“Jihan,”
Jihan mendongak saat namanya dipanggil, seulas senyum paksa coba dia tunjukkan saat melihat keberadaan Aira dan Zidan dihadapannya. Dia bergegas berdiri, masih menunjukkan senyum palsunya. “Loh, kalian ada disini?” tanya Jihan, dia berbasa-basi dan Aira tahu itu.
Aira tersenyum, mengangguk, dia melirik Zidan disampingnya yang tak berekspresi apapun, masih tetap datar tanpa mengeluarkan suara. Aira kembali menatap Jihan. “Iya, gue sama Zidan abis makan dan gak sengaja lihat Lo disini.” jawab Aira, dia mencoba juga berbasa-basi. Dia bingung, harus bertanya bagaimana. Dia hanya takut dianggap lancang dan ikut campur.
Jihan mengangguk-angguk saja. Dia hanya diam saja karena merasa sedikit canggung dengan keberadaan Zidan disini. Mungkin, lain ceritanya jika dia hanya bertemu Aira saja. Karena meskipun dia pernah dibonceng dan mengerjakan tugas sekolah berdua dengan Zidan, tetap saja, rasanya masih terasa asing.
“Lo lagi ada masalah?”
Baik Aira maupun Jihan terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan Zidan. Mereka seketika menatap Zidan yang menatap keduanya bergantian sambil mengendikan bahu.
Zidan pikir, tak ada yang salah dari pertanyaan. Dia hanya ingat apa yang dikatakan Aira sebelum mereka menghampiri Jihan disini.
“Lo lagi ada masalah atau apa? Kelihatannya muka Lo sedih banget.” ucap Zidan, lagi. Dia mengacuhkan tatapan tajam Aira padanya.
Aira hanya bisa menghela napas, dia menatap Jihan kembali. “Sorry, ya. Bukannya kita mau ikut campur atau sok tahu gitu. Tapi, tadi kita lihat Lo lagi murung, kayak lagi ada masalah gitu. Jadi, siapa tahu Lo mau cerita dan siapa tahu gue atau Zidan ada solusi buat masalah Lo itu.” ucap Aira, dia berkata begitu antusiasnya. Meskipun awalnya dia meringis pelan mengingat Zidan yang bertanya begitu saja.
Jihan tersenyum tipis, dia perlahan duduk kembali begitupun Aira yang kini duduk disampingnya, sedangkan Zidan berdiri dihadapan mereka.
“Gue emang ada masalah. Tapi, bukan masalah besar kok.” jawab Jihan, dia menatap bergantian Aira dan Zidan. “Btw, makasih loh kalian ternyata care juga sama gue.” sambungnya.
“Kalau bukan masalah besar, kenapa harus murung?”
“Zi ...”
Zidan mengendikan bahunya saat Aira kembali memperingatinya. “Bener, dong. Kalau bukan masalah besar, kenapa kita harus murung? Kenapa gak kita bawa santai aja? Toh, bukan masalah besar 'kan.”
Aira hanya bisa mengusap pelan keningnya sendiri. Entah kenapa Zidan sekarang banyak bicara. Dan justru dia tak suka.
Jihan menghela napas pelan, dia menatap bergantian Zidan dan Aira sebelum akhirnya bicara apa permasalahannya.
“Oke, gue bakal cerita. Sebenarnya permasalahan gue ini, permasalahan biasa dan kayak gak penting gitu. Tapi, masalah gue ini benar-benar menganggu gue. Masalah gue tuh—”
“Intinya!”
Zidan memotong begitu saja ucapan Jihan yang menurutnya terlalu berbelit-belit. Padahal Jihan tinggal cerita pada intinya dan semuanya selesai.
“Zi, jangan gitu.” Aira memperingati Zidan, dia kembali menatap Jihan, mengelus pelan punggung tangan perempuan itu kemudian mengangguk sambil tersenyum tipis. “Ayo, cerita lagi.” ucap Aira pada Jihan.
Jihan mengangguk. “Mantan pacar gue, ganggu terus kehidupan gue. Dia selalu aja ikut campur sama urusan gue. Dan itu semua, benar-benar ngaganggu gue.”
Seketika, Zidan memutar bola matanya jengah. Bukan masalah besar, pikirnya. Namun, kenapa Jihan bersikap seolah-olah masalah yang tengah dihadapinya ini besar dan sangat membahayakan. Tck.
“Ih ... Kok mantan Lo gitu sih? Ya udah sih, kalau udah jadi mantan, ya, masing-masing aja.”
Ucapan Aira itu semakin membuat Zidan jengah. Apa perempuan selalu seperti ini? Membesarkan setiap masalah kecil dan membuatnya seakan begitu rumit? Apa perempuan seribet dan sedramatis ini?
Jihan mengangguk, mengiyakan ucapan Aira. “Iya, Ra. Seharusnya kalau udah jadi mantan, ya, udah gitu, masing-masing. Jangan ini malah terus ikut campur kehidupan gue. Kan nyebelin, ya, gak?” tanya Jihan yang langsung diangguki dengan cepat oleh Aira.
“Iya, lah! Ngapain juga ikut campur, gagal move on gitu? Idih, gak gitu juga kali!”
Zidan hanya bisa menghela napas kasar, dia melipat tangan didepan d**a dan menyaksikan dengan jengah dua perempuan yang tengah memperdebatkan masalah kecil yang ujung-ujungnya menyalahkan pihak laki-laki.
“Bener gak, Zi?”
Zidan menaikkan kedua alisnya, bertanya. “Apanya?”
Aira mencebik. “Gimana sih, Zi. Lo gak dengerin obrolan kita daritadi? Ngapain aja Lo daritadi, bengong gak jelas.”
Zidan menatap jengah Aira. “Ya, terus gue harus menanggapi obrolan kalian kayak apa? Gue harus mengiyakan omongan kalian? Jadi, menurut kalian, cowok emang selalu salah?” tanya Zidan, dia menatap datar Aira.
“Loh, loh, emang benar kan kalau cowok tuh selalu salah. Faktanya emang kayak gitu.”
Zidan menarik sudut bibirnya. “Fakta atau teori gak masuk akal yang cewek ciptain?” tanya balik Zidan, dia menatap Aira dan Jihan sambil menaikkan kedua alisnya.
Aira mencebik, dia beranjak kasar dari duduknya kemudian berdecak pinggang menatap sebal Zidan. “Jadi, maksud lo, cewek yang salah, gitu?” tanya Aira.
Zidan menggeleng, dia menatap seolah bingung Aira. “Enggak, gue gak ngomong gitu. Lo sendiri loh yang ngomong gitu.”
Aira menggeram kesal, dia mencebikkan bibirnya. “Nyebelin banget sih, Lo!” tukas Aira yang hanya dibalas Zidan dengan mengendikan bahunya.
Zidan sekarang menatap Jihan. “Gue pikir, masalah Lo apa. Tapi, ternyata, gak penting.” ucap Zidan, dia menarik sudut bibirnya sinis.
“Zi, Lo tuh gak tahu, masalah apa yang diciptakan sama cowok. Lo gak akan ngerasain karena Lo adalah cowok, dimana posisinya Lo yang ngelakuin itu bukan yang jadi korbannya.” ucap Aira yang diacuhkan Zidan.
Zidan memijit pelan puncak hidungnya. “Terserah, deh. Lo mau pulang, gak?” tanya Zidan, dia malas berdebat, lebih tepatnya malas mengeluarkan energi hanya untuk mendebatkan hal tak penting menurutnya.
Aira sudah terlanjur kesal pada Zidan. “Enggak!”
“Yaudah,”
Baik Aira maupun Jihan ternganga melihat Zidan yang melenggang begitu saja, meninggalkan Aira lebih tepatnya. Bahkan, lelaki itu seolah tak peduli dengan tolakan Aira yang jelas-jelas hanyalah sebuah gertakan semata. Tidak nya Aira adalah Iya. Dan, seharusnya Zidan peka.
“Dasar, cowok gak peka!”
***
“Yaudah, Ra. Thank you banget, ya, Lo udah mau jadi teman curhat gue. Rasanya, gue sedikit lega udah cerita sama lo.”
Aira tersenyum lebar, dia mengangguk. “Iya, sans aja. Lagian, gue senang kok dengar cerita Lo, meskipun agak sebel dengarnya karena mantan Lo yang nyebelin banget itu.” ucap Aira, dia berucap begitu penuh tekanan saat mengingat cerita Jihan tentang mantan kekasihnya yang menyebalkan itu.
“Yaudah, gue cabut duluan, ya.”
“Iya, Lo titi dj, ya.”
“Yes, bye ...”
“Bye ...”
Aira seketika mengerucutkan bibirnya setelah kepergian Jihan, dia menjatuhkan kembali bokongnya di kursi dan mendongak melihat langit sore yang perlahan menggelap.
“Terus, gue pulangnya gimana? Mana gak bawa duit lagi. Eh, Zidan malah ninggalin gue sekarang. Nyebelin banget sih tuh cowok!”
“Siapa yang nyebelin?”
Seketika Aira menatap terkejut Zidan yang tiba-tiba sudah berdiri disampingnya. Dia beranjak, berhadapan dengan lelaki itu yang masih menunjukkan wajah datarnya. Sejujurnya, dia senang bukan main melihat keberadaan Zidan disini. Tapi, dia masih kesal dengan sikap Zidan tadi, sehingga wajah ketus dia tunjukkan pada lelaki itu.
“Ngapain masih disini? Bukannya tadi udah pulang?”
“Wajib dijawab?”
“Ya, wajib lah!”
Zidan mengerutkan keningnya, mengalihkan sejenak atensinya sebelum kembali menatap Aira yang masih menatapnya masam sebelum kemudian membuang mukanya. “Nungguin cewek baperan,”
Aira membulatkan matanya, dia kembali menatap Zidan. “Cewek baperan? Siapa tuh!?”
Zidan mengulum senyumnya, dia tak bisa kesal terlalu lama pada Aira. “Udah, deh. Mau pulang gak?”
“Enggak! Gue bisa pulang sendiri!”
“Yakin? Emang bisa pulang sendiri?”
“Bisalah!”
“Yaudah,”
Baru saja Zidan membalikkan badannya, dia kembali menatap Aira, memastikan kembali meskipun sebenarnya dia tahu perempuan itu tengah berpura-pura saat ini. “Yakin, gak mau pulang bareng gue?” tanya Zidan, dia saat ini benar-benar tak bisa menyembunyikan senyumnya.
“Ih ... Ngapain sih, Lo tanya terus? Lo tuh sebenarnya mau paksa gue pulang bareng Lo kan? Iya, kan?”
Zidan diam, tak menanggapi.
“Yaudah, deh. Karena Lo paksa gue, jadi gue mau pulang sama lo.”
Zidan tersenyum lebar.
“Ingat, ya! Ini cuma karena Lo paksa. Kalau enggak, sih, ogah! Lo masih nyebelin orangnya.” ucap Aira, dia melewati begitu saja Zidan sebelum kemudian mengulum senyumnya. Jujur, dia malu sebenarnya. Tapi, mau bagaimana lagi. Dia tak mungkin pulang sendiri.
”Iya, iya.”
***