“Hai Bang... Udah lama nih baru ketemu lagi Abang.”
Aira tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya, menghampiri Kevin yang tengah menyiapkan minuman pesanan customer, yaitu coffee carramel. Rasanya Aira senang sekali, diajak datang ke cafe Zidan yang sudah lama tidak dikunjunginya. Sebenarnya bisa saja dia datang kesini kapanpun, tapi rasanya lebih enak aja jika diajak langsung oleh pemiliknya.
Kevin tersenyum menatap Aira, “Kemana aja nih? Dari kemarin gak kelihatan batang hidungnya.” ucap Kevin, dia beranjak mengambil cup berlogo cafe ini, kemudian menuangkan minuman yang sudah dia racik sebelumnya.
Aira menjatuhkan bokongnya di kursi bar, masih dengan atensinya yang memperhatikan segala gerak gerik Kevin. Ada kenikmatan tersendiri saat melihat Kevin meracik beberapa minuman itu.
“Ada aja kok, bang. Cuma, ya, gitu, sok sibuk gue.” jawab Aira sambil terkekeh yang mendapat kekehan serta gelengan dari Kevin.
“Ada-ada aja lo. Oh, iya, Zidan nya mana? Atau, lo sendiri ke sini?”
Belum sempat Aira menjawab, Zidan sudah lebih dulu menghampiri mereka dengan wajah datar seperti biasanya. Kevin dan Aira saling tatap, saling tertawa pelan yang membuat Zidan menatap mereka bergantian dengan wajah bingung nya.
“Kenapa?”
Aira terkekeh, menahan senyumnya. “Enggak kok, gakpapa kita. Ya, gak bang?” tanya Aira sambil menatap Kevin yang diangguki lelaki itu.
Zidan tak pernah ambil pusing, dia memilih mengendikan bahunya kemudian melenggang pergi meninggalkan Aira dan Kevin menuju ruangannya berada. Sedangkan, Aira hanya menatap kepergian Zidan saja.
“Mau dibikinin apa, Ra?”
Aira menoleh pada Kevin, tersenyum pada lelaki itu yang ternyata memergokinya yang tengah menatap Zidan. “Hm... Pengennya sih yang kopi-kopi gitu, tapi berhubung nanti malam masih pengen tidur. Jadi, gue memutuskan untuk minum Matcha Frappe aja.” jawab Aira sambil terkekeh pelan.
Kevin mengangguk-angguk, dia menekan lonceng kecil diatas mejanya yang menandakan bahwa pesanan sudah selesai dibuatkan, ditambah dia akan menyebutkan nama atas pesanan tersebut. Jadi, nantinya pelanggan tinggal mengambil saja.
“Bentar, ya, Ra.”
Aira menunjukkan dua jempolnya, mengangguk-angguk. “Siap, bang. Santai aja.”
Aira lebih memilih berkutat dengan ponselnya, melihat dan membaca beberapa komentar dari video terkahir yang di upload. Banyak yang memberikan komentar positif pada setiap postingannya, tak ayal jika senyum lebar selalu tercetak dibibir nya setiap kali membaca komentar dari orang-orang yang dia sebut sebagai LopAra.
“Ra,”
Aira kembali mendongak, menatap Zidan yang menghampirinya. Seragam lelaki itu sudah terganti dengan kaos polos yang dilapisi apron yang stylish. Jujur nih, ya. Aira selalu dibuat takjub dengan Zidan setiap kali lelaki itu berpenampilan seperti sekarang. Jeans dan kaos polos, lalu apron yang stylish, ditambah Zidan punya wajah yang mendukung penampilannya. Jadi, tolong jangan salahkan Aira yang selalu terpesona pada Zidan.
Zidan mengerutkan keningnya melihat diamnya Aira, ”Kenapa, Lo?" tanya Zidan yang menyadarkan Aira dari segala pemikirannya.
Aira berdehem, menggeleng pelan sambil mengusap sudut alisnya sebagai pelarian, sambil otaknya berpikir alasan apa yang akan dia berikan. Lagian, kenapa juga Aira tak bisa mengontrol dirinya, setidaknya jangan sampai ketahuan kalau dia itu mengagumi Zidan gitu.
“Enggak, gue—"
“Terpesona, Zi. Aira tuh terpesona sama lo.”
Aira langsung menatap kesal pada Kevin yang terkekeh menatap Aira. Kevin meletakkan minuman pesanan Aira dihadapan perempuan itu.
Aira cepat-cepat menggeleng, “Ih, apaan sih? Mana ada gue terpesona sama Zidan. Jangan ngaco deh, bang!” tukas Aira kesal, dia kesal karena ketahuan.
Kevin terkekeh, dia yakin jika Aira memang terpesona pada Zidan, pun sebaliknya dengan Zidan. Dan, dia sangat yakin jika sebenarnya keduanya menyimpan rasa lebih dari sekedar sahabat semata. Tapi, dua-duanya terlalu gengsi untuk mengakuinya. Dia yakin itu.
“Masa?”
“Ih, nyebelin banget deh.”
“Udah-udah, apaan sih ribut segala?” tukas Zidan, wajahnya berubah masam. Dia menatap bergantian Aira dan Kevin. “Ra, Lo mau pulang sendiri apa disini aja?” tanya Zidan.
Aira mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Zidan. “Loh, maksudnya?” tanya Aira tak paham, memangnya kenapa sampai-sampai dia harus pulang sendiri.
Kevin memilih pergi, dia memberikan waktu agar mereka berdua, meskipun tak benar-benar berdua karena ada beberapa pengunjung disini. Lagi, ada customer juga. Jadi, lebih baik dia melayani pesanan saja.
“Gue disini mau agak lamaan, mungkin sampai malam kayak waktu itu. Takutnya Lo lama nunggu, mending pulang duluan aja.”
Aira mengerucutkan bibirnya, dia menatap Zidan. “Gak dianterin?" tanya Aira, dia menggeleng pelan.
“Lo mau dianterin?”
“Pengennya gitu,"
Zidan terdiam, dia melirik jam di pergelangan tangannya. Sebenarnya cukup memakan waktu untuk mengantar Aira pulang terlebih dahulu, dia masih banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Tapi, salahnya juga yang justru mengajak Aira kesini. Lagipula, memang seharusnya dia mengantar perempuan itu pulang, bukan justru membiarkannya pulang sendiri.
“Pulang selepas magrib, mau?”
Aira mengangguk, bukan masalah baginya jika harus menunggu satu setengah jam. Itu pasti cepat berlalu. “Boleh,"
Zidan mengangguk-angguk. “Ya udah, habis magrib gue antar Lo pulang.”
Aira tersenyum lebar. “Oke." jawab Aira kemudian menyesap minumannya.
***
Menunggu satu setengah jam ternyata membosankan juga. Apalagi, dia tak melakukan apa-apa. Hanya diam, ya meskipun sesekali memeriksa ponselnya lalu menatap orang-orang yang bergantian keluar masuk atau mereka yang memilih menikmati sajian di tempatnya. Bosan sih rasanya.
Sebenarnya dia bisa saja langsung pulang sekarang, pesan ojek online, sampai di rumah, bersih-bersih dan merebahkan tubuh di kasur yang empuk. Uh... Rasanya pasti enak sekali.
Tapi, apa boleh buat? Dia inginnya pulang bersama Zidan.
Ting!
Bunyi lonceng yang menandakan ada yang masuk membuat Aira mendongak seketika, dia terkejut menatap siapa yang datang. Meskipun sebenarnya bukan sesuatu yang aneh jika Benny datang ke cafe. Tapi, ini cafe Zidan loh. Kebetulan sekali rasanya.
“Aira, Lo disini? Sama siapa?”
Aira mengangguk, “Iya, ini kan cafe Zidan. Gue disini sama Zidan. Tuh, orangnya!” ucap Aira, dia menunjuk Zidan yang berada tak jauh darinya tengah membicarakan sesuatu dengan Kevin yang entah apa.
Benny ternganga, mengangguk-angguk pelan. “Kebetulan banget, ya kita ketemu.”
“Lo sendiri aja kesini?”
Benny mengangguk, “Iya, sendiri. Lagian, sama siapa lagi. Niatnya sih gue mau ajak Lo pergi, tapi gue takutnya Lo sibuk lagi.”
Aira terkekeh pelan, dia menggeleng. “Enggak lah, emangnya gue sibuk apaan? Ngaco lo.”
Benny tersenyum, dia menatap kursi kosong disamping Aira. “Gue duduk disini, ya, Ra?”
“Eh, iya, duduk aja kali. Kosong kok.”
Benny mengedarkan pandangannya ke semua penjuru cafe kecil ini, dia mengangguk-angguk pelan. Hal tersebut tak lepas dari perhatian Aira, perempuan itu mengerutkan keningnya bingung melihat apa yang dilakukan Benny.
“Kenapa?”
Benny menatap Aira, tersenyum. “Enggak,” jawab Benny sambil menggeleng. “Cuma gue speechless aja. Zidan ternyata oke juga, bisa punya cafe disaat dia masih sekolah. Tapi, ini beneran punya dia?” tanya Benny memastikan yang tentu saja diangguki dengan yakin oleh Aira.
Aira mengangguk, membenarkan pertanyaan Benny. Dia sudah tak asing dengan reaksi orang-orang, terutama teman-teman sekolahnya dan Zidan. Semuanya takjub dengan Zidan. Sudah dibilang bukan, jika Zidan itu menang di otak, tampang, segala bidang dan sekarang lelaki itu merintis usaha yang jarang terpikir para remaja sekolah di zaman sekarang. Jadi, tak ayal jika semua perempuan mengharapkan laki-laki seperti Zidan karena Zidan itu sempurna, itu menurut Aira.
“Iya, Zidan itu hebat banget. Bahkan nih, ya, Zidan tuh punya pemikiran buat buka bisnis itu sejak dia masih SMP. Dia benar-benar pengen banget punya bisnis sendiri, dia pengen buka lapangan pekerjaan. Pokoknya, niatnya tuh bagus banget! Dan, gue yakin siapapun yang tahu ceritanya gimana, bakalan tambah suka sama Zidan." jelas Aira, dia menceritakan itu semua dengan semangatnya. Selalu seperti ini, excited dengan menceritakan sesuatu tentang Zidan yang luar biasa.
Benny tersenyum kikuk mendengar penjelasan Aira, tak sangka saja dengan ucapan Aira yang sangat bersemangat sekali.
“He-bat, ya?”
“Iya, Zidan tuh emang hebat banget! Gue benar-benar kagum sama cowok yang modelan Zidan ini. Dia tuh bukan cuma menang di tampang doang, tapi semuanya. Sampai-sampai gue rasa, Zidan tuh terlalu sempurna gitu. Dan, saking sempurnanya, buat gue berpikir kalau cewek yang jadi pasangan dia juga harus sempurna.”
Dan, gue masih belum sempurna. Batin Aira.
Benny mengerutkan keningnya melihat ekspresi Aira yang berubah, apalagi saat mengatakan kalimat terakhirnya.
“Lo kenapa sedih?”
Aira membulatkan matanya, dia tersenyum kikuk. Lagi dan lagi, dia tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Harusnya dia sadar, jangan sampai memberikan hint apapun yang bisa membuat orang-orang berpikir lain tentang dirinya pada Zidan. Harusnya, dia bersikap biasa saja.
“Enggak, kok. Siapa juga yang sedih? Gue happy tahu...”
“Tapi—”
“Ra, salat terus siap-siap kita pulang.”
Baik Benny ataupun Aira speechless dengan apa yang baru saja terjadi. Bukan masalah dengan apa yang diucapkan Zidan, namun dengan apa yang dilakukan Zidan. Pasalnya, setelah mengucapkan itu Zidan langsung melenggang pergi.
Aira terkekeh pelan, menatap Benny yang masih juga terdiam. ”Sorry, ya, Benn. Zidan emang gitu, aneh."
***