28. Pujian untuk Tetangga

1376 Kata
“Ngobrolin apa aja sama dia?” Zidan sebenarnya enggan bertanya, namun dia cukup penasaran dengan topik pembicaraan antara Aira dan Benny. Jadi, jalan satu-satunya adalah dia bertanya. Akan berpikir apa Aira nantinya, itu urusan nanti. Bisa dia atur alasan apa yang akan dia berikan. Aira mengulum senyumnya, dia paling senang jika Zidan kepo dengan urusannya bersama laki-laki lain. Kesannya, Zidan tengah menginterogasi pacarnya yang baru saja mengobrol dengan laki-laki lain. Jadi, kesannya Aira itu pacarnya Zidan. Iya, kesannya doang. Bukan kenyatannya. “Dia, siapa sih Zi? Gue gak ngerti deh kalau Lo nanya, terus gak nyebutin namanya. Gue bingung jadinya. Nanti, salah paham lagi.” ucap Aira sambil terkekeh. Dia menatap Zidan dari samping, lelaki itu tengah fokus mengendarai motor menuju rumah. Zidan memutar bola matanya, melirik Aira lewat kaca spion. “Lo tahu maksud gue, Ra.” Aira berdehem, mengangguk-angguk. “Iya, gue tahu. Tapi, gue aneh deh sama Lo, Zi. Kenapa Lo tuh gak pernah mau sebut nama Benny. Cowok itu namanya tuh Benny, Zi. Benny...” ucap Aira, dia sengaja menyebut terus menerus nama Benny. Niatnya sih agar Zidan kesal. Tapi, serius deh, dia penasaran kenapa Zidan enggan menyebutkan nama Benny. “Bodo amat, gue gak peduli namanya. Jadi, pertanyaan gue simpel aja. Apa yang kalian obrolin? Udah, itu aja. Dan, Lo tinggal jawab.” Aira mengerucutkan bibirnya, “Dasar!” tukas Aira, dia semakin mengeratkan tangannya pada jaket yang dikenakan Zidan. Angin malam, lumayan juga ternyata. “Jadi?” Zidan ini tak menyerah ternyata orangnya. Masih saja terus bertanya hingga jawaban diterimanya. “Gue ngobrolin cowok yang benar-benar buat gue kagum,” Zidan terdiam, dia mengerutkan keningnya tak suka mendengar itu semua. Laki-laki yang membuat Aira kagum? Siapa? Tanya batin Zidan. Aira tersenyum, “Gue cerita sama dia, kalau gue tuh terpesona, kagum dan speechless sama cowok yang bisa punya pemikiran gak biasa dari cowok-cowok lain seumurannya. Mana tuh cowok pinter, ganteng, pokoknya dia tuh manusia perfect versi gue.” jelas Aira, dia mengulum senyumnya. Menyenangkan sekali melihat wajah penasaran Zidan lewat kaca spion motor. “Tipe-tipe cowok idaman cewek-cewek deh." sambung Aira, dia menahan tawanya. “Siapa?” Akhirnya, Zidan mengeluarkan pertanyaan itu juga. Itu yang Aira tunggu sejak tadi. “Kasih tahu, gak, ya...?” “Malesin," Bersamaan dengan itu pula, motor yang dikendarai Zidan berhenti di depan rumah Aira. Dengan cepat, Aira turun dari motor lelaki itu, melepas helm dan menyerahkannya pada Zidan yang masih menunjukkan wajah datarnya. “Taro di Lo dulu aja," titah Zidan saat Aira menyerahkan helm padanya. Aira mengangguk saja, dia menenteng helm tersebut. “Ya udah, makasih ya udah dianterin. Lo mau ke cafe lagi atau pulang dulu?” tanya Aira, pasalnya rumah lelaki itu tepat disampingnya. “Cafe lagi gue,” “Oh... Ya udah, hati-hati ya. Yang benar bawa motor tuh, jangan ngebut.” Zidan berdehem saja. “Ya udah, sana Lo masuk.” Aira mengangguk, dia mendorong gerbang rumahnya kemudian masuk. Dan, saat dirasa Aira sudah masuk, Zidan mulai menyalakan kembali mesin motornya. Namun, saat Zidan hendak melajukan motornya, Aira yang nongol dari celah kecil di gerbang rumah perempuan itu mengurungkan niat Zidan. “Ngapain, Ra?” Aira tersenyum lebar, menggeleng. “Itu, gue mau kasih tahu kalau cowok yang gue maksud tadi tuh. Dia Zidan namanya, tetangga gue.” ucap Aira yang semakin memperlebar senyumnya. Sedangkan Zidan justru terdiam, mencerna ucapan yang dilontarkan perempuan itu. “Ya udah lah, Lo lagi gak tokcer otaknya. Bye... Hati-hati, ya. Gue masuk, Zi." Dan, bersamaan dengan tertutupnya celah kecil yang digunakan Aira untuk bicara padanya, saat itu juga Zidan tersenyum dibuatnya saat tahu maksudnya. “Dasar," gumam Zidan sambil tersenyum lebar, dia menggeleng-gelengkan kembali heran karena tingkah Aira. Tak lama kemudian, motornya pun melaju pergi menuju tempat tujuannya kembali. *** ”Gak bisa tidur...” Aira terus saja mengeluh, membolak-balik tubuhnya, matanya juga terus saja terjaga. Padahal jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, namun rasa kantuk belum juga menghampirinya. “Oke, gue mending ngedit aja sekarang.” Aira beranjak duduk, terdiam beberapa saat kemudian beranjak mengambil laptop miliknya yang ada diatas meja belajarnya. Dia membawa laptop tersebut ke ranjangnya, menyiapkan posisi yang tepat agar kegiatan mengeditnya ini berjalan sempurna tanpa menyebabkan pegal-pegal ditubuhnya. Satu jam berlalu, Aira selesai dengan satu video ‘What I eat in a day’. Dia tersenyum lebar, menunggu video tersebut selesai dalam proses penyimpanan. Dia merenggangkan tangannya, terutama jemari tangan yang sejak tadi dia gunakan. “Bermanfaat banget sih gabut gue," puji Aira pada diri sendiri. Dia tersenyum lebar kemudian meletakkan laptop disampingnya. Dia beralih pada ponsel sekarang. Beberapa notifikasi masuk dan seperti biasa notifikasi dari salah satu guru Biologi masuk di grup chat yang sengaja dibuat. Guru Biologi ini memang memerintahkan setiap kelas yang diajarinya untuk membuat grup, kemudian guru tersebut akan menjadi member grup tersebut. Tujuannya bukan hanya sekedar sebagai tempat berbagi informasi pelajaran yang bersangkutan, namun sebagai tempat dimana guru itu bisa tahu apakah muridnya ada yang bangun malam. Entah maksudnya apa, tapi rumor yang beredar adalah guru tersebut memastikan, muridnya yang bangun malam ini melaksanakan salat malam. Bagaimana caranya? Yaitu, dengan mengirim pesan. Dan, jika ada yang menjawab itu artinya anak tersebut bangun malam. Katanya sih, bisa dapat nilai tambahan. Aneh atau menarik? Ada gak sih guru kalian yang seperti guru Biologi Aira ini? Aira tersentak seketika saat ada panggilan masuk ke ponselnya, dia langsung mengangkat panggilan video yang berasal dari Zidan ternyata. “Ada apa sahabat? Ngagetin gue aja malam-malam telpon." “Lo belum tidur?” Aduh... Pertanyaan Zidan ini klasik banget. Untuk apa bertanya demikian sedang Zidan tahu jika Aira masih terjaga sekarang. Lagipula, jika Aira sudah tidur, dia tak akan mengangkat panggilan dari lelaki itu. Aira memejamkan matanya, menjatuhkan tubuhnya seketika. “Ini, Aira lagi tidur.” ucap Aira masih dengan mata terpejam. “Apaan sih, Ra! Gak jelas banget.” Aira membuka matanya, tersenyum menatap Zidan yang menatapnya kesal. “Ya abisnya, ngapain tanya gitu segala." tukas Aira, dia memperhatikan Zidan yang tengah berkutat dengan sesuatu. “Lo lagi ngapain itu?" tanya Aira. Zidan tak langsung menjawab, dia justru memutar kamera menjadi kamera depan, menunjukkan sesuatu yang tengah dikerjakan lelaki itu. “Itu ngapain, Zi?” “ Balancing keuangan cafe.” Aira ber'oh'ria, ternyata Zidan berkerja sampai larut malam juga. “Jadi, makin tambah kagum deh sama tetangga gue ini. Jam segini masih aja kerja, padahal besok sekolah.” puji Aira, dia menunjukkan senyum lebarnya. Jangan berharap jika Zidan akan tersipu atau senyum lebar karena bangga sudah dipuji Aira. Jangan berharap demikian karena akan percuma. Zidan itu tak pernah bereaksi apa-apa jika dipuji Aira dan Aira hapal betul dengan itu semua. “Lo kok belum tidur sih jam segini?” “Gue gak bisa tidur, mata gue segar mulu. Padahal gue tadi gak minum kopi loh di cafe, gue cuma minum matcha doang. Tapi, mata gue segar terus. Alhasil karena gue bosen dan bingung mau ngapain malam-malam, gue ngerjain ini deh.” Aira menunjuk laptopnya sambil tersenyum lebar didepan kamera. Zidan memperhatikannya dan hanya tersenyum tipis saja. “Udah selesai?” Aira mengangguk, “Udah, baru aja selesai. Tinggal upload deh buat besok malam.” “Ya udah, tidur gih sekarang. Istirahat, besok Lo sekolah.” “Dih... Ngomong kayak gak ngaca gitu, ya, Zi? Terus, Lo apa kabar? Tidur sana, besok Lo juga sekolah kali.” “Ini gue mau tidur, udah selesai.” “Serius mau tidur?” “Hm,” “Tapi, gue belum ngantuk.” “Paksain. Ya udah, gue tutup, ya.” Aira mengerucutkan bibirnya, berharap Zidan mengurungkan niatnya untuk mengakhiri panggilan video bersamanya. Namun, ternyata tidak. Zidan tetap saja mematikan panggilan tersebut. “Ih, Zidan mah. Orang gue belum ngantuk juga. Ajak ngobrol kek, telponan sampai pagi kek, atau seenggaknya telpon nya jangan dimatiin. Kan romantis.” tukas Aira, dia mendengus pelan dan menepuk keningnya sendiri. “Lupa gue, Zidan kan anti romantic.” Aira menyimpan kembali laptop ke tempatnya setelah semua selesai dikerjakannya, dia juga sudah merebahkan kembali tubuhnya di ranjang. Lampu tidur pun dimatikannya, membuat kamarnya kini gelap gulita. Baru saja matanya terpejam, notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Sebenarnya dia ingin mengabaikan itu semua, namun entah kenapa dia justru meraih ponselnya diatas nakas, hendak membaca pesan yang masuk tersebut. “Bangga banget sama Lo, gunain waktu luang buat sesuatu yang bermanfaat.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN