Tara mengembangkan senyumnya setelah berhasil meyakinkan Celia bahwa masa lalu Evan sudah ia ketahui sebelumnya. Pria itu melanjutkan memberi dokumen yang diterimanya dari Vano.
"Lo beneran selidiki sampai sejauh itu? Apa cuma akal-akalan Lo aja ke Celia?" Vano bersuara setelah Lala dan Celia meninggalkan ruangan kerja Tara.
"Beneran lah, hampir tiga puluh orang wanita yang pernah dekat atau sekedar say hello sama Evan gue tahu semua. Kenapa?"
"Lo kurang kerjaan apa gimana? Pertanyaan gue, kapan Lo cari tahunya? Rara tahu?" Vano masih belum paham cara berpikir saudara sepupunya itu.
"Buat apa anak buah banyak, gue gak kerja sendiri kali! Rara, udah pasti tau lah. Ini juga gue jadiin bahan presentasi ke doi."
"Etdah, Lo udah kayak ajuin tesis aja. Tapi serius, untuk apa Lo punya data cewek-cewek ini?" Vano penasaran, akhirnya ia membuka file yang Celia baca tadi.
"Van, masa kecil Celia banyak trauma. Gue sama Rara berusaha agar trauma itu terobati. Salah satunya adalah memastikan pasangan hidupnya kelak bisa membahagiakan Celia. Hidup anak gue gak seindah yang dilihat orang. Lo tahu sendiri, dia sering kena imbas masa lalu Sarah." Tara mendadak sendu jika mengingat beberapa kali ia ditolak rekanannya untuk berbesan hanya karena tahu siapa ibu kandung Celia.
"Iya juga sih, Sarah udah tahu calon suami Celia?" Vano membuka satu persatu data diri wanita-wanita Evan di masa lalu.
"Udah, setelah tahu calon yang gue bawa itu anak siapa, baru doi kicep. Diam seribu bahasa. Lagian doi kagak mikir apa, gue gak mungkin kasih calon ke Celia sembarangan. Semuanya kudu jelas, walaupun dia kaya sejak dalam kandungan sekalipun," jawab Tara berapi-api.
"Ya udah, tapi Lo kudu tetap hati-hati sama si kadal. Doi masih ngincar Celia," ucap Vano mengingatkan Tara.
"Gue tahu, kita lihat aja sejauh apa tu anak ganggu hidup anak gue!"
"Udeh beres ini, besok gue bawa ke Surabaya sama Nanda." Vano memasukkan dokumen yang sudah disetujui oleh Tara ke dalam map.
"Gak jadi sama Rara?"
"Gak deh, Rara urusan sama Singapore aja. Urusan internal cukup gue udah bisa kok," jawab Vano meyakinkan Tara.
"Oke, bini gue kemana Van? Kok gak nyariin yah?"
"Yaelah, masih satu atap. Lo disini sama gue baru dua jam! Sana ke dapur kalau nyariin bini Lo!"
"Hahah, sewot aja Lo." Tara menutup pintu ruang kerjanya setelah keduanya sama-sama keluar. Ia mendengar suara Celia sudah kembali ceria.
"Anak Lo, dia gak mungkin ceria begitu saja tanpa balas dendam. Lihat aja nanti," ucap Vano terkekeh.
"Kayak siapa coba?" Tara tersenyum kecil mendengar obrolan Celia dengan Evan.
"Lo lah, nyet!" Vano tertawa puas sudah mengejek Tara.
"Hahah, ya udah. Lo hati-hati, salam aja sama yang di Surabaya. Senin, kita zoom jam sepuluh."
"Oke, gue balik dulu." Vano berpamitan kepada sepupunya itu.
Tara mencari keberadaan Rara, sang istri. Sempat menyapa Celia dan Evan di ruang tengah, ia lega karena anaknya tidak berubah pikiran mengenai pernikahannya.
"Lanjut aja, papa cuma mau ke Bundamu," ucap Tara ketika Celia dan Evan menjawab sapaannya.
"Bunda ke taman sama adek, Pa." Celia memberi tahu. Tara menggangguk dan berbelok masuk ke taman belakang rumahnya.
"Jadi, sampai mana tadi?" Evan yang sempat menggeser duduknya, kembali ke posisi semula.
"Aduh, kalau soal itu…." Celia terlihat ragu untuk meneruskan pembicaraannya.
"Ya udah, kita bahas sambil dinner diluar, gimana?" Evan menangkap bahwa calon istrinya itu tidak nyaman berbicara di rumah.
"Gitu boleh, ngomong-ngomong mau dinner dimana?"
"Dimana aja boleh, kamu minta dimana memangnya? Kalau gak, biar Pakde yang cariin," jawab Evan lagi.
"Gimana kalau di Mulia?" Celia menyukai tempat itu karena ice cream dan beberapa menu yang membuatnya lupa dengan timbangan.
"Oke, dijemput jam tujuh yah. Aku balik dulu, kasian Pakde udah nungguin," pamit Evan kepada calon istrinya.
"Oke, gue bilang Bunda sama Papa dulu." Setelah mengantar Evan ke teras rumah, gadis itu masuk ke dalam rumah dan menghampiri kedua orang tuanya di taman belakang.
"Pa, nanti malam mau dinner sama Mas Evan. Gak masalah kalau Celia gak makan malam di rumah, kan?"
"Gakpapa sayang, udah janjian kan?" Tara mentoel pipi cubby Celia gemas.
"Oke, karena udah sore, Celia naik dulu yah. Belum siapin baju, Pa."
"Oke, sayang." Tara memberi kode kepada Rara untuk tidak berkomentar terlebih dahulu, pria itu tahu jika anaknya akan membicarakan satu kekurangan Celia yang membuat dirinya kurang percaya diri.
"Gakpapa, Mas? Kayaknya gak usah dibicarakan juga kali. Evan juga udah tahu, bukan?"
"Biar mereka bicara satu sama lain. Keterbukaan kepada pasangan itu perlu untuk kelanggengan sebuah hubungan. Apalagi ini rumah tangga," jawab Tara meyakinkan Rara.
"Moga-moga saja Evan beneran terima apa adanya Celia. Bukan ada apanya," ucap Rara sendu.
***
Restoran yang terdapat di salah satu hotel di daerah Senayan menjadi saksi Celia mengungkap sisi gelap hidupnya.
"Memang mau bicara apa sih? Kayaknya serius banget," ucap Evan sambil menikmati ice cream pesanan Celia.
"Tentang harga diri wanita, kalau misal yang jadi istrimu ini tidak sempurna, bagaimana?" Pertanyaan Celia sedikit mengejutkan, namun Evan tahu kemana arah pembicaraan gadis itu.
"Tidak sempurna seperti apa?" Evan meraih jemari Celia yang terlihat cemas dan murung.
"Ya itu, kalau nanti malam pertama, gimana?"
"Malam pertama, yang jelas kamu capek karena banyak ritual. Boro-boro mikirin enak-enak, percaya deh."
"Bagaimana dengan malam-malam berikutnya, masa capek terus?" Celia mulai berkaca-kaca, gadis itu kembali teringat kejadian pilu beberapa tahun yang lalu.
Evan mengusap lembut punggung tangan Celia, sejenak mengatur nafasnya. "Apapun yang terjadi masa lalu, biarkan itu tetap menjadi masa lalu. Dia tidak akan bisa berada di masa depan, karena bukan dia yang kamu pilih, tapi aku."
"Ish, Lo bego apa gimana sih! Intinya gue udah gak perawan. Lo masih mau memangnya?" Celia sudah hilang kesabaran, susah payah ia merangkai kata, namun Evan tidak juga mengerti arah pembicaraannya.
"Mau, laki-laki mana yang mau melepas wanita cantik dan baik sepertimu. Celia, menikah tidak hanya soal perawan atau tidak. Perjaka atau sudah tidak. Banyak hal lain yang perlu diperhatikan. Karena pernikahan adalah adaptasi seumur hidup bagi setiap pasangan."
"Yakin? Tidak menyesal kalau istrinya tidak mengeluarkan darah di saat malam pertama?"
"Tidak akan ada penyesalan untuk wanita sepertimu. Mari sudahi pembahasan tentang kondisimu. Simpan untuk kita saja, tidak usah dibicarakan dengan orang lain. Kamu tahu, setelah menerima perjodohan denganmu, aku sudah menerima semua tentang kamu. Masa lalumu, sifat-sifatmu dan semua tentang kamu."