31. Mungkin Gak, Ya?

1608 Kata
“12 jam lebih, apa masih mau nambah?” Aira mengerutkan keningnya bingung mendengar penuturan yang dilontarkan Zidan. Wajahnya masih masam, masih ngambek dengan Zidan. “Maksudnya apa tuh?” tanya Aira ketus, dia mencebikkan bibirnya. Zidan melirik Aira lewat kaca spion motornya dan kembali fokus pada jalanan didepannya yang lumayan ramai pagi ini. Maklum, jam-jam berangkat sekolah dan bekerja, jadi ramai seperti biasanya. “Masih mau ngambek?” Oh... Aira paham sekarang maksudnya. Dia mengerucutkan bibirnya, terlihat gemas sekali di mata Zidan. “Emang, gue lagi ngambek, ya?" Tanya Aira, pura-pura tak tahu saja. “Gitu, ya. Gak sadar diri.” Aira tak tahan rasanya bertengkar dengan Zidan, terlalu sulit untuk diam dalam keheningan diantara mereka. Dia tak betah rasanya diam-diam, bersikap acuh padahal dirinya amat sangat peduli dengan laki-laki itu. “Ya abisnya, Lo nyebelin sih orangnya. Jadinya kan gue ngambek deh.” “Gue lagi yang disalahin,” “Lah, emang benar kok. Lo bilang sama gue jangan salah paham soal Lo sama Meisan. Tapi, berkali-kali gue lihat sesuatu yang buat gue jadi berpikir kalau kalian itu gak mungkin gak ada apa-apa.” ucap Aira, dia tak sadar diri berucap demikian. Dia yakin, Zidan akan salah paham nantinya. Sehingga dengan cepat di menambahkan. “Ya, gue gak peduli sih Lo mau punya hubungan atau enggak. Kalaupun punya, ya... syukur aja. Cuma, gue tuh gak suka kalau Lo tuh alasan ‘jangan salah paham, ya, gue gak ada apa-apa kok’. Iyuh!” tukas Aira, dia mengejek Zidan juga. Zidan kembali melirik Aira lewat kaca spion. “Emang gue gak punya hubungan apapun sama Meisan. Percaya deh.” Aira mencebikkan bibirnya,dia memutar jengah bola matanya. ”Iya, deh. Per-ca-ya.” “Jadi, masih mau ngambek?” Bola mata Aira menatap keatas, berpikir keras sambil mengerucutkan bibirnya. “Enggak deh, udah selesai ngambeknya.” Zidan dibuat terkekeh mendengar jawaban Aira, dia menggeleng heran. “Selesai?" “Iya, selesai. Capek juga ternyata pura-pura gak peduli tuh.” “Jadi, Lo sebenarnya peduli sama gue?” Oke, Aira salah berucap lagi. Tapi, tenang saja. Dia kan punya otak cemerlang, alasan pun langsung terbesit dibenaknya. “Ya iyalah, Lo tuh sahabat gue, udah kayak sodara malah. Gak enak tahu, sok-sokan gak peduli. Toh, sebenarnya masalah kita kemarin tuh apa, ya? Kayak gak penting gitu loh. Gue yang gaje karena Lo jalan sama Meisan dan Lo juga yang gaje tahu gue pergi sama Benny. Benar gak, sih?” Zidan membenarkan itu semua. Sebenarnya memang apa sih yang jadi permasalahan? Tak ada. Hanya ego mereka saja yang mungkin tersentil saat tahu bahwa orang yang bisanya dekat, kini dekat dengan yang lainnya. “Yaudah, berarti kita baikan, ya.” “Iya, My Zi...” *** “Ra, tolongin!” Aira yang tengah mengantri makanan di kantin dibuat bingung saat tiba-tiba seorang siswi menghampirinya dengan wajah cemas. “Ada apa?” tanya Aira, dia ikutan cemas juga dibuatnya. “Itu, Zidan berantem sama Raka.” Aira mengerutkan keningnya bingung, dia cepat-cepat meninggalkan antrian, pergi bersama siswi yang menghampirinya itu. Dan, tentu saja di taman belakang sekolah sudah bergerombol orang-orang mengelilingi Zidan yang tengah berkelahi—adu hantam bersama Raka. “Mereka berantem kenapa sih?” tanya Aira, dia kesal sekali melihat orang-orang yang lagi-lagi hanya diam tanpa berniat melerai perkelahian itu. “Gue sendiri gak tahu, Ra. Cuma katanya Raka tiba-tiba hajar Zidan gitu aja.” Raka ini, memang sering sekali membuat masalah dengan Zidan. “Terus, ini kenapa pada diam aja sih? Kenapa gak pisahin mereka coba?” kesal Aira, dia benar-benar kesal dengan semua orang disini. Kenapa juga hanya diam, menyaksikan saja. “Gak ada yang berani misahin, Ra." Oke, Aira mungkin terlalu gegabah sekaligus lupa jika dirinya bukan perempuan yang pernah belajar beladiri. Dia tak punya ilmu beladiri apapun, yang dia punya hanya keberanian saja. Dan, salahnya keberaniannya ini justru membuatnya lupa kalau seharusnya dia tak melakukan ini semua. Aira melangkah maju, menyelinap diantara orang-orang untuk kedepan dan menghentikan perkelahian itu. Dia menatap kesal Zidan dan Raka yang masih bertengkar. “Zidan, udah stop!” “Raka, berhenti Lo!” Aira tak didengar atau mungkin teriakannya terlalu kecil untuk didengar mereka. Dan, dengan keberanian yang bodoh, Aira melangkah maju hendak memisahkan mereka berdua. Dan, sialnya justru dirinya yang ikut-ikutan menjadi korban. Dimana Raka yang hendak memukul Zidan justru salah sasaran padanya. Alhasil, bogeman didapatnya dan rasanya benar-benar menyakitkan, bahkan sampai membuat Aira jatuh ke tanah. Sontak, semua orang terkejut melihatnya, tak terkecuali dua orang yang tengah bertengkar itu. Dan, hening seketika. “Ra!” “Aira!” Aira meringis, merasakan sakit di pipinya yang mendapat pukulan dari Raka. Kepalanya bahkan sampai berkunang-kunang dibuatnya. Zidan bersimpuh disamping Aira, pun begitu dengan Raka. “Ra?” “Ra, Lo gakpapa?” Aira langsung menepis tangan mereka yang hendak menyentuh pipinya, masih dengan ringisan dia menatap kesal keduanya yang terlihat cemas menatapnya. “Kalian apaan sih? Pake acara ribut segala! Gue kan yang ikutan kena! Sakit tahu...” *** “Aw... Sakit, Han!” Jihan ikut meringis pelan, dia mengangguk pelan dan kembali mengobati memar di wajah Aira. Sedangkan, Aira sejak tadi terus meringis kesakitan sambil sesekali kekesalan dia ungkapkan karena insiden yang membuat dirinya merasakan sakit ini. “Benar-benar deh mereka! Muka cantik gue juga kan yang kena, mana sakit lagi!” Jihan menghela napas kasar, dia menggeleng pelan. “Kan gue udah pernah bilang, Ra. Kalau ada yang kayak gitu, Lo lapor sama satpam atau guru gitu. Lah, ini sok-sokan Lo yang maju, pisahin mereka. Jagoan Lo?” ejek Jihan yang membuat Aira mencebikkan bibirnya. Benar sih ucapan Jihan. Tapi, kan disaat tadi otaknya tak benar-benar berfungsi normal. Dia bingung harus melakukan apa, apalagi melihat orang-orang yang hanya diam saja. Alhasil, jalan itulah yang dia ambil dan berakhir membuat dirinya seperti sekarang. “Tapi, muka gue masih cantik kan, Han?” tanya Aira, dia cemas sekali mukanya kenapa-napa. Tanpa ada memar saja dirinya tak pernah mendapat pujian dari Zidan, apalagi ada bekas kebiruan. Bisa-bisa semakin buruk saja dia di mata Zidan. Jihan terkekeh menggeleng heran dengan Aira. “Cantik kok, Aira kan cantik terus.” puji Jihan yang membuat Aira tersenyum lebar. Hingga obrolan mereka teralihkan saat ada seseorang yang masuk ke ruang UKS dimana mereka berada kini. “Raka," Ternyata, Raka orangnya, bukan Zidan yang mereka kira. Raka dengan wajah babak belurnya menghampiri mereka, dia menatap bergantian Aira yang menatapnya masam dan Jihan. “Ngapain Lo kesini?” ketus Aira. Raka menatap kesal Aira, perempuan itu masih saja ketus padanya. Tapi, mau bagaimanapun dirinya masih belum bisa menghilangkan perempuan itu dari hatinya. Tapi, penolakan yang diberikan Aira benar-benar melukai harga dirinya, membuat rasa benci itu masih ada. “Gue cuma mau kasih tahu sama Lo. Bilang sama Zidan, kalau suka sama satu orang aja. Jangan maruk!” Aira dan Jihan mengerutkan kening bingung mendengar ucapan Raka. “Maksud Lo apa?” Raka menarik sudut bibirnya sinis, “Tanya sama Zidan maksud gue.” balas Raka kemudian melenggang pergi meninggalkan Jihan dan Aira yang masih bingung. “Maksudnya apa sih?” tanya Aira bingung. “Gue kira mau minta maaf, tahunya ngomong gak jelas!" kesal Aira. Jihan menggeleng, dia berpikir keras, mencoba mencari tahu maksud dari ucapan Raka pada mereka. Dan, saat apa yang dimaksud Raka dimengerti otaknya, dia langsung memekik keras, begitupun Aira yang memekik keras saat Jihan menekan memar nya. “Jihan, sakit...” Jihan meringis pelan, “Aduh, sorry Ra, gue gak sengaja. Sakit, gak?” tanya Jihan cemas. Aira meringis, mencebik kesal. “Ya, sakit lah! Gila, Lo! Lagian, kenapa sih Lo? Pake acara teriak segala juga.” “Enggak, gue cuma kayak relate aja sama apa yang diomongin Raka. Apa jangan-jangan dia berantem sama Zidan karena cewek incarannya, si Meisan itu sukanya sama Zidan. Benar, gak sih Ra?” Aira jadi berpikir demikian mendengar penuturan Jihan. Jadi, itu yang membuat Raka dan Zidan bertengkar, alasannya adalah Meisan. “Tapi,...” Aira mengerutkan keningnya mendengar ucapan Jihan yang ternyata belum selesai. “Tapi, apa?” tanya Aira penasaran. “Raka bilang kalau Zidan suka sama cewek jangan maruk kan?” tanya Jihan memastikan yang diangguki Aira. “Berarti, selain Meisan ada lagi dong cewek yang dia suka?” tanya Jihan yang kembali diangguki Aira. “Itu artinya Zidan suka sama cewek lain?” Aira memutar jengah bola matanya mendengar pertanyaan Jihan. “Intinya, apa?” tanya Aira jengah. “Intinya adalah Zidan suka sama Lo!” Aira terdiam seketika mendengarnya, dia berdehem pelan sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Kenapa dia bingung seperti ini jadinya? “Ya, gak mungkin lah!” balas Aira kikuk, padahal hatinya berbunga-bunga tahu jika itu semua benar adanya. Jihan mengerutkan keningnya, “Apanya yang gak mungkin? Mungkin aja lah, Ra.” balas Jihan. “Kalau ternyata Lo, gimana?” Jihan menghela napas kasar, dia memutar tubuhnya menghadap Aira dan memutar jengah bola matanya. “Gak mungkin gue. Gini loh, Ra logikanya. Raka itu sukanya sama Lo, tapi Lo tolak kan? Dan sekarang dia ngincar Meisan, sedangkan Meisan nya suka sama Zidan dan kita gak tahu kalau Zidan nya suka balik atau enggak. Ini udah jelas banget kalau Zidan itu ternyata suka sama Lo!” Iya sih, Aira membenarkan ucapan Jihan. Namun, dia tak mau menyimpulkan sendiri. Takutnya dia keburu baper dan kenyataanya justru berbanding terbalik dengan apa yang dia harapkan. Dia gak mau sakit hati aja. “Enggak, enggak, gak mungkin.” “Ya ampun, Ra. Apalagi yang gak mungkin.” Aira bingung, dia mengibaskan tangannya. “Ih, gak tahu! Lagian, kalaupun iya gue gak akan terima.” “Maksudnya?” “Kalau Zidan suka sama gue, gue bakalan marah besar sama dia!” “Lah?” “Ya, pokoknya kita sahabat. Udah, itu aja!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN