"Maaf, tapi apa yang saya dengar dari Naya membuat saya harus berpihak sama keponakan saya. Saya cuma mau dia bahagia." Pria paruh baya itu berkata dengan bijak. Ya, Devan langsung menceritakan semua yang terjadi Singapura begitu tiba di sana. Namun sayangnya, Darmawan lebih dulu mendengar semuanya dari Naya.
"Tolong aku, Paman! Tolong kasih aku kesempatan! Aku akan melakukan apa pun agar Naya bisa kembali sama aku." Devan memohon. Suaranya mulai serak. Berharap, ia masih punya kesempatan lewat bantuan Darmawan.
Pria paruh baya itu pun tersenyum simpul. "Rasanya sulit, Devan. Dulu saya menikahkan Naya sama kamu karena wasiat almarhum kakak saya. Kebetulan saat itu Naya juga suka sama kamu, tapi ternyata saya lupa satu hal. Ya, perasaan kamu, saya tidak memperhitungkannya. Kalau kamu minta kesempatan sekarang, rasanya sudah terlambat, padahal dua tahun kamu bersama Naya, tapi kamu tidak mempergunakannya dengan baik. Apa boleh buat, waktumu sudah habis, Naya sudah patah hati. Mungkin kalian memang tidak berjodoh. Jadi sekarang, lupakan dia!"
"Tidak bisa, Paman. Aku tidak bisa kehilangan dia ...." Devan mencondongkan tubuhnya ke depan dengan dahi sedikit berkerut. "Sekarang beri tahu aku, Paman, di mana Naya. Biar aku bicara sendiri sama dia." Ia menengok kanan kiri mencari, berharap Naya ada di sana.
"Sayangnya Naya tidak ada di sini. Dia pergi jauh untuk menenangkan diri. Lagi pula saya pikir, tidak ada gunanya lagi kamu bertemu Naya karena ucapan apa pun yang keluar dari mulutmu, sudah tak lagi dia percaya. Bebaskanlah dia! Dia butuh ketenangan tanpa kehadiranmu. Hargai keputusannya atau dia akan semakin putus asa." Darmawan terdiam sejenak. Walaupun wajahnya masih terlihat muda, sudah ada beberapa helai rambut putih tumbuh di pelipisnya. "Segala sesuatu yang berhubungan dengan perceraian sudah diserahkan sama saya. Surat itu sudah saya kirim ke pengadilan, Devan. Tinggal tunggu prosesnya saja."
Devan menegakkan punggungnya dengan wajah kecewa. Ia menghela napas dalam. Menyesal, hanya itu yang ia rasakan.
***
Waktu berlalu dengan begitu cepat. Namun, bagi Devan, empat tahun yang dilaluinya terasa begitu lambat. Ya, semua penyesalannya masih terus terbayang-bayang dalam diingatan. Hari-harinya terasa suram. Ia sudah coba mencari Naya ke mana-mana, tapi wajah cantik nan lembut itu seperti hilang ditelan bumi. Tinggal Devan yang mengutuk dirinya sendiri karena telah melepas mutiara terindah yang pernah ia miliki.
Selagi berjalan gontai di sebuah mal, ia berbelok ingin mencari tempat makan. Sebenarnya ia tidak begitu lapar karena sejak kepergian Naya, ia seperti kehilangan nafsu makan hingga bobot tubuhnya berkurang drastis. Kali ini, ia hanya ingin melepas lelah sambil minum secangkir kopi dengan sedikit makanan kecil.
Tiba-tiba matanya terhenti pada seorang bocah kecil yang asyik makan sendirian di sebuah restoran. Bukan karena wajah gantengnya yang lucu, tapi wajah anak kecil itu mengingatkannya akan sosok dirinya saat masih kecil. Rasanya ia tak percaya bila tak melihat sendiri, tapi wajah bocah itu memang sangat mirip dengannya? Siapa anak itu?
Devan bisa melihatnya karena dinding restoran bagian luar, berkaca. Karena itulah, dengan mudah ia bisa melihat bocah itu. Merasa sangat penasaran, ia mendekati anak kecil itu yang tak menyadari kedatangannya karena sibuk makan.
"Halo ...."
Anak itu menengadahkan kepala. Matanya yang cemerlang menatap wajah Devan. Di sekitar mulutnya sudah kotor dengan bekas makanan.
"Kamu sendirian? Di mana orang tuamu?"
"Lagi di toilet, nemenin Ami."
"Ami?" Devan mengangkat satu alisnya.
"Oh, adekku."
Devan memperhatikan bocah itu. Mungkin berumur sekitar tiga atau empat tahun karena sudah lancar bicara.
"Dul, kamu bicara dengan siapa?"
Suara itu begitu familiar. Devan menoleh dan terkejut. "Naya ...?"
"De-van ...?" Suara Naya seperti tercekat. Ia datang dengan seorang gadis kecil. Wajahnya tampak lebih matang dari sebelumnya. Ia terkejut melihat tubuh Devan yang lebih kurus dari terakhir mereka bertemu.
Otak pria itu langsung bekerja. "Jadi ... anak ini ...." Ia kembali melihat ke arah anak laki-laki itu dengan mata membulat sempurna. "Jadi mereka ... anak kita ...?" Devan tercengang. Ia kembali melihat gadis kecil itu yang juga memiliki garis wajah mirip dengannya.
"Itu anakku!" Naya menyangkal dengan dahi berkerut.
"Jangan bo–"
"Naya!"
Ucapan Devan terjeda saat seorang pria datang dan memanggil Naya.
Keduanya pun menoleh. Seorang pria tampan berwajah bule tampak mendekat. Pria berpostur tinggi dengan rambut hitam lurus itu berbanding terbalik dengan Devan yang wajah biasa saja.
"Dia suamiku." Naya meraih lengan pria itu dan memeluknya.
Bule itu tampak kaget dan melirik Devan. "Siapa dia, Nay?"
"Oh, dia mantan suamiku. Kenalkan, dia, Devan." Naya berusaha terlihat santai. Ia menoleh pada Devan. "Devan, ini Brian. Oh ya, karena Brian sudah datang, aku mau pulang." Buru-buru diturunkannya Abdul dari kursi, sedang Ami digendong Brian. Gadis kecil itu terlihat senang seperti sudah terbiasa dengan Brian. "Daddy ...."
"Tidak mungkin ... ini tidak mungkin. Pria itu wajahnya bule, sedang anak itu tidak mirip dengannya sama sekali. Bahkan, wajahnya malah mirip denganku. Mereka pasti anakku. Kenapa kau menyangkalnya, Naya?" Devan bermonolog sendiri. Masih menatap kedua anak itu dengan penuh tanda tanya. Pria itu pun langsung berpikir, apa kejadian waktu di Singapura itu meninggalkan benih di rahim Naya?
"Tunggu dulu, Nay! Kita harus bicara ...." Devan berusaha menahan kepergian Naya.
"Untuk apa? Aku tak mau lagi bicara tentang masa lalu." Naya membersihkan mulut Abdul dengan tisu.
"Tapi anak ini, anak kita, 'kan?" Devan bicara dengan yakin sebab hanya itu hal yang masuk akal dalam pikirannya.
"Devan." Kini Naya menatap ke arah mantan suaminya dengan berani. "Aku sudah menikah. Jangan ganggu aku lagi, aku tidak ingin rumah tanggaku berantakan karena adanya orang ketiga!" Naya mengatakan dengan penuh penekanan. Tegas dan tak ingin dibantah.
Perkataan Naya benar-benar menyinggung ego Devan, tapi Devan tak lagi marah. Ia saat itu memang salah. "Tapi aku juga berhak atas mereka, 'kan?"
"Mereka itu anakku, kenapa kamu tidak juga mengerti, hah!? Aku tidak mau diganggu lagi! Lupakan masa lalu kita agar aku bisa hidup tenang dengan keluargaku!" Naya segera menarik Abdul keluar dari restoran. Kaki kecil bocah itu tak bisa mengimbangi langkah ibunya hingga harus setengah berlari mengikuti sang ibu yang sedang kesal. Naya yang tak sabar akhirnya menggendong si kecil. Brian kemudian mengikuti Naya dari belakang.
"Nay, tunggu!" Devan sempat memanggil Naya kembali. Namun, mantan istrinya itu terus saja pergi tak peduli. Kenapa Naya tak mengizinkannya mengenal kedua anaknya sendiri? Seperti ada yang disembunyikannya. Devan yang penasaran pun berusaha mengejar.
Ia tidak mendekati Naya karena tahu wanita itu pasti akan kembali mengusirnya. Oleh karena itu, Devan memilih untuk mengikutinya diam-diam sampai ke parkiran. Sepertinya mantan istrinya itu tidak menyadari saat Devan tengah menguntitnya.
Abdul duduk di kursi depan mobil Brian karena ia yang paling tenang, sedang Ami duduk di belakang bersama Naya karena tak bisa diam. Sekarang saja Ami kembali berdiri di atas dudukan kursi.
"Ami, kamu mau ke mana, Sayang?" Naya merapikan baju si kecil.
"Amana-mana, Mama." Namun bocah itu melihat ke kaca belakang. Ia menggeleng-gelengkan kepala sehingga rambut kuncir duanya yang pendek itu bergoyang-goyang. Ya, Ami sedikit cadel dan tak bisa diam karena itu Naya selalu mendampingi.
Hari itu babysitter anak-anak sedang pulang. Jadi, Naya kerepotan mengurus kedua anak kembarnya sendirian. "Maaf ya, Brian. Aku jadi melibatkanmu."
"Tidak apa-apa. Bukankah sebentar lagi kita akan menikah? Aku senang kalau bisa membantumu." Brian sebenarnya terkejut melihat Naya terlihat emosional saat bertemu dengan mantan suaminya, tapi ia tak ingin mengomentari karena itu masalah pribadi Naya dengan mantan suaminya. Lagi pula mereka belum menikah. Rasanya terlalu berlebihan kalau ia menanyakan hubungan yang sudah kandas. Sebaiknya ia mempercayai saja keputusan calon istrinya, apa pun yang ingin diambilnya. "Kita langsung ke butik aja, nih?"
"Iya."
Devan melihat mobil Brian berhenti di depan sebuah butik terkenal. Ia memarkir mobilnya di seberang agar tidak ketahuan Naya.
"Kira-kira untuk apa mereka ke sini? Setahuku, Naya jarang pergi ke tempat-tempat seperti ini, kecuali ...." Devan tampak berpikir sejenak. "Jangan-jangan Naya bohong, dia belum menikah dengan laki-laki bule itu." Seketika Devan merasa lega. Itu artinya, ia jadi punya kesempatan untuk kembali mendekati Naya dan menanyakan secara pasti soal dua anak yang wajahnya sangat mirip dengannya itu. "Apa pun caranya, aku akan merebut Naya dari laki-laki itu."
Bersambung ....