“Oy!”
Aira langsung menunjukkan deretan giginya saat Zidan berbalik menatapnya yang memukul keras pundak lelaki itu. Zidan menatap Aira dengan datar, sedangkan Aira kini tersenyum lebar sambil menaikkan kedua alisnya.
“Mau pulang kan?” tanya Aira, dia mengangguk-angguk pelan, senyuman di bibirnya tak juga pudar.
Zidan berdehem.
Aira seketika menunjukkan wajah sedihnya, bibir bawahnya mencebik pelan. Dia pura-pura terisak pelan, mengusap pelan pipinya seolah ada air mata yang jatuh disana. “Kok jahat gak ngajak gue pulang bareng.” ucap Aira pelan, dia mendramatisir keadaan.
Sudut bibir atas Zidan bergetar pelan, dia menatap Aira dengan mata memincing. Julid sekali tatapan lelaki itu. “Drama!” tukas Zidan, dia memutar tubuhnya dan kembali memakai helmnya.
Bukan Aira namanya kalau diam. Dia langsung merengek, pura-pura menangis dihadapan Zidan. “Jahat... Zidan, jahat... Gak ngajak gue pulang... huhu...”
Zidan menarik tipis sudut bibirnya, dia senang melihat drama Aira ini. Tapi, dia tak akan langsung peduli begitu saja, dia akan berpura-pura acuh pada Aira. Dia langsung naik ke motornya, mengacuhkan Aira yang kini menarik-narik jaket yang dikenakannya.
“Zi... Ikut...”
“Ai, lepasin deh!”
“Gak mau... Gue mau ikut Lo pulang, gue mau nebeng.”
Zidan memejamkan matanya pelan, dia memutar wajahnya menghadap Aira yang menatapnya sambil mengerjap-ngerjapkan mata. Bola matanya memutar jengah. “Gue kan nyebelin, ngapain mau bareng sama cowok nyebelin.” ucap Zidan.
“Enggak kok,” jawab Aira, dia menggeleng. “Kan nyebelin nya kemarin, sekarang udah enggak.” lanjut Aira, dia tersenyum lebar.
“Boleh, ya... Gue ikut pulang.”
“Gimana, ya?”
“Zi... Jangan jahat, please.”
Zidan diam, nampak menimbang-nimbang. “Oke, deh.” jawab Zidan akhirnya yang membuat Aira memekik histeris.
“Cus, kita pulang!” ajak Aira, dia mengambil cepat helm yang biasa dia gunakan dari motor Zidan, kemudian memakainya dan duduk di jok belakang. “Berangkat...”
Zidan hanya bisa tersenyum menatap bagaimana lucunya tingkah Aira sebelum kemudian mulai melajukan motornya. Sepanjang jalan, tak henti-hentinya Aira berbicara. Namun yang dilakukan Zidan hanya mendengarkan dan sesekali berdehem menanggapi ucapan Aira. Zidan hanya coba fokus pada jalanan sekaligus wajah Aira lewat kaca spion motornya.
***
“Cewek kemarin, siapa, Zi?” tanya Aira, dia menoleh menatap Zidan, kedua alisnya terangkat sedangkan mulutnya tak henti-hentinya memakan ice cream.
“Cewek yang mana?” tanya Zidan, dia ikut memakan ice cream di tangan Aira. Tadi, saat perjalanan pulang mereka mampir ke salah satu kedai ice cream. Memesan dua rasa kesukaan Aira, yaitu cookies n cream and choco mint. Dan, setelahnya mereka memutuskan memakannya di bangku luar, menikmati senja yang perlahan menghilang.
“Itu... Yang semalam. Yang pas telpon Lo, eh ada suara cewek.”
Zidan diam, dia terus menerus memakan es krim tersebut. Sedangkan, Aira menghentikan makannya, dia menunggu jawaban yang akan diberikan Zidan tentang perempuan semalam.
“Nasya,”
Aira memutar bola matanya jengah, dia tak peduli dengan nama perempuan itu, yang dia pedulikan adalah status perempuan itu. Bisa saja kan, diam-diam perempuan itu adalah kekasih Zidan. Kalau benar perempuan itu adalah kekasih Zidan, maka Aira akan marah besar.
Bukan... bukan... Bukan cemburu. Tapi...
Tck, itu mungkin salah satu alasannya. Tapi, dia marah karena Zidan menyimpan rahasia besar yang justru membuatnya berharap lebih pada lelaki itu. Intinya, dia akan marah jika perempuan bernama Nasya itu benar kekasih Zidan.
“Siapa, lo?”
Zidan menoleh, menatap Aira. Sebelah alisnya yang tebal terangkat. “Menurut, Lo?” tanya Zidan balik, dia menarik tipis sudut bibirnya. Benar-benar tipis sekali.
Aira mengerucutkan bibirnya, matanya menatap keatas seolah berpikir. Namun pada akhirnya, dia hanya mengendikkan bahunya dan kembali memakan ice cream tersebut. “Mana gue tahu.”
“Pacar,”
“Hah!?”
Seketika Aira beranjak dengan kasar dari duduknya, mulutnya ternganga tak percaya, bahkan cup ice cream ditangannya jatuh seketika membuat ice cream yang tengah dinikmatinya itu terbuang sia-sia.
“Kenapa?”
Aira rasanya lemas sekarang mendengar itu, dia mengatupkan mulutnya dan duduk perlahan di kursi kembali. Matanya mengerjap-ngerjap, masih mencerna satu kata yang dilontarkan Zidan padanya. Entah kenapa, angin darimana, matanya memanas seketika, ada rasa sesak dan tak rela karena ucapan Zidan itu.
“Eh, Lo kenapa nangis?”
Aira menggeleng, “Gak tahu,”
Zidan beranjak dari duduknya menghampiri Aira, dia bersimpuh dihadapan perempuan itu. “Eh, jangan nangis, Ra.”
“Gue juga gak mau nangis. Tapi, mata gue malah ngeluarin air mata terus.” jawab Aira, dia terkekeh namun air mata tak henti keluar dari matanya. Dia mengibas-ngibaskan tangannya karena matanya terasa memanas dan air mata tak segan-segan jatuh terus.
“Ra... Udah, Ra. Ngapain nangis sih.” ucap Zidan, dia menghapus terus menerus air mata di pipi Aira menggunakan jemarinya.
“Gak tahu...” lirih Aira, dia menggeleng, dia masih terus terkekeh meskipun air matanya masih mengalir.
Zidan terkekeh pelan, dia menghapus terus air mata Aira itu. “Udahlah, Ra. Lagipula, Nasya itu bukan pacar gue, dia pacar Aldo, sepupu gue.” jelas Zidan, dia masih terkekeh sedangkan Aira terdiam seketika kini.
“Hah?”
Zidan tertawa. Aira sudah mengentikan tangisnya dan saat itulah Zidan menghapus sepenuhnya air mata di pipi Aira. Zidan mengangguk pelan. “Iya, Nasya bukan pacar gue. Dia pacar Aldo, sepupu gue. Lo tahu kan Aldo?” tanya Zidan yang diangguki Aira.
Aira tahu Aldo, sepupu Zidan yang super menyebalkan. Aldo itu kebalikan dari Zidan. Disaat Zidan diam, maka Aldo akan banyak tingkah. Disaat Zidan tak akan membiarkan dia kesusahan, maka Aldo akan memberikannya banyak beban. Pokoknya, Aldo menyebalkan itu. Tapi, bagaimana pun, dia berteman juga dengan Aldo karena sejak kecil, dia, Zidan dan Aldo selalu bersama.
Zidan tersenyum, kali ini Aira bisa melihat senyum lebar itu.
“Jadi, udah gak nangis lagi kan sekarang?”
Aira mencebik, menepis tangan Zidan dari pipinya. “Apaan sih! Lagian nih, ya, gue nangis juga gak tahu karena apa. Tiba-tiba mata gue pengen nangis, udah itu aja.”
Zidan perlahan beranjak. “Masa?”
“Iyalah!” jawab Aira cepat, dia menatap sengit Zidan yang sudah duduk kembali ditempatnya. “Tuh, lihat, es krim gue jadi kebuang sia-sia! Gue gak mau tahu, ganti sekarang juga.” tuntut Aira, dia menatap malang es krimnya yang tergeletak di bawah.
“Dih, yang jatuhin siapa, yang harus ganti siapa.”
“Kan gara-gara Lo!”
“Kok gue? Emang gue ngapain.”
“Tadi Lo bilang kalau Nasya pacar Lo,”
Zidan mengerutkan keningnya. “Pacar gue?" tanya Zidan, “Kapan?” tanya Zidan lagi, dia terkekeh pelan.
”Lagian kan, gue belum selesai ngomong tapi Lo udah histeris aja. Ya, salah gue gitu?”
“Iya! Pokoknya, gue gak mau tahu, sekarang Lo kedalam dan beli lagi es krim buat ganti es krim itu.” tukas Aira, dia menatap lirih es krim nya dibawah.
Zidan berdecak, dia dengan terpaksa berdiri. “Oke, gue ganti.” ucap Zidan, dia mengendikan bahunya. “Meskipun sebenarnya bukan salah gue.” sambung Zidan kemudian melenggang pergi meninggalkan Aira, dia kembali masuk ke kedai ice cream tersebut.
Aira hanya terkekeh, dia menatap kepergian Zidan dengan senyuman. Sejujurnya, dia baru saja merasa lega saat tahu ternyata perempuan Nasya itu bukan kekasih Zidan. Jujur, hatinya senang mendengar itu semua.
Matanya tak lepas dari Zidan yang saat ini tengah mengantri memesan ice cream untuknya—untuk mereka lebih tepatnya. Awalnya biasa saja sampai akhirnya dia melihat Zidan berhenti dan berbincang dengan perempuan yang entah siapa lagi. Aira tak tahu siapa perempuan itu.
Aira beranjak dari duduknya, ternganga melihat Zidan yang sepertinya betah sekali mengobrol dengan perempuan yang entah siapa. “Tuh, cewek siapa lagi sih? Zi... Lo banyak banget sih ceweknya!” kesal Aira, dia berdecak tak suka. Dia hendak menyusul Zidan ke dalam, namun justru dikejutkan saat kakinya tanpa sengaja menginjak ice cream nya yang berceceran di bawah itu yang membuatnya hampir...
Terpeleset.
Aira bisa saja terpeleset kalau saja tak ada orang yang menarik cepat lengannya, sehingga bokongnya yang hendak mendarat dengan keras itu berhasil terselamatkan.
Refleks, pekikan keras keluar dari mulutnya yang mungkin cukup menyita perhatian.
Dan, dibawah cahaya senja, jadi pertemuan pertama mereka.
***