22. Detakan Tak Normal

1632 Kata
“Gue tahu, kita kenal belum lama. Tapi, entah kenapa, gue langsung suka sama lo.” Aira seketika menghentikan suapan makannya, sendok ditangannya bahkan masih berada di udara, belum mendarat ke mulutnya. Dan, sebabnya adalah ucapan yang dilontarkan Benny padanya. Dari ucapannya sih, Aira tahu apa yang akan diucapkan Benny selanjutnya. “Jadi, gue—” Aira membulatnya matanya, dia harus mengentikan ini segera. “Benn, kok perut gue tiba-tiba mules, ya?” tanya Aira cepat, dia meletakkan sendok nya begitu saja kemudian beranjak berdiri. “Gue ke toilet bentar, ya.” ucap Aira kemudian melenggang pergi tanpa mendengar jawaban yang diberikan Benny. Benny hanya bisa diam, menatap kepergian Aira sambil berdecak. Sedangkan, Aira langsung masuk ke toilet. Tak ada orang disini, hanya dirinya seorang. Aira menatap pantulan dirinya didepan cermin, menghela napas kasar kemudian bergegas mengeluarkan ponselnya. Siapa orang yang ditelpon nya saat dirinya merasa gugup dan bingung dengan apa yang harus dirinya dilakukan? “Hallo, Zi.” Tentu Zidan, siapa lagi kalau bukan laki-laki itu. “Kenapa, Ra?” “Zi, gawat. Benny bilang, dia suka sama gue. Dan, gue tahu bau-bau nya dia bakal nembak gue.” ucap Aira cepat, wajahnya benar-benar kebingungan. “Gue harus gimana, Zi?” tanya Aira frustasi, dia bingung. Aira menggigit bibirnya, menunggu jawaban apa yang akan diberikan Zidan. Harapannya sih, jawaban Zidan akan selaras dengan keinginannya, meskipun dia sendiri belum tahu apa yang sebenarnya dia inginkan. “Terus, Lo gimana?” Aira mengerutkan keningnya bingung mendengar pertanyaan yang dilontarkan Zidan. “Gimana, apanya?” tanya Aira bingung, dia tak mengerti. “Lo nya suka, gak?” “Gak tahu,” “Dia orang asing, ya kali Lo langsung suka.” “Lah, tapi kan—" Aira terdiam sejenak, dia berdecak karena tak mengerti dengan dirinya sendiri. “Gak tahu, Ah. Tapi, kan Zi, kalau hati gak bisa diatur, dia mau jatuh hati sama orang asing atau bukan. Kan, gak ada yang tahu.” “Oh... Jadi, maksud Lo adalah Lo juga suka sama cowok itu?” Aira bergumam, dia tak yakin sebenarnya. “Gak tahu, tapi... Mungkin.” jawab Aira akhirnya meskipun tak seratus persen berasal dari hatinya. “Lagian, Benny juga baik kok orangnya.” sambung Aira, ucapannya ini memang benar adanya. “Gue gak mau, Lo salah pilih.” “Tapi—” “Tapi, tapi Mulu. Lo telpon gue buat minta saran. Dan gue kasih saran, Lo malah tapi-tapi Mulu. Ya, udah, terserah lo.” Aira mengerucutkan bibirnya. “Ih... Kok marah sih.” “Lo gak jelas.” “Oh... Berarti, intinya gue jangan terima Benny kalau dia tembak gue, gitu?” Zidan hanya bergumam saja, namun Aira tahu itu jawabannya. Aira tersenyum puas dibuatnya, ternyata jawaban yang diberikan Zidan sesuai seperti keinginannya. Toh, dia juga tak mungkin lah langsung menjalin sebuah hubungan begitu saja dengan orang yang baru dikenalnya akhir-akhir ini. Temenan, oke. Tapi, untuk jadi seorang pacar, sepertinya tidak. Ya, setidaknya untuk saat ini. “Oke deh, makasih Zi...” Aira langsung menutup panggilan begitu saja tanpa mendengar balasan apapun dari Zidan. Dia memasukkan ponselnya kembali ke tas, kemudian menatap pantulan dirinya di cermin. Setelah membenarkan penampilannya, dia kembali menghampiri Benny. Aira tersenyum, duduk kembali dihadapan Benny yang tak mengalihkan sedikitpun atensinya dari Aira. “Sakit perut, tapi gak jadi. Aneh, ya.” “Wajar, gue juga pernah kok.” Aira hanya mengangguk, dia kembali melanjutkan makannya. Dan, sepertinya Benny akan kembali melanjutkan ucapannya yang sempat tertunda karena Aira. “Jadi, Ra. Gue—” “Eh, Benn. Menurut Lo, makannya enak gak sih? Kok lidah gue rasanya kayak ada yang kurang gitu. Tapi, apa ya?” Benny tersenyum kikuk, dia menggeleng pelan. “Gue sih enak-enak aja. Tapi, bukannya ini tempat rekomendasi Lo. Kok, bisa kurang sih menurut Lo?” tanya Benny bingung. Aira tersenyum tipis, terkekeh pelan. “Eh, iya. Tapi, biasanya gue gak pesan ini. Baru pertama kali nyobain.” “Oh... Lo biasanya kesini sama siapa? Keluarga Lo, ya?” tebak Benny yang tentu saja langsung disangga Aira, namun kemudian diangguki dengan cepat. “Eh, iya, deng. Gue sering kesini sama keluarga Zidan. Biasanya, kalau pesan apapun selalu diracik lagi sama ibun. Jadi, rasanya tambah mantap gitu. Bahkan nih, ya. Zidan kadang suka nambah, kadang juga ngambil punya gue padahal itu gue lagi enak-enak nya. Nyebelin banget sih, Zidan!” Aira tak sadar, air wajah Benny sudah berubah kala nama Zidan ada diantara mereka. “Lo ada hubungan apa sama Zidan?” Aira mendongak, dia menaikkan kedua alisnya mendengar pertanyaan Benny. “Maksud gue, kelihatannya Lo sama dia deket banget. Kayak...” “Pacaran?” potong Aira cepat, dia terkekeh dibuatnya. Dia menggeleng pelan, masih dengan kekehan nya. “Enggak kok, gue sama dia gak pacaran. Gue sama Zidan, sahabatan. Emang sih, banyak banget yang ngiranya kita pacaran, padahal...” ucap Aira, dia menggantung ucapannya. “Padahal, enggak.” Aira mengangguk pelan, kemudian menggeleng kembali. “Gitu deh,” jawab Aira akhirnya. “Syukur deh kalau begitu,” Aira hanya tersenyum saja sambil menyipitkan matanya, kembali melanjutkan makannya. Dia tak akan membiarkan Benny mengatakan kalimat yang menjerumus pada hubungan diantara mereka. Tidak. *** “Jadi, gimana?” Aira menoleh, menyuapkan es krim ke mulutnya sambil tersenyum simpul. Dia kembali melanjutkan langkahnya menuju sofa, kemudian duduk disana dengan kedua kaki dilipat diatas sofa. “Gimana apanya nih?” tanya Aira, dia tersenyum menggoda pada Zidan yang langsung memutar jengah bola matanya. “Lo bahkan tahu maksud gue,” jawab Zidan datar. Bola mata Aira menatap keatas, keningnya mengerut sambil mengerucutkan bibirnya. “Sayangnya, gue gak ngerti maksud lo.” balas Aira sambil menatap Zidan. Zidan berdecak, mengibaskan tangannya. “Tahu lah!” balas Zidan, dia berniat pergi namun tangannya ditahan Aira. “Ih... Bentar, bentar.” ucap Aira, dia menarik tangan Zidan dan memaksanya untuk duduk disampingnya. “Cobain deh es krim nya!” Zidan menolak, namun Aira memaksa. Hingga akhirnya Zidan menerima suapan es krim dari perempuan itu. Aira tersenyum, menatap lekat Zidan. “Gimana rasanya?” tanya Aira, dia terkekeh melihat wajah tak enak yang ditunjukkan Zidan. “Gak enak, kayak odol.” “Dih, enak juga. Dasar aneh.” Zidan memincingkan matanya, dia masih mengecap-ngecap rasa di mulutnya. “Mulut Lo aneh, yang begini dibilang enak.” tukas Zidan, dia menggeleng heran. Aira terkekeh, menyuapkan kembali es krim ke mulutnya. “Eh, tapi emang ada dua pendapat sih tentang rasa chocomint ini. Suka sama enggak. Kalau yang suka, kayak gue ini pasti setuju rasanya enak banget. Tapi, kalau emang dasarnya gak suka, mau seenak apapun, tetep aja gak enak rasanya.” “Terus, hubungannya apa sama obrolan kita sebelumnya?” Aira mengendikan bahunya, mengulum bibirnya. “Ya, gitu. Lo mungkin akan suka atau enggak dengan jawaban yang bakal gue kasih nanti. Dan, itu gimana Lo nya.” “Intinya?” Aira terkekeh, dia tahu Zidan tak suka berbasa-basi. Dia memang sengaja, agar Zidan kesal padanya. Menyenangkan melihat Zidan kesal karena godaannya. Aira beranjak dari duduknya dengan cepat, melangkah pergi meninggalkan Zidan yang mengerutkan kening bingung. “Ada deh," “Gak jelas!” *** “Hallo, Zi.” Zidan terkejut melihat keberadaan Meisan di rumahnya, dia terdiam sejenak sebelum kemudian berjalan menghampiri Meisan yang beranjak berdiri dari duduknya. Meisan menunjukkan senyumnya, sedangkan Zidan tidak. “Lo, disini?” tanya Zidan saat dirinya berada di hadapan Meisan. Meisan mengangguk, “Iya, tadi kebetulan aku disuruh Mama buat anterin pesenan dress bunda kamu. Jadi, aku disini deh.” jawab Meisan, dia mengendikan sebelah alisnya. Zidan mengangguk-angguk, ber'oh'ria. “Nah, kebetula Zidan pulang. Ya udah, Mei. Kamu diantar Zidan aja.” Zidan mengerutkan kening bingung dibuatnya, baru datang dan tiba-tiba sudah disuruh untuk mengantarkan Meisan pulang. Lain halnya dengan Meisan yang dengan cepat menggeleng, hendak menolak tawaran bunda Zidan. “Eh, gak usah Tante. Biar aku pesen ojol aja. Lagian, nanti ngerepotin Zidan lagi.” tolak Meisan, dia tersenyum tipis sambil mengangguk. Sebenarnya dalam hati, dia mau-mau saja diantar Zidan, tapi melihat Zidan yang diam sepertinya lelaki itu enggan. “Eh... Gak ngerepotin kok. Udah, gakpapa. Zi, kamu anterin Meisan pulang, ya! Gak baik loh, anak gadis pulang malam, naik ojek online juga. Takut ada apa-apa Tante. Udah, sama Zidan aja.” Zidan mau tak mau mengangguk saja, meskipun dia inginnya menolak. Tapi, apa yang diucapkannya bundanya ada benarnya juga. Lagipula, dia tak punya alasan pasti untuk menolaknya. “Gue antar. Bentar, ambil jaket dulu.” Meisan mengangguk pelan, dia menahan senyumnya. Rasanya senang sekali akan pulang diantar Zidan. Tak berselang lama pun, Zidan kembali dengan jaket yang sudah dikenakannya. Mereka langsung berjalan kearah motor Zidan, sedangkan bunda Zidan hanya berdiri diteras saja. “Tante, makasih ya. Aku pulang dulu.” “Iya, makasih juga ya udah repot-repot antar kesini. Salam buat Mama kamu.” “Iya, tante.” Zidan menyerahkan helm pada Meisan yang langsung diterima perempuan itu. Dia sudah duduk diatas motornya. Meisan sudah mengenakan helmnya, namun telinganya terasa kesakitan karena sesuatu yang entah apa. Zidan bisa melihat Meisan yang meringis lewat spion motornya, sehingga niatnya yang hendak melaju pergi pun dia urungkan. “Kenapa, Lo?” Meisan tersentak, menggeleng cepat. “Gakpapa kok,” “Lo kayak kesakitan gitu.” “Kamu gakpapa, Mei?” “Ini, kayaknya anting aku nyangkut deh di helmnya.” Zidan menghela napas pelan, dia mematikan mesin motornya kemudian beranjak turun yang membuat Meisan pun melakukan hal yang sama. Meisan menatap bingung Zidan dihadapannya yang tiba-tiba menatapnya intens sebelum kemudian tangan lelaki itu terulur menyentuh helm yang dikenakannya. “Bilang dong kalau ada apa-apa tuh, bahaya nih telinga Lo nanti.” Meisan tak berucap apapun, matanya tertuju pada Zidan dihadapannya yang ada dalam jarak yang cukup dekat ini. Detak jantungnya bekerja tak normal, ada sesuatu yang benar-benar membuatnya senang. Tanpa disadari, ada seseorang yang hanya bisa berdiri, diam terpaku di ambang pintu melihat itu semua. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN