23. Zidan bertengkar

1548 Kata
“Sariawan, Ra?” Aira seketika mendongak, menaikkan kedua alisnya bertanya dengan tangan yang masih senantiasa bergerak semestinya, menyuapkan sendok berisi bubur ke mulutnya. “Gimana, maksudnya?” tanya Aira bingung, dia mengambil gelas berisikan teh tawar hangat kemudian menyeruputnya pelan. Zidan mengambil kerupuk, kemudian mengunyahnya. Dia tak langsung menjawab pertanyaan Aira. “Tumben aja Lo gak banyak omong, gue pikir Lo lagi sariawan mungkin.” jawab Zidan akhirnya. “Ya Allah... Ngedo'a in nya jelek banget.” “Hah? Siapa yang do'a in. Gue kan cuma tanya doang.” Aira mencebik, mencomot kerupuk milik Zidan. Entah kenapa, ya, setiap kali dia mengambil makanan milik Zidan, itu rasanya selalu luar biasa enaknya, padahal apa yang dimakan Zidan selalu sama dengan miliknya. Tapi, kenapa bisa berbeda? Entahlah. Tapi, Zidan pun terkadang demikian padanya dan alasannya sama. Aneh, ya. “Gue sehat walafiyat, lahir dan batin.” Zidan tersenyum tipis, dia kembali menikmati bubur ayam nya. “Jadi, gimana ceritanya?” tanya Zidan yang kembali membuat Aira bingung. “Cerita apa lagi coba? Membingungkan.” “Cerita Lo sama cowok itu,” “Cowok mana?” Zidan memutar jengah bola matanya, “Lo tahu maksudnya.” Aira menghentikan kembali suapannya, ini suapan terakhirnya. Dia mengulum senyumnya, kemudian langsung menatap Zidan sambil memakan suapan terakhirnya. “Lo kenapa sih? Kepo banget sama urusan gue sama Benny. Kenapa sahabat? Kenapa Lo kepo banget.” Zidan menunjukkan wajah datarnya, “Semua tentang Lo, itu jadi urusan gue. Dan, itu termasuk dengan siapa aja yang deket sama Lo. Cowok itu jadi urusan gue juga dong.” jawab Zidan yang justru membuat Aira tersenyum lebar, dia tahu pasti Aira berpikiran lain sehingga dengan cepat dia menambahkan. “Lo ingat dong, kalau orangtua Lo nitipin Lo sama gue.” sambung Zidan. Aira langsung mengerucutkan bibirnya, dia menyeruput kembali teh tawar hangatnya itu. “Iya, iya, tahu kok karena orangtua gue. Gak usah diingetin terus kali.” balas Aira. “Kan Lo sendiri yang tanya,” “Heeh!” “Jadi, gimana?” Aira tak lagi menjawab, dia justru beranjak berdiri sambil menatap jam di pergelangan tangannya. “Nanti aja deh ceritanya. Yuk, buruan, ah! Gue gak mau telat lagi.” ucap Aira sambil menyampirkan tasnya. Dia berjalan kearah penjual bubur tersebut, hendak membayar dua porsi bubur yang mereka pesan. “Berapa, pak?” “24.000 neng,” Aira langsung mengeluarkan sejumlah uang untuk membayarnya. “Makasih, ya, pak.” ucap Aira sambil menerima uang kembalian, dia kembali menghampiri Zidan yang ternyata baru selesai. “Yuk, Zi!” Zidan mengangguk, dia beranjak sambil menyampirkan tasnya kemudian berjalan beriringan menuju motornya yang terparkir. Zidan mengenakan helmnya. “Di traktir nih ceritanya?” tanya Zidan, dia tersenyum tipis menatap Aira yang juga tengah mengenakan helm. Aira tersenyum, dia mengangguk. “Makasih kalau gitu,” “Eits, gak gratis. Harus diganti. Nanti makan siang, diganti, ya.” ucap Aira, dia terkekeh pelan melihat Zidan lewat kaca spion. Zidan menyalakan mesin motornya, tersenyum tipis. “Sudah ku duga.” balas Zidan yang membuat Aira terkekeh dibuatnya. Motor yang dikendarai Zidan pun melaju pergi menuju tempat tujuan mereka, yaitu sekolah. *** “Pantas aja Zidan banyak yang suka. Dia bukan cuma menang di tampang sama otak doang, dia olahraga pun dia menang.” Jihan langsung menoleh pada Aira disampingnya yang baru saja memuji Zidan, dia menahan senyumnya sambil mengerutkan keningnya bingung mendengar ucapan Aira yang tiba-tiba itu. “Kenapa, nih?” Aira menoleh, membelalakan matanya kemudian menggeleng cepat. “Enggak, maksud gue tuh. Apa, ya? Pokoknya gitu deh.” jawab Aira bingung, dia kembali mengalihkan atensinya pada permainan futsal yang tengah dilakukan teman-teman kelasnya. Pertandingan antar kelas saja, berhubungan di setiap pelajaran olahraga selalu ada dua sampai tiga kelas yang melakukan kegiatan bersamaan. Sehingga, terjadilah pertandingan ini. “Jadi, maksudnya adalah Lo mengakui kalau Zidan itu banyak kelebihannya? Gitu.” tukas Jihan, dia tersenyum menggoda pada Aira. “Eh, gak gitu juga kali. Dibalik kelebihan Zidan itu, dia banyak minusnya juga kok. Banyak banget malah.” elak Aira. “Masa?” Aira mencebik, memincingkan matanya kesal. “Apaan sih, Lo, Han! Oh... Atau mungkin sebenarnya Lo kali yang suka sama Zidan. Ngaku, Lo!” tuding Aira, dia pintar sekali memutar balik keadaan. Terlihat dari Jihan yang langsung menggeleng keras. “Eh, enggak lah. Gue gak suka kali sama Zidan.” “Bohong... Lo suka, kan! Jujur aja kali!” “Enggak...” “Ngaku!” “Ya Allah...” “Gue tahu kok—” “LO YANG APA-APAAN?!” Seketika, baik Aira maupun Jihan yang tadi tengah berdebat menatap kearah sumber teriakan. Mereka beranjak cepat dari duduknya, terkejut saat melihat langsung keributan. Disana, ada Zidan yang terlihat santai dengan wajah datar dengan Aryo yang merupakan salah satu anak futsal kelas sebelah yang sedang marah-marah pada Zidan. Entah masalahnya apa, mereka tak tahu. Terlalu sibuk saling menuduh, membuat mereka jadi tak tahu alur ceritanya. “Apa sih itu? Kenapa pada ribut coba?” tanya Jihan, dia menatap terkejut saat Zidan mendapat pukulan dari Aryo. Sedangkan, Aira seketika memekik keras saat melihat Aryo memukul Zidan. “Anjir, kurang ajar Lo!” Aira tak bisa memungkiri, pertengkaran terjadi yang entah apa sebabnya dirinya belum tahu. Yang jelas, pukulan demi pukulan mereka berikan. Aryo yang memukul, dibalas pukulan pula oleh Zidan. Dan, anehnya kenapa semua orang hanya diam saja tanpa berniat melerai. “Eh, udah! Zi, udah, Zi! Aryo, udah!” Aira bingung harus melakukan apa, orang-orang hanya diam saja dan justru semakin memperpanas keadaan. Ditambah, kemana juga perginya guru olahraga. Coba saja, ada guru yang melerai, mungkin pertengkaran ini bisa terhindar. “Eh, tolongin dong! Pada diam aja sih!” Aira hendak melerainya, namun Jihan justru menahannya, menarik lengannya. “Han, mereka berantem.” “Gue juga tahu, Ra. Tapi, Lo mau apa? Melerai? Pisahkan mereka?” tanya Jihan, dia menggeleng. “Jangan aneh deh, Ra. Lo belum tentu bisa. Nanti malah Lo yang ikut-ikutan kena. Udah, mending kita panggil satpam atau guru aja. Ayo!” Dan, Aira hanya bisa mengangguk saja saat Jihan menyarankan itu semua. Sebenarnya, apa yang diucapkan Jihan benar adanya. Dia bisa saja ikut menjadi korban dan mendapat pukulan. *** “Gimana, Zi hukumannya? Enak?” Zidan mendongak, menyeka keringatnya dan mengacuhkan pertanyaan yang dilontarkan Aira. Dia memilih menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Aira tersenyum tipis, dia menjatuhkan bokongnya disamping Zidan kemudian menyodorkan botol minumnya. “Nih, minum. Pasti haus, ya.” Zidan menerimanya, meneguk beberapa kali air mineral dari botol minum milik Aira itu. “Lo kenapa sih, Zi pake acara baku hantam segala?” tanya Aira, dia memutar tubuhnya menghadap Zidan kemudian langsung menarik wajah Zidan agar menatapnya. “Lihat, muka Lo jadi bonyok gini.” sambung Aira, dia meringis pelan menyentuh setiap memar di wajah Zidan. “Gue gakpapa, Ra.” jawab Zidan, dia menepis pelan tangan Aira. “Harus diobati nih! Yuk, ke UKS!” ajak Aira, dia menarik Zidan yang benar-benar tak berselera. “Duduk, gue ambil dulu obat merahnya.” ucap Aira, dia meninggalkan Zidan yang sudah menjatuhkan bokongnya di sofa ruang UKS untuk mengambil kotak P3K. “Sini, sini, gue bersihin dulu.” Zidan hanya diam saja saat Aira mengobatinya. Zidan yang punya luka, namun yang meringis kesakitan nya adalah Aira. “Sakit gak, Zi?” tanya Aira, dia mendongak menatap Zidan yang tengah diobatinya. Zidan menggeleng saja. Aira mengerucutkan bibirnya, kembali mengobati luka Zidan. Sedangkan, Zidan kembali menatap intens Aira yang tengah mengobatinya. Sesekali senyum tipis terukir di bibirnya melihat ekspresi yang ditunjukkan Aira. Kesakitan, meringis, mengerutkan kening, segala ekspresi ditunjukkan Aira. “Kenapa?” tanya Aira saat menemukan Zidan yang tengah tersenyum sambil menatapnya intens. Zidan gelagapan, dia ketahuan. Dia mengalihkan atensinya ke sembarang arah, menggeleng. “Gakpapa,” jawab Zidan singkat. Aira mengerutkan keningnya sambil mengerucutkan bibirnya. “Aryo ngapain sih, Zi? Sampai-sampai dia pukul Lo. Kurang ajar banget. Nih, ya, Zi! Gue tadinya mau kasih pelajaran tahu buat Aryo, tapi Jihan larang gue, dia nahan gue. Alhasil, gue belum kasih dia pelajaran deh.” “Pelajaran apa sih, Ra?” Aira mengendikan bahunya, “Apa aja, yang penting gue kasih dia pelajaran. Berani-beraninya, dia pukul Lo. Kan nyebelin!” Zidan terkekeh pelan, sangat pelan. “Oh, iya, Zi. Soal omongan Lo semalam, itu maksudnya apa sih?” tanya Aira bingung, dia mengerutkan keningnya. “Gue, cemburu? Maksudnya?” sambung Aira, dia menggeleng tak mengerti maksud dari ucapan Zidan. “Menurut Lo apa?” Aira menarik tipis kedua sudut bibirnya, dia memutar jengah bola matanya. “Kalau gue tahu, gak mungkin gue tanya kayak gini sama Lo. Aneh deh, Lo!” “Ya udah, Lo pikir-pikir aja apa maksud omongan gue.” “Kenapa gak Lo kasih tahu gue langsung? Simpel kan?” “Gue malas ngomong,” Aira mencebik, menekan keras luka Zidan membuat lelaki itu meringis kesakitan. Aira cepat-cepat minta maaf, menepuk-nepuk pelan luka tersebut. ”Sorry, sorry. Ya, abisnya Lo sih! Ngomong nya sok iye banget. Malas ngomong,” ucap Aira, dia mengucapkan kembali apa yang diucapkan Zidan, tentunya dengan selenehan. “Terus, daritadi itu apa? Bukan ngomong gitu? Aneh.” Zidan kembali terkekeh, “Ya, intinya. Lo cari tahu sendiri aja.” “Males, bodo amat lah. Gue juga, gak peduli-peduli banget sih.” “Ya udah.” Dan, Aira hanya bisa mengerucutkan bibirnya mendengar respon Zidan yang berbanding terbalik dengan rencananya. Huh! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN