Aulia Azzahra Mungkin ini yang diyakini Bapak bahwa aku akan bahagia setelah bertemu jodohku. Ya, pilihan Bapak tidak pernah salah, Bapak telah mengantarku kepada jodohku meski aku kehilangan beliau. “Sudah?” Mas Bisma menghampiriku, dia meletakkan karangan bunga yang baru dibelinya lalu meletakkannya di pusara Bapak. Sejenak dia mengusapkan tangannya di pusara yang ditanami rumput itu. Enam bulan pernikahan kami, baru sekarang aku berziarah di makam bapak. Mas Bisma yang mengajakku ke sini karena sebelumnya aku tidak berani meminta diantar ke desa. “Kita ke rumah Paman dulu, Mas. Sudah lama tidak menemui paman,” kataku. Paman Aryo satu-satunya keluarga bapak, dia juga yang selalu membantuku dulu membagi jatah makan untuk anaknya denganku. Aku tidak pernah melupakan kebaikan mereka, ma

