“Aira,” Aira menoleh, dia langsung menghampiri Bunda Zidan yang berdiri diteras rumah. Benny baru saja pulang setelah mengantar Aira, tak mampir karena harus latihan untuk turnamen minggu depan. “Bun,” “Ara sama siapa tadi?” tanya Bunda Zidan, tersenyum simpul penuh godaan pada Aira yang langsung salah tingkah dibuatnya. “Teman Ara Bun,” “Teman apa teman?” “Teman, Bun...” Bunda Zidan tersenyum, mengusap surai lembut Aira. ”Hati-hati, ya. Tetap jaga pergaulan kamu, jangan macam-macam. Bunda gak larang kamu dekat sama siapapun kok, tapi sekali lagi. Hati-hati.” Aira mengangguk, “Iya, Bun. Makasih, ya.” ucap Aira sambil melemparkan senyumnya. Dia menatap sekitar, tak melihat motor Zidan disini. Apa Zidan belum pulang juga? “Zidan belum pulang, Ra. Dia ada urusan di cafe nya.”

