Aira hanya bisa diam, dia tak berani mengeluarkan sepatah katapun. Zidan yang tengah merajuk padanya, terlihat menyeramkan, terlihat seperti bukan Zidan yang dia kenal. Dan, sepertinya diam adalah jalan terbaik daripada berbicara yang justru bisa saja semakin memperkeruh suasana.
“Gue lapar,”
Aira seketika mendongak, menatap terkejut Zidan karena ucapan yang dilontarkan lelaki itu. Sedangkan, Zidan hanya tersenyum tipis menatap Aira yang terkejut lewat kaca spion motornya. Dia tahu, Aira sedang ketakutan karena diamnya sejak tadi
“Kita makan dulu,”
Entah itu ajakan atau perintah, Aira tak tahu. Sehingga dia hanya bisa mengangguk pelan saat tahu jika motor yang dikendarai Zidan berhenti disalah satu penjual nasi goreng gerobakan.
Aira turun dari motor, melepas helm dan menyerahkannya pada Zidan. Mereka berjalan kearah deretan kursi plastik yang disediakan disana, kemudian duduk.
“Lo mau Ra?”
Aira mengangguk, dia lapar juga.
“Mau, enggak? Gue gak ngerti itu maksudnya apa.” ucap Zidan sambil mempraktikkan anggukan yang diberikan Aira sebagai jawaban atas pertanyaannya.
“Iya, mau...” jawab Aira akhirnya.
“Bang, dua porsi, ya. Pedesnya sedang aja.”
Aira benar-benar bingung sekarang harus bersikap bagaimana. Dia tak suka situasi seperti ini, saling diam-diam tanpa bicara. Dia tak suka situasi canggung yang ada diantara mereka. Ini bukan mereka sekali rasanya.
“Sariawan, Ra?”
Lagi, Aira dibuat terkejut dengan Zidan. Kali ini dengan pertanyaan yang dilontarkan lelaki itu.
Aira mengerutkan keningnya.
“Ya, abisnya Lo diam aja daritadi. Gue kira sariawan.” ucap Zidan, dia mengendikan bahunya.
Aira menggeleng polos, dia polos sekali. “Enggak kok, gue baik-baik aja. Cuma...”
“Cuma apa?”
Aira menunduk pelan, dia mengulum bibirnya. “Cuma, mungkin yang gak baik-baik aja itu kita.”
“Kita? Gue sama Lo gitu?”
Aira mengangguk. “Iya, gue sama Lo, kita.” jawab Aira. “Lo marah sama gue dan gue bingung harus gimana jadinya.” lanjut Aira, wajahnya langsung berubah sendu.
Zidan terkekeh pelan, dia menepuk-nepuk punggung tangan Aira yang membuat perempuan itu mendongak menatapnya. “Kata siapa gue marah?” tanya Zidan, dia tersenyum tipis, sangat tipis.
“Bukan kata siapa-siapa. Tapi, sikap Lo itu udah nunjukin kalau Lo emang lagi marah sama gue.”
Zidan mengangguk-angguk. “Oh...”
Aira ternganga, “Oh, doang?”
Zidan menaikkan kedua alisnya. “Lah, terus?”
Lah, terus gak ada sih. Aira menggeleng. “Enggak.” balas Aira. “Maafin gue, ya, Zi. Janji, gak akan kayak gitu lagi.” ucap Aira akhirnya, dia mencubit pelan kedua telinganya sendiri. Sikap Aira ini seperti seorang anak kecil, asli.
“Kayak gitu gimana?”
“Gak akan egois, gak akan mau menang sendiri. Gue bakalan coba buat gak mengambil kesimpulan apapun tanpa tahu yang sebenarnya. Gue juga bakalan jadi orang yang mau dengar penjelasan orang lain. Janji!”
Zidan terkekeh kembali, dia mengusap-usap puncak kepala Aira. Dia tak menggeleng ataupun berucap apapun, hanya senyuman tipis sebagai jawaban atas janji yang diucapkan Aira.
“Permisi, mas, mbak. Ini nasi gorengnya.”
Zidan menerimanya, mengucapkan terimakasih kemudian menyerahkan bagian Aira pada perempuan itu.
“Makan, Ra.”
Aira mengangguk, menerima piring berisikan nasi goreng yang diberikan Zidan padanya. Dia pun mulai menikmati makanan tersebut, tanpa obrolan yang mengalir seperti biasanya. Ya, meskipun Zidan sedikit lebih mencair dari biasanya. Ya, setidaknya itu lebih baik dari sebelumnya.
***
“Jadi, kita baikan nih?” tanya Aira harap-harap cemas, dia menggigit bibirnya menunggu jawaban apa yang akan diberikan Zidan.
“Kita berantem?”
Aira mengangguk, mengiyakan pertanyaan Zidan. Dia berharap, Zidan sudah memaafkannya, dia juga berharap hubungan mereka kembali seperti semestinya. Lancar jaya tanpa ada rasa canggung yang tercipta diantara mereka karena dia tak suka.
Zidan mengangguk saja, dia mengenakan kembali helmnya. Melihat anggukan dari Zidan membuat Aira tersenyum lebar.
“Ya udah, berarti salaman dulu kalau begitu!” ucap Aira sambil mengulurkan tangannya.
Zidan terdiam beberapa saat, menatap uluran tangan Aira. Dan, tanpa pikir panjang dirinya membalas uluran tersebut yang semakin membuat senyum Aira tercetak lebar. Aira menggerak-gerakkan jabatan tangan mereka, seakan meresmikan jika mereka baru saja baikan.
“Alhamdilillah...” ucap syukur Aira, dia senang sekali. “Berarti sekarang Lo mau ke rumah sakit lagi?” tanya Aira yang diangguki Zidan.
“Iya, biar bunda istirahat. Kasihan dia.”
Aira mengangguk-angguk, “Ya udah, hati-hati,ya. Lo juga jangan lupa istirahat.”
“Heeh, ya udah gue cabut.”
Aira mengangguk, jabatan tangan mereka terlepas. Aira sudah masuk ke halaman rumahnya, tinggal menutup pintu gerbangnya saja. Namun, perempuan itu belum juga melakukannya, dia ingin melihat Zidan dulu. Sedangkan, baru saja Zidan menyalakan mesin motornya, lelaki itu kembali menatap Aira yang membuat Aira mengerutkan kening bingung.
“Kenapa?”
“Masuk sana!”
Aira menggeleng, “Nanti, pengen lihat Lo dulu.”
“Ra... masuk!”
Aira mengerucutkan bibirnya, dia mengangguk akhirnya. “Iya, iya.” jawab Aira, dia masuk, segera menutup gerbang pintunya. Namun, ketukan pelan dari gerbang membuatnya kembali berbalik.
Aira membuka celah kecil yang ada di gerbangnya, menatap wajah Zidan yang terlihat tak sepenuhnya.
“Jangan cemburuan, ya, Ra.”
“Hah?”
Belum sempat Aira bertanya maksud dari ucapan Zidan, motor lelaki itu sudah lebih dulu melaju pergi meninggalkan Aira.
Aira yang bingung sedangkan Zidan yang tersenyum lebar sepanjang perjalanan.
Flashback On~
“Makasih, ya, Zi. Sorry, jadi ngerepotin Lo.”
Zidan hanya mengangguk saja mendengar ucapan Jihan. Dia menerima helmnya yang diulurkan Jihan, bersiap pergi namun perempuan itu justru menahannya.
“Eh, Zi. Sorry.”
Zidan mengurungkan niatnya, mengerutkan kening bingung melihat Jihan yang terlihat ragu-ragu berucap padanya.
“Kenapa?”
Jihan bergumam pelan, dia ragu akan menanyakan hal ini pada Zidan. Namun, dia juga tak suka melihat Aira—teman dekatnya bersedih hanya karena berselisih paham dengan Zidan. Jadi, sepertinya dia harus menanyakan ini pada laki-laki itu. Terserah apa Zidan akan marah apa tidak.
“Sorry, ya. Gue bukan bermaksud ikut campur atau apa. Tapi, Lo sama Aira lagi gak akur kan?”
Zidan pikir apa, ternyata itu yang ingin ditanyakan Jihan padanya. Dia menatap datar Jihan, memutar jengah bola matanya. “Urusan Lo, gue sama Aira gak akur? Apa ada hubungannya sama Lo? Enggak kan. Jadi, buat apa ikut campur.”
Benar kan perkiraan Jihan, pasti Zidan bersikap demikian. Menyesal sih rasanya bertanya demikian, namun apa boleh buat. Dia sudah terlanjur kesal karena ucapan Zidan, lebih baik dilanjutkan saja niatnya itu.
Jihan tersenyum datar. ”Iya, emang bukan urusan gue karena gak ada sangkut-pautnya sama gue. Tapi... Aira teman gue dan gue gak suka lihat dia sedih cuma karena lo.” ucap Aira, dia berdecak kesal. “Gue juga tahu kok masalah kalian apa. Jadi, gue cuma mau ngasih saran sama Lo. Mending, Lo gak usah berantem lama sama Aira. Karena apa? Karena harusnya Lo sadar, Aira bersikap demikian itu bukan sekedar karena dia egois atau apapun itu. Dia bersikap kayak gitu karena dia cemburu.”
Zidan terdiam jadinya karena ucapan Jihan, diam-diam hatinya senang jika memang benar Aira cemburu padanya. Bukan kah, cemburu itu tandanya...— Hehe.
Jihan mengerutkan keningnya, dia berdecak pelan. “Pikirin lagi, ya omongan gue ini. Ya udah, makasih sekali lagi. Gue masuk.” ucap Jihan kemudian berbalik pergi meninggalkan Zidan yang kini sudah tersenyum lebar.
Flashback off~
****