Celia tidak bisa menahan cairan bening di pelupuk matanya. Ucapan Evan membuat dirinya terharu. Menerima masa lalu pasangan bukan perkara mudah. Terlebih mengenai hal sensitif seperti yang Celia bahas barusan.
"Terima kasih, sorry kalau gue cengeng." Celia cepat-cepat mengusap pipinya. Gadis itu tersadar jika berada di tempat umum.
"Gakpapa, wajar kok. Tapi, kalau boleh jujur yah lebih seru kalau Celia sedang mode setelan pabrik," jawab Evan terkekeh menggoda calon istrinya.
"Ish! Bosan neh, ke tempat lain dong. Masih jam segini, gak pengen ajak jalan ke tempat yang lebih santai?" Celia sudah menyelesaikan makan malamnya. Ia bahkan membantu Evan menghabiskan puding mangga pesanannya.
"Mau ngopi?" Tawaran Evan langsung diiyakan gadis cantik itu. "Oke, kita bayar dulu yah. Kamu tunggu sebentar," ucap Evan memanggil pelayan restoran untuk meminta bill. Celia menunggu Evan menyelesaikan pembayaran sambil membalas pesan singkat dari Rara.
"Iya, habis balas pesan Bunda sebentar, Kak." Celia baru saja memasukkan ponselnya ke dalam tas keluaran terbaru berlogo huruf H tersebut.
"Oke, kita sambil jalan yah. Kamu pasti suka tempatnya. Ada ice cream dan pancake nya. Enak lagi," ucap Evan setelah memasukkan kartunya ke dalam dompet.
"Iya, wah pancake yah? Mau lah, Mas."
"Iya, kita kesana sekarang." Evan menggandeng tangannya. Andai Celia tahu, jantung Evan sudah seperti roller coaster. Namun, pria itu pandai menyembunyikan perasaannya. Dengan tenang, ia membukakan pintu mobil untuk calon istrinya.
"Mas, gue boleh tanya sesuatu?" Ketika keduanya sudah di dalam mobil, Celia yang duduk di sebelahnya seperti memikirkan sesuatu.
"Tanya aja, ada apa lagi?" Evan dengan mode santai sudah menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang.
"Aku udah gak perawan, kira-kira masih penasaran tidak, rasanya gimana?" Pertanyaan Celia memang tidak biasa ditanyakan seorang gadis kepada calon suaminya. Namun Evan tahu, gadis itu tipikal ceplas-ceplos dan apa adanya. Wajah cemasnya tidak bisa disembunyikan lagi.
"Hehehe, udah tau kok. Kalau kamu mau tahu dengan siapa, nanti aku beritahu orangnya. Dengan syarat gak ada pake ngamuk yah." Evan tidak terusik dengan ucapan atau tindakan Celia yang terkadang di luar ekspektasinya. Wajah cantik dan anggun gadis itu memang bertolak belakang dengan gaya bicaranya yang blak-blakan.
"Gak ngamuk sih, paling dijambak doang," jawab Celia terkekeh kecil.
"Wah, berat neh. Namanya masa lalu ya sudah, sesekali perlu di tengok untuk hati-hati. Tapi, yang utama tetap kamu. Masa depanku," ucap Evan mengedipkan mata genit kepada Celia.
"Dasar m***m! Tapi gakpapa, toh Celia juga gak sempurna. Udah kecoel!"
Pada saat Celia mengucapkan hal tersebut, posisi mereka sedang berada di lampu merah. Evan dengan cepat menangkup kedua pipi Celia agar menghadap ke arahnya. Satu jnari telunjuknya menempel di bibir Celia, meminta gadis itu tidak bicara lagi. "Udah, gak usah diulang-ulang terus. Bahas baju pernikahan aja, nanti kamu pilih yang udah dikirim ke email yah."
Celia mengangguk pelan, suasana sendu di dalam mobil itu dengan cepat Evan alihkan lebih ceria dengan musik yang disetel pria itu.
"Hey, tahu lagu itu dari mana?" Wajahnya berubah menjadi merona karena lagu favoritnya yang sedang disetel.
"Jangankan lagu kesukaanmu, ukuran dalaman juga aku tahu," jawab Evan terbahak puas.
"Papa! Calon suamiku begini amat yak!" Celia terkejut dengan ucapan Evan. Ia berteriak memanggil-manggil nama Tara karena tidak tahan dengan kerandoman Evan.
"Hahahaha, udah gakpapa. Nanti juga ada gunanya aku tahu hal pribadi seperti ini. Lagian, dipegang aja belum kok udah teriak kayak gitu," jawab Evan terkekeh.
"Awas aja kalau macam-macam!"
"Gak usah ngancam. Aku cuma minta semacam aja kok. Yang sekarang, makan ice cream yah." Evan membantu Celia melepaskan sabuk pengaman. Keduanya turun dari mobil bersamaan.
Mata gadis itu berbinar seolah mendapatkan lotre. Deretan menu yang menyajikan aneka pancake membuatnya seperti ingin memakan semuanya.
"Aahh, rasanya ingin pesan semuanya," ucap Celia sambil menarik-narik kaos Evan. Menunjuk beberapa menu yang terlihat menarik, Evan berhasil mengembalikan moodnya dengan membawanya ke cafe unik itu.
"Duduklah, biar aku yang pesan makanannya. Kau mau yang mana?" Evan terkekeh kecil melihat tingkah Celia yang tidak sabaran.
"Yang rasa vanilla dan kiwi yah." Celia menunjuk dua menu yang menarik perhatiannya.
"Oke," jawab Evan beranjak dari duduknya. Menuju meja kasir untuk melakukan pemesanan. Tanpa Evan tahu, Celia diam-diam memandangi Evan yang tengah antri.
"Papa sudah benar menjodohkan gue sama Mas Evan. Tuhan, kalau boleh minta lagi, kasihlah rasa cinta yang Celia miliki untuk suamiku. Jangan ke b******n tengik itu. Dia gak pantas dapat itu semua." Celia menghela nafasnya perlahan. Memohon kepada Sang Pencipta agar perasaannya terhadap Faisal entah dari hati dan pikirannya. "Ah, gue mending buka email dari WO. Daripada bengong mikirin si kadal!"
Evan yang sudah selesai mengantri, kembali ke kursinya. Duduk di samping Celia yang sedang membuka email dari pihak wedding organizer. Sederet desain kebaya cantik menjadi referensi untuk Celia.
"Kenapa, semua bagus-bagus yah?" Evan melihat wajah bingung Celia.
"Iyah, semua bagus dan cantik. Kalau gue minta yang ini gimana? Ada swarovskinya, boleh?"
"Boleh, cantik kok. Kamu tunjuk saja mana yang kamu mau." Evan setuju dengan selera Celia. Selain itu, ia memang membebaskan gadis itu untuk berpendapat mengenai acara pernikahan mereka.
"Yah, setidaknya Mas kasih kebebasan. Udah nikah gak ada cinta, masa milih baju aja diatur. Sedih amat hidup penerus Dirgantara," ungkap Celia dengan mimik wajah sedih.
"Gak usah mendramatisir keadaan, kayak disiksa aja." Evan mengacak rambut Celia gemas.
"Mas, rambutku!" Celia merapikan rambutnya yang berantakan.
"Tuh, ice cream kita datang. Makan dulu yuk." Evan menunjuk pelayan cafe yang berjalan ke arah meja mereka dengan membawa nampan pesanan.
"Awas aja kalau gak enak!"
"Kalau enak, kasih hadiah yah." Evan mulai timbul jiwa usilnya. Pria itu hendak mengerjai Celia. Ia meminta Celia mencium pipinya sebagai hadiah.
"Apaan! Enak aja minta cium-cium segala," tolak Celia geleng-geleng kepala.
"Hahaha, lalu minta dikasih apa neh?"
"Ya kasih yang bagus lah. Hermes kek, berlian gitu. Masa cuma ice cream doang! Kalah si Kevin, dia kasih gue barbie lengkap sama rumahnya."
"Oke, siapa takut. Kamu mau yang mana? Sini aku yang bayar," jawab Evan cuek. Ia mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan salah satu kartu kreditnya kepada Celia.
"Ish, ini laki lama-lama nyebelin juga. Memang kaya sih, pantas aja Papa ngotot," gumam Celia sambil membuka foto-foto koleksi dagangan rekanan Sanny, nenek tercinta yang memang kolektor tas branded. "Rasain, gue kerjain."
"Ini aja? Serius neh, gakpapa kalau mau ambil yang lain juga," ucap Evan santai.
"Memang udah tau harganya?" tanya Celia terkejut dengan ekspresi biasa Evan.
"Para Ibu barusan beli juga kok, memang lagi trend. Kamu mau itu, kan? Neh, bayar pake punyaku aja." Evan mempersilahkan calon istrinya untuk memakai kartunya.
"Hhmm, oke. Makasih, Mas." Celia dengan senang hati melakukan pembayaran menggunakan kartu kredit Evan.
"Hadiahnya dong, yang special yah." Evan mengedipkan matanya menggoda Celia.
"Beneran m***m!" Celia mengecup pipi Evan kanan dan kiri sebagai hadiah karena membelikan tas untuknya.
"Yah, ini hadiah perdana dari calon suaminya. Jangan lupa dipamerkan ke mantan pacar," ucap Evan mengusap lembut rambut Celia yang tergerai indah.