24. Karena dilabrak Berakhir Pujian

1683 Kata
“Meng-he-rankan,” Jihan seketika menoleh mendengar ucapan Aira yang tiba-tiba itu, dia mengerutkan kening bingung, tak mengerti dengan ucapan perempuan itu. “Maksud, Lo?” Aira memutar cepat tubuhnya menghadap Jihan, dia menatap lekat Jihan. “Ya, mengherankan, Han. Zidan, tiba-tiba ngomong sama gue, kalau gue jangan sampai cemburu.” ucap Aira yang membuat Jihan terdiam seketika. “Maksudnya apa coba?” tanya Aira. Jihan bergumam, dia menggigit bibirnya sambil menggeleng pelan. “Kenapa coba, dia bisa berpikir kalau gue ini cemburu? Cemburu dalam hal apa?” Aira langsung memincingkan matanya melihat gelagat aneh yang ditunjukkan Jihan. Dia tahu, ada sesuatu yang disembunyikan perempuan itu. Apa ini ada hubungannya dengan cemburu yang dimaksud Zidan? Apa Jihan tahu sebab Zidan mengatakan cemburu padanya? “Lo pasti tahu sesuatu kan? Ngomong, gak, apa!?” Jihan gelagapan, “Enggak, Ra. Gue gak tahu apa-apa kok.” jawab Jihan, dia terus saja menggeleng. “Bohong, nih! Ah, Jihan... Ayo dong, ngomong. Lo pasti tahu sesuatu kan?” paksa Aira, dia sangat yakin dengan tuduhannya ini. “Enggak, kok.” “Tapi—” “Aira!” Perdebatan mereka terhenti saat tiba-tiba seseorang datang sambil memanggil keras nama Aira. Si empunya seketika menoleh, beranjak berdiri sambil mengerutkan kening bingung melihat kemarahan yang ditunjukkan orang tersebut, pun begitu dengan Jihan. Karina, salah satu siswi yang paling terkenal seantero sekolah. Bukan sekedar karena wajahnya yang cantik saja, namun statusnya yang merupakan anggota cheerleader yang cukup banyak peminatnya, serta menjadi kekasih Aryo yang sama terkenalnya, membuat siapa saja pasti tahu perempuan itu. Termasuk mereka. “Kenapa, Rin?” tanya Aira, dia menaikkan sebelah alisnya saat Karina sudah berdiri dihadapannya. Karina memicingkan matanya, menatap tak suka Aira. “Lo jadi cewek, sok cantik banget sih. Lo tuh gak pinter-pinter amat, gak terkenal juga dan cantik Lo tuh masih dibawah standar. Jadi, please, ngaca dong.” Tunggu, kenapa sekarang Karina justru mencaci Aira tanpa sebab yang jelas. Tiba-tiba datang dan berkahir melontarkan cacian. “Sorry, maksudnya apa, ya? Maksud Lo apa ngomong kayak gitu?” Karina menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis. Dia memutar jengah bola matanya. “Otak Lo pas-pasan, jadi gak nyampe kan sama apa yang gue omongin.” “Eh, bentar deh. Lo apa-apaan sih, datang-datang marah sama gue dan ngomong gak jelas, yang bahkan gue yakin, bukan gue doang yang gak ngerti. Dan, Lo terus-terusan hina gue. Maksudnya apa coba?” kesal Aira, dia berdecak dan menatap marah Karina. Jihan hanya bisa diam, dia tak berani ikut campur. Ya, setidaknya sejauh ini lebih baik diam saja. “Gara-gara Lo, cowok gue kena pukul!” Jujurly, Aira memang punya otak yang gak sejenius itu, yang gak selancar itu untuk bisa langsung cepat menangkap maksudnya. Tapi, asli, apa yang diucapkan Karina kali ini benar-benar membingungkan. Kemana arah pembicaraan ini saja Aira tak tahu. Karina berdecak kesal melihat Aira yang kebingungan. “Gara-gara Lo, Aryo dipukul Zidan. Gue gak ngerti deh, apa spesialnya diri Lo, sampai-sampai Zidan kekeh belain Lo yang bukan apa-apa!” “Tunggu dulu! Kenapa sekarang jadi gue yang disalahin? Bahkan gue gak tahu, sebab mereka ribut.” “Ya, itu karena Lo. Makanya, jadi cewek jangan sok deh!” Aira sontak memekik saat Karina tiba-tiba menyiramnya dengan minuman yang dibawa perempuan itu, begitupula dengan Jihan yang ikut menjerit histeris. “Itu pantas buat cewek sok kayak Lo!” ucap Karina sebelum kemudian pergi meninggalkan Aira yang masih ternganga melihat keadaannya kini. Namun, bukan Aira namanya jika hanya diam saja. Aira tak pernah terima dirinya diperlakukan demikian, bahkan tanpa alasan yang jelas. Bukan kesalahannya jika Zidan dan Aryo bertengkar, bahkan dia tak tahu sebabnya apa. Tapi, dirinya yang disalahkan. Jadi, jangan salahkan Aira juga jika dia nekat. “Tunggu!” Karina sontak menghentikan langkahnya, dia berbalik dan menatap tak suka Aira dengan kening mengerut. Sedangkan Aira yang sudah terlanjur kesal sekaligus marah dengan apa yang dilakukan Karina padanya, seketika mengambil botol minum milik Jihan yang ada diatas meja. Sambil berjalan menghampiri Karina, dia membuka tutup botol tersebut. Dan tanpa aba-aba, dia menyiram wajah Karina dengan air dari botol yang dibawanya. Sekali lagi, semua yang melihat itu sontak saja menjerit histeris. Tak sangka, Aira akan seberani ini. Meskipun sebenarnya, Aira memang pemberani. Aira mendongakkan angkuh wajahnya, menatap penuh keangkuhan pada Karina yang ternganga karena wajahnya yang basah ulah Aira. “Itu buat Lo, yang udah berani-beraninya hina gue tanpa alasan.” Aira tersenyum meremehkan, mengangguk-angguk pelan. “Lo bilang, mereka ribut gara-gara gue?” tanya Aira, dia menutup mulutnya tak percaya. “Apa jangan-jangan, mereka ribut karena memperebutkan gue? Oh... Ya ampun.... Ya, wajar sih, gue kan cantik, banyak yang suka. Jadi, gak aneh lagi.” ucap Aira, dia mengendikan bahunya. Karina menggerakkan giginya, menatap kesal Aira yang benar-benar berbicara sangat angkuh dihadapan. Sedangkan, Jihan ternganga, menahan senyumnya, tak percaya Aira bisa melakukan hal seperti ini. Aira memincingkan matanya, bersikap seakan dia baru saja mengingat sesuatu. “Oh, iya, gue cuma mau ingetin Lo kalau gue ini masih keitung pinter lah. Buktinya aja, gue bisa menang lomba pengetahuan antar kelas.” Ya, meskipun berkat bantuan Zidan sih. Tapi, Aira tentu saja hanya mengatakan itu dalam hatinya, tidak dia katakan secara langsung. “Lo, kemana aja?” tanya Aira, dia meremehkan Karina. Karina benar-benar kesal kini pada Aira, apalagi pada senyuman yang ditunjukkan perempuan itu. Telunjuknya sudah menunjuk Aira. “Lo... Berani-beraninya...” kesal Karina, dia benar-benar tak bisa lagi menahan kekesalannya. “Kenapa? Gue, kenapa?” tanya Aira balik, dia semakin menatap angkuh Karina. Belum sempat tangan Karina mendarat di pipi Aira, perempuan bernama Aira itu lebih dulu mencegahnya, menahan tangan Karina sambil menunjukkan wajah yang membuat Karina semakin kesal dibuatnya. Aira memincingkan matanya, “Aduh... Apaan sih? Mau tampar gue?” tanya Aira, dia memutar jengah bola matanya kemudian berdecak. “Oh, ayolah... Masih zaman main tampar-tamparan? Aneh tahu gak sih!” tukas Aira sambil menghempaskan tangan Karina kemudian melenggang pergi dari hadapan perempuan itu. Karina mendengus kesal, menatap sekitar yang diam-diam menertawakannya. Dan, sebabnya adalah Aira. Sedangkan, Aira sendiri berjalan santai, melenggang pergi. Namun, langkah Aira seketika terhenti saat ada Zidan diambang pintu yang menghalanginya. Aira menunjukkan senyum lebarnya, “Zi, tadi—” Belum sempat ucapan Aira selesai, namun Zidan lebih dulu menarik perempuan itu pergi, begitu cepatnya, meninggalkan Jihan yang hanya bisa diam tanpa berbuat apa-apa, apalagi sampai menyusul langkah Aira yang dibawa Zidan. “Ih... Zi, apaan sih! Ngapain tarik-tarik segala sih?” Terus menerus Aira mencoba melepaskan tangannya yang ditarik paksa Zidan, akhirnya lelaki itu melepaskannya juga. Zidan membawa Aira ke area koridor ruang ganti yang jarang sekali orang-orang berkeliaran, kecuali memang diharuskan berganti pakaian. “Sakit tahu, Zi.” tukas Aira, dia mencebikkan bibirnya sambil mengusap pelan pergelangan tangannya. Harapannya sih Zidan akan minta maaf sambil mengusap lembut tangan Aira, pokoknya adegan manis yang sering Aira lihat di film-film anak muda. Tapi, Aira salah. Zidan tak semanis itu orangnya. “Lo ngapain sih pake acara ribut segala kayak tadi?” Tuh, kan. “Lo pikir oke ribut disekolah?” Iyuh. Aira rasanya ingin mencaci Zidan, menunjuk-nunjuk wajah lelaki itu karena ucapannya yang benar-benar berbalik dengan apa yang baru saja Zidan lakukan sebelumnya. Aira berdecak pinggang, menatap sinis Zidan. “Lo pikir, Lo juga oke tadi ribut di lapangan? Gue masih mending di kelas, dilihat beberapa anak doang. Lah, Lo? Oke gak tuh?” tanya Aira, dia mendengus kesal. “Ra, tapi—” “Gue ribut juga gara-gara Lo kali!” “Gue?” “Iya, Lo!” jawab Aira keras, dia menunjuk Zidan di pundak lelaki itu. “Gara-gara Lo yang pukul Aryo, buat Karina marah. Dan ujung-ujungnya, gue yang disalahin. Mana tadi gue dihina-hina lah, dibilang gak cantik, gak pinter. Ya, gue kesel lah!” tukas Aira kesal, dia mengerucutnya bibirnya. Zidan diam saja membuat Aira semakin kesal. “Lo juga kenapa sih bisa sampe ribut sama dia? Karina bilang gara-gara gue. Jadi, kita ribut karena kita-kita juga, gitu?” Zidan tak menjawab. “Zi, jawab dong!” Aira mendengus. “Ih, Zidan...” “Aryo ngajak gue taruhan!” Aira terdiam seketika, dia mengerutkan keningnya tak mengerti maksud ucapan Zidan. “Aryo ngajak taruhan sama gue. Kalau kelas kita kalah tadi, dia mau Lo nemenin dia semalaman. Maksudnya apa coba? Pikir, gimana gue gak marah?” Aira terdiam, dia paham sekarang. Dia menatap Zidan yang menahan amarahnya, terlihat dari urat-urat yang tercetak di lengan dan lehernya. Padahal Zidan hanya menceritakan saja, tapi amarahnya seperti ini. Wajar jika Zidan sampai berkelahi di lapangan tadi. “Kok jahat banget sih. Ih, awas aja tuh, gue kasih pelajaran tuh anak!” Raut wajah marah Zidan perlahan hilang, digantikan wajah sendu. Namun, itu tak berlangsung lama karena dia enggan menunjukkan itu. “Gue kan udah kasih dia pelajaran.” Aira mendongak, masih dengan bibir yang mencebik dan wajah sedihnya. “Makasih, Zi...” ucap Aira, dia mengerjap-ngerjapkan matanya. “Tapi, Zi, gue benar-benar kesal sama Karina. Masa dia bilang gue gak cantik, gak pinter, nyebelin banget coba!” kesal Aira, dia melayangkan kepalan tangannya ke udara. “Ya, meskipun benar sih. Tapi, kan gak usah di omongin juga gitu!” tambah Aira. Aira melihat seragamnya yang basah, lagi-lagi dia mendengus kesal. “Sumpah, nyebelin banget sih tuh orang. Gue harus ganti seragam deh jadinya.” “Sejak kapan Lo gak pede?” Aira mendongak, dia mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan yang dilontarkan Zidan. “Maksudnya?” tanya Aira bingung. “Omongan Karina, Lo iyakan. Jadi, sejak kapan Lo gak pede?” Aira terdiam, dia nampak berpikir. “Sejak kapan?” tanya Aira yang diangguki Zidan. “Ya, gak tahu sejak kapan. Tapi kan emang bener gue gak cantik, gak pinter, Lo aja gak pernah puji gue cantik, pinter. Mana ada.” Zidan tak berucap apapun. Sedangkan Aira sibuk melihat seragamnya yang basah. Aira harus berganti pakaian sekarang. “Udah, ah, bodo amat. Gue mau ganti seragam. Sana, pergi Lo!” usir Aira, dia mengibas-ngibaskan tangannya, meminta Zidan untuk pergi. Baru saja tangan Aira menyentuh kenop pintu, ucapan Zidan menghentikannya. “Lo tuh cantik, Ra. Pinter juga.” Dan, entah kenapa pujian singkat tanpa ekspresi yang ditunjukkan Zidan sangat berarti baginya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN