29. Jangan Salah Paham

1351 Kata
“Kenapa kita selalu telat? Apa kita ditakdirkan buat telat terus? Tapi, kenapa harus kita?” Zidan memutar jengah bola matanya mendengar ucapan Aira, dia hanya menggeleng pelan dan tak berniat sedikitpun untuk menanggapinya. Lebih baik diam dan melakukan hukuman dengan semestinya, biarlah Aira banyak bicara. Aira mendengus pelan, dia melirik Zidan disampingnya. Mereka tengah dihukum karena kesalahan yang sama, yaitu telat. Entah kenapa, mereka ini hobi sekali telat. Ya, meskipun sebenarnya Aira sih sebab utamanya. Tapi, kan tetap saja Zidan juga yang terbawa. ”Zi, berapa menit lagi sih ini kita dihukum? Perasaan udah lama banget deh. Gue haus, lapar, lemes. Gue—” “Diam, Ra! Bentar lagi juga.” Aira mengerucutkan bibirnya, matanya memincing karena silau, menatap bendera yang tengah berkibar. Cuaca yang cerah, matahari benar-benar bersinar begitu terangnya, ditambah langit yang bersih tanpa ada awan disana. Benar-benar sekali cuaca pagi ini. ”Gue gerah, Zi...” “Tambah gerah, kalau Lo banyak omong.” Aira kembali mendengus mendengar ucapan Zidan. Meskipun apa yang diucapkan lelaki itu benar adanya, tapi kan setidaknya jangan berkata demikian lah padanya. Beruntung saja, Aira tak baperan orangnya. *Masa? Dan, Aira memilih diam seperti apa yang diucapkan Zidan. Senyum Aira pun perlahan tercetak saat melihat satu-persatu murid yang keluar dari kelas mereka. Dan, tepat saat pemberitahuan jika jam istirahat dimulai, saat itu juga Aira bergegas pergi meninggalkan Zidan yang hanya bisa menggeleng melihat tingkah Aira. Aira berlari menuju kantin, dia segera mengambil sebotol minuman dingin dari lemari pendingin, membukanya kemudian meneguk seperempat dari isinya. Ah... rasanya, menyegarkan sekali saat air yang mempunyai rasa, lalu dingin itu mengalir di tenggorokan Aira yang terasa kering. Bagai menemukan air di padang tandus. “Bayar dulu kali," Aira menoleh, tersenyum kikuk menatap Jihan yang berdiri disampingnya. “Gue haus banget, makanya langsung minum. Tapi, tenang aja kok. Gue tetap bayar kok, nih gue langsung bayar.” ucap Aira, dia segera mengeluarkan uang untuk membayar minumannya. Jihan tersenyum saja, “Makan, yuk! Gue bawa bekal nih. Tapi, kebanyakan deh kalau makan sendiri. Lo bantuin, ya." ucap Jihan yang tentu saja diangguki Aira. “Ih, mau lah. Apalagi gratis." Mereka memilih duduk disalah satu kursi kosong. Jihan membuka bekal yang dibawanya, sedangkan Aira hanya diam memperhatikan dan langsung tersenyum lebar saat melihat menu apa yang dibawa Jihan. “Ih, enak banget kelihatannya. Lucu juga lagi nih. Jadi sayang kalau dimakan." Jihan mengangguk, membenarkan ucapan Aira. Sayang sekali rasanya makan makanan yang punya bentuk indah dan cantik itu, rasanya ingin disimpan saja. Tapi, sayang juga kalau tidak makan. “Foto dulu, ya, Ra.” ”Harus lah!” Setelah mengambil beberapa gambar dari bekal yang dibawa Jihan, mereka pun mulai menikmati makanan tersebut sambil ditemani obrolan. “Tahu gak sih, Ra?" tanya Jihan, Aira hanya menaikkan kedua alisnya sedang mulutnya sibuk mengunyah makanan. “Cewek yang kemarin papasan sama kita di ruang ganti, itu dia langsung popular banget. Bahkan, gosip-gosip nya dia jadi incarannya Raka." Aira terdiam sejenak. Meisan adalah perempuan yang dimaksud Jihan. Tak salah sih jika Meisan bisa langsung seterkenal dan jadi topik pembicaraan, wajah perempuan itu memang benar-benar menawan, bikin orang langsung suka sejak jumpa pertama. Tapi, tidak dengan Aira. Ya, pasti tahu lah alasannya. Dan, sekarang Meisan jadi incaran Raka? Uh, Raka. Laki-laki yang pernah Aira suka. Laki-laki yang paling dipujanya, paling dibangga-banggakannya yang justru sekarang berbanding terbalik. Dia bahkan sudah hilang rasa pada laki-laki itu. Jadi, kayaknya memang benar. Apa-apa tuh harus sesuai porsinya saja, jangan berlebihan. Tak baik jadinya. Aira hanya ber'oh'ria saja, dia mengangguk-angguk pelan. Sebenarnya bukan urusannya Meisan mau jadi incaran Raka atau bukan. Toh, jika nantinya Meisan menjadi kekasih Raka, itu akan menguntungkannya. Ya, setidaknya orang yang pernah ada di hati Zidan jadi sudah ada yang punya. “Tapi, sih katanya dia udah suka sama yang lain. Cuma, belum tahu sih siapa yang dia suka. Dan, katanya juga sebab dia pindah kesini juga karena orang yang dia suka. Gitu katanya.” Fix, Aira bisa menebak siapa. “Kira-kira, siapa ya cowok yang dia suka sampai-sampai dia rela pindah sekolah cuma demi cowok itu.” tukas Jihan, dia penasaran juga jadinya. Dia menoleh pada Aira. “Menurut Lo siapa, Ra?” tanya Jihan. Aira menggeleng, dia mengendikan bahunya. “Mana gue tahu, bukan urusan gue." Jihan meringis pelan. “Tapi, kok feeling gue mengatakan kalau Zidan, ya cowok yang cewek itu suka.” Aira menoleh, mengerutkan keningnya mendengar penuturan Jihan. “Kenapa Lo bisa pikir gitu, Han?” tanya Aira, dia penasaran alasan apa yang membuat Jihan sampai berpikir demikian. Jihan menggeleng pelan, “Gak ada alasan khusus sih. Cuma, Lo ingat gak, Ra?” tanya Jihan yang membuat Aira menaikkan sebelah alisnya. “Pas kita lihat cewek itu tiba-tiba nyamperin Zidan dan entah apa yang mereka omongin. Dari situ gue berpikir kalau emang Zidan, cowok yang cewek itu suka. Siapa sih nama ceweknya? Gue lupa.” Aira tahu maksud Jihan. Kemarin, mereka sempat melihat Meisan yang tiba-tiba menghampiri Zidan. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas setelahnya Zidan meninggalkan Meisan. “Meisan namanya,” “Lo kenal dia?” Aira menggeleng, dia tak kenal Meisan. Hanya sekedar tahu saja. “Ya, semoga aja, ya kalau bukan Zidan cowok yang disuka sama Meisan itu.” Aira mengerutkan keningnya, “Lah, emang kenapa? Lo... cemburu?” tanya Aira, dia tak sangka Jihan akan berkata demikian. Jihan tersenyum lebar dan senyuman itu justru membuat Aira jadi salah paham. “Bukan gue yang cemburu. Tapi, lo.” “Dih, apaan sih Lo!” *** Saking asyik dan menikmatinya Aira, dia sampai lupa dengan Zidan. Padahal niatnya tadi untuk segera ke kantin itu bukan sekedar membeli minuman untuk dirinya sendiri, tapi untuk Zidan pula. Toh, laki-laki itu juga dihukum gara-garanya. Jadi, sebotol air minum rasanya cukup sebagai permintaan maaf sekaligus ucapan terimakasih karena Zidan selalu ada bersamanya. Senyum Aira terus saja tercetak lebar sambil matanya menatap botol minuman ditangannya. Langkah kakinya melangkah menuju tempat dimana Zidan berada dan biasanya lelaki itu berada di tangga dekat lorong dan berkumpul dengan teman-temannya yang lain. Namun, senyum Aira seketika pudar saat melihat sesuatu didepan matanya. Helaan napas kasar pun keluar dari mulutnya. Dia menatap naas minuman ditangannya, tersenyum miris kemudian memilih berbalik kembali dan mengurungkan niatnya menemui Zidan. Sepertinya, Aira lebih baik pergi sekarang. Daripada tetap diam dan melihat itu semua yang tanpa sadar menyakitinya. Namun, saat baru hendak pergi. Panggilan yang menyerukan namanya membuat niatnya kembali urung. Perlahan, dia memutar kembali tubuhnya dan tersenyum kikuk pada mereka yang menghampirinya. “Ra, ada apa?” Aira bingung harus menjawab bagaimana, jadi dia hanya menggeleng saja. “Ya udah, Zi. Aku balik lagi ke lapangan, ya. Soalnya kelas aku masih belum selesai. Oh, iya, makasih ya udah diterima minuman dari aku. Ya udah, aku pergi, ya.” Aira hanya menatap kepergian perempuan itu dengan kesal. Pergi begitu saja tanpa mempedulikan Aira disini, seakan dirinya ini tak terlihat saja. Meisan, orang yang bersama Zidan itu adalah perempuan itu. Perempuan yang sama yang lagi-lagi terus menemui Zidan. “Ra, tadi Lo salah paham.” Aira seketika menatap Zidan. Wajahnya yang masam berubah seketika menjadi biasa-biasa saja. Dia tak mau, Zidan salah paham. “Salah paham apa sih?” “Gue pikir, minuman itu dari Lo. Makanya, gue terima. Dan, ternyata dari Meisan.” Aira tertawa sumbang, kenapa Zidan harus beralasan seperti demikian. Dia mengalihkan sejenak atensinya dan kembali menatap Zidan yang menatapnya cemas. Aira menggeleng pelan, tersenyum paksa. “Lo gak usah kasih alasan kali. Gue tahu kok, gak kayak gitu. Lagian, bukan masalah bagi gue kalau Lo dekat sama cewek manapun.” “Tapi, Ra. Gue gak alasan, gue—” “Gue ini cuma sahabat Lo, Zi. Gue gak punya hak khusus buat larang Lo dekat sama siapapun. Itu hak lo.” Aira rasanya ingin menampar mulutnya yang baru saja berucap namun berbanding terbalik dengan kenyataan yang selama ini dirasanya. Dan, diamnya Zidan menjadi hal baik untuk dia pergi sekarang. “Ya udah, gue cabut duluan, ah. Lo sana, dekat sama cewek yang Lo suka!” Dan, tanpa mendengar balasan apapun lagi. Aira segera beranjak pergi, meninggalkan Zidan yang masih terdiam dengan tatapan miris tertuju pada minuman yang dibawanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN