Tak ada yang bisa menolak makanan yang satu ini. Bulatan daging yang diisi dengan berbagai isian, mulai dari yang biasa sampai yang tak biasa. Kuah kaldu yang dicampur dengan saos sambal, kecap dan beberapa perasaan jeruk nipis benar-benar menyegarkan. Yakin, semua orang akan suka dengan makanan satu itu, yaitu bakso.
“Enak?”
Zidan menoleh, menatap Aira yang bertanya padanya. Dia hanya mengangguk saja sebagai jawaban.
Aira tersenyum lebar, wajahnya sudah memerah sekaligus berkeringat karena bakso yang dimakannya kini lumayan pedas. Sudah mana dia memesan bakso mercon, ditambah kuahnya yang dia racik sedemikian pedasnya. Benar-benar terasa terbakar mulutnya kini. Tapi, tetap saja. Dia tak masalah. Toh, rasanya benar-benar lezat.
“Mau coba, gak?” Aira menaikkan kedua alisnya, menawarkan Zidan bakso miliknya. Aira kadang greget dengan Zidan, setiap kali mereka makan bakso pasti saja lelaki itu tak meracik lagi. Makan saja sesuai yang disediakan. Lain halnya kalau Aira yang berinisiatif meracik sendiri makanan lelaki itu.
Zidan menatap mangkuk bakso milik Aira, otomatis dia menggeleng sebagai jawaban. Menurutnya, itu bukan bakso dengan sambal. Tapi, sambal yang di beri isian bakso. Benar-benar terlihat pedas.
Aira mengerucutkan bibirnya, dia mau Zidan merasakan kenikmatan dari baksonya. Dia juga ingin melihat bagaimana wajah memerah Zidan jika kepedasan. Aira menggeleng, menolak jawaban Zidan. Aira langsung menusukkan satu bakso kecil, kemudian mengarahkannya pada Zidan. “Cobain, enak tahu.”
Zidan memundurkan kepalanya, menolak suapan bakso Aira. “Iya, gue tahu. Kan bakso kita sama.” jawab Zidan, dia tetap menolak bakso yang di sodorkan Aira.
“Enggak, beda. Bakso gue lebih enak, lebih berasa.”
“Berasa apaan? Pedas? Ogah, ah!”
Aira mengerucutkan bibirnya, dia akan tetap memaksa. “Zidan ... Cobain!”
“Tapi, Ra—”
“Sekali!”
Zidan ragu-ragu melihat bakso itu. Bahkan bakso yang disodorkan Aira sudah berubah warna menjadi merah karena terendam kuah campuran cabai dan saos itu. Akhirnya, dia mengangguk. Membuka mulutnya dan langsung dihadiahi suapan bakso oleh Aira.
Zidan seketika menutup matanya dengan telapak tangannya, mengunyah bakso di mulutnya yang langsung mengeluarkan pedas. Padahal hanya bakso nya saja, tidak dengan kuahnya namun sudah terasa pedas. Dia tak bisa membayangkan bagaimana pedasnya makanan Aira kini.
“Udah, udah,”
Zidan langsung mengambil alih mangkuk bakso milik Aira yang bahkan masih berisi lumayan banyak. Dia menyingkirkan bakso milik perempuan itu, menggantinya dengan mangkuk miliknya yang juga masih tersisa banyak. “Jangan dimakan, ini bukan makanan manusia.” ucap Zidan, dia mengambil es teh manisnya, menyesapnya hingga tandas.
Aira terkekeh melihat ekspresi wajah Zidan yang kepedesan. Hiburan tersendiri baginya melihat Zidan tersiksa seperti itu. “Terus kalau bukan makanan manusia, makanan siapa? Gila.” cibir Aira. “Udah balikin sini, mau gue abisin.”
“Enggak! Lo makan punya gue aja! Ini gak usah dimakan.”
“Eh, mubasir banget. Itu masih banyak loh ...”
“Udah, gakpapa. Daripada Lo kenapa-napa. Lagian nih, ya. Lo gak ingat, kalau Lo tuh punya maag? Ingat, lambung!”
Jika sudah diingatkan seperti ini, Aira kalah. Dia mengerucutkan bibirnya, menarik lebih dekat mangkuk bakso milik Zidan. “Iya, iya, pak Zidan ...” ucap Aira, dia langsung memakan bakso milik Zidan sambil menatap lelaki itu.
Zidan melirik sinis Aira, memilih mengambil kerupuk untuk menetralkan rasa pedas di mulutnya. Dia memang payah kalau soal urusan pedas, lidahnya bisa langsung peka pada makanan pedas meskipun orang bilang itu tidak pedas. Tapi, tetap saja. Dia tak bisa makan pedas.
“Lo tuh, ya, kalau lagi kepedesan gini suka banyak omong. Gue suka banget lihatnya.” ujar Aira, dia tak henti-hentinya menatap wajah Zidan yang mulai mengeluarkan keringat. Aira cepat-cepat mengambil tisu, kemudian mengelap keringat Zidan dengan tisu di tangannya.
Zidan otomatis terdiam, menatap dalam diam apa yang tengah dilakukan Aira padanya. Sedekat ini dengan Aira selalu saja membuatnya berdebar-debar, apalagi jika perempuan itu melakukan sesuatu padanya. Meskipun, dia pintar menyembunyikan perasaan senang dihatinya dengan wajah datar.
“Selesai! Lo udah gak keringatan lagi.” ucap Aira, dia meletakkan begitu saja tisu diatas meja.
Zidan segera mengedarkan pandangannya sejenak, kemudian berdehem. “Gue cuci tangan dulu,” ucap Zidan, dia langsung beranjak begitu saja meninggalkan Aira.
Aira menatap kepergian Zidan, dia mengendarkan pandangan. Ternyata tak begitu banyak orang disini, hanya beberapa saja. Matanya menatap mangkuk bakso miliknya yang terlihat menggiurkan itu, membuat dia harus menelan kasar ludahnya sendiri. ”Gue masih pengen,” lirih Aira, dia mengecap-ngecap.
Aira memutar tubuhnya, memastikan kalau Zidan belum keluar dari toilet. Cepat-cepat dia menarik mangkuknya itu, mulai menikmati lagi bakso miliknya yang pedas sekali. Baru beberapa suap dan dia sudah mulai kepedasan. Namun, dia tak menyerah begitu saja, dia tetap menikmatinya. Hingga deheman membuat dia menghentikan suapannya, perlahan tubuhnya memutar dan langsung menemukan Zidan yang menatapnya datar.
“Keras kepala,”
Aira justru menunjukkan deretan giginya, mendorong kembali mangkuk bakso tersebut sambil menggeleng. “Sedikit kok,” Aira menunjukkan dengan jemarinya seberapa dikit porsi yang dimakannya, meskipun itu bukan kebenarannya.
Zidan duduk kembali, mengambil asal tisu yang ada dimeja yang dia pikir milik Aira. Tangannya terulur membersihkan sudut-sudut bibir Aira yang kotor karena cara makan Aira yang tidak rapi dan terburu-buru takut ketahuan olehnya.
“Kalau perutnya sakit, jangan ngeluh nanti.” ucap Zidan, dia kembali ke mode datarnya. Dia sudah tak merasakan pedas lagi, mulutnya sudah dia bersihkan tadi.
Aira mengangguk. Meskipun dia yakin, tak mungkin dia tak mengeluh saat maag nya kambuh nanti.
“Zi, tunggu dulu!” Aira menahan tangan Zidan yang tengah mengelap keringatnya menggunakan tisu. Dia menatap meja, mencari tisu yang dia gunakan untuk mengelap keringat Zidan tadi.
“Ini, Lo ngambil darimana?”
Zidan mengerutkan keningnya, dia menatap tisu ditangannya. Dia mengendikkan dagunya, menunjuk meja, namun tidak dimengerti Aira.
“Darimana?”
“Meja,” jawab Zidan santai yang seketika membuat Aira mencebik, menjauhkan tangan Zidan darinya.
“Ih ... Zidan jorok banget sih! Itu tisu bekas keringat Lo! Ih, jorok banget!” keluh Aira, dia mencebik, namun tidak juga bisa menyembunyikan tawa gelinya.
Zidan kaget, dia terkekeh pelan. “Ya mana gue tahu.”
“Ih ... Zidan!”
***
“Loh, Zi. Itu bukannya, Jihan, ya?”
Zidan mengedarkan pandangannya saat Aira menunjukkan keberadaan Jihan disaat mereka berhenti karena lampu merah. Dan, benar. Di sana ada Jihan yang duduk seorang diri di taman umum. Keterdiaman perempuan itu yang sebenarnya menunjukkan bahwa sesuatu sedang tak baik-baik saja.
Zidan hanya berdehem menjawab pertanyaan Aira yang membuat perempuan itu mencebik sambil memukul pundak lelaki itu.
“Kok cuma 'hem' doang sih, nyebelin!”
“Ya, terus?”
Aira memutar bola matanya jengah, dia lupa tengah bicara dengan siapa. Dia saja yang notabenenya sangat dekat dengan Zidan, lelaki itu bisa bersikap tak peduli. Apalagi dengan Jihan yang jangankan sangat dekat, sedikit dekat saja belum tentu. Ya, meskipun kemarin lelaki itu membonceng Jihan yang merupakan perempuan kedua setelahnya yang bisa duduk di motor Zidan.
“Dia kayak lagi sedih gitu, kayak lagi ada masalah.”
Zidan mendongak, lampu sudah berwarna kuning dan dia bersiap untuk melajukan motornya saat lampu berganti hijau. Aira mendengus saat Zidan kembali tak merespon, namun terkejut saat tiba-tiba Zidan memutar arah menuju tempat dimana Jihan berada kini.
“Loh, Zi. Kok kita berhenti disini?” tanya Aira saat Zidan menghentikan motornya di parkiran taman —tempat dimana Jihan berada.
Zidan melepaskan helmnya, dia mengerutkan keningnya menatap Aira. “Lo bilang Jihan kayak lagi sedih, kayak lagi ada masalah. Ya udah, kita samperin, tanyain dia kenapa." jawab Zidan yang tentu saja membuat Aira terdiam.
Kok Zidan perhatian sih? Batin Aira bertanya-tanya.