Aira tersenyum lebar, menatap bolu dalam wadah yang dibawanya. Sponge cake a.k.a bolu yang dia buat sendiri dengan resep hasil mengcopy dari salah satu channel YouTube. Ini pertama kalinya dia membuat bolu dan orang pertama yang harus mencicipinya tentu saja orang yang spesial. Orangtuanya berada di luar kota, itu artinya Zidan harus jadi yang pertama yang mencicipinya. Ya, meskipun bolu yang dibuatnya berbentuk seadanya, tak sesempurna seperti dia biasanya membeli di luar.
Aira memasuki pekarangan rumah Zidan, dia mengerutkan keningnya saat melihat sebuah mobil terparkir di rumah Zidan. Tak pernah dia melihat mobil ini sebelumnya dan sudah sejak kapan? Mungkin karena terlalu sibuk di dapur, berkutat dengan alat-alat baking membuat dia sampai tak tahu jika ada yang bertamu pada Zidan.
Aira hanya mengendikan bahunya, bahkan dia tak mengurungkan niatnya saat tahu ada tamu di rumah Zidan. Dia tetap melangkah memasuki rumah Zidan.
Hahaha...
Aira menghentikan langkahnya saat semua mata kini tertuju padanya, dia menunjukkan deretan giginya, tersenyum menatap mereka semua yang terdiam.
“Ra, sini masuk.”
Aira mengangguk, dia melangkahkan kakinya menghampiri mereka yang tersenyum simpul padanya. Dia mengangguk sopan pada semuanya, bunda Zidan dan dua orang paruh baya yang entah siapa.
“Dia Aira, anak sebelah. Udah kayak anak aku sendiri, sering juga main disini,” ucap Bunda memperkenalkan Aira pada tamu-tamunya. Aira tersenyum saja dibuatnya. “Sahabat Zidan.” sambung Bunda.
“Oh... Sahabat Zidan, aku kira pacarnya Zidan.”
Bunda terkekeh, menggeleng. Dia menatap Aira yang masih saja berdiri. “Zidan ada di taman belakang, kamu kesana aja, ya.”
Aira mengangguk, “Iya, Bun. Ya udah, kalau begitu saya permisi Om, tante.” pamit Aira, dia membungkuk hormat sebelum kemudian melenggang pergi masih dengan bolu yang dibawanya.
Aira bergegas ke taman belakang, ingin menemui Zidan. Dia sudah tak sabar ingin menunjukkan hasil tangannya sendiri, tak sabar juga melihat ekspresi yang akan ditunjukkan Zidan. Apa lelaki itu akan tetap bersikap datar atau mungkin tidak kali ini? Siapa tahu akan memberikan apresiasinya. Ah... Aira tak sabar jadinya.
“Zi—"
“Kamu tuh gak pernah berubah ya, Dan. Masih aja kayak dulu, minim ekspresi.”
“Kamu juga gak berubah, masih aja murah senyum. Btw, cake buatan kamu juga masih sama kayak dulu, masih tetap enak, gak pernah salah di lidah aku.”
Aira seketika menghentikan langkahnya, suaranya pun terhenti di kerongkongan semata saat melihat Zidan yang tengah duduk bersama seorang perempuan yang terasa tak asing di benak Aira. Dia rasa, pernah melihat perempuan itu sebelumnya. Tapi, dimana?
Dan lagi, Aira tak pernah mendengar Zidan memuji perempuan lain selainnya. Bahkan, Aira sendiri jarang Zidan puji. Zidan itu pelit pujian orangnya. Tapi, pada perempuan itu, lelaki itu dengan mudahnya memuji.
Sekarang, bahkan Zidan tengah menikmati cake yang dibawa perempuan itu, membuat Aira seketika menatap bolu yang dibawanya yang terlihat tak ada daya tariknya. “Pasti gak ke makan nih.” gumam Aira pelan, dia menghela napas kasar sambil mengerucutkan bibirnya. Dia akan pergi saja.
Namun, saat dia baru saja berbalik berniat pergi, suara Zidan memanggil namanya membuat niatnya itu diurungkan. Aira berbalik kembali menatap Zidan yang kini berjalan menghampirinya dan saat itu pula, Aira menyembunyikan apa yang dibawanya.
“Lo disini? Daritadi?”
Aira tersenyum, menggeleng Dia melirik pada perempuan yang tengah bersama Zidan yang saat ini sudah berdiri disamping lelaki itu.
“Enggak kok. Gue baru aja datang, niatnya mau ketemu Lo. Eh, lagi ada tamu.” ucap Aira, dia tersenyum menatap perempuan itu yang juga tersenyum padanya.
“Kenalin, aku Meisan.”
***
Aira berjalan ke jendela kamarnya, menatap ke luar lewat jendela tersebut. Tak ada niatan untuknya membuka jendela tersebut, tak seperti biasanya.
Biasanya, jika malam cerah dia akan pergi ke balkon kamar, duduk disana sambil menikmati cemilan dan tontonan atau ditemani Zidan dengan nyanyian yang dibawakan lelaki itu, terkadang juga mengerjakan tugas sekolah bersama. Biasanya seperti itu.
Namun, kepulangan nya dari rumah Zidan beberapa saat yang lalu membuatnya jadi enggan. Dia tak mau bertemu Zidan dulu, dia tak bisa menyembunyikan sikap tak sukanya karena melihat Zidan dan Meisan yang begitu akrabnya. Mereka berbicara sesuatu yang bahkan Aira sendiri tak tahu, tak mengerti, membuatnya jengah dan memilih pergi. Bahkan, bolu yang sengaja dibuatnya tak dia berikan juga pada Zidan, malah dia simpan begitu saja di atas meja makan.
“Meisan, perempuan yang pernah Zidan suka.” gumam Aira, dia beranjak duduk di sofa dan kembali memikirkan apa yang pernah Zidan ucapkan tentang Meisan. “Apa mungkin Zidan masih suka sama Meisan?” tanya Aira, dia bertanya pada dirinya sendiri.
“Apa jangan-jangan nanti mereka dijodohin lagi. Ya, secara kebetulan orangtua Zidan temenan sama orangtuanya Meisan.”
Meisan bercerita tadi. Tak disangka, ternyata teman dari orangtuanya adalah bundanya Zidan. Tak disangka juga, niatnya yang hanya ikut akan membuatnya bertemu dengan Zidan, seseorang dari masa lalu nya yang pernah menorehkan kisah indah bersama. Tak disangka.
Dan, siapa tahu juga, nantinya mereka kembali bersama.
Aira mencebik, memejamkan matanya sambil menggeleng kuat. Enggan membayangkan itu semua. “Gak boleh... Zidan, gak boleh balikan.” pekik Aira, dia tak rela jika Zidan kembali bersama Meisan. Bukan masalah Meisan nya, tapi masalahnya ada di hatinya. Hatinya tak rela.
“Gak rela...” pekik Aira pelan, dia mendongak sambil memejamkan matanya.
“Apa yang gak rela?”
Aira seketika menoleh, terkejut mendapati Zidan yang sudah berdiri di ambang pintu kamarnya. Dia beranjak berdiri, menatap tak percaya Zidan disana. Sejak kapan lelaki itu disana? Sejak tadi kah? Apa Zidan juga mendengar apa yang dia ucapkan?
Zidan mengerutkan keningnya, dia melangkah masuk ke kamar Aira dengan wadah berisikan bolu ditangannya. “Gak rela, apa?” tanya Zidan lagi, dia menaikkan sebelah alisnya.
Aira terdiam, menatap Zidan dihadapannya.
“Gak rela, kalau bolu nya gue makan?” tanya Zidan, menunjuk bolu yang dibawanya. Bolu yang dibawa Aira ke rumahnya. Dan, menurut info dari mbak di rumah, ini bolu buatan Aira.
”Bolu gue,"
“Emang. Gak boleh gue makan?”
Aira mengerutkan keningnya, terlihat lucu sekali di mata Zidan.
“Kata siapa? Terus, kok Lo bisa ada disini sih? Bolu gue juga kok bisa ada sama Lo?” tanya Aira berturut-turut, dia menuntut jawaban atas pertanyaan yang tiba-tiba terlintas dibenaknya.
Zidan tak langsung menjawab, dia mengambil alih duduk diatas karpet disamping ranjang Aira, duduk bersila. “Mana yang harus gue jawab duluan?" tanya Zidan, dia menyuapkan bolu tersebut kemudian mendongak menatap Aira.
Aira duduk disamping Zidan, “Enak?” tanya Aira yang melenceng dari pertanyaan yang diberikan Zidan. Dia penasaran dengan komentar yang diberikan Zidan tentang bolu buatan nya yang dimakan lelaki itu.
Zidan terkekeh pelan, sangat pelan. Mulutnya masih mengunyah bolu tersebut. “Ini buatan siapa?” tanya Zidan.
Aira tersenyum. “Gue." jawab Aira, dia menunjuk dirinya sendiri.
Zidan mencebik, mengangguk-angguk. “Pantas.”
Aira mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Zidan. Hanya satu kata itu saja sudah membuat dia tahu, komentar apa yang akan diberikan Zidan. Membuat dia jadi tak lagi bersemangat untuk mendengar kelanjutan dari komentar Zidan itu.
“Emang," balas Aira, wajahnya sudah berubah masam. Sia-sia dia membuat bolu itu kalau ternyata komentar yang dia harapkan ternyata tak ada. Dan justru sebaliknya.
Aira beranjak berdiri, dia akan pergi. Namun, tangannya ditarik cepat oleh Zidan membuat dirinya harus kembali ke posisi semula. Dengan malas, Aira menatap Zidan.
Sungguh, semangat Aira luntur seketika.
“Gak mau dengar kelanjutannya?”
Aira menggeleng. “Malas,”
“Serius?”
“Iya. Udah, ah lepasin. Gue haus, mau minum.” ucap Aira, dia meminta Zidan untuk melepaskan tangannya yang ditahan lelaki itu.
Zidan tak melepaskannya begitu saja, dia justru menyuapkan bolu tersebut ke mulut Aira. Awalnya Aira menolak, namun Zidan terus memaksanya membuat dia mau tak mau makan juga.
“Gimana?" tanya Zidan, sia menaikkan sebelah alisnya.
“Apanya?” tanya Aira bingung.
“Bolu nya,”
“Enak," jawab Aira singkat, jujur memang enak kok bolu buatannya. Gak seburuk yang dia kira, meksipun tak selezat bolu yang biasanya dia beli di toko langganannya dengan Zidan.
Zidan mengendikan bahunya, kembali menyuapkan bolu ke mulutnya dan menikmatinya. Aira mendengus, tak mengerti dengan apa yang tengah dibicarakan Zidan. Aira bergegas beranjak saat tangan Zidan tak lagi menahannya, dia mau minum, tak bohong.
Namun, saat Aira sudah sampai di ambang pintu ucapan Zidan seketika menghentikan langkahnya.
“Bolu buatan Lo enak, gue suka. Gak kemanisan, pas banget. Kayaknya, ini bakal jadi salah satu list makanan yang harus Lo bikin buat gue.”
Asli, hanya karena ucapan itu saja sudah membuat kedua sudut bibir Aira berkedut. Dan, Aira tak bisa menahan senyum lebarnya mendengar pujian itu. Sungguh, pujian apapun jika berasal dari orang yang kita harapkan pasti rasanya akan berbeda.
Ah... Aira. Dasar, haus pujian.
***