17. Zidan jahat

1261 Kata
“Lama benar,” Aira tersenyum lebar pada Zidan yang sudah menunggunya. Aira memang sedikit lambat, sedikit santai lah orangnya sehingga terkadang membuat siapa saja harus menunggunya jika ada sesuatu yang berhubungan dengannya. Dan, beruntungnya Aira karena Zidan lah yang paling sering berkaitan dengannya, sehingga lelaki itu juga yang sering menunggunya. Jadi, sepertinya lelaki itu sudah terbiasa dan tak akan terganggu dengan sikap santainya, meskipun Aira tahu kalau sebenarnya Zidan juga mengomel. Aira duduk di kursi samping Zidan. “Ngantri,” jawab Aira, dia meletakkan semangkuk bakso dan es teh manis milik Zidan dihadapan lelaki itu, serta semangkuk mie ayam bakso dan air mineral untuk dirinya. Mereka baru selesai mengerjakan hukuman dan kebetulan langsung dihadapkan pada jam istirahat. Enak lah. Mereka menikmati makanan kali ini, sambil ditemani riuhnya orang-orang yang ada di area kantin serta celotehan Aira yang hanya ditanggapi seadanya oleh Zidan. Hingga Aira mengedarkan atensinya, menemukan Jihan yang tengah mencari tempat duduk dengan nampan yang dibawa perempuan itu. Aira mengangkat tangannya, memberi kode pada Jihan yang kebetulan langsung menyadari keberadaannya. “Sini!” titah Aira, menunjuk kursi kosong yang ada disampingnya, di meja yang sama yang diduduki olehnya dan Zidan. Jihan tersenyum, bergegas menghampiri mereka kemudian duduk disamping Aira. “Untung dapat,” ucap Jihan, meletakkan nampan berisikan sepiring nasi dengan lauk dan segelas es teh manis. Aira tersenyum lebar sampai menunjukkan deretan giginya. “Untung ada gue,” ucap Aira meralat ucapan Jihan yang membuat perempuan itu terkekeh pelan. “Makan, ya...” ucap Jihan kemudian mulai menikmati makanannya. Dia mendongak, terdiam sejenak saat menemukan mata Zidan yang tertuju padanya. Jihan mengerutkan keningnya bingung, ”Kenapa?” tanya Jihan sambil mengendikan dagunya pada Zidan. Aira menatap Jihan seketika, mengerutkan keningnya bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan perempuan itu pada Zidan. Kenapa Zidan terus menatap Jihan? tanya Aira dalam hatinya. Zidan menggeleng, menunjuk sesuatu pada Jihan yang membuat dua perempuan itu kebingungan. “Apa sih, Dan?” “Ngomong kenapa, Zi.” Zidan tak langsung berucap, dia mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada Jihan kemudian tangannya terulur untuk mengambil sebutir nasi yang menempel di rambut perempuan itu. Sontak saja, apa yang dilakukan Zidan ini membuat Jihan harus menahan napasnya karena merasakan sesuatu. Lain halnya dengan Aira yang seketika terkejut dengan perlakukan Zidan. “Ini,” ucap Zidan, menunjuk sebutir nasi ditangannya yang langsung diangguki oleh Jihan sendiri. Dia meletakkan nasi tersebut di tisu. “Thank you...” ucap Jihan pelan sambil tertunduk singkat, dia tersipu malu dibuatnya karena perlakuan Zidan. Aira tak suka, sedangkan Zidan biasa-biasa saja. Mereka kembali menikmati makanannya, lain halnya dengan Aira yang sudah tak berselera. Padahal seharusnya di setiap suapan Aira menikmatinya, bukan justru sebaliknya dan sebabnya adalah perlakuan Zidan pada Jihan. Aira tak suka dengan apa yang dilakukan Zidan, meskipun itu sebenarnya adalah kebaikan. Tapi, hatinya tak rela Zidan berlaku demikian pada perempuan lain, seharusnya hanya pada dirinya saja. Sekelebat ide muncul di benaknya, dia langsung menjatuhkan begitu saja sehelai mie di punggung tangannya, kemudian menunjukkannya pada Zidan. “Zi...” ucap Aira, menunjuk sehelai mie yang mengotori punggung tangannya itu. Jihan menoleh, mengerutkan kening bingung dengan apa yang dilakukan Aira. Sedangkan, Zidan hanya menatapnya saja, kembali menikmati makanannya. “Tuh, tisu.” Aira mengerucutkan bibirnya, kesal dengan respon yang diberikan Zidan. Kemarin saja saat makan es krim bersama, lelaki itu sigap membersihkan es krim di sekitaran mulutnya. Sekarang? Menyebalkan. Jihan tak kuasa melihat itu semua, membuatnya seketika menahan senyumnya sendiri. Dan, Aira bertambah tak suka tentunya. *** “Fix! Zidan sukanya sama Lo!” Jihan menoleh pada Aira yang berucap demikian. Saat ini mereka berada di perpustakaan, hendak mengambil beberapa buku paket atas perintah guru. Aira yang memang senang keluar kelas, dengan senang hati mengangkat tangan dan menawarkan diri untuk mengambil buku tersebut. Dan, Jihan sebagai teman yang baik menawarkan diri untuk menemani. Sehingga, disinilah mereka kini. “Apa sih, Ai? Suka ngaco kalau ngomong.” balas Jihan jengah. Aira menatap Jihan, “Buktinya, di kantin tadi?” Jihan mengerutkan kening bingung, “Yang begituan, jadi bukti? Aneh.” balas Jihan cepat sambil menggeleng heran, dia memutar tubuhnya menatap Aira yang membuat Aira seketika mengendikan dagu dengan kerutan bingung di keningnya. “Kenapa?” Jihan mengulum senyumnya, menunjuk Aira. “Apa jangan-jangan sebenarnya Lo tuh yang suka sama Zidan? Pasalnya, Lo tuh selalu aja jodoh-jodohin Zidan sama cewek lain. Dan, menurut terawangan gue, yang begitu tuh biasanya yang suka. Sok-sokan cie-cie in padahal sebenarnya dia nya yang suka.” tuding Jihan yang seketika membuat Aira terdiam. Aira terdiam, menggigit bibir dalamnya sebelum kemudian bergegas menyangkal tuduhan Jihan padanya. “Ya, enggak mungkin. Mana ada gue suka sama Zidan sedangkan gue tahu jeleknya dia kayak gimana. Enggak mungkin lah! Lagian, gak pernah tuh terpikir sedikitpun kalau gue bakalan suka sama dia.” ucap Aira, dia mengendikan bahunya dan tersenyum tenang. Dia bisa juga memberikan alasan, meskipun entah Jihan akan percaya atau tidak. “Alah! Nyesel Lo ngomong begitu nanti.” “Gak akan!” Dan, tanpa Aira sadari ada Zidan yang mendengar apa yang perempuan itu ucapkan. Niat Zidan yang hendak menyusul mereka yang cukup lama hanya untuk mengambil buku paket, dikejutkan dengan kenyataan yang Aira tunjukkan. Dan, setelah mendengar itu sepertinya Zidan tak lagi punya harapan. *** “Zi," Aira tersenyum lebar menatap Zidan, dia berdiri dengan tegak dari duduknya di motor lelaki itu. Gercep sekali dirinya, sudah standby di motor Zidan untuk pulang sekolah bersama seperti biasa. “Zi, nanti pulang kita beli—” “Lo pulang naik ojek online aja, ya?” Ucapan Aira seketika terhenti karena dipotong Zidan. Lelaki itu meminta Aira untuk pulang menggunakan ojek online, tidak bersamanya. Dan, itu membuat Aira bingung karena baru kali ini Zidan membiarkannya pulang sendiri disaat lelaki itu sebenarnya mampu mengantarkannya. “Kenapa?” “Gue ada urusan," ”Urusan apa?” “Adalah. Gue pesenin ojol, ya?” Aira dengan cepat menggeleng, “Gak usah, gue juga bisa kok.” cegah Aira yang diangguki Zidan. Aira segera meronggoh sakunya, mengeluarkan ponselnya kemudian langsung membuka aplikasi ojek online yang terinstall di ponselnya. Aplikasi ojek online yang ada di urutan pertama di AppStore nya. “Urusan apa sih, Zi?” Aira kembali bertanya setelah dia selesai memesan ojol, dia benar-benar dibuat penasaran dengan urusan yang dimaksud Zidan. Sepenting apa urusan itu sehingga membuat Zidan tak bisa mengantarkannya pulang dan membiarkannya naik ojek online? Zidan tak menjawab, dia hanya menggeleng saja yang membuat Aira mengerucutkan bibirnya. Tak lama menunggu, ojol pesanan Aira datang, membuat Zidan bergegas memakai helmnya saat setelah memastikan Aira aman dengan ojol tersebut. “Kabarin gue kalau udah nyampe,” Aira mengerucutkan bibirnya, memakai helm miliknya sendiri sambil mengangguk. “Dadah, Zi...” ucap Aira sambil melambaikan tangannya setelah motor yang ditumpanginya mulai melaju pergi. Melihat Aira sudah pergi, Zidan pun melajukan motornya. Ada urusan yang harus dia selesaikan. *** “Maaf, ya neng jadi dibawa muter. Abis ada yang demo, jadi jalan utamanya macet.” Aira mengangguk maklum. “Iya, pak, gakpapa kok.” jawab Aira maklum. Mau bagaimana lagi, para pendemo yang menyerukan suara mereka mengisi hampir semua jalan yang biasanya Aira lewati, macet pun tak bisa dihindari. Alhasil, demi menghindari macet ojol pun memilih jalan yang lain. Dan, Aira tak asing dengan jalanan ini, pernah beberapa kali dilewatinya bersama Zidan tentunya. Zidan, mengingat Zidan membuat dia jadi kesal sendiri. Urusan apa sih yang tengah dilakukan lelaki itu? Jadi, penasaran. Meskipun seketika rasa penasarannya hilang saat melihat Zidan tengah duduk berdua bersama perempuan di cafe yang Aira lewati. Oh... Jadi, ini urusan penting yang dilakukan Zidan sehingga membiarkan Aira pulang sendiri. Oke, Aira paham sekarang. “Jahat!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN