13. Piknik. Jadi, pacar aja gimana?

1756 Kata
“Zidan...” Aira berdecak pinggang, menatap Zidan yang kini tengah berbaring diatas ranjang. Dia sedari tadi mencari, terus menghubungi dan ternyata si empunya justru tengah menikmati tidurnya di hari libur ini. Aira melangkahkan kakinya memasuki kamar Zidan menuju jendela kamar. Dengan sekali hentakan, dia menyibakkan gorden yang membuat cahaya mentari pagi yang bersinar terang itu masuk ke kamar ini. Dia pun membuka jendelanya, membiarkan udara pagi yang dingin dan segar ini masuk. Aira membalikkan tubuhnya, kembali berdecak menatap Zidan yang sepertinya tak terganggu sama sekali dengan apa yang dilakukannya. “Zi... Bangun!” “Zidan... Udah siang!” “Zidan...” Aira menghentakkan tangannya kesal, menatap Zidan yang justru kini memunggunginya. Lelaki itu sepertinya benar-benar tak mau diganggu di hari libur ini. Tapi, Aira tak mau mengalah. Dia akan tetap memaksa Zidan untuk bangun dan ikut bersamanya. Aira berjalan ke sisi sebelahnya, dimana wajah Zidan terpampang kini. Dia menatap sejenak wajah polos Zidan yang begitu menikmati tidurnya. Zidan yang ada dihadapannya kini, berbeda sekali dengan Zidan yang biasanya dia temui. Tak ada wajah datar, tak ada wajah kesal ataupun julid seperti biasanya. Yang ada hanya wajah damai semata. “Foto, ah!” Aira terkekeh, bergegas mengeluarkan ponselnya dengan cepat, memotret wajah Zidan berkali-kali yang sepertinya cukup ampuh mengganggu Zidan karena suara yang berasal dari ponselnya itu. Zidan membuka matanya sedikit, mengintip apa yang tengah dilakukan Aira. Dia dengan cepat menutup wajahnya, mendengus kesal. “Apa sih, Ra? Ganggu aja!” dengus Zidan, dia masih mengantuk ini. Aira tak peduli jika dia mengganggu Zidan. Memang dia pikirkan gitu? Tidak. “Ayo, Lo bangun dong... Katanya mau ikut. Udah mau berangkat nih!” Aira sudah pernah berkata tidak? Jika dia beserta orangtuanya dan orangtua Zidan akan pergi piknik? Belum, ya? Oke, Aira katakan sekarang. Jadi, untuk memanfaatkan waktu senggang orangtua Aira, maka Aira mengajak mereka untuk pergi piknik. Ya, setidaknya menghabiskan waktu dengan hal-hal yang bisa melekat di memori. Tapi, Aira tak mau hanya pergi bertiga saja. Dia kan punya ayah bunda juga. Jadi, dia akan mengajak ayah bundanya alias orang tua Zidan juga. “Gue masih ngantuk,” Aira mencebikkan bibirnya. “Ih... Tapi, kan udah janji mau ikut.” ucap Aira, dia masih ingat betul dengan Zidan yang mengatakan akan ikut. Ya, meskipun bukan janji sih. Tapi, kan setidaknya lelaki itu mengiyakan akan ikut gitu. “Duluan aja, nanti nyusul.” “Gak mau! Ayo, Lo harus bangun.” Aira menarik paksa tangan Zidan, bahkan dia sampai beranjak naik keatas kasur tanpa ranjang itu. Dia terus menarik Zidan yang beratnya bukan main. Tenaganya ternyata tak sekuat itu. Sehingga pada saat dia menarik paksa Zidan, sedangkan lelaki itu menarik juga otomatis tubuhnya jatuh diatas tubuh Zidan. Aira tak kuasa bernapas saat tahu posisi mereka tak aman ini. Matanya sudah membulat sempurna, warna merah pun langsung menghiasi wajahnya. Dia tak kuasa melihat Zidan dalam jarak yang sedekat ini. “Dibilangin, masih ngantuk juga.” ucap Zidan, dia masih memejamkan matanya. Aira merasakan jantungnya berdetak tak karuan, berharap saja semoga Zidan tak mendengar detakan jantung nya ini. Dia kan malu kalau sampai Zidan tahu. “Zi, lepasin tangan gue.” Zidan membuka perlahan matanya dan langsung menemukan Aira yang berada diatas tubuhnya. Sebenarnya dia tak terkejut, toh dia sudah menduga nya. Dengan dia yang menarik tangannya yang ditarik Aira, otomatis Aira akan jatuh menimpa tubuhnya. Jadi, tak ayal kalau mereka bisa sedekat ini. “Gue baru sadar, Ra,” Aira semakin deg-degan mendengar ucapan Zidan. Apa lelaki itu akan memuji nya atau akan menyatakan sesuatu yang spesial atau apa? Yang jelas, dari tatapan dan cara bicaranya membuat Aira kege-eran dibuatnya. “Sadar, apa?” Tangan Zidan yang terbebas perlahan terulur menyentuh pipi Aira dengan lembutnya yang membuat Aira memejamkan matanya seketika. Aira tak tahu, apa yang akan dilakukan Zidan selanjutnya. Zidan tersenyum tipis melihat Aira yang memejamkan matanya. Ingin rasanya dia mengatakan kalau Aira terlihat lebih cantik dan menawan jika dilihat dari jarak sedekat ini. Namun, itu bukan dirinya sekali. Memuji Aira bukanlah Zidan. Sehingga, apa yang diucapkan Zidan selanjutnya justru membuat Aira seketika membuka matanya dan menatap kesal Zidan tentunya. “Ternyata kalau Lo pakai perona pipi, kemerahan.” Aira mendengus kesal, dia langsung menampar mulut Zidan dengan tangannya yang terbebas dari cengkraman Zidan, membuat lelaki itu membuang wajahnya mencoba menghindar, meksipun tak bisa. “Enggak kok, orang udah pas ini!” dengus Aira, dia kesal dengan Zidan. Aira pikir, Zidan akan memuji. Namun, justru malah kembali mengolok-olok nya. Tck, menyebalkan sekali Zidan ini. Zidan terkekeh pelan. “Udah deh, lepasin tangan gue! Pegel, nih!” “Gue yang ditindih, Lo yang yang pegel.” “Yaudah, lepasin!” Zidan melepaskan tangan Aira membuat perempuan itu bergegas beranjak. Namun sayangnya tubuhnya kembali menindih Zidan yang membuat lelaki itu meringis pelan, sakit saat sikut Aira mengenai perutnya. Jangan salahkan Aira, tapi salahkan selimut Zidan yang nyangkut di gelang Aira. “Sakit banget, Ra.” ringis Zidan, dia tak bohong. Perutnya sakit karena terkena sikut Aira. “Ya maaf, orang gak sengaja. Lagian nih, ya. Salahin selimut Lo, ngapain nyantol di gelang gue." ucap Aira sambil berusaha melepaskan gelangnya yang mengait pada selimut Zidan. Zidan tak berkata apa lagi, dia hanya memperhatikan wajah cantik Aira yang tengah fokus dengan apa yang dikerjakannya. Tak bisa dipungkiri, Aira memiliki kecantikan yang berbeda. Aura yang ditunjukkannya tak main-main. Aira berhasil melepaskan gelangnya dari selimut Zidan, dia tersenyum senang dan tersentak secara bersamaan saat menangkap basah Zidan yang dengan terang-terangan menatapnya. Seulas senyum lebar dia tunjukkan dan dia pun langsung menjentikkan jarinya yang seketika membuat Zidan tersadar. Aira tersenyum lebar sambil mengangkat angkuh wajahnya. “Tahu deh, kalau gue ini cantik. Pake banget lagi!” ucap Aira, dia menaik-turunkan alisnya. Zidan mengerutkan hidungnya seakan tak setuju dengan pemikiran Aira. Perlahan tubuhnya dia tarik untuk duduk. “Pede gila,” balas Zidan, dia memutar bola matanya. Aira mengerutkan keningnya, dia ternganga. “Ya, harus dong! Kalau bukan gue sendiri yang memuji diri gue, terus siapa? Lo gitu?” tanya Aira, dia menunjuk Zidan. “Emangnya Lo mau puji gue gitu? Enggak kan!” “Terserahlah.” “Ya, emang terserah gue. Intinya, gue cantik. Titik.” “Hm...” Aira terkekeh. “Udah, ah! Mending sekarang Lo bangun, siap-siap gih. Semuanya udah siap loh, tinggal nungguin Lo doang.” “Gue gak ikut, ya?” Aira membulatkan matanya. “Zi, Lo udah bilang mau ikut, ya... Jangan jadi orang yang gak tepati omongannya!” “Ya udah...” jawab Zidan akhirnya, dia menyibakkan selimutnya kemudian beranjak turun. “Jangan lama-lama, ya..." ucap Aira, dia pun beranjak berniat keluar dari kamar Zidan. Dia akan menunggu Zidan di bawah saja bersama bunda Zidan yang masih menyiapkan beberapa keperluan. Namun, baru beberapa langkah Zidan memanggil Aira membuat perempuan itu membalikkan badannya dan mengerutkan keningnya menatap Zidan yang kini berjalan menghampirinya dengan handuk yang tersampir di bahunya. “Kenapa?” tanya Aira, dia menatap bingung Zidan dihadapannya. Bukannya menjawab, Zidan justru melakukan sesuatu yang membuat Aira seketika memukul keras bahu lelaki itu. “Ih... Zidan, jorok banget! Bau tau...” kesal Aira, dia tak henti-hentinya memukul Zidan yang sudah melarikan diri setelah dia melakukan apa yang dia mau. “Bau surgawi, Ra itu ...” “Neraka j*****m tahu... Bau mulut Lo kayak bau neraka!" “Kayak yang udah pernah nyium bau neraka aja Lo.” Dan, Aira tak bisa untuk marah lagi kini. Dia justru tertawa dengan apa yang baru saja terjadi. Kurang ajar Zidan, meksipun dia suka. *** “Ih... Mau...” Aira tersenyum lebar, dia langsung menerima sandwich buah strawberry yang disodorkan bunda Zidan untuknya, dia langsung melahapnya seketika. Aira mengunyah makanan tersebut dengan mata terpejam, dia melehoy seketika. “Enak banget..." puji Aira, dia menyeka sudut matanya yang tak mengeluarkan apapun. Sontak saja apa yang dilakukan Aira itu menimbulkan tawa semuanya. Aira itu memang selalu seperti itu jika menikmati apapun yang sreg dengan lidah dan hatinya. Lain halnya dengan Zidan yang justru memutar jengah bola matanya, dia mendekatkan tubuhnya pada Aira disampingnya. “Lebay.” Aira membuka matanya, melirik sebal Zidan yang kini menikmati makanan dengan wajah datar. Sepertinya raut wajah Zidan itu tak pernah berubah, mau itu makanan enak atau tidak. Pasti wajahnya sama saja, datar. Aira langsung menatap Bunda Zidan, menunjukkan wajah memelasnya. “Bunda... Lihat tuh anak bunda, nyebelin!” tukas Aira, dia mengadukan Zidan pada ibu lelaki itu. Bunda Zidan terkekeh, mengerutkan keningnya. “Kok ngadunya sama bunda sih? Sama Ibu kamu dong...” ucap Bunda Zidan sambil menunjuk Ibu Aira yang hanya tersenyum saja. Iya juga, ya. “Ibu... Zidan nyebelin banget! Gitu tuh, Bu! Zidan sering banget kayak gitu sama Aira. Nyebelin banget kan, Bu?" tukas Aira, dia menatap tajam Zidan. Ibu Aira terkekeh, dia mengusap lembut paha mulus Aira yang terpampang nyata. Aira itu mengenakan dress selutut namun kini duduk bersila yang membuat pahanya terpampang. “Udahlah, sayang. Masa gitu aja kamu marah sama Zidan.” ucap Ibu Aira lembut yang langsung mendapat senyuman dari Zidan. Ih, Aira tak suka jika Ibu membela Zidan. Tapi, dia suka saat Bunda Zidan membelanya. “Aira emang gitu Tante, apa-apa tuh suka lebay respon nya." timpal Zidan yang langsung mendapat pelototan dari Aira. “Nyebelin!” “Aira sama Zidan, cocok, ya.” ucap Ayah Aira, dia melirik Ayah Zidan yang duduk bersebrangan dengannya. Seketika Aira menatap Ayahnya, dia hampir tersendak makanan sendiri karena ucapan Ayahnya itu. Cocok apa, nih? Dia melirik Zidan yang terlihat biasa-biasa saja, seperti ucapan Ayahnya itu tak berpengaruh apapun pada lelaki itu. “Ya, gimana gak cocok coba? Dari kecil bareng-bareng terus, apa-apa Aira harus sama Zidan, gitu juga sama Zidan nya. Gimana coba gak cocok? Iya, gak?” balas Ayah Zidan, dia meminum minuman dinginnya. “Bener banget. Mereka udah kayak bukan orang asing atau tetangga lagi. Tapi, kayak udah adik kakak aja." Melehoy Aira dibuatnya. Aira pikir, dia dan Zidan akan dianggap seperti sepasang kekasih atau sesuatu yang lebih dari sekedar teman. Lah, ini justru malah dianggap seperti adik kakak. Kan, Aira tak mau kalau diangggap demikian. “Loh, Aira kenapa cemberut sayang? Gak suka, ya kalau dianggap adik sama Zidan?” tanya bunda Zidan yang seketika membuat Aira membelalakan matanya. Aira cepat-cepat menggeleng. “Bukan gitu, Bun. Tapi,... Ih, mana mau Aira punya Abang kayak gitu. Nauzubillah deh!” “Dih, dikira gue mau punya adik modelan Lo gitu? Ogah.” Aira ingin sekali memukul kepala Zidan. Tapi, mengingat dia ada dihadapan orangtua, tentu dia tak akan melakukan hal gila itu. “Ya udah, kalau gak mau jadi adik kakak. Jadi, pacar aja. Gimana?” Dan, keduanya justru diam seolah mengiyakan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN