Padahal baru kemarin mereka berbaikan, tapi masalah kecil muncul yang justru semakin memperkeruh keadaan. Masalahnya simple, dua orang asing yang masuk ke kehidupan mereka dan satu sama lain ingin tahu siapa orang itu. Tapi, keduanya egois, enggan langsung menjelaskan dan berakhir seperti ini. Coba saja langsung dijelaskan, mungkin ceritanya tak akan seperti ini.
“Cewek yang Lo suka?” tanya Aira, dia membalikkan tubuhnya menghadap Zidan dan menghampiri lelaki itu. “Sejak kapan Lo suka cewek itu? Kenapa gue gak tahu, kenapa baru sekarang Lo bilang?” cecar Aira, dia terkejut mendengar fakta jika Zidan ternyata pernah suka dengan perempuan lain.
“Buat apa gue cerita? Lagian itu udah lama.”
Aira membuang kasar napasnya. Dia tersenyum miris mendengar jawaban Zidan. “Buat, apa?” tanya Aira, dia membalikkan pertanyaan Zidan. “Kenapa sih, Zi. Kenapa setiap gue tanya sesuatu tentang Lo, Lo selalu balik tanya, 'buat apa'? Apa semua yang gue pengen tahu tentang Lo harus ada alasannya? Sedangkan, gue selalu terbuka sama Lo. Gue gak pernah mempermasalahkan apakah itu penting buat Lo atau enggak.”
“Beda cerita,”
“Apanya yang beda?” tanya Aira jengah. “Semua tentang gue penting buat Lo, begitupun buat gue Zi. Semua tentang lo itu juga sama pentingnya buat gue.”
Zidan memejamkan matanya sejenak, dia kembali menatap Aira dengan kedua tangannya yang sudah terulur menyentuh lengan atas perempuan itu. “Dengerin, gue. Bokap nyokap Lo, titipin Lo sama gue. Dan, semua hal yang terjadi sama Lo adalah tanggung jawab gue. Kalau Lo kenapa-napa, gue juga yang kena masalah.” ucap Zidan yang tanpa sadar justru membuat Aira kecewa.
Aira ternganga mendengar ucapan Zidan. Jadi, hanya karena orangtuanya, karena Zidan tak mau ikut bermasalah jika dirinya bermasalah. Begitu? Oke, Aira paham sekarang.
Aira terkekeh pelan, bola matanya sudah berkaca-kaca. Dia langsung melepaskan tangan Zidan dari lengannya. “Ya udah, gue akan bilang sama Papa dan Mama supaya gak titipin gue sama Lo. Jadi, kalau gue kena masalah, Lo gak akan ikut bermasalah.” jawab Aira yang justru membuat Zidan terkejut mendengarnya.
“Ra, bukan gitu maksud gue.”
Aira tak peduli, dia melenggang pergi meninggalkan Zidan. Tak memperdulikan lelaki itu yang bahkan tak menyusulnya dan hanya menyerukan namanya sekali. Cih, apa-apaan coba!
Entah kenapa, semua hal tentang Zidan yang ada kaitannya dengan perempuan lain selalu membuatnya seperti ini, membuat emosinya tak terkendali. Bahkan, membuat hubungannya dengan Zidan jadi renggang seperti ini.
Tck, masalahnya itu ada di perempuan lain!
Kalau saja Zidan tahu, Aira itu cemburu.
***
Aira duduk bersandar di window set, memusatkan atensinya pada langit malam yang begitu cerahnya. Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, namun matanya masih terlihat segar. Dia benar-benar tak mengantuk karena memikirkan masalah yang terjadi padanya dan Zidan akhir-akhir ini.
Diamnya langsung diganggu dengan kerlipan cahaya lampu yang tertuju padanya. Seketika, dia menegakkan tubuhnya. Ada Zidan dibawah sana, di pekarangan rumahnya yang menyorot lampu padanya.
Aira mencebikkan bibirnya, dia tak merespon Zidan. Dia hanya diam sambil menatap sebal lelaki itu dari kamarnya.
“Ngapain sih tuh anak?" gumam Aira saat melihat Zidan menunjuk-nunjuk ponselnya, mengodenya untuk membuka ponsel.
Akhir, dengan terpaksa Aira mengambil ponselnya yang berada tak jauh dari jangkauannya. Segera dia mengaktifkan ponsel yang sejak tadi dia matikan. Beberapa panggilan tak terjawab dari Zidan pun ada di riwayat panggilannya.
Ponselnya yang disetting getar, langsung bergetar saat ada panggilan masuk dari Zidan. Sebenarnya, dia enggan mengangkat panggilan tersebut, namun tangannya justru berkata lain. Bukannya tombol merah yang di gesernya, ini justru tombol hijau lah.
“Ra, gue gak maksud gitu.”
Ucapan itulah yang terdengar saat pertama kali panggilan tersebut tersambung. Aira bisa melihat Zidan dari kamarnya, lelaki itu masih berdiri menghadap padanya dengan ponsel yang menempel di telinganya karena panggilan diantara mereka.
Aira diam, tak menanggapi.
“Huh! Oke, gue minta maaf. Gue gak pernah keberatan kok, kalau gue bermasalah karena Lo.”
Aira mencebikkan bibirnya. “Tapi, tadi Lo bilang gak mau gue bermasalah karena Lo yang bakal kena imbasnya.” balas Aira cepat, dia masih sakit hati karena ucapan Zidan itu.
“Iya emang, tapi maksud gue gak kayak gitu. Oke, coba Lo pikirin. Kemarin aja Lo hampir kena hukuman, apa gue mau? Enggak kan? Gue bahkan rela dihukum sendiri supaya Lo enggak.”
Aira ingat, itu kejadian kemarin saat mereka telat masuk sekolah. Memang benar, selama ini Zidan tak pernah membiarkannya terkena masalah. Lelaki itu selalu siap jadi tameng jika masalah ada padanya.
“Jadi, apa Lo masih pikir gue gak rela lo bermasalah karena gue takut gue yang ikut kena masalah?”
Enggak, Aira rasanya ingin menjawab itu. Tapi, egonya terlalu tinggi. Sehingga yang dilakukannya adalah mematikan panggilan tersebut dan langsung beranjak menuju saklar lampu dan memadamkan lampu-lampu di kamarnya, kecuali lampu tidur tentunya.
Sedangkan, Zidan hanya bisa menghela napas kasar. Dia menatap panggilan yang baru saja terputus itu, bahkan beberapa saat kemudian pun Aira sudah tak lagi terlihat dan lampu kamar perempuan itu pun sudah padam.
Sepertinya, Aira benar-benar marah padanya.
Kebodohannya sendiri yang sebenarnya bisa mengeluarkan kalimat seperti tadi. Meskipun niatnya tak seperti apa yang dipikirkan Aira sebenarnya.
Alasannya berkata demikian pun karena dia keberatan bermasalah karena Aira, bukan... Dia tulus menjaga Aira dan rasanya menjaga Aira itu sebuah kewajiban untuknya. Satu alasan pastinya, dia tak suka saat Aira harus berdekatan dengan laki-laki lain.
Dia... cemburu sebenarnya.
***
“Ra,”
Aira menoleh, dia menatap datar Zidan yang berdiri tak jauh darinya. Tanpa mengatakan apapun, Aira kembali melangkahkan kakinya menuju kelasnya berada. Aira mengacuhkan Zidan yang kini sudah mengejar langkah perempuan itu.
Kembali, mereka tak berangkat bersama. Aira berangkat lebih dulu, meninggalkan Zidan yang posisinya saat itu langsung mengikuti dari belakang ojek online yang dipesan Aira.
“Ra... Jangan gini deh.”
Aira diam, tak memperdulikan Zidan yang bahkan kini sudah ada disampingnya.
Mereka datang 15 menit sebelum jam masuk sekolah. Jadi, keadaan sekolah sudah mulai ramai dengan murid-murid yang kebanyakan berseliweran atau terkadang nongkrong didepan kelas masing-masing. Kedatangan dan langkah mereka tentu saja menjadi pusat perhatian, apalagi sekarang posisinya Zidan terus saja memanggil nama Aira yang diacuhkan si empunya.
Dan, adegan itu di semua orang seperti sebuah adegan dimana sang kekasih sedang marah sedangkan pasangannya mencoba mengejar. Koreksi nya, disini mereka bukan sepasang kekasih. Hanya dua insan yang punya hubungan, yaitu persahabatan.
Sepertinya.
“Aira!”
“Apa sih, Zi!— Zi, ya ampun...”
Zidan meringis pelan saat pundaknya terkena hantaman pot yang jatuh dari lantai atas. Seharusnya, Aira yang terkena jatuhan pot tersebut. Namun, Zidan yang mengetahui ada bahaya dengan cepat melindungi Aira dengan mendekap perempuan itu. Sehingga, pundaknya lah yang harus menjadi korban.
“Zi, darah...”
Zidan menggeleng, dia menahan sakitnya. “Udah, gakpapa. Jangan nangis.” ucap Zidan, dia menutup pundaknya yang berdarah itu dengan telapak tangannya sedangkan dia juga mencoba menenangkan Aira yang memang suka histeris jika melihat darah.
Orang-orang pun mulai mengerumuni mereka dan Zidan tak suka itu semua. Sehingga dengan cepat dia menarik Aira dan melangkah pergi meninggalkan semuanya.
Langkahnya berhenti di ruang kesehatan siswa.
“Ayo, Zi. Kita obati luka lo.”
Zidan mengangguk saja.
Dibantu Aira dan petugas kesehatan sekolah, luka di pundak Zidan pun dibersihkan dan diobati secara perlahan. Dan kini, perban menutupi luka tersebut.
Aira terdiam, menunduk sambil meremas jemari tangannya.“Zi, maaf ya...” ucap Aira saat mereka ditinggal berdua.
Zidan mendongak, menghapus dengan cepat air mata Aira. “Gak usah minta maaf, itu kewajiban gue.”
“Tapi, gue udah marah-marah sama Lo. Gue udah nuduh lo—”
“Gak usah dibahas. Yang jelas Lo harus tahu kalau gue ini tulus sama Lo. Jadi, stop mikir yang enggak-enggak.”
Aira mengangguk. “Makasih.”
Zidan mengangguk, tersenyum tipis. “Jadi, Lo mau kemana nanti pulang sekolah?”
***