“Hm... Ayah pengen sesuatu gitu?”
“Kira-kira, ayah mau makan apa, ya?
“Eh, kita kesini buat beliin ayah itu kan? Ayo!”
”Ayah bakalan suka nih sama ini. Beliin yuk, Zi!”
Zidan hanya bisa tersenyum melihat Aira yang begitu terlihat excited membeli beberapa makanan untuk ayahnya yang sekarang sudah diperbolehkan pulang. Dokter bilang, keadaanya sudah membaik, tinggal menjaga saja agar hal serupa tak terjadi lagi.
Aira mengerutkan keningnya, dia langsung menepuk-nepuk kedua pipi Zidan yang membuat lelaki itu tersadar dan langsung menepis pelan tangan Aira dari pipinya.
“Sakit, Ra.”
“Ya abisnya, ngapain ngelamun segala.” tukas Aira, dia kembali berbalik membelakangi Zidan. Saat ini mereka tengah berada di suatu pusat perbelanjaan. “Jadi, mau beli apa?” tanya Aira, dia menoleh pada Zidan.
Zidan menyeruput minumannya, mengendikan bahunya kemudian berbalik pergi. “Ta—hu,” jawab Zidan acuh kemudian melangkah pergi meninggalkan Aira yang langsung mengerucutkan bibir kesal, namun segera menyusul langkah Zidan.
“Terus, kalau kita gak beli sesuatu buat ayah? Ngapain kesini segala?” tanya Aira, dia menoleh pada Zidan disampingnya.
Zidan tak langsung menjawab, dia justru menunjukkan sebuah kertas memo pada Aira yang seketika mengambilnya. Melihat Aira yang menghentikan langkah karena membaca isi memo tersebut membuat Zidan melakukan hal yang sama.
“... Cake?”
Zidan mengangguk, mengiyakan pertanyaan Aira.
“Jadi, ayah mau cake?”
“Heeh,”
Aira hanya bisa ber'oh'ria saja, dia bingung harus menanggapinya seperti apa. Padahal, cake sama sekali tak pernah terlintas dibenaknya, namun ternyata ayah menginginkan makanan tersebut.
“Ya udah, beli aja di toko langganan gue. Disitu enak-enak tahu, gue sering beli disana. Lo juga tahu kan tokonya?”
Tentu saja Zidan tahu, lelaki itu mengangguk.
“Ya udah, yuk!”
***
“Ayah... Gimana, udah mendingan?”
Aira langsung bersimpuh dihadapan ayah Zidan yang masih duduk di kursi roda, tengah berada di teras depan bersama bunda sambil menikmati indahnya sore ini. Apa yang dilakukan Aira hanya membuat bunda tersenyum simpul, sedangkan Zidan langsung duduk diatas teras rumahnya, dihadapan bundanya yang duduk diatas kursi.
Ayah tersenyum simpul, mengangguk pelan. “Lebih baik dari sebelumnya," jawab ayah yang membuat Aira tersenyum lebar.
“Syukur kalau begitu. Ayah tahu gak sih, Aira tuh khawatir pas tahu ayah di masuk rumah sakit karena sakit jantung ayah. Aira takut, ayah kenapa-napa.”
Percakapan Aira dan Ayah Zidan sudah tak canggung lagi, bahkan terkadang Aira bersikap seperti seorang anak pada ayahnya, pun sebaliknya, begitupun pada bunda. Jadi kalau orang asing melihat, mungkin berpikir bahwa Aira lah anak mereka bukan Zidan.
“Tapi kan sekarang ayah udah baik-baik aja. Jadi, gak perlu khawatir.”
Aira tersenyum, dia mengangguk. Dia sampai lupa, dia kan bawa cake yang diinginkan ayah. Segera, Aira menyambar paperbag berlogo dari salah satu toko kue langganannya, melirik bunda, Zidan dan ayah bergantian.
“Nih, Aira bawain cake pesenan ayah. Pasti ayah suka deh, soalnya ini kan cake dari toko langganan Aira. Enak-enak tahu, yah. Ya udah, biar Aira siapin dulu, ya.”
Baru saja Aira beranjak berniat mengambil piring kecil dan keperluan lainnya untuk menikmati cake ini, namun larangan dari bunda menghentikannya.
“Udah, udah, biar bunda yang siapin. Aira duduk, ya."
Aira mana bisa menolak, dia mengangguk saja. Bunda pergi dan kembali dengan beberapa piring kecil dan sendok kue. Kemudian meletakkan dan memilih ikut duduk lesehan diteras bersama Aira dan Zidan.
Aira tak sabar mencicipinya, dari tampilan cake nya saja sudah menggoda, tak bisa dibayangkan bagaimana rasanya. Sudah jelas enak sih, lezat dan buat ketagihan terutama untuk mereka yang memang suka manis.
“Aira,"
Aira mendongak, tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya menatap Ayah yang memanggilnya.
“Selamat ulangtahun, ya.”
Ces. Aira langsung terdiam seketika, senyuman penuh kesenangan seketika hilang. Raut cerianya tergantikan dengan rasa sedih yang teramat besar.
“Selamat ulangtahun, ya, sayang. Semoga Aira bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Semua do'a-do'a terbaik selalu bunda panjatkan untuk Aira. Maaf, ya , sayang, bunda sama ayah telat ngucapinnya.”
Aira itu perasa, hatinya mudah sekali tersentuh oleh hal-hal sensitif, seperti sekarang ini. Hingga tanpa terasa air matanya jatuh juga, namun dengan cepat dihapus bunda.
Hiks... Hiks... Aira terisak dalam pelukan bunda yang dengan cepat menariknya untuk dipeluk dan ditenangkannya. Akan sedikit sulit menghentikan tangis Aira, apalagi karena hal seperti ini.
“Udah, jangan nangis. Ngapain nangis segala.”
“Aira terharu bunda...”
“Yaudah, tapi jangan nangis dong.”
Aira melepaskan pelukannya perlahan, dia menghapus air matanya yang tak henti-hentinya mengalir. “Aira juga gak mau nangis, tapi air matanya keluar terus bunda...”
Semuanya terkekeh melihat tingkah Aira, begitupun Zidan yang melihatnya.
“Jelek Lo kalau nangis,” ejek Zidan, dia menarik sudut bibirnya.
Ejekan Zidan itu sukses membuat Aira melayangkan pukulan pada lengan lelaki itu. Zidan tak kesakitan, dia hanya terkekeh pelan sambil mencoba menghindar meskipun gagal. Sedangkan, bunda dan ayah justru terkekeh melihat tingkah mereka.
“Bunda... Air matanya keluar terus. Gimana dong?” tanya Aira sambil terkekeh sedang tangannya terus menghapus air matanya.
***
“So sweet banget sih, ayah sama bunda.” puji Aira, dia tersenyum lebar menatap dua orang tua yang saat ini tengah berbincang bersama diteras. Sedangkan dirinya berada di dalam, mengurungkan niat untuk keluar saat melihat mereka. Tak enak rasanya mengganggu dua sejoli itu.
“Biasa aja kali,”
Aira menoleh, mendengus kesal pada Zidan yang baru saja melewatinya. Dia ikut beranjak pergi mengikuti Zidan yang berjalan ke area dapur. Lelaki itu mengambil segelas minuman dingin dari lemari pendingin.
“Sirik, ya?”
Zidan meneguk minumannya, dia meletakkan gelasnya yang masih berisi setengah gelas dari minuman tersebut. Dia menoleh mengerutkan kening. “Sirik kenapa? Gak jelas.” balas Zidan, dia tak berniat pergi dan justru ikut duduk bersama Aira di kursi mini bar.
”Ya, sirik aja gitu. Orangtua Lo bisa se sweet itu, sedangkan anaknya super duper datar. Gak ada tuh sedikitpun perlakuan manisnya. Iyuh.”
“Oh, ya?”
“Iya. Buktinya, setiap gue ulangtahun. Gak pernah mau tuh ada kejutan romantis, semuanya datar, gak ada apa-apanya.”
Zidan tersenyum tipis mendengar ucapan Aira. “Romantis? Siapa Lo sampai-sampai gue harus buat sesuatu yang romantis?” tanya Zidan yang membuat Aira mencebik.
“Dih, gitu ya? Ok! Lagian, sebenarnya gue juga gak berharap lebih sih sama Lo. Gue tahu Lo dan Lo gak mungkin bisa buat sesuatu yang romantis, yang bisa bikin hati cewek tuh jadi deg-degan dibuatnya. Gak bisa lo.” ucap Aira, dia benar-benar meremehkan Zidan namun tak sedikitpun membuat lelaki iu merasakan sakit hati. “Gak kayak Benny.”
“Huh?”
“Iya, Benny. Kenapa? Dia tuh romantis banget, so sweet. Baru kenal, tapi udah buat kejutan yang wow buat ulangtahun gue. Gak kayak lo.”
Zidan terdiam, dia mengerutkan keningnya. Dia jadi penasaran, kejutan seperti apa yang diberikan lelaki itu untuk Aira. “Kejutan apa?” tanya Zidan.
Aira menoleh, tersenyum simpul. “Kepo, ya?” tanya Aira dengan senyum menggoda sambil menaik-turunkan alisnya.
Wajah Zidan berubah datar, dia beranjak dari duduknya namun ditahan Aira.
“Eh... Iya, iya, gue kasih tahu deh.” ucah Aira cepat, dia mencegah Zidah yang hendak pergi. Zidan pun duduk kembali.
“Benny datang ke rumah, dia siapin kejutan di taman belakang rumah gue. Bagus banget kejutannya, gue suka... Banget!” jelas Aira yang seketika membuat Zidan bingung.
“Taman belakang rumah?”
Aira mengangguk, mengiyakan pertanyaan Zidan. “Iya, taman belakang rumah. Dia buat kayak semacam piknik-piknik gitu, gelar alas, bawa makanan, pasang lampu-lampu cantik. Pokoknya keren banget deh.” jelas Aira dengan antusiasnya, entah kenapa dia sangat antusias menceritakan ini pada Zidan. Berbanding terbalik dengan respon yang dia berikan saat itu.
Zidan terdiam, wajahnya benar-benar datar. Dan, keterdiaman lelaki itu membuat Aira mengerutkan kening bingung.
“Kenapa?”
“Gakpapa.”
***
“Benny ngajak gue jalan, jadi rencananya hari ini gue mau jalan sama dia.”
Mereka menghentikan langkahnya, memilih berhenti disalah satu pedagang bubur gerobak yang lumayan ramai pembelinya. Selesai jalan-jalan pagi mengelilingi alun-alun, perut lapar dan rasanya pas untuk menikmati semangkuk bubur sebagai sarapan.
“Bang, dua, ya.” ucap Aira sambil menunjukkan dua jemarinya kemudian mengambil alih duduk lesehan bersama Zidan dan lainnya.
“Jalan kemana?”
“Ada deh. Katanya sih, dia mau traktir gue, ya sebagai hadiah ulangtahun juga katanya.”
Zidan tak suka. Namun, dia bisa apa. Jadi, hanya jawaban singkat yang bisa dia berikan dan ternyata Aira tak puas dibuatnya.
“Oh...”
“Doang?”
“Ya terus?”
Aira mengerucutkan bibirnya, dia menggeleng saja.
***
“Tunggu disini, ya, Benn. Gue ambil tas bentar.”
Benny hanya mengangguk, menjatuhkan bokongnya di kursi depan rumah Aira kemudian mengeluarkan ponselnya. Dia tersenyum puas karena kembali bisa membuat Aira mau pergi bersamanya.
Benny seketika mendongak saat mendengar derap langkah kaki seseorang, dia menatap aneh pada Zidan yang menghampirinya dengan datar.
“Zi,”
“Gak usah sok akrab.” ucap Zidan cepat saat Benny menyapanya dengan senyuman. “Gue cuma mau bilang, jadi cowok yang macho dikit, jangan banci.” sambung Zidan yang membuat Benny beranjak dari duduknya dan menatap bingung Zidan.
“Maksud Lo?”
“Lihat, kalau banci gini. Sok, pura-pura gak tahu.”
“Serius, gue gak ngerti apa yang Lo omongin ini.”
“Gue tanya sama Lo kalau gitu. Maksud Lo apa, ngaku-ngaku kejutan yang ada di taman itu buatan Lo. Itu maksudnya apa?”
Benny yang awalnya bingung, kini terdiam kemudian tersenyum menarik sudut bibirnya. Benny yang awalnya terlihat baik, kini menunjukkan sifat aslinya. Dan, Zidan sudah bisa menebak itu sejak awal bertemu. Heh, laki-laki seperti Benny sudah sering ditemuinya.
Benny mengangguk-angguk, ber'oh'ria. “Oh... Jadi, kejutan itu, Lo yang buat?” tanya Benny yang tak dijawab Zidan. “Gue sih gak tahu, ya. Tapi, Aira yang tiba-tiba beranggapan kalau gue yang buat kejutan itu.”
“Dan, Lo mengiyakan. Banci tahu.”
“Terserah apa kata Lo. Yang jelas, gue gak peduli dan sebenarnya bukan kemauan gue. Cuma, karena Aira beranggapan kayak gitu. Ya, gue bisa apa?” tanya Benny sambil mengendikan bahunya. “Lagian, Lo juga aneh. Buat kejutan, tapi Lo sendiri gak ada.”
“Itu bukan urusan lo.”
“Tapi, kayaknya disini Lo yang banci. Bukan gue.” balas Benny sambil menaikkan sebelah alisnya. “Gue tahu kok, Lo tuh sebenarnya suka kan sama Aira. Cuma, gak berani aja bilangnya.”
“Gue bilang, itu bukan urusan lo.”
Benny tertawa mengejek. “Berarti bener, disini bukan gue yang banci. Tapi, lo.”
Zidan langsung menarik baju Benny, mendekatkan wajahnya yang mengeras karena marah dengan wajah Benny yang dibuat mengejek padanya.
“Kalau suka, ngomong. Kalau gak mau ngomong juga, jangan salahin gue kalau Aira jadi milik gue.”
***