“Tahu, gak?” tanya Jihan, dia duduk cepat disamping Aira yang tengah berkutat dengan beberapa materi yang perlu dicatat di buku masing-masing.
Aira menoleh, mengerutkan kening bingung mendengar pertanyaan Jihan.
“Berita Lo sama Zidan yang berantem tadi di kantin, itu udah menyebar luas seantero sekolah. Dan, itu heboh banget, Ra!”
Aira sudah tak aneh sebenarnya, dia juga sudah tahu pasti akan cepat seperti ini. Ada saja orang-orang yang dengan cepat membuat berita seperti ini, entah siapa akarnya. Mungkin beberapa orang yang duduk dekat mereka yang menciptakan berita ini. Mungkin saja.
“Kalian berantem kenapa sih? Masa katanya Zidan sampai ngeluarin kata-kata gak enak. Benar?” tanya Jihan, dia juga sebenarnya penasaran sama seperti yang lainnya. Dan, dia lebih baik mengkonfirmasi langsung pada Aira daripada mendengar omongan orang-orang yang terkadang dilebih atau dikurangkan.
Aira hanya menggeleng saja sebagai jawabannya. Dia terlalu pengecut untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Entah kenapa, dia takut sendiri jika dia bercerita nanti maka orang lain akan benar-benar menganggapnya egois. Dia enggan di cap egois.
Jihan menghela napas kasar, ternyata Aira tak seterbuka itu orangnya.
Jihan terdiam, dia bergumam pelan. Dia sebenarnya ragu, apakah akan membicarakan ini atau tidak. Tapi, siapa tahu dengan dia menceritakan ini semua ada keajaiban yang bisa memperbaiki hubungan Aira dan Zidan.
“Sebenarnya, Ra. Ini gak boleh gue omongin sih sama Lo. Tapi, berhubung hubungan Lo sama Zidan lagi gak baik-baik aja, gue harus bilangin ini sama Lo.”
Aira mengerutkan keningnya. “Apa?” tanya Aira penasaran, dia penasaran karena sepertinya ini ada kaitannya dengan Zidan.
“Gue dengar, katanya kalian ribut karena masalah Zidan gak ngucapin selamat ulangtahun buat Lo? Apa benar?” tanya Jihan yang hanya mendapat keterdiaman dari Aira. Jihan mengerti, Aira pasti malu membenarkan ini semua.
Jihan menggenggam tangan Aira, mengusap pelan punggung tangannya yang membuat Aira menata dirinya. “Gue ngerti kok, it's okay, gak perlu malu.” ucap Jihan, dia mengangguk pelan.
Aira mengangguk akhirnya. “Iya, meskipun sebenarnya lebih dari itu. Dia ninggalin gue demi ketemu sama cewek lain.”
Jihan tersenyum simpul mendengarnya, dia bisa menyimpulkan jika sebenarnya Aira cemburu hanya saja perempuan itu enggan mengakuinya secara langsung.
”Iya, iya, gue ngerti. Tapi, Lo harus tahu satu hal, Ra. Sebenarnya, kemarin tuh Zidan yang bilang sama anak-anak kelas buat gak ada satupun yang ngucapin selamat ulangtahun buat Lo karena dia mau, dia yang jadi yang pertama. Gue juga ngerti, maksudnya mau gimana. Cuma dia larang kita semua. Jadilah, gak ada satupun anak-anak yang ngucapin Lo kan? Bahkan, gue aja baru tadi pagi. Jadi, menurut gue akan sangat mustahil kalau Zidan lupa sama ulangtahun lo.”
Aira terkejut dibuatnya, tak sangka. Berarti dia baru saja berburuk sangka pada Zidan, begitu? Ya Allah... Kenapa Aira bisa berpikir demikian coba? Tck.
Keterdiaman Aira yang tengah merutuki kebodohannya dikejutkan dengan ponselnya yang tiba-tiba berdering, menunjukkan ada panggilan masuk yang berasal dari Ibun alias bunda Zidan.
“Assalamualaikum, Bun.”
“Waalaikumsalam, Ra. Bunda ganggu, gak?”
“Enggak kok, Bun. Ini emang lagi gak ada guru, lagi pada rapat. Ada apa, ya Bun?”
“Syukur kalau begitu. Ini loh, Ra. Zidan sama kamu gak? Zidan ada disitu kan?”
Aira mengedarkan pandangannya, dia belum melihat keberadaan Zidan sejak istirahat tadi, lebih tepatnya sejak pertengkaran mereka. “Zidan gak ada disini Bun, dia lagi ke toilet.” jawab Aira, dia beralasan demikian agar tak ada kesalahpahaman, ditakutkan bunda beranggapan Zidan ini pembangkang, sering tak ikut pelajaran sekolah.
“Oh... Yaudah, tolong kamu kasih tahu Zidan kalau nanti dia bawain barang-barang ayah gitu, ya. Soalnya bunda chat dan telpon, nomornya gak aktif. Mungkin Zidan lupa isi baterai hpnya.”
Aira mengerutkan keningnya bingung maksud ucapan bunda. “Bentar deh, Bun. Barang-barang ayah? Maksudnya, gimana, ya? Aira bingung.”
“Loh, emangnya Zidan gak kasih tahu kamu kalau sakit jantung ayah sempat kumat? Kemarin malam ayah di bawa ke rumah sakit, Ra. Masa kamu gak tahu.”
Aira ternganga, terkejut dibuatnya. Dia benar-benar tak tahu jika sakit jantung ayah kambuh lagi. Dia memang tahu sakit jantung ayah, namun sudah lama tak pernah kambuh lagi dan mungkin baru sekarang setelah sekian lamanya.
Jadi, karena itu pula kemarin malam dia melihat keadaan rumah Zidan begitu sepi. Ya ampun... Apa maksud ucapan Zidan tadi, sebenarnya dia ingin memberitahu Aira tentang sakitnya ayah? Tapi, justru dirinya berpikiran lain. Tck, Aira memang benar-benar egois orangnya!
Lo egois banget sih, Ra! Rutuk Aira dalam hatinya, dia merutuki dirinya sendiri.
“Ra, kamu masih disana kan?”
Aira tersentak, dia mengangguk-angguk. “Iya, bun. Ya udah, nanti Aira sampein sama Zidan.”
“Ya udah, bunda tutup, ya.”
“Iya, Bun. Semoga ayah cepat sembuh, ya.”
“Iya, Ra. Makasih, ya. Assalamualaikum...”
“Waalaikumsalam...”
Aira langsung lemas rasanya, dia meletakkan begitu saja ponselnya. Dia merasa bersalah kini, dia memejamkan matanya, terus menyesali dalam hati apa yang telah dia lakukan sambil terus merutuki kebodohannya sendiri.
“Ra, Lo gakpapa kan?” tanya Jihan cemas, dia khawatir melihat keadaan Aira kini.
Aira menggeleng, dia tak baik-baik saja. Tanpa berkata lebih dulu, Aira langsung memeluk Jihan, terisak pelan dalam pelukan itu. “Jihan... Gue bodoh banget...” sesal Aira, dia terus terisak.
Jihan bingung, dia tak mengerti ada apa sekarang. “Lo kenapa, Ra? Udah, tenang dulu.” ucap Jihan sambil menepuk-nepuk pelan punggung Aira yang semakin bergetar.
Bukannya berhenti, tangis Aira justru semakin menjadi-jadi membuat perempuan itu lemas sendiri bahkan hampir tak sadarkan diri.
“Ra... Tenang dulu...”
Jihan terus menenangkan Aira yang terlihat sulit bernapas kini, sedangkan air mata masih belum tuntas.
“Zidan... Ini, Aira. Tolongin...”
***
“Minum,”
Air matanya memang sudah tak ada, namun isakannya masih tersisa. Dengan pelan, Aira meminum air kemasan tersebut, meneguknya beberapa kali kemudian menatap lekat orang dihadapannya dengan kesedihan yang masih terpancar dari matanya.
“Zi, gue—”
“Lain kali jaga emosi, jangan kayak tadi.”
Aira menunduk, matanya kembali berkaca-kaca. “Zi, gue—”
“Kalau Lo kenapa-napa gimana, Ra? Lo kan tahu, kalau Lo nangis berlebihan dampaknya kayak gimana? Masih beruntung Lo bisa napas, kalau enggak?”
Aira mengangguk pelan, dia mengulum bibirnya dan menatap orang itu yang tak lain adalah Zidan dengan mata berlinang. “Zi, gue minta maaf.” ucap Aira cepat, dia tak mau ucapannya dipotong lagi.
Bukannya menjawab, Zidan justru diam. Lelaki itu masih menunjukkan wajah datarnya. “Gak usah dibahas,” jawab Zidan akhirnya.
“Tapi, Zi—”
“Gak usah dibahas atau Lo mau lihat gue marah?”
Aira diam, dia masih terisak pelan kini. Dia mengangguk pelan. “Ibun tadi telpon gue, katanya jangan lupa bawain barang-barang ayah nanti.”
Zidan hanya mengangguk.
“Zi, kenapa Lo gak kasih tahu gue kalau ayah sakit?”
“Emang ada kesempatan buat gue ngomong? Enggak kan.”
“Zi, gue—”
Zidan beranjak dari duduknya. “Lo istirahat aja, gue balik ke kelas.” ucap Zidan kemudian melenggang pergi meninggalkan Aira yang kembali menangis karena sikap lelaki itu. Lebih tepatnya karena kebodohan Aira sendiri ini sehingga ini semua bisa terjadi.
***
“Makasih, ya. Lo mau nemenin gue sekarang.”
Jihan tersenyum, mengangguk sambil menepuk pelan pundak Aira yang dirangkulnya. “Iya, santai aja kali. Sekalian juga kan, gue ikut jenguk keadaan bokap nya Zidan.” balas Jihan yang diangguki Aira.
“Berarti kita belok sekali lagi, ya. Ruangan Bougenville I jangan lupa.” ucap Jihan sambil melihat-lihat setiap ruangan yang mereka lewati, mencari ruangan yang disebutkan resepsionis tadi.
“Nih, ini ruangannya.”
Mereka mengetuk pintu ruangan tersebut, mendorongnya pelan kemudian masuk perlahan. Dan, pertama yang dilihat adalah bunda yang tersenyum menyambut kedatangan mereka.
“Loh, Aira, Jihan, kalian kesini?” tanya bunda sambil beranjak dari duduknya, berjalan menghampiri Aira dan Jihan yang mulai mendekat.
“Iya, Tante. Kita mau jenguk ayah Zidan.” jawab Jihan sambil tersenyum simpul, menyimpan parsel buah yang dibawa sebagai buah tangan.
Sedangkan, Aira langsung menghampirinya Bunda dan memeluknya, terisak pelan di
pelukan wanita paruh baya itu.
“Udah, jangan nangis. Ayah gak kenapa-napa kok,”
Aira terus terisak, “Kenapa ibun gak kasih tahu aku dari semalam sih kalau jantung ayah kumat.”
”Bunda gak mau kamu khawatir, terbuktikan sekarang. Lagian, kamu udah lihat sendiri kan ayah gimana sekarang?” tanya bunda, dia melepaskan pelukan tersebut perlahan. “Udah mulai baikan.” sambung bunda sambil menyeka air mata Aira.
Aira hanya mengangguk saja.
“Kok kamu gak bareng sama Zidan? Dia kemana? Apa, ke rumah dulu gitu, makanya kamu sama Jihan?” tanya Bunda, dia mengerutkan keningnya sambil menggiring dua remaja tersebut untuk duduk.
Aira terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi, dia membenarkan bahwa dirinya pergi bersama Jihan. Namun, sebenarnya memang dirinya tak bersama Zidan karena satu hal.
”Zidan, dia...”
Belum selesai ucapan Zidan, pintu ruangan tiba-tiba terbuka, menampilkan Zidan yang datang dengan koper kecil berisikan beberapa keperluan ayah sekaligus bundanya.
Semuanya terdiam, tak terkecuali Zidan.
***
“Udah, kamu diantar Zidan aja, gakpapa kok.”
“Gak usah, tante. Aku biar naik ojek online aja.”
“Udah malam ini, Jihan. Gak baik anak perempuan pulang sendirian, apa lagi naik ojek. Tante takutnya ada apa-apa.”
“Gak akan kenapa-napa kok, Tante. Aku udah terbiasa kok naik ojol.”
Bunda Zidan terus saja memaksa Jihan agar mau diantar Zidan, sedangkan Jihan terus saja menolak. Sedangkan Aira hanya diam, dia terus saja menatap Zidan yang tak berbicara apapun. Namun, itu semua salah karena pada akhirnya Zidan angkat suara.
Zidan beranjak dari duduknya, “Gue antar, buruan.” ucap Zidan kemudian melenggang melewati Jihan yang terkejut begitu saja.
Bunda tersenyum lebar. “Tuh, kan. Udah, sana, sama Zidan aja.” ucap bunda yang pada akhirnya Jihan iyakan
“Ya udah, tante. Jihan pulang dulu, ya, makasih sebelumnya. Om, Jihan pulang, ya. Semoga cepat sembuh.”
“Iya, terimakasih, ya.”
“Makasih, ya udah datang menjenguk.”
Setelah mengalami bunda, Jihan bergegas pergi, tersenyum sambil menaikkan alisnya seolah berbicara pada Aira yang menatapnya. Aira hanya mengangguk saja, menatap kepergian Jihan yang akan diantar Zidan.
***