16. Insiden di lapangan

1243 Kata
“Zi, seriusan nih?” Aira tak percaya, Zidan akan mengajaknya memanjat tembok sekolah hari ini. Dia pikir adegan itu hanya ada dalam film atau novel-novel yang pernah dibacanya, tapi di kenyataannya memang ada dan justru dia sendiri yang mengalami itu. Telat datang, itulah alasannya. Siapa penyebabnya, tentu saja Aira. Tapi, apa Zidan bisa menyalahkan? Oh... tentu tidak. Wanita tak pernah salah, itu benar. Dan, Aira pantang untuk disalahkan, itu peraturan nya. “Ya udah, kalau gak mau, kita lewat gerbang depan. Dan, siap-siap dapat hukuman.” Aira menggeleng, enggan menerima hukuman. Bisa sih seperti waktu itu, sayangnya kali ini telatnya mereka itu berbeda. Telatnya mereka itu benar-benar telat, tak bisa ditoleransi lagi. Dan, kalaupun Zidan akan beraksi seperti waktu itu, rasanya akan gagal. Dan, kemungkinan besar mereka akan dihukum bersama. Aira tak mau itu. “Gimana?” Aira menghela napas kasar, mau tak mau dia mengangguk mengiyakan. “Ya udah, deh.” “Bagus. Ya udah, duluan sana." Aira memekik keras, menatap kesal Zidan yang memerintahkannya untuk naik lebih dulu. Gak mungkin dong... Masa iya, Aira manjat tembok dengan Zidan yang masih berada di bawah. Diintip dong nanti dia. Enggak... Enggak... Aira tak mau. “No! Masa gue dulu, sih!” tukas Aira, dia menggeleng kuat. “Enggak, enggak, Lo duluan sana!" titah Aira, dia menunjuk pada tembok. “Tapi, Ra—” “Zidan, nanti Lo ngintip lagi dari bawah. Ogah, gue!” Zidan ternganga, tak percaya jika Aira bisa berpikir seperti itu padanya. Padahal dalam benaknya, tak sedikitpun terlintas seperti itu. Tapi, setelah Aira berucap demikian baru pikiran itu ada di benaknya. Namun, tenang saja. Zidan tak mungkin juga melakukan hal tersebut. Memalukan. “Ngaco!” balas Zidan, dia menggeleng heran. Dia melangkah lebih dulu untuk memanjat tembok belakang sekolah tersebut. Aira hanya diam, mengerucutkan bibirnya menatap Zidan yang kini sudah selesai memanjat dan duduk diatas sana. Zidan mengulurkan tangannya, meminta Aira untuk meraih tangannya agar membantu Aira yang hendak memanjat. “Buruan!" “Iya, iya, sabar dong!” Aira meraih tangan Zidan. Dia hendak memanjat, tapi susahnya bukan main. Berkali-kali, namun tetap saja dirinya gagal hingga pada akhirnya Aira menyerah. Aira berdecak pinggang, mendongak menatap Zidan dengan wajah memelas nya. “Gak bisa-bisa, Zi...” keluh Aira, dia meringis pelan sambil mengerucutkan bibirnya. “Terus?” Aira mencebik, mengulurkan tangannya meminta Zidan untuk turun kembali. “Sini, turun. Bantuin gue...” pinta Aira, dia tersenyum menunjukkan deretan giginya. Lain halnya dengan Zidan yang sudah memejamkan matanya, menghela napas kasar kemudian turun tanpa berucap apapun. Sudah dia bilang bukan, akan lebih baik jika Aira dulu yang naik karena dirinya yang akan membantu perempuan itu, mengangkat Aira lah setidaknya. Tapi, Aira sendiri yang menolak, enggan dengan alasan yang bahkan tak pernah Zidan pikirkan sebelumnya. “Ya udah, buruan naik.” ucap Zidan, dia bersimpuh dengan sebelah kakinya. Dia akan membiarkan kakinya yang lain diinjak yang kemudian dia akan mengangkat Aira. Aira memincingkan matanya. “Tapi, jangan ngintip, ya.” tukas Aira yang diangguki Zidan. “Awas aja kalau ngintip!” “Ya ampun, Ra. Ngapain juga gue ngintip, buat apa coba? Ya, kalau mau sekalian aja gue intip Lo di rumah, di kamar Lo." jelas Zidan, dia berdecak sambil menggeleng. “Bahkan nih, ya, yang seharusnya dipertanyakan disini tuh Lo. Apa jangan-jangan selama ini Lo selalu ngintipin gue? Ya, secara Lo keluar masuk kamar gue gitu aja. Bahkan kemarin—" Aira langsung mencomot mulut Zidan membuat lelaki itu terdorong yang mengakibatkan Zidan kini jatuh terduduk di tanah sedangkan Aira dibuat tertawa melihatnya. “Mulut Lo... Kurang ajar banget!” “Abis, Lo nyebelin! Udah, buruan! Mau manjat gak?” “Iya, iya, sabar apa!” Kaki Aira naik keatas telapak tangan Zidan yang diletakkan di sebelah paha lelaki itu, dengan perlahan Zidan mulai mengangkat tubuhnya untuk berdiri. Aira menoleh, menatap Zidan yang mengangkatnya. “Jangan ngintip, ya! Tutup matanya!” “Gue intip beneran nih!” ancam Zidan, dia jengah dengan ucapan Aira. “Zidan...” *** “Lo sih, santai terus.” “Lo sih, harusnya lari tahu." “Lo sih, masa gak mau nunduk, mau nya jalan tegak penuh keangkuhan. Ketahuan juga kan kita.” “Lo sih—” “Terus aja salahin gue,” Aira tersenyum, menunjukkan deretan giginya kemudian melirik Zidan disampingnya. Saat ini mereka berada di lapangan indoor, membersihkan lantainya—menyapu dan mengepelnya. “Ya, abisnya sih. Lo tuh—” “Pertama, disini Lo yang telat. Gue udah standby dari jam 6, tapi Lo yang telat bangun dan lakuin hal ribet yang gue gak ngerti, kenapa cewek harus selalu lakuin. Kedua, Lo yang kelaparan minta berhenti dulu di mini market buat beli sarapan. Dan, bahkan tadi Lo sendiri yang buat semuanya jadi lama. Lo yang buang-buang waktu cuma buat mutusin mau atau enggak manjat tembok belakang sekolah. Dan, bahkan gue masih ingat betul, siapa tadi yang teriak karena lihat serangga di seragam gue.” Zidan menjeda sejenak ucapannya, dia mengerutkan kening menatap Aira yang masih terdiam. “Siapa? Lo, Lo sendiri Aira. Dan, Lo masih mau salahin gue? Gila!” dengus Zidan, dia berdecak sambil menggeleng tak habis pikir dengan Aira yang terus menerus menyalahkannya. Zidan sudah berhenti bicara, lelaki itu kembali melanjutkan pekerjaannya, mengepel. Lain halnya dengan Aira yang masih terdiam, ternganga tak percaya dengan apa yang diucapkan Zidan barusan. Aira marah karena disalahkan? Seharusnya iya, tapi justru sekarang tidak. Dia bahkan tersenyum lebar sambil bertepuk tangan, tak kuasa menahan tawanya. Tak sangka, Zidan bisa berucap sepanjang dan secepat itu tadi? Oh, wow... “Sumpah, Lo gila, Ra.” Aira tak peduli dianggap gila atau apa. Yang jelas dia bahagia, bahagia mendengar Zidan berucap panjang lebar dengan cepatnya. “Asli, kalau Lo daftarin diri Lo ke perusahaan atau agensi idol itu. Gue yakin, Lo pasti ke terima. Karena apa?” Aira membelalakkan matanya. “Visual Lo dapat, suara Lo gak jelek-jelek amat. Dan yang paling penting... Lo punya bakat nge-rap! Keren, gak tuh?” tukas Aira, dia tak henti-hentinya tertawa. Zidan berdecak, hanya menggeleng saja. Biarkan saja Aira tertawa sepuasnya, tak apalah. Dia tersenyum tipis melihat tawa Aira yang begitu renyah didengarnya, dia suka tawa perempuan itu. Tak ada tawa yang lebih indah dari tawa Aira dan tentunya bundanya juga. Aira terus saja tertawa, padahal tak ada yang benar-benar lucu sehingga membuat orang sulit untuk mengentikan tawanya. Bahkan, perempuan itu sampai terduduk dilantai, tak peduli dengan Zidan yang tengah mengerjakan sendiri hukuman mereka. Huh! Aira menghela napas kasar, sudah cukup tawanya. Dia harus membantu Zidan sekarang. “Zi!" panggil Aira pada Zidan yang sudah berada jauh darinya. Zidan hanya berdehem, tak menoleh sedikitpun. “Zi, tolong...” Aira itu manja, manja sekali. Buktinya untuk berdiri saja perempuan itu enggan melakukannya sendiri dan memanggil Zidan adalah salah satu cara terbaiknya. “Zi... Bangunin gue...” “Sendiri lah," “Malas," Dan, apa Zidan menolak atau marah karena kemanjaan Aira? Tentu tidak. Dia sudah terbiasa, dia juga tak masalah Aira manja. Asal, manjanya perempuan itu hanya pada dirinya, jangan pada laki-laki lain karena dia tak rela. “Ayo, bangun!” Aira tersenyum, meraih tangan Zidan yang terulur padanya. Dengan cepat Zidan menarik tangan Aira dan s**l atau beruntung saat tanpa sengaja kaki Aira menginjak lantai yang masih licin itu sehingga membuat perempuan itu terpeleset dan begitupun Zidan. Dan, posisi mereka benar-benar tak aman kini. Dimana Zidan berada di atas tubuh Aira dengan posisi tangannya yang menyangga punggung perempuan itu dari benturan langsung ke lantai lapangan ini. Keduanya saling tatap, saling... berbicara lewat mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN