12. Mata-mata dan Keinginan

1825 Kata
“Lo jadi pergi pulang sekolah nanti?” Aira mendongak, dia mengangguk sebagai jawaban sedangkan mulutnya masih menikmati makanan yang ada dihadapannya. Zidan berdecak dalam hati, sebenarnya dia tak suka dengan keputusan Aira yang akan pergi pulang sekolah nanti bersama lelaki itu. Tapi, mau bagaimana lagi? Mereka baru saja baikan dan jika larangan keluar dari mulutnya, bisa jadi kembali menimbulkan pertengkaran. Aira mengerutkan keningnya, menatap Zidan yang diam. Dalam hati dia berharap, jika lelaki itu kembali melarangnya seperti semalam. Rasanya... menyenangkan saat Zidan melarang, itu artinya lelaki itu tak mau melihatnya berdekatan dengan lelaki lain. Tapi, sayang. Zidan justru mengangguk mengiyakan. “Ya udah, tapi Lo nanti kabarin gue ya kalau ada apa-apa.” ucap Zidan, dia menatap serius Aira. “Kenapa-napa apanya? Masa iya gue jalan sama dia, kenapa-napa.” balas Aira, dia terkekeh pelan sambil menggeleng tak percaya dengan ucapan Zidan. Zidan berdecak, menyentil kening Aira yang membuat perempuan itu meringis pelan. Aira menatap Zidan sambil mencebikkan bibirnya dan mengusap keningnya itu, dia hendak protes dengan apa yang baru saja dilakukan lelaki itu. “Sakit tahu...” “Ya abisnya. Lo kan tahu, Ra kalau cowok itu orang asing. Jadi—” “Namanya Benny, Zi. Kenapa sih Lo gak mau sebut namanya.” Zidan berdecak, memutar bola matanya jengah. “Gue gak peduli sama namanya. Intinya, dia orang asing buat kita. Jadi, kalau ada apa-apa, Lo langsung hubungi gue aja.” ucap Zidan kekeh dengan permintaannya. Aira menghela napas kasar, mengerucutkan bibirnya kemudian mengangguk dan berdehem. Dan, Zidan hanya tersenyum tipis sampai tak terlihat sebelum akhirnya tangannya mendarat dipuncak kepala Aira dan mengusap pelan rambut perempuan itu. Dan, Aira suka dengan apa yang dilakukan Zidan padanya. *** “Hai, Benn.” “Hai, Ra. Sorry, ya Lo jadi nunggu lama. Gue tadi ada urusan bentar.” Zidan memutar bola matanya jengah, beranjak dari duduknya kemudian menghampiri mereka dengan wajah dingin tak terkendali. Tidak sukanya Zidan pada seseorang, kentara sekali. “Gimana sih Lo jadi cowok, gak bisa banget tepat waktu. On time dong!” tukas Zidan datar. Dia kesal melihat Benny yang akhirnya datang. Dia pikir, menunggu hampir setengah jam kedatangan Benny yang tak kunjung datang akan berbuah manis. Setidaknya ada pesan yang mengatakan bahwa Benny tak akan datang, sungguh dia jauh lebih senang. Tapi, ternyata Benny datang juga dan sekarang ada dihadapannya. Benny tersenyum menatap Zidan. “Sorry, ya, bro. Gue tadi abis cek masalah di bengkel gue dulu. Jadi, agak lama datang jemput Aira nya.” jelas Benny, dia tersenyum menatap Aira juga. Zidan mengacuhkannya, sedangkan Aira dengan cepat menggeleng. “Gakpapa kok, Benn. Orang telatnya juga gak lama-lama banget.” “Setengah jam, gak lama?" cicit Zidan yang masih bisa didengar, dia memutar jengah bola matanya. Benny mendengarnya, dia jadi merasa tak enak karena keterlambatannya. Berbeda dengan Aira yang langsung menyenggol lengan Zidan yang membuat lelaki itu menatapnya. Zidan menaikkan kedua alisnya. “Kenapa?” tanya Zidan. “Benar dong, setengah jam emang sebentar?” tanya Zidan lagi, dia bertanya dengan santainya tanpa memikirkan perasaan Benny yang jika dilihat dari wajahnya sudah tak enak bukan main. Aira menipiskan bibirnya, dia bingung kenapa juga bisa punya teman dekat seperti Zidan ini. “Udahlah, gak usah dibahas lagi.” putus Aira akhirnya, dia menatap Benny yang tak lepas menunjukkan senyum padanya. “Ya udah, kita berangkat aja. Gimana?” ujar Aira yang tentu diangguki Benny. Aira menatap Zidan, “Ya udah, Zi. Gue duluan, ya.” ucap Aira, dia tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya dan mengedipkan sebelah matanya saat beranjak menuju motor Benny. Zidan tak suka melihatnya, apalagi saat melihat Aira yang berpegangan pada pundak Benny. Pokoknya, tangan Aira itu hanya harus berpegangan padanya, tidak pada laki-laki lain. “Berangkat, ya, Dan." ucap Benny berniat berpamitan. Namun, Zidan kembali menahannya, yang mengurungkan niat Benny untuk pergi. Aira mengerutkan keningnya, “Kenapa sih, Zi?” tanya Aira, dia bingung melihat Zidan yang tiba-tiba menarik tangannya dari pundak Benny kemudian meletakkan begitu saja diatas pahanya. Pun, begitu dengan Benny yang bingung dengan tingkah Zidan. Tanpa mengucap apapun lagi, Zidan menjaga jarak diantara mereka. “Ya udah, kita pergi, ya.” “Bentar, bentar.” “Apa lagi sih, Zi...?” Kembali, niat Benny yang hendak melajukan motornya kembali diurungkan saat Zidan kembali melarang. Zidan melepas jaketnya, meletakkan diatas paha terbuka Aira kemudian memasangkan helm miliknya yang biasa digunakan Aira. “Gimana sih Lo, bawa cewek tapi gak persiapan apa-apa.” dengus Zidan, dia kesal saat Benny tak membawa helm. Jangankan membawa, memakai untuk dirinya sendiri saja tidak. “Iya gue lupa, tadi buru-buru.” “Alasan!” Aira berdecak, dia jadinya kesal dengan tingkah Zidan. “Udah, udah. Sekarang kan udah, gue udah pake helm, paha gue gak jadi tontonan. Udah, kan?” tanya Aira, dia menaikkan kedua alisnya kemudian mengangguk pelan. “Boleh dong, kita pergi sekarang?” tanya Aira. Zidan tak lagi punya alasan, sehingga akhirnya dia mengangguk saja, mengiyakan. Dia menatap tajam dan penuh intimidasi pada Benny. “Hati-hati bawa motornya. Jangan, ngebut! Ingat, Lo bawa anak orang.” “Iya, iya, gue tahu kok." “Udah, yuk, ah!” Dan, motor Benny pun melaju meninggalkan Zidan yang diam sejenak sebelum akhirnya bergegas menuju motornya untuk mengikuti mereka. Heh, Aira pikir dia akan diam saja? Tentu tidak. *** Zidan berdecak melihat Benny yang mengusap pelan sudut bibir Aira yang sepertinya terkena noda makanan. Apa-apaan si Benny ini? Mencari kesempatan saja! Dia langsung menarik tubuhnya, kembali bersembunyi dibalik food truck saat melihat Aira yang sepertinya tahu keberadaannya. Dia bersandar, membuat si pemilik food truck tersebut mengerutkan kening bingung melihatnya. “Kenapa, mas?” “Kenapa, apanya?” Si mas tersebut pun langsung melenggang pergi meninggalkan Zidan yang baru saja berbalik tanya dengan ketus pertanyaan santainya. Zidan memutar jengah bola matanya, tak tahu apa kalau dia ini sedang bersembunyi dan justru ditanya yang bisa saja menimbulkan rasa curiga dari orang-orang atau bahkan parahnya Aira sendiri. Dan, itu tentu saja terjadi saat dia berniat kembali mengawasi Aira justru dia dikejutkan dengan keberadaan perempuan itu yang secara tiba-tiba ada dihadapannya sambil berdecak pinggang dengan mata memincing sempurna. Tentu, Zidan terkejut dibuatnya. “Lo ngapain disini, Ra?” tanya Zidan kaget, mulutnya ternganga meskipun dengan cepat dia mengubah raut wajahnya kembali datar seketika. Aira memincingkan matanya, mencondongkan tubuhnya menatap Zidan. “Yang harusnya tanya itu, gue.” balas Aira, dia mengendikan dagunya. “Lo ngapain disini?” tanya Aira. Zidan menunjuk dirinya sendiri. “Gue?” “Iya." “Ya, emang ini tempat punya Lo jadi gue gak boleh ada sini. Begitu?” “Tapi,... Kenapa kebetulan banget Lo ada disini, tempat dimana gue sama Benny lagi makan?” tanya Aira, dia memelototi Zidan yang kini justru beranjak duduk di kursi kosong. Zidan mengendikan bahunya, “Ya, mana gue tahu.” Aira cepat-cepat duduk di kursi dihadapan Zidan. “Lo ngintilin gue, ya?" tebak Aira, dia menunjuk Zidan. “Kurang kerjaan!" Aira mencebik, “Awas aja, ya kalau Lo gangguin acara makan gue sama Benny. Awas!” ancam Aira sambil menunjuk kedua bola matanya dan pada Zidan bergantian sebelum akhirnya dia beranjak kembali menghampiri Benny yang sempat dia tinggal dengan alasan ke toilet. *** “Nyebelin, nyebelin, nyebelin!” Zidan hanya diam saja saat Aira tak henti-hentinya memukul bahunya. Dia terima saja sih jika perempuan itu melakukan itu, toh pukulan itu tak berefek apapun padanya. Aira mengerucutkan bibirnya, dia berdecak pinggang sambil menatap Zidan kesal. “Bisa-bisanya Lo bohongin gue dengan alasan bokap gue? Parah banget!" kesal Aira. Iya, Zidan baru saja menipu Aira. Tiba-tiba mendatangi Aira dengan alasan orangtua Aira pulang ke rumah. Tentu, Aira senang bukan main. Hal langka jika orangtuanya pulang. Sehingga, Aira bergegas ingin pulang. Anehnya, saat hendak pulang diantar Benny, ban motor lelaki itu tiba-tiba kempes. Dan, Aira yang tidak sabaran bertemu orangtunya tak bisa menunggu. Hingga akhirnya, Zidan menawarinya tumpangan dengan alih-alih ingin pulang juga. Tapi, apa yang justru didapat? Tak ada siapa-siapa di rumah. Aira menyandarkan punggungnya dengan kasar, melipat tangan didepan d**a sambil mencebikkan bibirnya. “Zidan jahat banget sih... Udah berharap juga.” keluh Aira, dia benar-benar berharap orangtuanya pulang. Zidan jadi merasa bersalah kini, apalagi dia tahu bagaimana besarnya keinginan Aira untuk menghabiskan waktu bersama orangtuanya. Tapi, mau bagaimana lagi? Dia gerah melihat Benny yang terus menerus mencuri kesempatan berdekatan dengan Aira yang sebenarnya sadar atau tidak sih, dirinya itu tengah dijadikan incaran. Zidan berjalan menghampiri Aira, duduk disamping perempuan itu yang masih mencebikkan bibirnya. “Sorry, ya." Aira menoleh, “Gitu doang?” Zidan mengerutkan keningnya. “Terus?” Aira mengendikan bahunya. “Apa kek.” Zidan tersenyum, ternyata Aira tak semarah itu padanya. “Ya udah, sekarang Lo sebutin apa yang Lo mau. Abis itu tutup mata Lo, hitung sampai sepuluh dan gue yakin doa lo terkabul.” Aira tersenyum senang. Sepertinya Zidan berpikir, permintaannya kali ini akan mudah sehingga hanya butuh sepuluh detik untuk Zidan kabulkan. Itu memang sudah kebiasaan. Tapi, kini tidak. Dia akan membuat lelaki itu kewalahan karena keinginannya. “Gue mau, bokap nyokap gue ada disini sekarang.” ucap Aira yang membuat bola mata Zidan terbelalak seketika. Aira segera memejamkan matanya, mulai berhitung sedangkan Zidan langsung dibuat bingung dan kewalahan. Dia tak bisa mengabulkan permintaan Aira kali ini. “... Lima,” “Enam...” “Tujuh...” “Delapan...” “Sembilan...” “Sepuluh!” “Assalamualaikum... Aira, sayang...” Dan, seketika mereka menoleh ke sumber suara. Menemukan keberadaan orangtua Aira yang berdiri diambang pintu dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah mereka. Dengan cepat, Aira beranjak menghampiri mereka. Memeluk erat mereka bergantian dengan segala kerinduan yang coba Aira tumpahkan. “Aira kangen banget...” *** Aira tak bisa untuk tak menahan senyumnya kali ini. Rasanya senang sekali menghabiskan waktu bersama orangtuanya tadi. Dan, kabar gembiranya lagi orangtuanya berada disini seminggu penuh sebelum kemudian kembali ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Seminggu? Tak apa. Itu lebih dari cukup untuk Aira. Ya, setidaknya selama itu dia akan menghabiskan waktu bersama orangtuanya. “Senyum terus...” Aira menoleh, mendapati Zidan yang duduk di kursi balkon kamar lelaki itu sambil memangku gitar. Dia tersenyum senang melihat keberadaan Zidan disana. “Iya dong...” “Gimana, berhasil kan permintaan maaf gue tadi?” Aira terkekeh, mengangguk. Tak sangka, permintaannya bisa terkabul juga. Meskipun dia tahu, ini hanya kebetulan semata. “Ada permintaan lagi, gak?" tanya Zidan, dia menatap sekilas Aira sambil tangannya mulai memetik senar gitar. “Boleh?” “Kenapa, enggak?” Aira mengerucutkan bibirnya, dia mengetuk pelan dagunya sendiri. “Tapi, kayaknya yang ini gak bakalan dikabulkan deh.” ucap Aira yang membuat Zidan penasaran apa keinginannya. “Emangnya apa?” “Gak mau kasih tahu.” “Menyimpulkan sendiri berarti.” “Tapi, yakin, ini gak bakalan dikabulkan.” Zidan terkekeh pelan. “Ya udah, sebutin aja permintaannya dari hati. Siapa tahu nanti gue bisa tebak dan kabulkan itu semua.” “Oke...” Aira langsung memejamkan matanya, berkata apa yang diinginkannya. “Aku mau Zidan. Aku mau dia selamanya bersamaku.” ucap Aira dalam hatinya. “Udah!” Zidan menjentikkan jarinya, “Terkabul!” “Amin...” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN