"Jadi, aku menidurimu ...." Devan masih bingung kenapa ia bisa tidur dengan istrinya sendiri. Seharusnya ia tidur dengan kekasihnya Lita. Ia menatap wajah istrinya dengan curiga. "Lalu, kenapa kau mau saja aku tiduri. Kau sengaja, ya!?"
"Mas, aku ini istrimu ...." Wanita itu terperangah. "Apa ada yang salah jika kita melakukan itu?"
Wajah Devan berubah geram. "Bukankah sudah aku peringatkan padamu, Naya! Jangan pernah sekali-kali memperdaya agar kamu bisa tidur denganku, tapi kau malah melanggarnya!"
"Mas! Bukankah Mas sendiri tadi yang maksa aku buat tidur denganmu? Aku mana kuat melawanmu, Mas!" Mata Naya mulai berkaca-kaca. Kenapa juga semua itu jadi salah dirinya? Kenapa harus ia yang menanggungnya? Bukankah dari awal Devan yang memulainya?
"Bagus! Kau tak mau bertanggung jawab atas perbuatanmu!" Devan dengan senyum mengejek. "Bukankah kalau kau melanggar perjanjian kita, kamu siap untuk dicerai?"
Naya menatap nanar suaminya, tak percaya. Tubuhnya gemetar, menahan tangis. Devan belum pernah semarah itu padanya. Namun, kini ia tahu siapa Devan sesungguhnya.
"Itu di laci depan ada surat cerai. Cepat kau tandatangani karena aku menalakmu, Kanaya Aisyah!"
Luruh sudah tubuh Naya menerima talak dari suaminya. Walaupun sudah ingin menyerah, hatinya syok mendengar talak dari Devan. Ia hanya tertunduk menahan sesak di d**a. Dengan langkah gontai ia melangkah ke tempat yang ditunjuk suaminya tanpa perlawanan. Ia membuka laci, lalu mengeluarkan berkas dan pulpen dari sana. Setelah membuka halaman terakhir, ia menandatanganinya.
Sedang Devan, dengan emosi meledak-ledak, berpakaian dan melangkah ke pintu. Pikirannya buntu. Ia membuka pintu dan membantingnya setelah melewati pintu itu.
Naya memejamkan mata merasakan emosi Devan dengan suara bantingan pintu. Walaupun tak terlalu keras, tapi cukup mengiris hatinya. Jadi, untuk apalagi ia ada di sana? Semua sudah selesai. Pernikahan mereka telah berakhir.
Wanita itu mengambil koper yang berada di samping lemari dan menariknya keluar. Ia berjongkok membuka koper, lalu berdiri membuka lemari. Sebaiknya ia pergi. Lebih cepat lebih baik.
***
Sementara itu, Devan yang sudah berada di sebuah kafe yang berada di hotel tersebut, kini tampak termangu bingung. Sejak tadi, ia hanya duduk sendiri mengingat semua yang terjadi antara dirinya dan Naya.
"Apa yang kulakukan? Kenapa aku bisa menidurinya?" Devan masih terus memikirkan semua itu. Memandangi secangkir kopi yang asapnya masih mengepul tipis. Sambil menyeruput kopi, ia coba mengalihkan pandangan mata ke arah lain. Melihat lalu lalang orang yang lewat di depan cafe itu. Namun nyatanya, semua itu tak membuat pikirannya tenang.
Sesekali pria itu menyugar rambut dengan kedua tangan sambil menunduk. Ia merasa sangat kacau. Bingung dengan keputusannya. Apakah menceraikan Naya merupakan keputusan yang tepat? Awalnya, ia merasa yakin. Namun, semua berubah, kini ia ragu saat kembali mengingat semua hal yang Naya lakukan selama pernikahan mereka. Wanita lembut itu selalu menyapanya setiap ia pulang bekerja. Setidaknya, setelah lelah bekerja ada senyum yang mencairkan suasana, walau tak pernah ia tanggapi. Beberapa minggu ini mereka mulai bisa berkomunikasi, walau ia menanggapinya dengan singkat. Sebagai ibu rumah tangga, Naya tidaklah buruk, apalagi punya anak darinya. Bukankah rumah tangganya selama ini baik-baik saja?
Di tengah rasa kalutnya, tiba-tiba pandangan matanya teralihkan oleh pertengkaran dua orang yang sedang bergerak keluar dari lift. Manik matanya melebar. Seseorang yang sangat dikenalnya tengah bertengkar dengan seorang pria muda. Pria itu terus mengikuti, tapi sang wanita terlihat marah sekali.
Devan pun menajamkan telinga. "Kenapa Lita bertengkar dengan pria itu?"
"Jangan ikuti aku!" Lita berhenti melangkah dan memutar tubuhnya menghadap sang pria dengan wajah merengut.
"Lita, kau mau ke mana? Biar aku antar."
"Aku tak butuh mulut manismu!" Kembali wanita itu bergerak menjauh.
Namun, pria itu bergerak cepat dengan menghalangi wanita itu dan memasang badan tepat di depannya membuat Lita semakin kesal.
Wanita itu bergerak ke samping, tapi ke mana pun ia pergi, pria itu selalu menghalangi. "Awan, minggir!" teriaknya dongkol, menyebut nama pria yang ternyata bernama Awan.
Meski Lita semakin dibuat kesal. Pria itu justru menertawainya hingga tiba-tiba saja sebuah tangan menarik lengan Awan dan membuat pria itu nyaris terjatuh.
"Hei, mau apa kau ganggu kekasihku?" Devan yang datang, membuat Lita senang, dan langsung bersembunyi di balik punggung pria pujaannya itu.
Pertengkaran keduanya cukup menarik perhatian, tapi kedatangan Devan malah semakin membuat orang-orang di sekitarnya berhenti dan memperhatikan mereka.
Awan malah tertawa terbahak membuat Devan menatapnya dengan wajah heran. "Kekasihmu? Aneh, orang terhormat sepertimu malah punya kekasih gelap. Apa kau tidak tau malu atau kurang bersyukur? Sudah punya istri cantik, tapi masih saja mau milik orang ...."
"Apa maksudmu?" Alis Devan terangkat sebelah. Perkataan Awan sukses memancing amarah Devan.
"Tanyakan saja padanya, apa yang kita lakukan tadi di kamar. Yang pasti, aku sudah menitipkan benih yang aku harap akan jadi penerusku. Iya 'kan, Lita?" Awan mengedipkan satu matanya pada Lita.
Devan yang mengerut dahi, memutar tubuhnya ke arah wanitanya yang ada di belakang. "Apa maksud ucapannya, Lita?"
Wanita itu menundukkan kepala dan dengan takut-takut melirik ke arah Devan. "Bukan begitu ... dengar dulu ceritaku!" ucapnya hati-hati. Kedua tangannya terangkat dengan jemari setengah terkepal.
"Apa yang harus kudengar? Cepat katakan, Lita!" Devan mulai membentaknya karena tak sabar. Intonasi suaranya pun terdengar naik satu oktaf. Marah sudah tentu. Devan benar-benar sulit menahan amarahnya saat ini.
Lita jadi ketakutan dibuatnya. Ia pun mengangkat wajahnya agar pria itu percaya. "Dia tadi tiba-tiba masuk ke kamar, terus ...."
"Jadi, kamu melakukannya dengan dia? Kau sudah berselingkuh di belakangku!?" Mata Devan merah menyala. Ia menunjuk Awan dengan amarah membara.
"Dev, bukan begitu ...."
"Kau menuduhnya selingkuh? Lalu, apa yang kau lakukan bersama Lita di belakang istrimu, hah? Sekarang kau tau rasanya diselingkuhi. Seperti itulah yang dirasakan istrimu kini," ucap Awan mengejek, menimpali perdebatan keduanya.
Devan mengalihkan pandangan, menatap tajam Awan dengan murka. "Jaga bicaramu!" Ditariknya kerah kemeja pria berwajah tampan itu dengan kasar, tapi Awan tak sedikit pun menunjukkan rasa takut. "Kau ini siapa sebenarnya, hah!?"
"Kau ingin menghabiskan waktumu untuk hal yang tidak penting? Sudah kukatakan tadi, aku calon suami Lita, apa kamu tidak percaya?" Awan menjawab dengan santai. Bahkan, ada senyum yang terulas di wajah pria itu.
"Bohong! Dia bohong!" bantah Lita kesal.
"Kau ingin menunggu sampai perut Lita membesar baru percaya? Sekarang saatnya kamu harus memilih. Mempertahankan yang sudah ada atau mengejar yang tidak pasti. Kamu pilih yang mana?" Wajah Awan terlihat mengejek menatap Devan.
Devan seketika bimbang. Dilepaskannya kerah kemeja Awan dengan kasar. Ia mulai berpikir.
"Devan, jangan percaya padanya! Dia bohong! Aku akan minum obat agar janin itu tidak jadi!" Lita coba meyakinkan. Namun, ucapan wanita itu malah semakin meyakinkan Devan bahwa Lita telah berselingkuh di belakangnya.
"Naya ...." Devan kembali mengingat istri yang baru diceraikannya. Apa sang istri masih ada di kamar? Buru-buru ia mengejar lift yang hampir tertutup.
"Devan!" panggil Lita menuntut.
Devan mengabaikan teriakan Lita. Saat ini, yang ada di pikiran hanyalah Naya. "Tolong jangan ke mana-mana, Nay. Kita harus membicarakan lagi soal perceraian kita," pintanya dalam hati.
Setelah sampai di lantai dua, Devan berlari ke arah kamarnya. Ia ingin segera bertemu Naya. Ingin memperbaiki semua sebelum terlambat. Namun, ia mendapati kamar itu telah kosong, koper Naya pun tidak ada lagi di sana. Dengah terburu-buru, ia coba menghubungi sang istri, tapi teleponnya dimatikan. "Naya ...."
Teringat lagi, surat cerai yang ada di laci. Ia memeriksanya, tapi tak menemukan di sana. Ia pun berusaha mencari ke berbagai sudut ruangan, tapi sia-sia. Pikirannya semakin kacau, terlebih saat ia ingat bahwa surat itu sudah ia tandatangani. Kalau Naya sampai mengirim surat itu ke pengadilan agama, berarti akan sulit baginya untuk kembali. Lalu ia harus bagaimana? Devan yang bersandar pada ranjang seketika jatuh terduduk di lantai. Apa yang harus dilakukannya?
Seketika, ia mengingat sosok Darmawan. Ya, Naya adalah anak yatim piatu dan pria itulah yang menikahkan mereka. Setidaknya, Devan tahu harus mencari Naya ke mana. Ia berharap agar pria yang merupakan paman Naya itu bisa menjembatani hubungan keduanya.
Devan pun tak membuang waktu. Langsung berkemas untuk pulang ke Jakarta. Ia harus menyelesaikan masalahnya, segera!
"Tunggu aku, Naya! Aku pasti akan membawamu kembali padaku."
Bersambung ....