04. Yah ... Baju Lo basah, lagi.

1384 Kata
Satu hal yang tak akan pernah Zidan biarkan. Yaitu, membuat air mata Aira menetes. Dia tak akan membiarkan perempuan itu meneteskan air matanya, dia juga tak akan membiarkan ada orang yang melakukan itu pada Aira. Tapi sekarang justru dia kecolongan, perempuan itu sudah meneteskan air matanya, bahkan begitu derasnya. Dia masih berdiri diambang pintu, menyaksikan Aira yang saat ini menangis memunggunginya diatas ranjang. Beberapa saat yang lalu, Bi Arsih—asisten rumah tangga Aira datang ke rumah Zidan. Memberitahu kalau Aira tak henti-hentinya menangis karena kepergian Ayah perempuan itu. Bukan pergi karena meninggal, tapi pergi karena urusan pekerjaan. Padahal, Ayah Aira itu sudah sering sekali pergi ke luar kota dan jarang pulang ke rumah, alasannya satu, pekerjaan. Begitupun Ibu nya. Dengan alasan ikut bersama suaminya, Ibu Aira jadi jarang di rumah. Alhasil, Aira sendirian, hanya di temani beberapa pekerja saja di rumah. Karena sebab itu pula, Aira lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Zidan. “Ra,” Panggilan Zidan itu sontak membuat Aira menoleh. Dengan air mata yang mengalir, mata dan hidung serta bibir memerah, Aira beranjak dari ranjangnya, berlari dan langsung memeluk Zidan begitu saja. Zidan tak terkejut, bahkan dia langsung menangkap tubuh Aira begitu saja. Zidan hanya memeluk Aira dalam diam, dia membiarkan perempuan itu menangis dalam dekapannya. Cukup diam, jangan berkata-kata. Karena semakin dia mengeluarkan suara, maka akan semakin kencang dan lama pula tangis Aira ini. Aira menangis tersedu-sedu dalam dekapan Zidan, dia bahkan tak peduli akan bagaimana penampakan wajahnya nanti. Yang dia butuhkan sekarang adalah sandaran dan pelukan disaat keadaannya seperti sekarang ini. Posisi mereka masih sama, berdiri. Posisi itu terjadi cukup lama sampai perlahan tangis perempuan itu reda dan Zidan membawanya untuk duduk di sofa yang ada dibelakang mereka. Dia mendudukkan Aira disana, menatap wajah perempuan itu. Senyum tipis tercetak di bibirnya, tangannya terulur menghapus sisa-sisa air mata di wajah perempuan itu. ”Udah?” Aira mengerjap-ngerjapkan matanya, mengangguk pelan. “Terus, sekarang apa?” “Lapar,” Zidan tersenyum dibuatnya, dia mengacak pelan puncak kepala Aira. Gemas sekali dengan sikap perempuan itu. Baru saja selesai menangis dan sekarang mengatakan kalau dirinya lapar. Zidan beranjak dari duduknya, membenarkan kaos yang dikenakannya kemudian mengulurkan tangan pada Aira. “Yuk, makan!” ajak Zidan, dia menatap Aira yang mendongak menatapnya. Aira menerima uluran tangan Zidan dan lelaki itu langsung menariknya berdiri. “Mau makan dimana?” tanya Zidan, dia menggenggam tangan Aira, menariknya keluar dari kamar hendak pergi mencari makan untuk mereka. Kebetulan, dia juga lapar. Ayah dan Bundanya tak ada di rumah, mungkin untuk beberapa hari kedepan. Orangtuanya ada di kampung halaman, hendak mengunjungi acara pernikahan saudara. ”Emang di rumah gak ada makanan, Zi?” “Gak ada, bunda ke kampung.” Aira menoleh, dia mengerutkan keningnya. “Ngapain ke kampung?” tanya Aira, dia menuruni anak tangga perlahan dengan Zidan yang menggandeng tangannya. Zidan tak menjawab. ”Jadi, mau makan apa?” “Mau beli bakso,” “Oke.” Zidan tak mengatakan apa-apa lagi, dia juga tak bertanya sebab Aira menangis tadi. Dia hanya tak mau kalau sampai kembali membuka luka itu yang ujung-ujungnya membuat Aira menangis. Jadi, dia rasa, diam adalah jalan terbaik. “Zi,” Zidan menoleh, menaikkan kedua alisnya menatap Aira yang menghentikan langkahnya. Aira memutar tubuhnya menghadap Zidan, menyentuh d**a lelaki itu dimana ada sisa air matanya membasahi kaos yang dikenakan Zidan. Zidan menatap dadanya yang disentuh Aira, kemudian menyingkirkannya perlahan. “Gakpapa,” “Tapi, basah gara-gara gue.” “Nanti juga kering,” Aira menghela napas kasar, dia mengangguk perlahan. “Tapi, ganti aja dulu. Kan kita mau keluar.” “Yaudah,” Zidan melepaskan genggaman tangannya di tangan Aira, namun, perempuan itu menahannya. “Zidan mau kemana?” “Kan Lo sendiri yang minta gue ganti baju. Jadi, gue mau pulang.” jawab Zidan, dia tak menunjukkan ekspresi apapun. ”Ikut,” Zidan menggeleng. “Enggak, tunggu disini. Gue gak akan lama kok.” Tak bisa dibantah, Zidan pergi begitu saja meninggalkan Aira yang kini menjatuhkan bokongnya di sofa ruang tamu. Aira menatap kepergian Zidan, dia menghela napas kasar sambil menyandarkan tubuhnya. Matanya kembali memanas kala ingat kejadian beberapa saat yang lalu. Tanpa repot-repot bertanya, Ayahnya pergi begitu saja. Padahal banyak sekali rasa cinta dan kasih sayang serta kerinduan yang belum dia utarakan. Meskipun dia masih punya orangtua yang utuh, tapi rasanya seperti dia sudah tak lagi memiliki orangtua. Zidan datang kembali dengan kaos yang berbeda. Cepat-cepat Aira menghapus air matanya. ”Yuk!” Bahkan, Aira yakin kalau Zidan bisa melihat dengan jelas sisa-sisa air matanya. Tapi, kenapa lelaki itu tak bertanya sebab dia menangis. Kenapa juga, Zidan masih bersikap biasa saja. Padahal dia ingat jelas bagaimana ucapan lelaki itu yang tak akan membiarkan dirinya menangis. Tapi, disaat dia menangis lelaki itu justru seperti tak sedikit pun menaruh rasa simpati. Zidan menarik tangan Aira, namun perempuan itu masih setia di tempatnya, tak bergerak sedikitpun. “Kenapa?” tanya Zidan, dia menatap Aira yang masih juga duduk sedangkan dia berdiri kini. “Lo tuh sebenarnya peduli gak sih sama gue?” Pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut Aira dan justru dilontarkan padanya. Pertanyaan yang seharusnya jangan sampai terbesit di benak perempuan itu. Melihat Zidan yang terdiam membuat Aira kesal, dia menarik tangannya yang digenggam Zidan. Menatap sebal lelaki itu yang justru diam menatapnya datar. “Gue tuh nangis, gue tuh sedih. Tapi, kenapa Lo cuma diam aja tanpa Lo tanya gue ini kenapa.” kesal Aira. Zidan mencebikkan bibirnya, dia mengangguk-angguk. “Jadi, karena itu. Sampai-sampai pertanyaan bodoh keluar dari mulut Lo?” “Pertanyaan bodoh Lo bilang?” Zidan mengangguk, menaikkan kedua alisnya. Tentu saja, itu membuat Aira kesal. “Tuh, kan! Lo tuh sebenarnya gak peduli sama gue. Buktinya, gue nangis dari tadi pun, Lo gak nanya sebabnya kenapa. Padahal gue tuh pengen banget ditanya, gue tuh pengen banget—” “Tapi, gue gak mau buat Lo terluka.” Seketika, Aira menghentikan ucapannya saat Zidan memotong ucapannya dan justru berucap seperti demikian. Tak ingin membuat Aira terluka? Maksudnya apa, coba? Zidan menghela napas pelan, dia duduk dan menghadap Aira yang masih menatapnya sebal namun bertanya-tanya. Mungkin, Aira masih belum tak paham maksud dari ucapannya. “Oke, jadi, Lo kenapa nangis?” tanya Zidan akhirnya, meskipun sebenarnya dia sudah tahu sebabnya. “Basi tahu!” Salah, lagi. Zidan mengusap pelan ujung alisnya, menarik tipis kedua sudut bibirnya. “Jadi, mau cerita apa enggak?” tanya Zidan, dia mendesah pelan. Aira berdecak, beranjak dengan kasar dari duduknya. “Enggak!” ketus Aira. Zidan cepat-cepat menahan lengan Aira, membuat perempuan itu menghentikan langkahnya. Dia perlahan beranjak, menarik tubuh Aira dan memutarnya agar menghadapnya. Tatapan datarnya menatap mata Aira yang menatapnya kesal sambil mengerucutkan bibirnya. “Tambah jelek kalau begini!” Aira menepis tangan Zidan dari bibirnya, dia masih menatap kesal dan sinis lelaki itu. “Gue tuh cuma gak mau, buat Lo sedih lagi dengan tanya sebab Lo nangis tadi. Makanya, gue cuma diam aja.” jelas Zidan, dia harap Aira paham maksud ucapannya. Aira mencebik, dia langsung melepaskan tangan Zidan dari lengannya dan memukul keras pundak lelaki itu. “b**o! Justru dengan tanya sebab gue nangis, gue bakal lebih tenang. Harusnya Lo tuh peka dikit, Zi. Cewek tuh kalau ada masalah, ya, ditanya masalahnya apa. Dan, Lo harus dengar permasalahannya tuh apa. Dengan Lo dengerin permasalahan si cewek, itu bakalan buat hatinya lega. Ngerti, gak Lo!?” Zidan berdehem. “Jadi, mau cerita enggak?” Aira mencebikkan bibirnya kembali, matanya kembali berkaca-kaca jika harus mengingat kejadian tadi. “Masa, Ayah pergi gitu aja tanpa mau tunggu gue. Padahal kan, kita udah lama gak ketemu. Emang sih, suka video call. Tapi, kan beda rasanya. Gue tuh pengen ketemu ayah, ibu. Gue tuh—” Bahkan, baru segitu saja Aira bercerita, perempuan itu sudah menangis kembali. Bercerita ya pun tersendat karena tangisnya. Dan, sekarang, d**a Zidan lagi yang menjadi sasaran pelukan perempuan itu. Dan, Zidan hanya bisa diam, berdehem dan mendengarkan. Meksipun sekali lagi, dia sudah tahu. “Udah?” Aira mengucel-ucel hidungnya di d**a Zidan, mengangguk kemudian menarik diri dari dekapan lelaki itu. Dia menatap Zidan sambil mengerucutkan bibirnya, matanya menatap beberapa takjub pada lelaki itu. “Udah, makasih, ya.” ucap Aira yang diangguki Zidan. “Yah ... Baju Lo basah lagi.” ucap Aira saat melihat kaos yang dikenakan Zidan kembali basah karena tangis dan ... ingusnya (?) ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN