“Senyum aja terus,”
Zidan menghentikan motornya saat lampu merah menyala, menatap intens Aira yang tak henti-hentinya tersenyum sejak kepulangan mereka dari kedai ice cream tersebut lewat kaca spion motornya.
Aira justru semakin melebarkan senyumnya mendengar ucapan Zidan. “Iya lah, wajib! Emangnya, Lo, mesem terus.” balas Aira, dia menggerakkan bola matanya mengejek.
Zidan mendengus, dia bisa tebak sebab senyum Aira itu. Sudah dia pastikan, penyebabnya adalah lelaki di kedai ice cream tadi. Laki-laki yang menolong Aira yang hendak terpeleset. Mungkin, jika Aira tidak memekik, dia tak akan tahu apa yang terjadi. Namun, pekikan keras dari Aira sukses menarik perhatian semua orang, termasuk dirinya.
Zidan tak suka melihat bagaimana tatapan Aira dan laki-laki yang dia tahu bernama Benny—mereka berkenalan tadi— itu saling beradu. Mata Aira itu indah dan memikat, Zidan tak suka saat keindahan itu justru dinikmati secara terang-terangan oleh orang lain. Dan, dia juga tak suka melihat Aira yang sepertinya ikut menikmati aksi saling tatap itu. Tck, menyebalkan.
Aira terkekeh. “Zi, kok gue jadi kepikiran sama Benny, ya.” tukas Aira, dia kembali tersenyum menunjukkan deretan giginya.
Pikiran Aira tiba-tiba teringat Benny, lelaki yang menolongnya di kedai ice cream itu. Laki-laki berkulit putih, pemilik alis tebal dan mata yang indah. Jujur, saat dirinya saling bertatapan dengan Benny, dia terpikat dengan mata indah lelaki itu. Dan, kalau boleh jujur, dia suka laki-laki pemilik alis tebal.
“Ngapain dipikirin!” tukas Zidan, dia melajukan kembali motornya saat lampu lalu lintas sudah berganti warna menjadi hijau.
Aira mencebikkan bibirnya. “Ih... Ya, gakpapa dong. Lagian nih, ya, Benny itu udah nolongin gue. Jadi, wajar kalau gue ingat dia terus.” ucap Aira.
“Terserah,”
“Kalau aja tadi Benny gak nolongin gue, pasti sekarang b****g sama pinggang gue sakit banget. Beruntung banget ada Benny...”
Zidan memutar bola matanya jengah. “Kalau gue ada, gue juga bakalan ngelakuin hal sama kok.”
Mendengar ucapan Zidan membuat Aira jadi teringat kembali. Sebab dia hendak terpeleset itu, ya, Zidan sendiri. Kalau saja lelaki itu tak membuatnya penasaran dengan sosok perempuan yang bersamanya itu, mungkin kejadian tadi tak akan terjadi. Mungkin, dia juga tak akan bertemu dengan Benny.
“Bener kan?”
“Apaan! Orang gue mau ke peleset juga gara-gara Lo!”
“Kok, gue lagi sih yang disalahin? Aneh banget, semua salah gue.”
“Emang bener kok! Gue kan kepo sama cewek yang Lo ajak ngobrol di kedai itu. Jadi, gue— Eh, kok berhenti sih?”
“Salat dulu, magrib.”
***
“Zidan... Lo belum jelasin ke gue, ya. Siapa cewek di kedai tadi!?”
Aira terus saja meminta penjelasan pada Zidan sejak mereka selesai salat magrib, di perjalanan pulang bahkan sampai mereka kini di depan rumah pun Aira masih bertanya. Dan, Zidan bukannya menjelaskan, lelaki itu malah hanya diam seolah tak peduli.
“Ngapain juga Lo tahu sih? Gak penting banget.” ucap Zidan, dia hendak melajukan kembali motornya namun ditahan Aira. Perempuan itu tiba-tiba saja mengambil kunci motornya.
“Balikin, Ra...”
Aira menggenggam kunci motor tersebut, menyembunyikan tangannya di belakang tubuhnya. Aira menggeleng, “Enggak, sebelum Lo jawab dulu pertanyaan gue. Siapa cewek itu.”
Zidan memutar bola matanya jengah. ”Please, kita gak harus bahas yang gak penting.”
“Itu penting, Zidan...”
“Penting, apanya?” tanya Zidan, dia menatap Aira dengan tajam. “Tahu gak tahu Lo tentang cewek itu, gak berarti apapun.” lanjut Zidan dengan tandasnya.
“Tapi—”
“Udahlah! Lagian gak ada pentingnya buat lo!” marah Zidan, dia berkata dengan keras dan tajamnya.
Aira terdiam, dia menatap Zidan lekat dalam waktu yang cukup lama sebelum kemudian dia geletakkan begitu saja kunci motor lelaki itu dan bergegas membuka pintu pagar rumahnya. Tanpa mengucap apapun, Aira menutup pintu gerbangnya serapat mungkin.
Satu hal yang terlihat jelas di wajah Aira, perempuan itu kecewa.
“Anjrit!” umpat Zidan sambil memukul motornya menggunakan kepalan tangannya.
***
Zidan sudah berganti pakaian dengan setelan rumah, dia berjalan menuruni anak tangga dan pergi ke meja makan dimana semua makanan sudah tersedia disana.
“Zi, kok Aira belum kesini, tumben banget.” ucap Hanna—bundanya yang tengah menyendok lauk untuk Faiz—ayahnya.
Zidan terdiam, sepertinya Aira tengah marah padanya. Terbukti sampai sekarang perempuan itu belum datang ke rumahnya untuk makan malam bersama, biasanya Aira itu cepat sekali datangnya.
“Kamu gak lagi berantem kan sama Aira?” tanya Faiz, dia menaikkan sebelah alisnya yang membuat Zidan menatap padanya.
“Enggak, kok. Ya udah, Zidan susulin Aira aja ke rumahnya.” ucap Zidan, dia beranjak dari duduknya.
Hanna duduk di kursinya. “Ngapain ke rumahnya? Kamu kan bisa telpon dia.” ucap Hanna, dia menatap Zidan dengan kening mengerut.
“Malas, handphone nya di kamar.” jawab Zidan kemudian melenggang pergi begitu saja.
Hanna dan Faiz saling tatap dan menggeleng.
“Berantem kali,”
“Kira-kira, kenapa, ya, yah?”
“Urusan anak muda.”
“Tapi, kan bunda juga pengen tahu.”
Zidan melangkah dengan santainya memasuki pekarangan rumah Aira. Niatnya yang hendak masuk di urungkan saat melihat Aira yang tengah bersantai diatas ayunan panjang. Kakinya pun melangkah berbelok menemui Aira disana.
Zidan mengerutkan keningnya mendengar tawa renyah yang ditunjukkan Aira. Dengan siapa perempuan itu bertelepon sehingga senyuman dan tawa manis yang seharusnya hanya Zidan itu lihat justru tercetak jelas kini.
“Iya, Benn. Gue serius! Gue benar-benar berterimakasih sama Lo. Kalau Lo gak ada nolongin gue, pasti sih sekarang pinggang gue encok.”
Benny, ternyata orang yang membuat Aira tersenyum dan tertawa itu adalah dia. Tentu saja, Zidan semakin tak suka mengetahui fakta itu.
“Besok? Kan gue sekolah. Oh... Boleh, deh. Yaudah, sepulang sekolah nanti gue traktir Lo sebagai ucapan terimakasih gue. Ya udah, bye...”
Zidan masih diam, menatap Aira tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Sedangkan, Aira sendiri belum sadar akan kehadiran Zidan, dia masih menatap layar ponselnya yang kini sudah mati saat panggilannya bersama Benny selesai.
Aira yang hendak kembali ke kamar dikejutkan dengan keberadaan Zidan di belakangnya, sontak saja pekikan keras terlontar dari mulutnya.
“Lo ngagetin gue tahu!” marah Aira, dia beranjak cepat dari duduknya kemudian memukul keras pundak Zidan yang sebenarnya tak berarti sakit apapun pada lelaki itu.
Aira memincingkan matanya, dia menatap sinis Zidan. “Lo ngapain disini?” ketus Aira, dia ingat, dia masih marah pada Zidan karena ucapan lelaki itu magrib tadi. Dia tak suka mendengar ucapan bernada tajam, dia tak suka di bentak, dia tak suka sesuatu yang menimbulkan rasa sakit di hatinya.
“Lo mau kemana besok sama Benny?” tanya Zidan datar.
“Bukan urusan Lo,” jawab Aira datar, dia hendak pergi namun ditahan Zidan. ”Apaan sih, Zi!?” kesal Aira.
“Lo mau kemana?” tanya Zidan, lagi. Nada suaranya kini lebih tajam dan mengintimidasi.
Aira menyingkirkan tangan Zidan dari lengannya, dia mengangkat angkuh dagunya. Matanya memincing menatap tajam Zidan. “Mau kemana gue, bukan urusan lo.” jawab Aira datar.
“Itu urusan gue,”
“Apa urusannya sama Lo? Gue pergi ataupun enggak, gak ada hubungannya sama Lo. Lagian gak akan penting juga buat lo.”
“Itu.penting.Aira.” balas Zidan penuh tekanan disetiap katanya. “Semua tentang Lo, itu penting buat gue.”
Aira menarik sudut bibirnya sinis, dia berdecak mendengar itu. Semua apapun tentang dirinya, itu penting untuk Zidan, katanya. Tapi, kenapa Zidan tak jujur tentang siapa perempuan itu padahal nyatanya semua hal tentang Zidan juga sama pentingnya untuk Aira.
“Lo belum jawab gue, Aira.” ucap Zidan, dia kembali menarik lengan Aira yang berniat pergi. Membuat perempuan itu kembali berhadapan dengannya.
“Lo mau gue jawab apa?” tanya Aira, dia mendongak menatap Zidan dengan kening mengerut bingung. “Sedangkan Lo sendiri, gue tanya tentang perempuan itu, apa Lo jawab? Enggak.”
Zidan memutar bola matanya jengah, dia berdecak. “Kenapa jadi tentang cewek itu sih? Kita lagi ngebahas Lo yang bakal pergi sama cowok asing itu.”
“Namanya Benny.”
“Gue gak peduli. Yang jelas, dia orang asing sedangkan Lo dengan gampangnya mau aja gitu pergi sama dia.”
“Dia yang nolongin gue,”
“Ra... Dia tolong Lo gak seberapa, gak usah berlebihan.” ucap Zidan, dia menggeleng pelan. “Jadi, kasih tahu gue mau kemana Lo sama Benny besok atau gak usah pergi sama sekali.”
“Terserah,”
Aira langsung melenggang, melewati Zidan begitu saja. Namun, langkahnya seketika terhenti mendengar ucapan Zidan.
“Dia Meisha, cewek yang pernah gue suka.”
***