“Yakin, seratus persen. Ibun pasti khawatir lihat muka bonyok Lo ini.”
Aira tak henti-hentinya berbicara demikian sambil terus menerus menyentuh beberapa memar diwajah Zidan. Sedangkan, lelaki itu terus menerus menepis tangan Aira yang sedikit mengganggu untuknya.
“Gakpapa,”
Aira mengangguk, menegakkan kembali tubuhnya. “Iya, gakpapa. Toh, udah terjadi ini kan.” jawab Aira yang tak direspon apapun oleh Zidan.
Aira menyampirkan tasnya, “Ya udah, ah. Gue mau langsung masuk ke rumah aja. Gue gak mampir, ya, Zi.” ucap Aira sambil menunjukkan wajah sedihnya, seakan menyayangkan jika dirinya tak bisa langsung datang ke rumah Zidan.
“Bodo amat,” jawab Zidan kemudian melajukan motornya masuk ke pekarangan rumahnya, meninggalkan Aira yang mencebik kesal meskipun diakhiri dengan kekehan.
Aira masuk ke rumahnya. Sepi, itulah yang biasa terjadi. Aira tak mau ambil pusing, lebih baik sekarang dia membersihkan diri dan berganti pakaian, lalu cepat-cepat datang ke rumah Zidan untuk melakukan berbagai hal seperti biasanya.
Hanya butuh 30 menit untuk Aira menyelesaikan mandinya, dia berjalan kearah jendela kamarnya dengan tangan yang masih mencoba
mengeringkan rambut basahnya menggunakan handuk. Dia harus cepat, dia ingin pergi ke rumah Zidan segera.
Namun, netra nya seketika terfokus pada satu hal. Dua orang disana yang benar-benar mencuri perhatiannya, membuat senyuman lebar yang tercetak dibibir nya pudar seketika.
“Meisan pernah punya tempat khusus dihati Zidan. Apa sebenarnya sekarang Zidan masih punya rasa yang sama sama Meisan?”
***
“Ini kamu kenapa?”
Zidan hanya bisa diam saat Bundanya terus menerus menelisik setiap jengkal wajahnya, menatap setiap luka yang tercipta disana karena pertengkarannya bersama Aryo di sekolah tadi.
Dia hanya menggeleng sebagai jawaban.
“Gak mungkin gak kenapa-napa, tapi muka kamu kayak gini Zidan.” tukas Bunda, dua yakin terjadi sesuatu dengan putranya. “Kamu berantem kan? Ngaku sama bunda.”
“Aku gakpapa, bun.”
“Bunda gak suka, ya kamu berantem. Bunda gak suka anak bunda ini kenapa-napa.”
“Nanti juga sembuh,”
“Tapi, kan—”
“Permisi,”
Semuanya menoleh seketika ke sumber suara, dimana ada Meisan yang berdiri diambang pintu masih dengan seragam yang dikenakannya.
Meisan menunjukkan senyumnya yang tentu saja dibalas senyuman pula oleh Bunda Zidan yang sudah menghampiri perempuan itu. Lain halnya dengan Zidan yang justru memutar bola matanya.
“Hallo, Tante. Maaf, ya aku kesini gak ngabarin. Ini soalnya aku disuruh Mama anterin kue. Mama baru aja bikin kue, rencananya mau di masukin ke list menu di toko. Tapi, pengen Tante dulu yang cobain katanya, tester.”
Fyi, Mama Meisan tuh mempunyai butik dan toko kue.
Bunda Zidan terharu dibuatnya, “Ya ampun... Baik banget sih. Makasih loh udah dijadiin yang pertama nyobain menu barunya.”
Sepertinya obrolan itu hanya urusan perempuan saja, sehingga lebih baik Zidan pergi sekarang.
Baru saja Zidan berbalik hendak pergi ke kamarnya, suara bundanya kembali mengurungkan niatnya itu.
“Zi, kamu mau kemana? Udah, temenin dulu Meisan. Bunda mau siapin dulu sajian.”
“Tapi, bun—”
“Zi...”
Zidan menghela napas kasar, dengan malas dia berjalan menghampiri Meisan. Sedangkan, Bunda langsung berjalan pergi meninggalkan mereka. Zidan membawa Meisan ke teras depan, duduk di kursi depan.
Pada dasarnya Zidan memang tak suka bicara, dia malas sekali bicara orangnya. Dan mungkin hanya dengan Aira dia bisa berbeda, dia bisa memulai obrolan, dia bisa banyak bicara. Ya, meskipun banyak menurutnya belum tentu banyak menurut Aira. Ah, mengingat Aira membuat Zidan tersenyum dibuatnya.
“Kamu kenapa, Dan? Muka kamu?”
Zidan tersentak saat Meisan tiba-tiba menyentuh wajahnya, sontak dia terkejut dibuatnya. Ditambah saat matanya justru tanpa sengaja menemukan Aira yang ternyata melihat apa yang terjadi di rumahnya.
Bersamaan dengan Zidan menepis tangan Meisan dari wajahnya, gorden kamar Aira ditutup oleh pemiliknya.
***
“Tumben gak ke rumah,”
Aira menoleh mendengar Zidan yang baru saja datang dan berucap demikian. “Gakpapa," jawab Aira singkat kemudian melanjutkan kegiatannya yaitu membuat mie pedas Korea dari salah satu merek yang cukup terkenal. Mie instan pedas Korea.
Zidan terdiam sejenak, dia duduk di kursi bar. Terus memperhatikan apa yang tengah dilakukan Aira.
Aira sebenarnya masih merasa bagaimana, apalagi saat dia tahu matanya tadi saling bertatapan dengan Zidan sebelumnya. Namun, dia harus bersikap biasa saja. Karena kalau terlihat berbeda, Zidan akan berpikir lain lagi nantinya.
“Mau, gak Zi? Biar gue bikinin sekalian.” tawar Aira, dia menatap sekilas Zidan dan kembali fokus pada mie yang tengah direbusnya. Memastikan, jika tekstur mie tersebut sesuai keinginannya.
“Enggak,”
“Serius nih?”
“Heem.”
Aira mengendikan bahunya, “Awas, ya kalau minta punya gue.” ucap Aira, dia tahu betul pasti Zidan akan mencomot miliknya. Selalu seperti itu, ditawari tidak mau dan berakhir justru ikut menikmati apa yang dimiliki Aira. Kebiasaan.
“Gak akan.”
Aira segera mematikan kompor, kemudian membuang air bekas rebusan mie tersebut dan hanya menyisakan sedikit. Lalu, bumbu cair dari mie tersebut dimasukkan dan dicampurkan. Setelah selesai, dia menyajikan mie tersebut dalam mangkuk, ditambah beberapa topping seperti telur rebus dan potongan sosis.
“Nikmat banget sih ini kelihatannya,” puji Aira, dia meletakkan mangkuk tersebut dan duduk. Tak lupa, segelas jus jeruk tersimpan disamping mangkuk tersebut. Kalau-kalau dia kepedasan, dia bisa langsung minum.
“Jangan minta, ya, Zi.” ucap Aira sebelum akhirnya suapan pertama mendarat di mulutnya.
Zidan diam saja, namun matanya tak henti-hentinya menatap Aira yang tengah menikmati mie pedas tersebut. Terlihat pedas memang, namun kenikmatannya jauh lebih terlihat. Apalagi cara makan Aira yang membuat siapa saja pasti meneguk ludahnya sendiri akibat ngiler dibuatnya.
“Gak pedes, Ra?”
Aira mendongak, dia menyeka keringat yang muncul diujung hidungnya setiap kali dirinya makan makanan pedas. “Gak terlalu sih, tapi biasanya selalu diakhir pedesnya.” jawab Aira, dia menyuapkan kembali mie tersebut. Menikmatinya sambil menautkan kedua tangannya.
“Sini, gue minta.”
Tuh kan, Aira juga bilang apa. Zidan pasti mau ujungnya.
Hanya sekali suapan, bola mata Zidan sudah membulat sempurna, bibirnya pun langsung berubah warna menjadi merah. Bahkan, Zidan sampai tersendak saking pedasnya makanan itu.
Zidan buru-buru mengambil minum Aira, meneguk hingga tandas minuman yang tinggal setengah itu. “Ah, pedes banget gila!” umpah Zidan, dia masih kepedesan.
Aira terkekeh melihat Zidan yang kepedesan, apalagi sampai mengeluarkan air matanya. Padahal Zidan hanya makan sesuap saja. Tapi, apa mau dikata? Toh, dasarnya memang Zidan tak kuat makan pedas. Jadi, sesuap makan pedas untuk Zidan akan sama seperti seporsi makan pedas untuk Aira.
Aira beranjak, mengambil toples berisikan kerupuk dan meletakkannya dihadapan Zidan. “Tuh makan, lumayan lah.” ucap Aira yang tentu saja dilakukan Zidan.
Aira yang menikmati mie pedasnya, sedang Zidan yang mencoba menikmati kerupuk untuk menghilangkan rasa pedasnya.
“Bukan makanan manusia tuh,” ucap Zidan saat rasa pedas tersebut perlahan menghilang.
Aira mencebik, “Lo nya aja yang gak bisa makan pedes. Makanya, jangan coba-coba deh.”
“Lah, masih mending coba-coba. Lo tadi malah mau tawarin buatin gue mie pedas juga. Gila lo.”
Aira menggeleng, dia mengambil kerupuk dan memakannya. “Dih, enggak lah. Gue juga tahu kali kalo Lo tuh gak bisa makan pedes. Jadi, nantinya gue bikinin yang biasa, bukan yang pedes. Tapi kan Lo nya gak mau. Ya, udah.”
Zidan tak berkata apapun lagi, dia hanya menatap Aira saja yang tengah menikmati makanannya itu sambil kepedesan.
“Udahlah, Ra. Nanti Lo sakit perut lagi.”
“Gak akan, lambung gue udah biasa kali.”
“Itu pedes tahu,”
“Lah, emang. Lagian siapa juga yang bilang ini gak pedes? Lo aja udah nyobain dan pedes kan.”
Zidan menghela napas kasar, dia memilih menikmati kerupuknya.
Aira mencuri-curi pandang pada Zidan disampingnya, dia makan perlahan mie tersebut. Otaknya masih ingat betul dengan apa yang baru dilihatnya beberapa saat yang lalu. Sesuatu yang membuatnya mengurungkan niat untuk pergi ke rumah Zidan dan berkahir memasak mie pedas.
Huh! Mengingatnya membuat Aira kesal sendiri.
Dan, helaan napas kasar dari Aira sontak membuat Zidan menatapnya bingung.
“Kenapa?”
Aira cepat-cepat menggeleng. “Enggak, kok. Lo ngapain sih kesini? Bukannya lagi ada tamu juga.”
“Tamu siapa?”
“Meisan lah, gue lihat dia ada di rumah Lo tuh.”
Zidan beranjak, dia berniat mengambil gelas. “Mau ketemu bunda, ngasih kue dari nyokapnya. Katanya sih, menu baru dan pengen bunda yang coba pertama kali” jelas Zidan tanpa diminta.
Aira terdiam, mendengar itu semua membuatnya jadi yakin memang keluarga Zidan dan Meisan itu teramat dekat. Terbukti, baru kemarin dia melihat Meisan datang dengan dress pesanan Bunda dan sekarang datang kembali dengan kue. Rasanya, kedekatan mereka itu lebih sekali.
Zidan meneguk minumnya, dia menatap Aira yang tak merespon ucapannya.
“Yang tadi tuh, gue gak tahu tiba-tiba dia pegang muka gue gitu aja. Lo gak usah salah paham.”
“Maksud, Lo?”
Zidan mengendikan bahunya, dia beranjak kembali ke tempatnya. “Tadi, Lo lihat gue sama Meisan. Gue juga kaget tiba-tiba dia lakuin itu. Jadi, gue harap, Lo gak salah paham.”
Ingin rasanya Aira menjawab jika dirinya sudah terlanjur salah paham, hati dan pikirannya terus saja dipenuhi dengan segala pertanyaan mengenai perasaan Zidan pada Meisan sebenarnya. Tapi, dia tak bisa mengatakan itu semua.
Dan, justru yang ditunjukkannya adalah tawa hambar. “Dih, ngapain salah paham. Lagian, terserah Lo juga lah. Bukan urusan gue Lo mau deket sama siapapun, termasuk Meisan. Apalagi gue tahu kalau Meisan itu...” Aira terdiam sejenak, dia berat mengatakannya. “...cinta pertama lo.”
Dan, Zidan tak tahu harus berkata apa mendengar ucapan Aira. Karena pada dasarnya, memang bukan urusan Aira dirinya dekat dengan siapapun. Atau mungkin, memang Aira tak peduli karena tak ada perasaan lebih yang membuatnya harus peduli? Ah, mungkin hanya Zidan nya saja yang beranggapan lebih seakan dirinya beranggapan jika Aira punya perasaan lebih padanya.
Mengenaskan.