18. Birthday dan Kemarahan Zidan

2081 Kata
Dengan malas, Aira berjalan menuju pintu kamarnya yang diketuk oleh mbak rumahnya. Dia membuka pintu tersebut, menampilkan mbak Kiki yang tersenyum manis menyambutnya yang justru mengerucutkan bibir kesal. “Kenapa, mbak?” ”Itu, non ke taman belakang, ya.” Aira mengerutkan keningnya, ”Mau apa?” tanya Aira bingung, untuk apa dia datang ke taman belakang. “Ada sesuatu pokoknya, non. Mbak gak bisa kasih tahu.” “Yaudah," jawab Aira malas. Aira keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga kemudian berjalan ke taman belakang. Sedangkan, Mbak Kiki pergi kembali ke tempat biasanya, tersenyum senang saat melihat Aira benar-benar pergi ke tempat yang disebutkannya barusan. Sepertinya, kejutan ini akan berhasil. Aira mengerutkan keningnya saat sampai di taman belakang rumahnya dan justru menemukan kegelapan disana, lampu-lampu taman yang biasanya menyala, kini tidak. Apa mungkin pekerja di rumahnya lupa menyalakan lampu? Tck, terus untuk apa dia disuruh kesini sekarang? Ke tempat gelap pula. Niat Aira yang hendak pergi, justru dikejutkan dengan cahaya dari satu persatu lampu yang menyala bergantian, menyinari taman yang gelap ini. Dan, beberapa hiasan pun terpasang juga kain yang dibiarkan tergeletak di rumput tamannya yang super terawat, tak lupa beberapa makanan tersaji disana. “Ini ada apa sih?” tanya Aira bingung, kakinya melangkah memasuki area taman, berhenti tepat diatas kain yang dijadikan alas tersebut. Dia menatap sekeliling, mencoba mencari tahu siapa pelakunya. Namun, dirinya tak menemukan siapapun disini. Hingga suara seseorang seketika membuatnya berbalik, terkejut mendapati keberadaan orang itu disini. “Benny?” Aira tak menyangka, ada Benny di rumahnya, malam-malam juga. Untuk apa coba? Bahkan, lelaki itu tak memberi kabar apapun padanya. Memang sih, mereka dekat, itupun belum lama ini, Benny juga pernah datang ke rumahnya beberapa kali. Obrolan mereka pun berjalan intens, baik secara langsung ataupun melalui pesan. “Lo ngapain disini?” tanya Aira bingung, dia menggeleng cepat. “Maksud gue, kok Lo bisa disini sih?” ralat Aira, dia menatap terkejut cake yang dibawa Benny. Benny tersenyum, menatap cake yang dibawanya dan Aira bergantian. “Happy Birthday, ya.” ucap Benny, dia mendekatkan cake tersebut pada Aira, sehingga lilin di cake tersebut berada tepat didepan Aira. Aira tersentak kaget, memikirkan sesuatu karena ucapan yang dilontarkan Benny. Memangnya, ini hari ulang tahunnya? 6 Juni? Benar kah? Bagaimana mungkin Aira melupakannya coba. Tapi, bagaimana Benny bisa sampai tahu? Aira tersenyum senang, tak disangka usianya bertambah sekarang. “Kok Lo bisa tahu sih kalau sekarang gue ulangtahun?” tanya Aira bingung, kenal baru-baru ini tapi kenapa Benny bisa tahu tanggal lahirnya. Benny tersenyum lebar, dia mengendikan bahunya. “Untuk orang spesial, gue juga harus tahu dong tanggal-tanggal spesial di hidupnya juga.” jawab Benny yang membuat Aira terkejut dibuatnya. Seharusnya, Aira tersanjung bukan? Tapi, entah kenapa dia merasa biasa-biasa saja, meksipun seharusnya ini lebih dari biasa. “Thank you...” Benny mengangguk, menggerakkan pelan cake ditangannya. “Ya udah, Lo make a wish abis itu tiup deh lilinnya.” titah Benny yang membuat Aira tersenyum kikuk dibuatnya. Aira tak terbiasa melakukan itu. Jauh dari orangtua membuatnya jadi lebih dekat dengan keluarga Zidan. Dan, di keluarga Zidan tak pernah ada tradisi memejamkan mata didepan lilin menyala sambil mengucapkan harapan kemudian meniupnya. Tak ada. Sehingga membuat dirimu juga jadi terbiasa demikian. Biasanya, untuk merayakan tanggal atau hari spesial, diadakan syukuran saja. Omong-omong keluarga Zidan membuat Aira jadi teringat Zidan lagi. Apa iya lelaki itu lupa dengan hari spesialnya? Bahkan, Zidan kini bukan lagi jadi orang pertama yang mengucapkan ucapan selamat ulang tahun padanya. Bahkan, lelaki itu tega membiarkannya pulang sendiri demi menemui perempuan lain. Tck, membuat Aira jadi kesal jika mengingatnya. “Ra?” Aira tersentak, dia tersenyum kikuk pada Benny yang terus memintanya untuk meniup lilin tersebut. Dan, terpaksa Aira melakukannya, melakukan sesuatu yang jarang dilakukan sebelumnya. Benny tersenyum lebar, senang melihatnya. “Lo make a wish apa tadi?” tanya Benny penasaran, berharap ada dirinya juga dalam harapan perempuan itu. Aira sendiri tak berharap apa-apa, dia asal meniup saja. Tapi, tak mungkin kan dia menjawab demikian. “Oh... Ada deh, rahasia dong.” elak Aira, dia terkekeh pelan. “Ya udah, kita makan aja yuk cake nya. Kelihatannya enak, jadi pengen.” Benny mengangguk, “Ayo!” Mereka duduk diatas alas kain tersebut, hendak menikmati semua makanan yang ada disini. Aira benar-benar menikmati ini semua, kejutan yang disiapkan Benny yang notabenenya adalah orang baru di hidupnya. Dia jadi terharu dibuatnya. “Lo yang siapin ini semua?” Benny menghentikan suapannya, dia terdiam sejenak sebelum kemudian mengangguk pelan. “Lo suka?” tanya Benny. Aira mengangguk, tentu saja dia suka. Jarang-jarang dia mendapat kejutan seperti ini. Bahkan, Zidan saja tak pernah berbuat demikian. Palingan kalau Aira berulangtahun, Zidan hanya akan berucap. “Hbd,” Udah, gitu doang. Gak ada kejutan-kejutan, gak ada ucapan panjang lebar, adapun tambahan meskipun cukup membosankan, yaitu kadonya nyusul, ya. Tck. *** “Hati-hati, ya, Benn. Makasih, juga.” Aira melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar pada Benny yang baru saja melajukan motornya pergi dari rumahnya. Dia berbalik, melirik sekilas pada pagar rumah disampingnya yang tertutup. Tak ada tanda-tanda keberadaan seseorang didalamnya, ingin menerobos masuk, namun Aira urungkan niatnya mengingat dia masih kesal dengan Zidan. Kesalnya Aira bukan hanya karena tak pulang bersama, lebih dari itu. Kesalnya pada Zidan karena lelaki itu tak lagi peduli padanya, bahkan ulangtahunnya pun dilupakan. Huh. Aira menghela napas kasar, kembali melangkahkan kakinya masuk ke rumah. Malam yang membosankan tanpa ada Zidan, seperti biasa. *** Aira berangkat lebih dulu, lebih pagi dari biasanya, tak ada kata telat lagi untuk hari ini. Dia tak bersama Zidan hari ini, sengaja. Seperti yang dia ucapkan sebelumnya, dia berangkat lebih dulu otomatis tak lagi bersama Zidan. “Gak bareng lagi?” Aira menoleh, tersenyum tipis menyambut Jihan yang datang menghampirinya di kantin. Jihan duduk dihadapan Aira yang tengah menikmati sepiring nasi goreng untuk sarapan kali ini. Aira mengendikan bahunya sebagai jawaban. ”Sarapan gak Lo?” tanya Aira, dia menunjuk nasi goreng di piringnya kemudian kembali memakannya. ”Udah gue, di rumah tadi.” jawab Jihan. “Kok Lo gak bareng sama Zidan lagi sih? Jangan bilang, Lo berantem lagi?” tuding Jihan, dia memincingkan matanya. Sebenarnya mudah untuk tahu apakah Aira dan Zidan itu tengah bertengkar atau tidak. Ya, tinggal lihat saja interaksi mereka, dekat atau sebaliknya. Orang-orang juga bisa menebak jika orang yang biasanya bersama kemudian tiba-tiba jadi masing-masing saja, sudah pasti jawabannya adalah hubungan mereka sedang tak baik-baik saja. Aira menggeleng, ”Tahu, ah!” Jihan mencebik, dia membuka tasnya kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Sebuah paper bag kecil dibawanya, diletakkan begitu saja dihadapan Aira yang seketika menatapnya bingung. “Maksudnya?” Jihan tersenyum lebar. “Happy birthday, ya... Semoga apa yang Lo harapkan terkabul dan sorry, kalau telat. Emang sengaja.” jawab Jihan, dia terkekeh pelan. Aira mengulum bibirnya, tersenyum tak menyangka. “Lo gak lupa sama ulangtahun gue?” tanya Aira yang tentu saja langsung mendapat gelengan dari Jihan. “Mana mungkin gue lupa, ya, enggak lah.” “Terus kok telat sih? Bahkan nih, ya, dari kemarin gak ada tuh yang ngucapin selamat ulangtahun buat gue. Semuanya lupa.” balas Aira, dia mencebikkan bibirnya. “Itu bukan lupa, Ra. Tapi, disengaja.” “Maksudnya?” Jihan mengerutkan keningnya bingung, kenapa Aira terkesan tak tahu apa-apa. “Emang Zidan gak bilang apa-apa sama Lo?” tanya Jihan memastikan, dia takut apa yang dilakukannya salah. ”Ngasih tahu apa?” tanya Aira kesal. “Bahkan nih, ya, dia gak ngucapin apapun di hari ulangtahun gue, jangankan ngucapin langsung, lewat chat aja enggak. Tahu tuh, emang dia nya yang malas atau sebenarnya dia tuh lupa. Tapi, kalau lupa, sumpah sih jahat banget.” jelas Aira sambil mencebikkan bibirnya, dia membuka mini paper bag yang diberikan Jihan kemudian tersenyum lebar. “Ih, sumpah. Ini parfum favorit gue.” ucap Aira senang melihat parfum yang diberikan Jihan. “Makasih, Jihan ku...” sambung Aira sambil menunjukkan wajah gemas, terharunya serta mengerjap-ngerjapkan matanya. Jihan tersenyum senang saat tahu Aira suka dengan hadiah yang diberikannya. ”Sama-sama,” balas Jihan, tapi dia jadi ingat dengan Zidan sekarang. ”Tapi, Ra, Zidan gak mungkin lupa sama ulangtahun Lo. Gak mungkin banget." Aira mengendikan bahunya. “Mungkin aja, buktinya dia gak ngucapin apapun kan sama gue.” “Tapi...” ”Udah, ah. Gue mau lanjut sarapan, jangan bahas Zidan, malas gue.” “Oghey...” *** “Kenapa gak Lo telpon lagi Zidan kayak waktu itu? Jangan-jangan dia masih nungguin Lo lagi?” Aira melirik jam di pergelangan tangannya. Zidan kembali terlambat datang dan Aira belum tahu sebabnya. Namun, ucapan Jihan barusan bisa jadi benar, mengingat hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Zidan terlambat karena menunggu Aira didepan rumah. “Oke, gue telpon dia sekarang.” Belum sempat Aira menelpon Zidan, seseorang masuk begitu saja ke kelas, melenggang dengan santai tanpa memperdulikan tatapan semua orang. Beruntungnya belum ada guru yang datang. “Itu Zidan!” Aira menatap Zidan yang kini berjalan kearah bangkunya yang ditempati Jihan. Seperti biasa, tak ada ekspresi apapun yang ditunjukkan lelaki itu. “Minggir," usir Zidan pada Jihan yang seketika beranjak, mengambil tasnya kemudian pergi menuju bangku seharusnya. Aira mengabaikan Zidan yang sudah duduk disampingnya, dia tak mengeluarkan suara apapun, dia ingin Zidan yang lebih dulu berkata padanya. “Lo berangkat sama siapa, Ra?” Aira melirik sinis Zidan, “Apa urusan Lo?” tanya Aira ketus. Zidan mengerutkan keningnya mendengar nada suara Aira, dia tahu perempuan itu pasti tengah merajut padanya. Zidan hanya mengendikan bahunya saja, tak lagi berucap atau bertanya apapun dikarenakan kedatangan guru pelajaran ke kelas mereka. *** “Ngambek?” “Enggak,” “Terus?” “Enggak,” Zidan menghela napas kasar, dia mencoba menenangkan hatinya. Kurang tidur, kelaparan, harus tetap mengikuti kegiatan disekolah dan sekarang ditambah harus meladeni Aira yang marah padanya. Lengkap sudah hari Zidan. “Ra, kemarin—" “Gue tahu kok!” Zidan mengerutkan keningnya, “Lo tahu?” Aira memutar kasar tubuhnya menghadap Zidan, menatap datar lelaki itu. “Iya, gue tahu! Kenapa? Mau ngelak lagi?” tanya Aira dengan nada suara tak santai. Zidan dibuat bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan Aira padanya. Apa maksud perempuan itu? Kemana arah pembicaraan ini? Aira memincingkan matanya, dia benar-benar kesal pada Zidan. “Tega, ya, Lo! Ninggalin gue demi ketemu sama cewek lain! Ngeselin tahu, gak sih!” “Maksud Lo?” “Gue tahu, Zi. Lo kemarin, gak mau pulang bareng sama gue karena Lo mau ketemuan kan sama Meisan?” tebak Aira, dia mencebik kesal. Zidan dibuat terkejut oleh ucapan Aira. ”Oke, gue gak masalah kok sebenarnya Lo mau ketemu dia atau enggak. Tapi, Zi, seharusnya ya Lo anterin gue pulang dulu kek. Jangan gue malah ditinggalin. Jahat banget!” Zidan menggeleng, dia tak membenarkan ucapan Aira. “Ra, kemarin—” “Gue benar-benar kecewa sama Lo. Kemarin gue ulangtahun pun, Lo gak ngucapin. Jangankan ngucapin, ingat aja Lo belum tentu.” Zidan menghela napas kasar, dia harus menjelaskan sekarang. “Ra, gue tuh—” “Lo tuh manusia paling jahat tahu, gak sih, Zi. Lo jahat, Lo egois, lo—” “Itu, Lo!” Aira tersentak kaget mendengar bentakan Zidan, dia terdiam seketika, bahkan beberapa orang yang duduk didekat mereka pun seketika menatap mereka. Tak bisa dipungkiri, ada kemarahan di wajah Zidan dan Aira bisa merasakan itu semua. Terlihat dari tatapan Zidan yang menatapnya berbeda. “Kenapa sih, Ra Lo gak pernah mau dengerin penjelasan orang lain? Kenapa Lo gak pernah mau dengar omongan orang lain, sedangkan Lo maunya didengarin terus? Kenapa gak bisa gantian? Orang lain juga mau Ra, omongannya didengerin. Orang juga bisa capek kalau harus terus-terusan jadi pendengar doang, sedangkan dia juga butuh didengarin.” Aira terdiam mendengar kata-kata Zidan, dia tak bisa lagi berucap apapun. Sedih sebenarnya melihat Zidan yang marah dan mendengar kata-kata Zidan yang kali ini terdengar menyakitkan. “Lo bilang gue ninggalin Lo?” tanya Zidan, dia menggeleng keras. “Coba Lo ingat-ingat, bahkan gue nungguin Lo sampai Lo dapat ojol, gue juga baru pergi pas udah lihat Lo pergi. Gue sama sekali gak ninggalin Lo, Ra.” Aira semakin terpojokkan karena apa yang diucapkan Zidan benar adanya. “Lo juga bilang gue egois?” tanya Zidan, dia menggeleng pelan tak percaya dengan sudut kanan bibirnya yang tertarik. “Coba Lo nilai diri Lo sendiri. Siapa tahu Lo juga termasuk.” tukas Zidan kemudian beranjak pergi meninggalkan Aira yang benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. Jika ada yang bilang, marahnya orang diam itu menyeramkan, maka Aira membenarkan itu semua. Hal itu baru saja dibuktikannya. Tapi, tunggu. Apa iya, dirinya juga egois? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN