak mantan Mas Evan?" tanya Celia dengan nada datarnya. Tatapan menyelidik Celia membuat wanita itu semakin percaya diri karena menganggap Celia tidak tahu apa-apa. "Bukan pacar tapi saling sayang. Bukan mantan tapi kami sudah berbagi selimut, kamu gak lupa waktu itu kan, sayangku." Wanita bernama Lina itu mengelus pelan pundak Evan. "Wow, seru yah! Kalau masih mau ngobrol, gakpapa kok. Saya sibuk, mau balik kantor. Ayo Mbak Lala!" Celia cepat-cepat menarik Lala pergi dari hadapan Evan dan Lina. Lala sejujurnya ingin menahan Celia, gadis itu memang pemarah. Namun, ia yakin, jika Evan tidak seperti yang diucapkan wanita itu. Roy pun diminta Lala untuk tetap bersama Evan, agar Celia tidak semakin salah paham. Ia memberi kode kepada Roy agar segera menyusulnya. "Ini sih bakal pulang-pergi ngamuk," batin Lala yang sudah paham dengan tabit Celia. "Pulang, Mbak. Celia mau pulang, gak bisa kalau tiap jalan ke mall atau tempat umum selalu bertemu wanita-wanita jadi-jadian kayak tadi! Mana pake baju belum selesai dijahit!" Celia membuka pintu mobil dengan kasar karena kesal. "Iya, Nona. Kita pulang ke rumah," jawab Lala tenang. Ia meraih ponselnya untuk menghubungi Rara, sang bunda yang tengah sibuk di rumah bersama dengan Tara. Lalu, ia juga mengirim pesan singkat kepada Roy untuk menyusulnya ke rumah Rara. "Kesalahpahaman ini harus selesai hari ini, jangan sampai Celia berubah pikiran gak mau nikah," ucap Lala dalam chat tersebut. "Sebenarnya Pak Tara sudah tau siapa wanita-wanita yang ditemui Celia. Bahkan masih ada yang lain, tidak masalah kok. Tapi, Evan tetap akan menyusul ke rumah, ditunggu." Lala memasukkan ponselnya ke sakunya. Sepanjang perjalanannya, Celia hanya memandangi jalanan ibukota dari balik kaca jendela mobilnya. Gadis itu masih irit bicara ketika Lala basa-basi menawarkan minuman dingin. Gadis itu tanpa suara, turun dari mobil begitu sudah sampai di teras kediaman Rara. Ia mencari keberadaan Tara, sempat bertanya kepada Nur, ia menemui Tara di ruang kerjanya. "Pa, Papa! Boleh Celia masuk?" Gadis itu mengetuk pintu ruang kerja Tara. Pria itu sedang berbincang dengan Vano di ruangan itu. "Iya sayang, masuk aja," jawab Tara dari dalam. "Papa, Papa yakin sama Kak Evan? Perempuannya bertebaran dimana-mana. Baru jalan ke mall aja udah dua perempuan beda alam yang Celia tahu. Berapa banyak lagi perempuan yang jadi koleksi dia, coba?" Celia langsung memprotes kepada Tara mengenai kejadian di mall tadi. "Beda alam gimana, Mbak kunti?" tanya Tara dengan tenang. Ia sudah menunggunya momen dimana anaknya akan memprotes masa lalu Evan. Senyuman kecilnya membuat Celia semakin emosional. "Papa kok malah ketawa? Udah gak sayang Celia lagi? Ini perkara serius lho, Pa. Please dong!" Celia tidak menyangka jika respon Tara malah tersenyum, seolah apa yang ia sampaikan adalah hal biasa. "Kamu ketemu yang mana? Tunjuk sama Papa, semuanya Papa sudah tahu." Tara membuka tabletnya dan menunjukkan foto-foto banyak wanita cantik, satu diantaranya malah berhijab, membuat Celia geleng-geleng kepala. "Mereka sebanyak itu, Papa kenal?" Celia menerima tablet tersebut lalu menggesernya satu per satu. "Pertanyaannya bukan kenal atau tidak. Tapi, papa tahu apa tidak, ada kisah apa Evan dengan wanita-wanita di file itu. Nah, ini baru pas." Tara memberi kode kepada Lala untuk masuk, karena wanita itu seperti mengurungkan langkahnya. "Astaga!" "Kamu tanya yang mana, semua Papa tahu walaupun tidak kenal mereka. Yang mana yang kau temui di mall tadi, sayang?" "Ah, yang ini. Yang sakit ayan tadi," ucap Celia. Ia menunjukkan foto tersebut kepada Tara. "Coba kamu klik, baca isi file itu pelan-pelan. Namanya, Lina Marlina. Pekerja di night club, dengan gaji enam juta per bulan. Tinggal di apartemen Sahid, status Evan hanya teman nongkrongnya. Yah, sesekali agak bablas tidak apa. Yang jelas, tidak ada sejarah Evan cocok tanam dimana-mana. Itu poin utama dari Papa." "Ya tetap aja, Pa…." "Yang satunya mana? Tadi, katanya dua, Nak." "Yang satu by phone. Jadi Celia tidak tahu dia siapa, Pa," jawab Celia kesal. "Namanya, Anindya Putri. Yang menghubungi Pak Evan tadi saat makan siang di mall," ucap Lala memberi tahu Celia. "Ah, yang berhijab ini, Pa." Wajah cantik dan anggunnya, membuat Celia cemburu. "Sudah mantan pacarnya enam bulan yang lalu. Apa yang kamu khawatirkan dari kisah yang sudah selesai itu, Nak?" Tara meminta anaknya duduk di dekatnya. Dengan sabar, ia mengusap-usap punggung Celia agar gadis itu menurunkan emosinya. "Tapi dia cantik dan pintar, Pa. Yang di mall tadi, bodynya kayak gitar spanyol. Celia saja dibilang adiknya, apa-apaan coba!" Satu manusia di dalam ruangan itu hampir terlupakan, kehadiran Vano seolah tidak mengusik Celia. Gadis itu terus bicara kepada Tara mengenai keluhannya. Vano sendiri, memilih untuk menjadi penonton saja. "Gini, yang lebih cantik dan seksi dari Bunda, tentu banyak. Kenapa Papa milih Bunda? Ya karena mencari istri tidak seperti mencari barang yang bagus tapi murah." "Apa maksud Papa?" "Evan sudah pasti mempunyai kriteria sendiri untuk menjadikan seorang wanita sebagai istrinya. Sebagai ibu dari anak-anaknya kelak. Tidak mungkin dia memilih si gitar spanyol atau yang kamu bilang sakit ayan tadi. Penampilan bukan yang utama, yang dicari pria seperti Evan adalah wanita mahal. Punya value, seperti anak papa." Celia mulai mengerti maksud penjelasan Tara, gadis itu mengembangkan senyumnya, lalu berpamitan kepada Tara dan Vano untuk kembali ke kamarnya. "Oke, Lo jual gue beli! Rasakan pembalasanku. Hahaha." Suasana hati Celia mendadak ceria setelah mendengar ucapan Tara tadi, artinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari wanita-wanita di file itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN