30. Saling Bertanya-tanya

1603 Kata
“Lo kenapa, Ra?” Aira tersentak saat tiba-tiba Benny menyentuh tangannya, dengan cepat dia menarik tangannya yang membuat Benny terkejut dibuatnya. Aira mengerjap-ngerjapkan matanya, menghela napas kasar. “Sorry, Benn.” ucap Aira pelan, dia tersenyum kikuk. Benny terdiam, tak sangka dengan reaksi yang diberikan Aira. Perempuan ini memang benar-benar, berbeda dengan perempuan lain yang dijumpainya membuat dia semakin penasaran dan tertantang untuk mendapatkan perempuan itu jadi miliknya. Rencananya memang harus berhasil, bagaimanapun caranya. “Lo mikirin apa sih, Ra?” Aira menggeleng pelan, dia menyesap minumannya. ”Enggak kok. Gue gak mikirin apapun.” elak Aira, padahal benaknya terus diisi Zidan dan Meisan. “Tapi, daritadi gue lihat Lo banyak ngelamun. Apa, Lo bosan ya sama gue? Lo pasti keberatan kan nemenin gue cari kado buat nyokap.” tebak Benny, dia menebak asal agar Aira mau menceritakan masalahnya. Aira cepat-cepat menggeleng, dia sama sekali tak keberatan saat Benny memintanya menemani mencari kado untuk Mama laki-laki itu. Dia ikhlas dan mau-mau saja, meskipun sebenarnya mereka baru kenal akhir-akhir ini. “Sorry, ya kalau gue repotin Lo. Padahal kita baru kenal.” “Apaan sih, Benn? Enggak, gue sama sekali gak direpotkan kok. Udah, ah jangan ngomong gitu. Gue gak enak jadinya.” Benny tersenyum simpul, dia mengangguk. Aira mencoba mencairkan lagi suasana, dia beranjak dan langsung menarik tangan Benny. ”Ya udah, ayo kita cari lagi kado buat nyokap Lo. Yuk!” ajak Aira, dia berucap dengan semangatnya. Benny mengangguk, mengikuti kemana Aira akan membawanya. Mereka sebenarnya baru sampai di mall ini, mencari sesuatu yang bahkan sampai sekarang belum didapat. Dan, kali ini mereka akan mencari lagi. “Nyokap Lo sukanya apa?” “whatever,” Aira mengerucutkan bibirnya, dia tak suka jawaban yang tak spesifik seperti itu. Dia inginnya jawabannya yang bisa tertuju pada satu hal, bukan menjerumus pada berbagai hal. “Apa, ya Benn? Gue jadi bingung kalau Lo gak kasih tahu kesukaan nyokap lo.” Benny terdiam, dia sebenarnya juga bingung. Hubungannya dengan sang Mama tidak begitu akrab, hanya karena ingin menemui Aira saja Mama nya menjadi alasan. Toh, tak ada hari spesial apapun yang mesti dirayakan. Jadi, ini semua memang murni rencananya untuk menemui Aira. “Biasanya, nyokap Lo suka apa? Siapa tahu sama gitu selera nyokap kita.” Aira terdiam jadinya. Dia bingung harus menjawab apa pertanyaan Benny. Dirinya tak begitu dekat dengan sang Mama, kesibukan orangtuanya membuat dia jadi tak punya waktu bersama. Jangankan dia yang tahu kesukaan orangtuanya, bahkan belum tentu juga orangtuanya tahu apa yang disuka dan tidak disukainya. Tapi, Aira tahu kesukaan bunda Zidan. Tanaman. Hampir setiap pergi kemanapun dan jika melihat tanaman unik dan menarik, otomatis bunda Zidan menginginkannya. Ingin membeli atau kalau bisa membawa pulang untuk ditanam di taman pribadinya. Jadi, tak ayal jika taman Bunda Zidan dipenuhi banyak tanaman unik dan amat sangat terawat tempatnya. “Ra?" Lagi, Aira tersentak saat Benny menyadarkannya dari lamunan. Aira tersenyum simpul. ”Tanaman aja," “Tanaman?” Aira mengangguk, “Iya, tanaman. Bunda Zidan suka banget sama tanaman, ya siapa tahu nyokap Lo juga.” Benny tak yakin Mama nya akan suka dengan tanaman. Tipe ibu-ibu yang suka keluar rumah, menghabiskan waktu dengan teman-teman sosialita nya akan sangat tak mungkin jika suka tanaman. Kalau perhiasan atau sesuatu yang branded mungkin iya. Tapi, tanaman? Rasanya... Tidak. Tapi, Benny tak mungkin menolak ide Aira. Dia mengangguk saja. “Berarti, kita gak jadi lihat-lihat di mall ini?” tanya Benny. “Enggak, kita pergi ke toko tanaman aja. Gue tahu kok, toko tanaman yang punya tanaman cantik dan unik. Gue sering kesitu sana bunda. Yuk!” Benny mengangguk saja. ”Oke, yuk!” Mereka berjalan beriringan menuju tangga eskalator menuju lantai bawah. Obrolan mengalir begitu saja seperti biasanya. Aira yang mudah berbaur, mudah sekali mendapatkan topik-topik untuk dijadikan bahan obrolan. “Ra, itu bukannya Zidan, ya?” Aira menatap arah yang dimaksud Benny, dia terdiam seketika, menatap Zidan disana bersama Meisan. Entah apa yang mereka lakukan, hanya saja terlihat Meisan yang terlihat senang dengan Zidan yang ternyata tersenyum tipis menanggapi Meisan. Benny mengerutkan keningnya melihat reaksi Aira, “Cewek itu pacarnya, Zidan?” tanya Benny, dia tersenyum menatap Aira yang masih diam dan mengalihkan atensinya dari Zidan. Zidan selalu bilang jangan salah paham jika dirinya dekat dengan Meisan, namun jika kedekatan mereka itu terus menerus apa bisa Aira berpikir untuk tak salah paham? Apa bisa dia berpikir mereka tak ada apa-apa? Benny benar-benar bingung dengan Aira, perempuan itu bahkan tak merespon pertanyaannya. “Ra?” Aira tersentak, menatap Benny yang menatapnya bingung. Dia menaikkan kedua alisnya sebagai jawaban. “Lo, kenapa?” Aira lagi-lagi menggeleng. “Gakpapa kok. Ya udah, yuk kita pergi sekarang!” Benny sebenarnya penasaran, ada apa sebenarnya dengan Aira. Namun, dia tak mau memaksa perempuan itu, takut-takut Aira tak suka padanya. Jadi, dia hanya mengangguk saja, melangkah bersama Aira menuju parkiran dimana motornya berada. Lagipula, dia masih ingat dengan ucapan saudaranya jika Aira tak suka dipaksa. *** “Ra, Lo darimana aja sih? Nih, martabak buat lo.” Aira mencebikkan bibirnya saat Zidan menghampirinya dengan pertanyaan demikian, dibarengi dengan uluran kresek berisi martabak yang disebutkan laki-laki itu. “Lo yang darimana, bukannya gue.” jawab Aira ketus, dia berbalik begitu saja meninggalkan Zidan tanpa menerima martabak yang diberikan lelaki itu. “Gue ada urusan. Tapi, gue nyariin Lo dan Lo gak ada. Lo darimana?” tanya Zidan, dia duduk disamping Aira yang menjatuhkan bokongnya di sofa ruang tamu, menyetel televisi yang langsung menyiarkan acara kartun. “Gue juga ada urusan kali,” Zidan menarik sudut bibirnya, dia tersenyum sinis. “Urusan apa? Kata Mbak, Lo pergi sama cowok. Cowok itu, ya?” tebak Zidan, laki-laki yang dia maksud adalah Benny. Tapi, seperti biasa. Dia enggan menyebut namanya. Aira menoleh, menatap Zidan dengan mata memincing. “Iya, kenapa? Masalah buat Lo?” tanya Aira, dia memainkan alisnya. “Ra, gue kan udah bilang. Dia tuh cowok asing, dia—” “Lo juga ada urusan sama Meisan kan?" Potong Aira cepat yang membuat Zidan terdiam dengan kening mengerut. “Lo tahu darimana?” Aira memutar kasar tubuhnya, dia menatap kembali televisi meskipun sebenarnya dirinya tak benar-benar menyaksikan siaran tersebut. “Bukan urusan lo.” “Tadi tuh, Meisan paksa gue buat bantuin dia cari kado buat nyokapnya. Dan, Lo tahu sendiri kalau ada Bunda, gue gak bisa nolak. Jadi, mau gak mau gue pergi sama dia.” “Masa?” “Serius, Ra.” “Oh.” “Tapi, tunggu! Lo kenapa selalu bersikap kayak gini kalau gue dekat sama Meisan?” tanya Zidan, dia mengerutkan keningnya penasaran dengan tingkah Aira yang selalu begini. “Jangan bilang...” Aira menoleh, bingung dengan apa yang akan dikatakan Zidan. Jangan bilang, lelaki itu curiga dengan sikapnya dan berpikiran jika dirinya cemburu melihat kedekatan Zidan dan perempuan itu. “Jangan bilang apa?” “Jangan bilang, Lo...— Lo ada problem kan sebenarnya sama Meisan. Makanya, Lo selalu kelihatan gak suka tiap kali gue dekat sama dia.” Iya, pemikiran Zidan benar. Aira memang punya problem dengan Meisan. Perempuan yang pernah ada dihati Zidan. Tapi, masalahnya ini hanya menurutnya saja, belum tentu yang lain akan berpikiran sama jika dia memberitahu yang sebenarnya. Aira memincingkan matanya, dia memutar tubuhnya dan duduk bersila menghadap Zidan. “Gue tanya balik pertanyaan itu buat lo.” ucap Aira yang membuat Zidna bingung. “Lo punya problem sama Benny sampai-sampai Lo selalu kesal kalau gue dekat sama dia. Bahkan, Lo gak sudi sebut nama dia. Jujur!” Skakmat. Zidan termakan ucapannya sendiri. “Apaan sih, Lo!” “Lo juga apaan sih!” Balas Zidan, dia ikut berdecak. “Udahlah, nih makan!” tukas Zidan, dia melempar begitu saja kresek yang dibawanya diatas meja. “Gak mau, gue gak suka martabak.” Zidan ternganga mendengar ucapan Aira, dia menggeleng heran kenapa juga bisa punya sahabat seperti Aira modelannya. Zidan bahkan tahu dan hapal betul, jika Aira ini suka sekali dengan martabak, apalagi martabak pisang keju. Martabak itu masuk dalam list makanan favorit Aira. “Ya udah, gak maksa.” “Ya udah, sana pulang!” Zidan beranjak dari duduknya. “Ini juga mau kok!” balas Zidan, nada suaranya tak kalah ketus dari Aira. Aira tak mempedulikan Zidan, meksipun langkah kaki lelaki itu sudah beranjak pergi. Dia hanya melihat Zidan lewat ekor matanya saja, benar-benar mencoba mengabaikan Zidan meskipun tak benar-benar abai. Dan, saat dirasa Zidan sudah pergi dia memutar kasar tubuhnya kearah dimana Zidan pergi. Kepalan tangannya melayang di udara, membayangkan jika Zidan masih ada disini. “Ih... Zidan nyebelin banget sih jadi cowok! Kenapa juga harus pergi beneran coba? Gue kan cuma pura-pura!” kesal Aira. Dia itu tak serius mengusir Zidan, itu hanya gertakan saja. Dan, seharusnya Zidan paham dengan bahasa perempuan. Jika perempuan berkata A, maka yang benar adalah B. Bukan justru iya-iya saja. Mata Aira menangkap kresek tersebut, dia meraihnya dan membukanya. Aroma manis dan gurih dari martabak itu langsung masuk ke hidungnya. Dia suka dengan aroma wanginya. “Gue tuh kesal sama Zidan. Tapi, bukan berarti gue gak mau makan makanan yang dia bawa. Ya, gue masih mau lah. Apalagi gratis, mana martabak lagi!” Aira mengambil sepotong martabak yang masih hangat tersebut, tersenyum lebar menatap makanan yang sebentar lagi masuk ke mulutnya itu. Am! Gigitan pertama berhasil masuk dengan sempurna, dia tersenyum lebar saat rasa nikmat menguasai mulutnya. Benar-benar martabak ini, tak pernah salah. Apalagi Aira yakin, Zidan membeli martabak ini dari tempat langganan mereka. Beuh... Rasanya selalu juara! “Katanya gak suka. Tapi, tetap di makan!” Aira menoleh seketika, Membulatkan mata seketika dengan pipi mengembung berisi martabak, menatap terkejut Zidan yang berdiri disana. “Enak, ya?” Zidan nyebelin! Aira malu jadinya!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN