“Aira!"
Aira menghentikan langkahnya, dia memutar tubuhnya saat namanya dipanggil. Senyum lebar penuh paksaan tercetak di bibirnya saat Jihan—orang yang memanggilnya—berlari menghampirinya. Dia sedang badmood hari ini, penyebabnya, ya, semalam. Jadi, rasanya untuk tersenyum tulus dia kesusahan. Sehingga, senyuman paksaan inilah yang ditunjukkannya. Ya, setidaknya dia masih berusaha tersenyum.
Jihan mengerutkan keningnya, menengok kesana-kemari mencari keberadaan seseorang. Zidan lebih tepatnya, orang yang dia pastikan selalu ada disekitar Aira biasanya.
“Nyari siapa?” tanya Aira, dia mengerutkan keningnya melihat Jihan yang seperti tengah mencari keberadaan seseorang.
Jihan menatap Aira, menggeleng. “Tumben Lo gak bareng sama Zidan. Oh, atau dia udah masuk kelas duluan?” tebak Jihan. Mereka berjalan beriringan menuju kelas.
“Gak tahu, gue gak bareng dia hari ini.”
Jihan perlahan memutar kepalanya menatap Aira. “Kalian masih berantem? Pasti gara-gara kemarin nih. Duh, gue jadi gak enak. Cuma karena gue, kalian jadi gini.” ucap Jihan, dia meringis pelan merasa tak enak.
Aira terkekeh pelan, “Apaan sih! Enggak, lah! Lagian karena hal lain kali, gue jadi sebel sama Zidan.” jawab Aira, dia langsung mengambil alih duduk di kursinya saat mereka sudah sampai dikelas.
“Bener, bukan karena gue?”
“Bener...”
Mereka duduk, berbincang bersama. Kelas yang tadinya hanya diisi beberapa orang saja, kini sudah hampir penuh karena perlahan semua datang. Hingga bel masuk berbunyi pun tak ada tanda-tanda kalau Zidan datang. Percaya, sekesal apapun Aira pada Zidan. Namun, dia masih akan terus mencari keberadaan lelaki itu karena bagaimanapun, dia butuh Zidan.
“Ra, Zidan gak sekolah? Kenapa?”
Aira hanya menggeleng saja saat teman sekelasnya yang bertugas mencatat absensi bertanya tentang Zidan. Tentu mereka akan bertanya padanya, semua orang tahu dia yang paling dekat dengan lelaki itu.
“Loh, dia gak ngasih kabar apapun? Tumben banget, Lo kan dekat sama dia."
“Ya, gue kan sekarang gak bareng dia. Mana gue tahu.”
“Santai dong...”
Aira memutar bola matanya jengah.
“Ra, coba cek hp Lo deh. Siapa tahu Zidan kasih kabar.”
Aira mengikuti saran Jihan, dia segera mengambil ponselnya di dalam tas. Sejak semalam, sejak dia tahu bahwa Zidan pergi dengan perempuan lain, nomor lelaki itu di blokirnya. Baru saat ini dia membuka blokiran nomor lelaki itu. Dan, sudah pasti. Puluhan pesanan dan panggilan dari Zidan masuk ke ponselnya.
“Tuh kan, gue juga bilang apa!”
Aira melirik Jihan yang sejak tadi melihat apa yang dilakukannya, dia hanya tersenyum menunjukkan deretan giginya.
“Ra, Lo dimana sih?”
“Ra, buruan keluar. Gue di depan.”
Itu contoh pesan yang dikirim Zidan padanya.
Aira langsung menghubungi Zidan, menempelkan benda pipih tersebut ditelinganya. “Hallo, Zi. Lo dimana, sekolah gak sih?” tanya Aira cepat, dia cemas juga sebenarnya.
“Di depan rumah, nungguin lo.”
Aira membelalakan matanya, dia menutup mulutnya dan langsung menatap Jihan yang menaikkan kedua alisnya, bertanya tanpa suara.
“Zi, kenapa Lo gak berangkat aja sih? Gue udah berangkat duluan kali, gue udah di sekolah ini.”
“Oh.”
Aira menghela napas kasar, dia sama sekali tak mendengar ada kecemasan dari Zidan. Lelaki itu seperti santai saja.
“Yaudah, Lo buruan berangkat. Udah telat banget ini, siap-siap di hukum aja.”
“Iya.”
Panggilan terputus.
Aira memejamkan matanya, dia menutup pelan wajahnya menggunakan telapak tangan nya sebelum kemudian kembali membukanya. Dia beranjak menghampiri temannya yang masih mengabsen itu.
“Zidan hadir hari ini, cuma dia telat.”
“Oh, oke...”
***
“Zi... Zi... Lo kenapa gak berangkat aja sih? Ngapain juga nungguin gue selama itu coba?”
Aira memberikan sebotol air mineral dingin pada Zidan yang tengah membersihkan taman sekolah. Zidan mendongak, menerima air tersebut kemudian meneguk isinya beberapa kali.
Aira duduk, diam memperhatikan Zidan yang sepertinya kehausan.
“Gue kan nungguin Lo,”
“Tapi, lo tuh nungguin nya gak wajar. Kalau gue jadi Lo sih, gue udah cabut duluan.” ucap Aira yang hanya mendapat deheman dari Zidan yang membuat Aira mencebik. Dia duduk di kursi taman.
Zidan tak lagi berucap, lelaki itu terus melakukan hukumannya tanpa memperdulikan Aira yang ada disini. Aira mengerucutkan bibirnya, menunggu Zidan bertanya kenapa dia berangkat duluan pagi tadi.
“Zi... Lo gak mau tanya gitu, kenapa gue tadi berangkat duluan?” tanya Aira, dia masih mengerucutkan bibirnya, gemas dengan diamnya Zidan sejak tadi.
Zidan mendongak, “Kenapa?”
“Gue tuh masih kesel sama Lo... Makanya gue berangkat duluan.” jawab Aira, dia mengerucutkan bibirnya, terlihat masam sekali wajah perempuan itu.
“Masalah kemarin?”
Aira mendongak, dia mengerutkan keningnya bingung. “Maksudnya?" tanya Aira tak mengerti, otaknya kadang lemot dengan pertanyaan singkat Zidan.
“Jihan,”
Aira terdiam, otaknya mencerna maksud ucapan Zidan. Otaknya loading sampai akhirnya dia tahu dan paham maksud ucapan lelaki itu. “Oh... itu. Iya, sih, gue kesel sama Lo karena itu.” jawab Aira cepat, namun dia dengan cepat berkata lagi. “Tapi, yang lebih bikin gue kesel adalah kejadian semalam. Lo tuh nyebelin! Masa gue telpon tapi gak diangkat, eh sekalinya telpon ternyata Lo lagi sama cewek lain. Ngerti gue sekarang! Kalau ada cewek lain, gue dilupain.” lanjut Aira dengan menggebu-gebu, dia mengangguk-angguk seolah paham.
Aira masih mengerucutkan bibirnya kesal, menatap lurus kedepan. Keterdiaman Zidan seharusnya tak lagi membuatnya bingung. Tapi, justru dia menoleh, ingin melihat bagaimana reaksi lelaki itu. Tapi, apa yang didapatnya justru bukan wajah datar, tapi wajah penuh senyuman.
Bukankah harusnya dia bersyukur bisa melihat Zidan tersenyum lebar. Tapi, entah kenapa justru menyeramkan dilihatnya.
“Ngapain Lo senyum?” tanya Aira, dia memincingkan matanya. “Gak lagi kesambet kan Lo?” tanya Aira lagi.
Zidan beranjak berdiri, masih mempertahankan senyumnya. Begitupun Aira yang juga perlahan berdiri, dia sangsi sendiri melihat senyum Zidan yang aneh menurutnya.
“Kenapa sih, Lo?!”
“Lo cemburu?”
Aira melebarkan matanya, dia meneguk kasar ludahnya sendiri. Dia sadar betul sekarang, ucapannya barusan seakan tanda bahwa dia cemburu. Tapi, apa benar dia cemburu?
Pukulan langsung dia layangkan pada Zidan, dia memukul terus menerus pundak lelaki itu, tak peduli walaupun Zidan meringis kesakitan.
“Ra, sakit lah!”
“Abis Lo nyebelin! Ngapain juga gue cemburu sama Lo!” balas Aira, dia tak henti-hentinya memukul Zidan.
“Ya, omongan Lo kayak yang cemburu.”
“Gue gak cemburu!”
“Yaudah, iya. Udah dong, sakit tahu!”
Aira berhenti memukul Zidan, dia menatap kesal lelaki itu. “Ingat, ya! Gue gak pernah cemburu sama Lo! Lagian nih, ya. Lo tuh sahabat gue dan gak pantas buat gue cemburuin! Ingat, itu!” tegas Aira kemudian pergi meninggalkan Zidan yang hanya bisa diam menatap kepergian Aira.
Aira terus berjalan, pelan-pelan dia menyentuh pipinya sendiri yang terasa lebih panas kini. Dengan cepat dia mengeluarkan cermin kecil dari sakunya saat kakinya berbelok koridor.
“Gila, merah banget muka gue. Semoga aja Zidan gak lihat, kan malu.”
***
“Makan siang...”
Aira meletakkan kotak makan siang dihadapan Zidan yang saat ini tengah menyalin jawaban dari buku Aira. Telat dan berakhir mendapat hukuman membuat Zidan jadi tak mengerjakan soal itu saat itu juga. Tapi, berhubung pengumpulan tugas nanti pulang sekolah, dia masih ada waktu untuk mengerjakannya sekarang, meskipun dia harus melewatkan jam istirahat siang ini. Beruntungnya ada Aira yang bisa diandalkan. Bukan sekedar sebagai bahan contekan, tapi juga suruhan.
Sebenarnya dia bisa saja mengerjakan sendiri soal tersebut, hanya saja dia terlalu malas untuk berpikir. Disaat ada yang bisa dia conteki, kenapa tidak? Toh, Aira juga sering melakukan itu padanya.
Zidan menatap kotak bekal makan siang dihadapannya, menaikkan sebelah alisnya menatap Aira. “Punya, Lo?” tanya Zidan yang diangguki Aira.
Zidan meletakkan asal pulpen ditangannya, kemudian membuka kotak makan siang tersebut dan menemukan dua potong sandwich buah.
“Itu niatnya buat sarapan. Tapi, karena gak lapar tadi pagi. Jadinya, di makannya sekarang.”
Zidan ber'oh'ria, dia mengangguk. Dia mengambil sepotong sandwich buah tersebut, memakannya perlahan karena krim yang bisa saja mengotori tangannya yang masih dia gunakan untuk menyalin jawaban.
“Lumayan kan, Zi. Ya, ngeganjal perut lah sampai kita pulang sekolah nanti. Abis, gue malas kalau harus ngantri di kantin. Mana gue salat dulu tadi. Kan, waktu istirahat kita sebentar.” ujar Aira yang hanya diangguki Zidan. Dia memperhatikan lelaki itu yang masih fokus menyalin jawaban dari bukunya.
Aira terdiam menatap wajah fokus Zidan. Dia sadar betul kalau ternyata dia bersahabat dengan laki-laki yang punya tampang lumayan. Pantas saja, sejak saat pertama bahkan sampai sekarang mereka sekolah disini, semua mata kaum hawa tak pernah absen untuk tak menatap Zidan. Apalagi anak-anak baru yang pertama kali melihat Zidan.
Zidan tampan, sangat. Tinggi, wangi dan bisa dikatakan pintar. Zidan juga aktif dalam beberapa organisasi sekolah, seperti futsal dan pecinta alam. Zidan aktif, jadi banyak dikenal.
Kedekatannya dengan Zidan terkadang membuat semua orang salah paham, semuanya berpikir kalau dia pasangan Zidan alias kekasih Zidan. Padahal bukan. Hubungannya dengan Zidan hanya sebatas sahabat, hanya hubungan persahabatan saja. Jadi, saat semua tahu hubungan persahabatan mereka, banyak dari mereka yang berlomba-lomba mengejar cinta Zidan. Bahkan, dari mereka terkadang meminta bantuannya.
Tapi, hasilnya apa?
Zonk!
Zidan terlalu cuek, dia tak peduli dengan sekitar. Jadi, saat semua perempuan menatapnya memuja bahkan sampai ada yang menyatakan cinta secara terang-terangan. Maka, secara terang-terangan pula lelaki itu menolaknya, menyatakan ketidak tertarikannya. Itulah Zidan, itulah minus lelaki itu. Zidan itu—
“Gue tahu gue ganteng, tapi gak usah dilihatin gitu juga kali.”
Semua yang ada dalam benaknya hilang seketika, ternganga mendengar penuturan Zidan barusan. Dengan cepat, Aira memutar kepalanya, memutar bola matanya jengah. Dia malu sebenarnya.
“Ganteng kalau dilihat dari sedotan,”
“Intinya, ganteng kan?”
“Bodo amat.”