03. Ya udah, gak pacaran.

1421 Kata
“Eh ... Eh ... Zidan kayaknya jadian ya sama Jihan. Kemarin aja mereka pulang bareng.” “Hebat banget Jihan bisa dapetin Zidan.” “Eh, gue kira Zidan bakalan sama Aira. Eh, taunya sama Jihan.” “Cocok sih ya ... Zidan, Jihan. Double Zi.” Kalau Zidan yang mendengarnya, lelaki itu tak peduli. Zidan akan mengabaikan semua ucapan orang-orang yang menurutnya hanyalah omong kosong semata. Berbeda dengan Aira yang kini justru tersenyum lebar. Tak henti-hentinya dia menggoda Zidan. Namun, begitulah Zidan. Masa bodo. “Cie Zidan ... Cie ...” “Apaan sih, Ra. Kayak anak kecil.” Aira mengerucutkan bibirnya, dia menatap kesal Zidan. “Biarin.” tukas Aira sambil mencebikkan bibirnya, namun itu tak berlangsung lama karena kemudian dia kembali menggoda Zidan. “Cie ... Zidan. Udah, jadian aja.” Zidan hanya menghela napas kasar, menggeleng kemudian melenggang begitu saja meninggalkan Aira yang kini berlari mengejar langkahnya. Begitu mereka masuk ke kelas yang lumayan ramai pagi ini, sepertinya mereka datang cukup pagi. Semua mata langsung tertuju pada mereka, Zidan lebih tepatnya. “Hallo everyone ...” sapa Aira seperti biasa dengan senyum lebarnya. Aira itu seperti menjadi sinar semua orang, selalu membawa kebahagiaan pada orang-orang disekitarnya. Banyak bicara, banyak tingkah. Kalau Aira tak ada , rasanya kurang. Telinga mereka seperti kurang karena tak mendengar keramaian perempuan itu. Zidan duduk di kursinya seperti biasa, tak terganggu sedikitpun dengan gosip-gosip yang beredar. Sedangkan, Aira langsung menghampiri Jihan yang duduk di bangku pojok dengan tatapan sebal tertuju padanya. Aira tersenyum lebar menggoda. “Gue sebel banget, Ai. Pagi-pagi udah di gosipin. Mana gak jelas lagi gosipnya. Nyebelin. Dan yang paling bikin gue kesel, sekarang semua orang pada lihatin gue. 'Kan nyebelin.” ucap Jihan panjang lebar, dia benar-benar tak suka menjadi pusat perhatian. “Udahlah, diterima aja. Lagipula, kalau misalnya Lo jadi sama Zidan.” ucap Aira, dia menjeda ucapannya dan melirik Zidan yang kini tengah berbincang-bincang dengan teman lelakinya, kemudian kembali menatap Jihan. “Gue setuju kok. Lo baik dan Lo tipe idaman Zidan. Jadi, Lo pantas buat Zidan.” lanjut Aira, dia tersenyum lebar. “Apaan sih, Ai. Lo sama nyebelinnya kayak yang lain.” “Dih .. orang gue cuma—” “Selamat pagi semuanya ...” Aira bergegas menuju mejanya, dia tersenyum penuh arti pada Zidan yang acuh. *** Aira mengedarkan pandangannya ke penjuru kantin, dia yang baru selesai menemui pak Young untuk mempresentasikan tugas kelompok mereka kini jadi harus terlambat pergi ke kantin. Matanya dia edarkan untuk mencari keberadaan Jihan atau Zidan seperti biasa. Namun, dia dikejutkan saat pundaknya di tepuk seseorang yang ternyata adalah Raka. “Hai, Ra.” Aira tersenyum, “Hai, Rak.” “Lo mau istirahat? Duduk dimana? Gabung sama gue aja, sama anak-anak yang lain.” ucap Raka, dia melirik gerombolannya yang berisikan beberapa siswa dengan dua orang siswi. Aira meringis pelan, dia bisa saja mengiyakan. Namun, tidak. “Sorry, ya, Rak. Gue udah di tungguin sama Zidan. Next time, ya.” ucap Aira, dia tersenyum tipis. Raka tersenyum kikuk, mengangguk-angguk. Baru kali ini dia ditolak dan penolakannya ini karena laki-laki lainnya. Dia merasa harga dirinya dijatuhkan. Apalagi dia tahu, siapa Zidan. Salah satu most wanted di sekolah mereka, sama sepertinya. Just info, sebenarnya dia dan Zidan itu tak punya hubungan baik. Antara klub futsal dan basket mereka seringkali berselisih. Dan, saat Aira lebih memilih Zidan, itu sama saja dirinya dikalahkan oleh lelaki itu. “Lo sebenarnya tahu 'kan kalau gue suka sama lo?" Aira terkejut mendengar ucapan Raka. Dia tahu, tapi tak menyangka lelaki itu akan bertanya demikian. “Dan, gue juga tahu. Lo tuh juga suka sama gue.” tukas Raka, wajah angkuh terlihat jelas. “Terus, kenapa Lo malah dekat-dekat sama Zidan?” Aira mengerutkan keningnya. “Loh, kenapa Lo jadi larang-larang gue buat dekat sama orang? Gue akuin, gue suka sama lo. Tapi, bukan berarti gue harus dengerin omongan Lo. Kita bukan siapa-siapa, bahkan gak ada status apapun.” Raka tersenyum sinis. Dia mengalihkan sejenak atensinya kemudian kembali menatap Aira. “Jadi, ini tentang status? Ya udah, kita pacaran sekarang.” Tukas Raka begitu saja namun justru membuat Aira kesal dibuatnya. Aira menatap sebal Raka dengan mata memincingnya. “Asal Lo tahu aja, mungkin kalau cara Lo gak gini. Gue bisa aja terima Lo. Tapi, setelah gue tahu ternyata Lo tuh begini ... Sorry, gue gak bisa.” Ucap Aira, nada kesal terdengar jelas dari suaranya. “Belum ada status aja, Lo udah larang-larang gue. Apa kabar kalau kita beneran jadian?” lanjut nya kemudian membalikkan badan pergi meninggalkan Raka yang menatap marah dan kesal padanya. “s****n, Lo!” *** Aira duduk dengan kasar di kursi taman sekolahnya, wajah masam dan kesal itu terlihat jelas. Tatapan kesal dengan pikiran yang masih teringat apa yang baru saja terjadi padanya. Raka menyebalkan. Bisa-bisanya lelaki itu melarangnya untuk dekat-dekat dengan orang, padahal mereka tak terikat hubungan apapun. Terlebih, lelaki itu melarangnya berdekatan dengan Zidan yang jelas-jelas adalah segalanya untuknya. Zidan tanpa Aira mungkin bisa, tapi tidak dengan Aira tanpa Zidan. Hidupnya terlalu bergantung pada lelaki itu. “Gue gak bisa jauhi Zidan, dia itu segalanya buat gue. Siapa Raka, udah sok ngatur-ngatur!” gumamnya pelan, dia berdecak kesal. Aira jadi memikirkan, bagaimana jadinya kalau suatu saat nanti Zidan bersama pilihannya. Apa bisa dia terus bergantung pada Zidan? Mungkin bisa saja dan mungkin Zidan mengiyakannya. Tapi, dia juga wanita. Dia tahu rasa sakit karena diabaikan itu seperti apa. Dan, dia tak mau kalau sampai pasangan Zidan merasakan sakit itu disaat lelaki itu lebih memilihnya. Apa mungkin dia bisa menjadi pilihan Zidan? Aira rasa, tidak. Semua kriteria yang Zidan sebutkan tentang pasangannya tak ada satupun pada dirinya. Kecil kemungkinan Zidan memilihnya. Sehingga, seharusnya yang dilakukannya kini adalah belajar bagaimana hidup tanpa bergantung pada Zidan “Gue cariin, ternyata disini.” Aira mendongak, menatap Zidan yang berdiri menjulang tinggi dihadapannya dengan botol air mineral dan rice bowl di tangannya. “Nih, makan.” Aira tak langsung menerima, dia terdiam. Zidan tak tahu, ada apa dengan perempuan itu. Yang dia tahu, mood Aira sedang tak baik. Akhirnya, dia memutuskan duduk di samping perempuan itu, kemudian membuka tutup rice bowl tersebut. “Persentasi?” tanya Zidan, dia meletakkan makanan tersebut diatas paha Aira. Aira tak menjawab, dia hanya menggeleng. “Terus?” Aira menggeleng kembali, dia mulai menikmati makannya. Dia menguyah pelan makanannya. Kemudian melirik Zidan kesal karena lelaki itu tak berusaha terus bertanya apa permasalahannya. Sedangkan, Zidan memilih diam karena dia tahu, Aira pasti akan menceritakan permasalahannya sendiri. “Gue sebel banget deh sama orang yang suka ngatur-ngatur. Punya wewenang apa dia sama hidup gue. Lagipula, dia bukan nyokap bokap gue, bukan guru gue, pokoknya bukan siapa-siapa gue. Punya hubungan aja enggak. Udah sok ngatur-ngatur!” kesal Aira, dia jadi kesal kembali pada Raka. Jadi, dia mengungkapkan kekesalannya tanpa menyebutkan siapa orang yang membuat dia kesal itu. Dia semakin kesal saat Zidan justru diam saja. “Lo dengerin gue gak sih!?” “Dengar.” “Terus kenapa diam aja?” Zidan mengendikan bahunya. “Ya, gue harus apa. Gue kan juga suka ngatur-ngatur lo.” “Tapi, kan beda. Lo sahabat gue.” “Sahabat?” Aira mengangguk. “Iyalah, Lo sahabat gue. Jadi, Lo punya hubungan sama gue. Lo berhak atur-atur gue.” Zidan hanya mengangguk saja, tak menimpali apa-apa lagi. Aira mendesah pelan, dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. “Lo tuh sahabat gue, Zi. Lo yang selalu ada buat gue. Jadi, Lo berhak atur gue.” ucap Aira, nada suaranya kini tak sekesal sebelumnya. “Gak tahu jadinya gimana hidup gue kalau seandainya gak ada yang ngatur gue kayak lo. Berantakan mungkin.” “Jangan ngomong gitu.” Aira menoleh, menatap Zidan. “Tapi, itu kenyatannya. Bokap nyokap gue, mereka sibuk sama kerjaan. Mereka gak ada waktu buat gue, gak sempet sekedar nanya keadaan gue, nanya kabar gue, nanya gimana kehidupan gue. Gak ada, mereka gak ada waktu.” lirih Aira, dia membenarkan itu semua. “Cuma Lo, Ibun, juga Ayah. Kalian berarti banget buat gue.” lanjut Aira, dia tersenyum miris. Itu sebabnya, dia sering datang pergi ke rumah Zidan. Itu sebabnya juga, dia selalu dekat dengan Zidan. Karena orangtuanya, kesibukan orangtuanya, yang mengabaikan dia membuat dia kini sibuk dengan keluarga oranglain. “Udah, jangan nangis.” “Siapa yang nangis?! Enggak kok.” “Ya udah, makan cepat.” Aira mengangguk, dia menoleh kembali pada Zidan. “Zi, gue mau tanya—” “Nanti, kalau selesai makan. Istirahat udah mau selesai.” Dan, Aira hanya bisa mengangguk, mengiyakan. **** “Zi ...” Zidan selalu mengendarai motor dengan santainya. Pulang sekolah, matahari sore yang tak terlalu terik, bisingnya kendaraan karena di jam-jam seperti ini semuanya pulang dari segala aktifitasnya. Bosan rasanya kalau harus berhadapan dengan macet. Namun, tidak untuk sekarang. Setidaknya, dia punya pembicaraan penting untuk menghabiskan waktu ini. “Kalau suatu hari nanti Lo dapetin seseorang yang tepat buat Lo. Apa yang Lo bakal lakuin ke gue?” tanya Aira, dia menatap serius Zidan, dia memikirkan kepalanya menatap samping wajah lelaki itu. Harap-harap cemas, menunggu jawaban. Namun, justru ini yang dibalas Zidan. “Gak ngerti.” Sabar. Aira orang paling sabar. Buktinya dia bisa bertahan bertahun-tahun dengan segala sifat menyebalkan yang dimiliki Zidan. Dia tersenyum lebar, tersenyum paksa lebih tepatnya. Dan, Zidan yang diam-diam memperhatikan lewat kaca spion motornya tersenyum tipis. “Jadi, maksudnya adalah kalau suatu saat nanti Lo udah punya pendamping, at least pacar lah ya. Terus, sikap Lo akan gimana ke gue nantinya? Apakah akan berbeda atau enggak? Gitu ...” Zidan mengangguk-angguk, motornya sudah melewati beberapa mobil namun kembali berhenti saat tak ada celah untuknya maju lagi. “Kenapa harus berubah?” tanya Zidan balik. “Ya, 'kan Lo punya pacar. Cewek Lo bisa aja marah kalau sikap Lo masih sama ke gue. Nanti, orang-orang pada nanya dan salahin gue. Yang pacar siapa, yang diperhatiin siapa.” “Oh ... Ya udah.” Aira berdecak. Zidan itu selalu bicara namun asal berucap saja, seolah lelaki itu tak peduli orang lain akan paham atau tidak dengan maksudnya. “Ya udah, apa?” tanya Aira kesal. “Ya udah, gak pacaran.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN