Aira keluar dari kamarnya, berdiri di balkon kamar yang langsung memberikan pemandangan balkon kamar Zidan. Dia duduk di kursi yang ada, terus menatap balkon kamar Zidan sambil menunggu kemunculan lelaki itu.
Aira mengerutkan keningnya bingung, tak melihat tanda-tanda Zidan akan muncul. “Tuh orang kemana sih? Kok gak keluar-keluar daritadi.” gumam Aira. Dia segera meronggoh sakunya, mengeluarkan ponselnya dan langsung menemukan kontak Zidan dibarisan paling atas.
Niatnya yang hendak menelpon lelaki itu, dia urungkan. “Dih, ngapain juga gue telpon dia? Kan ceritanya gue sama dia lagi marahan, gue mode ngambek sama dia. Jadi, ya udah gitu.” ucap Aira, dia mengangguk-angguk.
Aira kembali terdiam, dia menyandarkan punggungnya dan mendongak menatap langit malam yang begitu gelapnya tanpa ada bintang ataupun rembulan disana. ”Tapi, gue bosan gak ada Zidan.” lanjut nya, dia menghela napas kasar.
“Bodo amat! Gue bakal tetap telpon dia!”
Aira segera menekan tombol panggilan di nomor Zidan, menunggu panggilannya itu tersambung. Biasanya, Zidan akan dengan cepat mengangkat panggilan darinya. Namun, kali ini tidak. Bahkan, 3 kali menghubungi lelaki itu, tak ada jawaban pula.
Aira meringis kesal menatap ponselnya, dia meletakkan asal ponselnya begitu saja. “Masa iya sih, dia marah sama gue. Kan gak bisa, gak boleh.” gerutunya, dia menatap kembali ponselnya yang layarnya sudah gelap.
Dan, saat dia menyalakan ponselnya, potretnya bersama Zidan yang tengah tersenyum lebar membuatnya terdiam seketika. Itu senyum lebar pertama yang Zidan tunjukkan dalam potret mereka, meskipun dengan paksaan. Pasalnya setiap kali mengambil foto bersama hanya wajah datar penuh kekakuan yang lelaki itu tunjukkan. Tak pernah sekalipun tersenyum. Namun, berkat paksaan nya akhirnya Zidan mau menunjukkan senyumnya.
Aira terkekeh, dia segera membuka galerinya dan melihat satu folder dimana diisi dengan fotonya bersama Zidan. Tentu saja, diisi dengan potret Aira yang ceria bersama Zidan yang tak berselera.
Tangannya terhenti di salah satu potret dimana mereka masih menggunakan seragam merah putih dengan berbagai hiasan konyol pada saat pengenalan di Sekolah Menengah Pertama. Dia ingat betul dengan potret ini. Ingat betul dengan senyum lebarnya sebelum akhirnya tangisan mengisi sepanjang harinya.
Flashback On ~
“Ini aja, efek ini aja!”
Aira yang saat itu mengenakan seragam merah putih dengan rambut yang diikat sedemikian rupa bersama pita warna-warni. Ada name tag di dadanya yang di buat semalam. Tas kardus hasil karya Zidan pun tersampir di bahunya. Senyuman lebar dan segala pose konyol dia tunjukkan saat jepretan kamera ponsel mengarah padanya.
“Bagus kan, Zi?”
Zidan hanya mengangguk saja.
“Semua siswa siswi baru yang akan mengikuti kegiatan MPLS —Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah— silahkan memasuki area lapangan outdoor ...”
“Ya udah, Zi. Yuk kita kesana!”
Aira segera memasukkan ponselnya, mengambil susah payah barang bawaan hari ini. Baru saja dia melangkah hendak masuk bersama gerombolan siswa siswi yang lain, Zidan justru mencegahnya.
”Kenapa, Zi? Buruan, nanti kita telat terus kena hukuman deh. Ayo!” ajak Aira buru-buru, dia mengangguk cepat-cepat agar Zidan segera pergi. Dia punya banyak teman, tapi hanya Zidan yang paling dekat dengannya. Jadi, untuk banyak alasan dia harus terus bersama Zidan.
“Rok belakang Lo basah,”
Aira mengerutkan keningnya bingung mendengar ucapan Zidan, dia segera menyentuh rok belakangnya. Namun, justru terlihat darah di telapak tangannya membuat dia menatap cemas Zidan.
“Zi, darah ...”
Aira begitu paniknya, dia bahkan sudah terisak pelan. Entah kenapa roknya basah dengan darah dan dia takut terjadi hal yang tidak-tidak. Ditambah, mereka ada di sekolah, di tempat umum dimana banyak orang berada.
“Gue takut ...”
“Jangan nangis. Ayo!”
Aira menggeleng, terus merapatkan kakinya. “Gak mau,” tolaknya saat Zidan hendak menariknya pergi. Namun, bukan Zidan namanya kalau hanya diam saja menerima, lelaki itu menarik tangan Aira lebih kuat dan membawanya pergi.
Zidan membawanya ke toilet belakang sekolah. Entah bagaimana lelaki itu bisa tahu betul tempat ini, bahkan baru hari ini mereka akan melakukan pengenalan disini.
“Zi ... takut ...” keluh Aira, dia menatap Zidan sambil berkaca-kaca.
Zidan menatap Aira, menggeleng.
“Tunggu disini!”
Aira cepat-cepat menggeleng, dia tak mau ditinggalkan seorang diri disini. “Mau kemana?” tanya Aira cemas, dia takut Zidan pergi meninggalkannya.
”Tunggu disini, gue gak akan lama.”
Aira mencebikkan bibirnya, dia terisak pelan sambil menggeleng dan menatap Zidan. “Gak mau ditinggal.” lirih Aira.
“Gue gak ninggalin lo.”
“Tapi, Lo mau pergi. Gue ikut ...”
Zidan menggeleng. “Gak, boleh. Rok Lo basah, jadi Lo tunggu disini.”
”Tapi, Zi—”
”Lo percaya gue kan?”
Aira menatap Zidan, mereka saling bertatapan. Melihat mata tajam yang biasanya menatapnya datar tengah menatapnya intens penuh keyakinan. Dan, mau tak mau dia mengangguk.
“Tapi, jangan lama.”
“Iya, gue gak akan lama.” jawab Zidan kemudian melenggang pergi meninggalkan Aira yang terdiam ketakutan seorang diri.
Seperti ucapan Zidan, dia tak akan lama. Lelaki itu sudah datang kembali dengan kresek hitam ditangannya dan kini menyerahkannya pada Aira.
”Itu apa?”
“Ini pembalut, biasanya bunda kalau datang bulan pakai ini. Gue gak tahu gimana cara pakainya, jadi Lo searching aja. Dan, disini juga ada celana seragam gue, Lo ganti rok Lo pakai itu.” jelas Zidan yang diangguki Aira.
“Makasih, ya.”
Dan, percaya, sepanjang hari itu Aira menangis. Ditatap semua orang, dijadikan bahan bully an, di olok-olok karena mengenakan celana disaat semua siswi mengenakan rok. Beruntungnya, selalu ada Zidan disampingnya.
Flashback off ~
Lamunan nya tentang masalalu seketika terhenti saat panggilan masuk ke ponselnya. Senyuman lebar tercetak jelas di bibirnya saat melihat siapa nama yang tertera disana. Zidan.
Tanpa membuang waktu, Aira segera mengangkat panggilan tersebut. Menempelkan benda pipih itu di telinganya dan berucap begitu semangatnya.
“Zi, Lo kemana aja sih? Gue telpon, tapi gak diangkat-angkat. Lo juga gak keluar rumah, sok sibuk banget sih! Gue—”
“Ada apa?”
Seketika Aira menghentikan ucapannya, dia mencebik kesal mendengar pertanyaan itu. Seharusnya dia tak perlu kaget ataupun kesal, kedataran selalu dia dapatkan dari Zidan. “Lo nyebelin banget sih, Zi!” keluh Aira.
Terdengar helaan napas kasar dari Zidan disana. “Jadi, telpon gue cuma mau bilang gue nyebelin?”
“Iya!” jawab Aira cepat, dia sengaja.
“Gue matiin!”
“Jangan!”
“Jadi?”
Aira terdiam, dia bingung harus mengatakan apa lagi. Gengsi dong kalau dia mengatakan dia mau Zidan disini. Kalau saja dia sedang tak mode ngambek, pasti dia sudah mengatakan itu sekarang juga. Masalahnya dia sedang merajuk dan yang dia mau Zidan lah yang membujuknya.
“Gue—”
“Zi, masih lama gak?”
Kembali, Aira mengurungkan niatnya saat mendengar suara perempuan yang berasal dari telpon Zidan. Seketika dia kembali kesal. Ternyata Zidan tak ada disini karena lelaki itu menemui perempuan lain, pikirnya.
“Enggak. Jadi, ada apa, Ra?”
“Enggak, gue cuma mau bilang. Lo nyebelin! Bye!”
Aira segera memutus panggilan tersebut secara sepihak tanpa menunggu respon apapun dari Zidan. Dia menggeram kesal, meninju-ninju udara seakan ada Zidan disana.
Tunggu! Aira sedang tidak cemburu bukan?