“Zidan... Itu roti gue! Ngapain Lo makan sih? Lo kan udah punya jatah sendiri!”
Aira benar-benar kesal jika Zidan sudah mengambil jatah makanannya, meskipun makanan itu dari rumah Zidan juga. Tapi kan bunda sudah menyiapkan makanan itu untuknya— untuk mereka dengan jatah yang sama. Tapi, Zidan sering sekali menghabiskan jatah makanan Aira. Kan, kesal jadinya.
“Udah, jangan banyak omong. Lanjutin tuh nulis, bentar lagi masuk.” ucap Zidan sambil mengendikan dagunya pada apa yang tengah dilakukan Aira sebelumnya—menyalin jawaban dari buku tugas milik Zidan.
Lupa, itulah yang terjadi pada Aira. Sebenarnya, Zidan juga sama lupanya seperti Aira. Tapi, berhubung Zidan punya otak yang cerdas, sehingga lelaki itu bisa menyelesaikan tugas itu dengan begitu saja, dengan gampangnya. Lain halnya dengan Aira, otaknya memang cerdas—cerdas mengambil hati Zidan agar dirinya diizinkan menyalin beberapa jawaban milik lelaki itu.
“Zi, ini gimana sih maksudnya? Kenapa Lo bisa dapat segini, sedangkan gue segini.”
Aira benar-benar bingung, kenapa selalu seperti ini. Jawaban yang dia dapatkan selalu berbeda dengan jawaban yang Zidan berikan. Padahal cara yang mereka gunakan itu sama, tapi kenapa jawaban akhirnya selalu berbeda?
“Sini, mana coba lihat.”
Aira menunjukkan cara kerjanya hingga bisa mendapatkan hasil demikian, dia menatap Zidan yang tengah serius memeriksanya.
“Coba sini gue lihat punya lo,” ucap Aira, dia sok pintar sekali ingin memeriksa hasil kerjaan Zidan padahal dirinya sudah sering menyalin jawaban milik lelaki itu.
“Ini caranya udah benar kok,”
“Oh, Zi... Lo salah di sini, nih. Ini kan seharusnya 64, bukan 16. Benar, gak sih?”
Zidan memeriksa pekerjaannya dan ternyata memang benar, disini dirinya lah yang melakukan kesalahan. “Iya, Lo benar. Berarti jawaban yang benar tuh punya lo, gue salah nih.” ucap Zidan, dia membenarkan ucapan Aira.
Aira sontak tersenyum lebar dibuatnya, tak sangka saja dirinya bisa benar ternyata. “Ya ampun... ternyata gue masih bisa benar juga, ya.” ucap Aira tak percaya, dia terkekeh.
Zidan hanya tersenyum tipis saja, mengganti jawabannya yang salah dengan jawaban yang benar. “Untung Lo teliti, Ra.”
Aira mengangguk, membenarkan ucapan Zidan. “Gak nyangka, ya, Zi. Lo bisa dapat jawaban yang salah, sedangkan gue bisa dapat jawaban yang benar. Padahal kan biasanya Lo benar terus tuh.” ucap Aira, dia benar-benar tak sangka.
“Ya, bisa lah, Ra. Ya kali gue benar terus.”
“Bangga, gak Zi sama gue?”
Zidan mendongak, menatap lekat Aira yang terus tersenyum padanya. Dia mengangguk, mengiyakan pertanyaan Aira.
Aira terkekeh, dia menutup wajahnya. Entah kenapa, dia justru malu dibuatnya kalau mengingat dirinya benar kali ini sedangkan Zidan salah. “Aduh... Lo udah mulai salah nih, gue jadi gak percaya diri deh kalau lihat jawaban lo.” canda Aira, dia menahan senyumnya.
Zidan menarik sudut bibirnya, menggeleng heran mendengar ucapan Aira yang demikian. “Aneh, Lo! Ya, emang seharusnya lo gak percaya gitu aja sama jawaban orang lain. Lo, seharusnya lebih percaya diri lagi sama diri lo.”
Aira mengulum senyumnya mendengar ucapan Zidan, dia tak sangka Zidan akan berkata demikian. Dia pikir, Zidan akan marah karena diremehkannya, tapi ternyata tidak. Ya, meskipun sebenarnya Zidan tak mungkin marah pada Aira. Eh, kecuali karena waktu itu, ya!
Aira hanya mengangguk saja, dia kembali melanjutkan apa yang tengah dikerjakannya. Tinggal 10 menit lagi sebelum jam pertama di mulai, jadi dia harus cepat-cepat sekarang.
***
“Eh, bagus gak, Ra?”
Aira mendongak, tersenyum lebar sambil menunjukkan kedua jempol tangannya melihat penampilan Jihan yang berbeda dari biasanya. Jihan yang biasanya tak menggunakan poni, kini menghiasi jidatnya dengan poni tipis. Jihan bilang sih, ala mbak-mbak Korea gitu, katanya.
“Ih, gue gak pede Ra jadinya.”
“Ah, jangan gitu, Han. Lo harus percaya diri lah sama diri lo.” ucap Aira, dia jadi ingat ucapan Zidan padanya tadi di kelas.
“Iya sih, tapi gue takutnya kelihatan jelek.”
Aira menggeleng, tidak membenarkan ucapan Jihan. “Enggak, sumpah. Poni itu cocok kok sama Lo, muka Lo jadi lebih kelihatan imut-imut lagi.” ucap Aira, dia beranjak dan menghampiri Jihan yang berdiri di depan cermin di ruang ganti.
Jihan terkekeh, dia mencebik pelan. “Ah, Lo bilang begini karena didepan gue aja kali.” ucap Jihan, dia tak percaya sepenuhnya pada Aira.
“Ya Allah... enggak lah, gue gak bohong kok. Udah, ah. Yuk balik ke kelas, bentar lagi masuk nih.”
Jihan mengangguk, membiarkan jidatnya dihiasi poni yang sudah dia bentuk sedemikian rupa. Seperti kata Aira, dia harus percaya diri. Toh, sebenarnya memang bagus kok kelihatannya.
Aira melangkah lebih dulu, dia meraih kenop pintu. Dan, saat pintu terbuka, seseorang yang ada dihadapannya membuat dirinya terdiam seketika. Jihan yang tak tahu apa-apa mengerutkan kening bingung melihat diamnya Aira.
“Ra, kenapa?”
“Meisan, Lo disini?”
***
Zidan melangkahkan kakinya menyusuri koridor, berniat pergi ke ruang olahraga untuk bertemu dengan teman-teman ekstrakulikuler nya yang saat ini tengah menunggu untuk berkumpul dan membahas tentang turnamen yang sebentar lagi akan digelar.
Wajahnya memang datar, namun auranya sangatlah bersinar. Jadi, tak ayal jika semua mata tertuju padanya. Namun, dia tak ambil pusing, toh itu sudah biasa.
“Zidan,”
Zidan yang sempat terfokus pada ponselnya seketika mendongak dan raut terkejut tak bisa dia hindarkan saat melihat keberadaan Meisan dihadapannya. Lain halnya dengan Meisan yang justru tersenyum lebar.
“Mei, Lo ngapain di sekolah gue?” tanya Zidan bingung. Pasalnya untuk apa perempuan itu datang kesini seorang diri tanpa ada teman-teman sekolahnya yang lain yang bisa saja membuat dia beranggapan lain.
Meisan tersenyum lebar, “Aku pindah kesini.”
“Hah?”
Meisan mengangguk, “Iya, aku pindah kesini.”
Zidan bingung harus merespon bagaimana, terlalu terkejut dan tak sangka jika Meisan pindah ke sekolahnya. Meskipun sebenarnya, bisa-bisa saja.
Zidan mengangguk pelan, menatap datar Meisan. “Oh.” jawab Zidan singkat, dia berniat pergi. “Ya udah, gue cabut dulu, ya Mei.” ucap Zidan, dia bersiap pergi namun Meisan mencegahnya.
“Hm... Zi, bisa gak kamu anterin aku ke ruang guru? Aku mau ada keperluan gitu. Tapi, aku lupa lagi ruang gurunya dimana.”
“Oh, Lo mau ke ruang guru? Tinggal lurus, terus belok aja. Gampang banget kan?”
Meisan meringis pelan, dia inginnya diantar, bukan hanya sekedar diberitahu saja. Dia menunjukkan senyum kikuknya. “Hm, tapi Zi—”
“Ya, kalau gak tahu kan Lo bisa nanya Mei. Gue buru-buru. Duluan, ya."
Tanpa mendengar balasan dari Meisan, Zidan melangkah pergi meninggalkan Meisan yang mencebikkan bibirnya kesal karena penolakan yang diberikan Zidan padanya.
***
“Kenapa?”
Aira memincingkan matanya menatap Zidan yang kebingungan. Mungkin bingung melihat Aira yang sejak tadi terang-terangan menatapnya. Padahal posisinya mereka sedang makan, namun Aira tak hentinya menatap Zidan. Terlebih, sejak tadi perempuan itu belum mengeluarkan suaranya.
“Lo tahu kan kalau Meisan pindah ke sekolah kita.”
“Lo nanya?”
Aira mencebik, “Gue gak nanya, gue nebak. Dan, gue yakin kalau tebakan gue ini benar. Iya kan?” tuding Aira, dia yakin seratus persen dengan tebakannya jika Zidan memang tahu kalau Meisan pindah ke sekolah mereka.
“Kenapa, emangnya?”
Aira mendengus, kenapa Zidan justru terus-terusan bertanya. “Ya, harusnya Lo kasih tahu gue dong. Masa Meisan pindah ke sekolah kita, gue gak tahu. Aduh...” tukas Aira, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Zidan terkekeh mendengar ucapan Aira, menggeleng heran karena itu semua. “Emang Lo yang punya sekolah jadi kalau ada anak baru harus tahu? Gitu?”tukas Zidan, dia kembali melanjutkan makannya.
“Ya, gak gitu juga maksud gue. Tapi, ini Meisan loh? Masa, gue gak tahu kalau dia pindah ke sekolah kita.”
“Ya, terus kalau Meisan emang kenapa? Lo ada problem sama dia? Enggak kan? Orang Lo baru ketemu beberapa kali doang juga.”
Aira mengerucutkan bibirnya. Kenapa juga Zidan memberikannya pertanyaan yang sulit sekali dia jawab. Meksipun sebenarnya dia punya jawabannya. Tapi, kan tak mungkin dia mengatakan jawaban aslinya. Bisa besar kepala Zidan kalau tahu ternyata alasannya adalah dia khawatir dengan perasaan Zidan.
Iya. Aira khawatir kalau-kalau tebakannya tentang Zidan yang masih menyimpan rasa pada Meisan, memang benar adanya. Terlebih sekarang Meisan di sekolah mereka. Tak menutup kemungkinan, Zidan kembali pada Meisan.
“Kenapa? Punya problem Lo sama dia?”
Aira menatap kesal Zidan, dia menggeleng. “Enggak, kok. Udah, ah, gak usah dibahas. Gak penting juga.”
“Lah, Lo yang duluan bahas juga.”
“Ya udah, iya, stop.”
Zidan mengendikan bahunya. “Ya udah.”
***