14. Lagu tentang perasaan

1297 Kata
“Yang baik disini, jangan buat Zidan susah. Nurut apa kata dia, ngerti?” Aira langsung memberikan tatapan tajamnya pada Zidan dihadapannya saat lelaki itu terus menerus mengulang kalimat yang sama yang diucapkan orangtuanya, terutama ibunya sebelum orangtuanya pergi kembali ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Dan, sekarang mereka—Aira dan Zidan berada disalah satu kedai makanan yang terkenal akan hidangan kopi dan toast nya. Aira yang tengah menikmati ice carramel latte bersama crispy chicken mentai dibuat kesal karena ucapan Zidan barusan. Sedangkan, Zidan yang tengah menikmati toast yang sama seperti Aira bersama ice americano tersenyum lebar dibuatnya. “Terus aja, terus, ngomong gitu aja terus sampai mulut Lo berbusa.” cibir Aira, dia melahap dengan susah toast miliknya yang punya ukuran lebih besar dari mulutnya. Zidan terkekeh pelan, dia senang melihat Aira kesal. Dia tahu, kesalnya Aira tak akan lama. Kecuali jika perempuan itu memang benar-benar kecewa. Dan, dia tahu perbedaan antara Aira yang kecewa dan hanya kesal saja. “Jangan kayak anak kecil deh, belepotan gini." ucap Zidan, dia mengusap saus mentai yang berasal dari toast yang tengah dinikmati Aira yang sedikit mengotori pipi bawah perempuan itu. Aira terdiam, menatap Zidan yang tengah membersihkan sedikit saus di wajahnya. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya, menatap Zidan dengan perasaan yang tak bisa lagi di kontrol nya. Dia deg-degan parah. Zidan selesai membersihkan saus tersebut, dia terdiam menatap Aira yang masih menatapnya. Keningnya mengerut bingung melihat ekspresi yang ditunjukkan Aira, padahal apa yang dilakukannya ini bukanlah hal pertama. Tapi, kenapa Aira bersikap seakan dia baru kali ini melakukannya. “Kenapa, Lo? Baper?” Aira tersentak dari lamunannya. Dia dengan cepat menepis tangan Zidan di pipinya kemudian memincingkan matanya kesal. “Dih... Baper? Lo kali yang baper!" balas Aira kesal, dia bersikap demikian sedangkan jantungnya tengah berdetak tak karuan. “Aneh.” Aira mengedarkan atensinya, dia tersenyum lebar melihat sebuah live musik yang ada ditempat yang saat ini mereka singgahi. Para pemuda dengan gaya muda mereka, menyanyikan sebuah lagu dengan suara yang terdengar merdu di telinga. Zidan mengikuti atensi Aira, dia tak suka saat melihat Aira menfokuskan atensinya pada laki-laki lain selainnya. Deheman keras dia lakukan, membuat Aira seketika menoleh padanya dengan kening mengerut. “Kenapa, Lo?” tanya Aira, dia menatap bingung Zidan. “Enggak,” jawab Zidan sambil mengerutkan keningnya juga. “Ngapain Lo liatin cowok itu?” tanya Zidan. “Cowok siapa? Lagian gue gak lihatin cowok itu doang kali, tapi gue lihat semuanya, mereka yang live music.” “Masa?” Aira memutar jengah bola matanya, dia memangku sebelah pipinya. “Lo kenapa sih? Lagian nih ya, mau gue lihatin mereka juga bukan masalah kali. Mereka itu keren banget tahu.” puji Aira, dia membulatkan matanya, melirik berkali-kali para pemuda itu yang masih menyanyikan sebuah lagu dengan iringan musik yang mereka mainkan sendiri. Zidan mengerutkan keningnya, dia pun menatap para pemuda itu. Tak ada keren-keren nya, biasa saja, menurutnya. “Keren darimana? Gue juga bisa kali nyanyi sama main alat musik doang." tukas Zidan, wajah julid nya tak bisa dia sembunyikan. Aira terkekeh, kemudian melipat tangan diatas meja sambil memincingkan matanya. ”Buktiin dong kalau begitu.” ucap Aira, dia menarik sebelah sudut bibirnya, memainkan alisnya, menunjukkan ejekannya. “Buang waktu,” Aira tersenyum lebar, senyuman mengejek. Dia menyandarkan punggungnya pada kursi, mengendikan bahunya. “Julid," balas Aira, dia mencebik. “Terbukti kan, kalau mereka itu keren. Sedangkan Lo? Omong kosong doang.” Zidan menatap datar Aira, dia tak bisa jika di remehkan seperti ini. Dan, lagi, dia tak suka saat Aira lebih memuji laki-laki lain daripadanya. Harga dirinya tak bisa disenggol sedikit saja. Sedangkan, Aira tersenyum lebar. Dia senang melihat Zidan kini. Sengaja dia menantang Zidan, sengaja juga dia melakukan itu, senang rasanya saat melihat Zidan yang tersinggung karena merasa diremehkan. Karena pada dasarnya, Aira hanya ingin mendengar suara merdu Zidan, itu saja sebenarnya. Zidan beranjak dari duduknya, melenggang pergi begitu saja meninggalkan Aira yang langsung tertawa dibuatnya. Apalagi melihat Zidan yang kini sudah berjalan menghampiri para pemuda itu. Entah apa yang Zidan bicarakan, namun melihat Zidan yang sudah duduk sambil memangku gitar membuat Aira dengan refleks memekik menyerukan nama lelaki itu. “Wah... Zidan...” Sontak saja, semua mata tertuju pada Aira. Dan, perempuan itu mana peduli. Dia biasa saja saat semua orang terang-terangan menatapnya, ada yang menatapnya aneh sampai tersenyum senang. “Malam semuanya...” Datar, itulah yang pasti orang-orang pikirkan tentang Zidan sekarang. Tanpa mengucap apapun lagi, Zidan mulai memetik gitarnya, mulai melantunkan lagu yang dibawakannya. Seulas senyum hangat tercetak dibibir Aira saat Zidan menyanyikan lagu tersebut. Mungkinkah dia jatuh hati Seperti apa yang kurasa Mungkinkah dia jatuh cinta Seperti apa yang kudamba Tuhan yakinkan dia Tuk jatuh hati Hanya untukku Andai dia tahu [ Andai Dia Tahu — Kahitna ] Sontak saja, tepukan tangan diberikan untuk penampilan Zidan barusan. Tak terkecuali Aira yang bahkan sampai berdiri dengan tepukan paling keras sendiri. Zidan mengembalikan lagi gitar tersebut, berjalan dengan wajah datarnya menuju Aira yang masih belum menyelesaikan tepuk tangannya. “Keren...” puji Aira, dia menunjukkan kedua jempol tangannya dengan mata berbinar menatap Zidan. Zidan lagi-lagi tak bisa menyembunyikan senyumnya, dia tersenyum dan kembali duduk di kursinya. “Gue juga bilang apa? Bisa kan gue.” ucap Zidan, dia menarik sudut bibirnya. Aira tahu kok jika Zidan bisa. Toh, biasanya mereka juga nyanyi-nyanyi bersama dengan Zidan yang memainkan gitarnya dan Aira yang bernyanyi dengan suara pas-pasan nya yang gak bagus-bagus banget. “Lo bisa gak kayak gue?” Aira mengerutkan keningnya. Kenapa sekarang justru dia yang ditantang? Apa Zidan juga butuh pembuktian darinya? Baik. Tanpa mengucap apapun, Aira beranjak dari duduknya dan berjalan dengan pede nya untuk membuktikan apa yang Zidan ragukan. Dia berdiri dihadapan semua orang, tak ada malu dalam kamusnya, dia pede-pede saja. Toh, dia tak melakukan salah. “Hallo semuanya... Kenalin, nama gue Aira.” ucap Aira memperkenalkan diri, dia mengedarkan atensinya dan tersenyum lebar menatap Zidan yang tak percaya. “Yang nyanyi tadi itu, dia sahabat gue, Zidan namanya. Barusan, dia nantang gue buat nyanyi juga. Gue sih mau-mau aja, toh gue juga bisa kan. Tapi, gue bingung, lagu apa, ya yang kira-kira cocok buat gue nyanyikan?” tanya Aira pada semua audience disini. “Yakin, kalian cuma sahabatan doang?” Aira mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan itu muncul. Sebenarnya itu bukan pertanyaan pertama yang orang-orang lontarkan tentang hubungannya dan Zidan. Mungkin, ini sudah kesekian kalinya. Aira menatap Zidan, tersenyum tipis dan mengangguk. “Iya, gue sama dia sahabatan kok. Btw, dia jomblo. Siapa tahu ada yang berminat, silahkan.” canda Aira dengan kekehan, meskipun hatinya berharap tak ada yang berminat. “Nyanyi ini aja dong. Friendzone by Budi Doremi.” Aira seketika terdiam, dia hapal dan tahu betul dengan lagu itu. Lagu yang masuk dalam list favoritnya karena isi lagunya itu sendiri. Tapi, apa harus dia nyanyikan juga didepan banyak orang dengan Zidan yang juga mendengarkan? Dimana statusnya, dia sahabatan dengan Zidan. Dan, lagu itu seakan mengibaratkan keinginan untuk punya status lebih daripada sekedar sahabat/teman. “Kenapa diam doang? Ngerasa, ya?” Aira tak mau jika Zidan tahu perasaan seperti apa yang muncul dalam hatinya. Dia hanya tak mau membuat persahabatan mereka hancur hanya karena rasa lain yang muncul ini. “Enggak kok. Ya udah, gue nyanyi, ya.” Suara Aira yang pas-pasan mulai mengalun, menyanyikan lagu dari Budi Doremi yang berjudul Friendzone. Tidakkah cukup yang engkau lihat Pertemanan ini sungguh berat Tidakkah indah bila kita bersama Tapi tidak di mimpi saja Aira menatap Zidan, ingin melihat respon seperti apa yang diberikan lelaki itu. Dan, ternyata biasa. Tak ada respon menarik apapun. Zidan sepertinya menganggap ini hanya lagu biasa saja, padahal lelaki itu tak tahu saja, lagu yang dinyanyikan Aira ini menunjukkan perasaannya pada Zidan. Dan, sepertinya memang benar, perasaan lebih yang Aira rasakan jangan sampai Zidan tahu. Meskipun memang indah jika mereka bersama, seperti lirik lagunya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN