32. Pengakuan

1517 Kata
“Ih... Apaan sih, Han? Kita mau ngapain?” Aira tak henti-hentinya memberontak saat Jihan terus menerus menarik tangannya, hendak membawanya menemui Zidan. Dan, tujuannya apa? Yaitu, untuk memastikan siapa perempuan yang sebenarnya Zidan suka. Bukan Jihan yang besar hati jika dirinya yang ternyata disukai Zidan seperti apa yang Aira ucapkan, bukan. Niat Jihan hanya untuk menyakinkan Aira jika Zidan itu memang suka nya pada Aira. Cukup, hanya itu saja kok maksudnya. “Tuh, Zidan.” gumam Jihan saat melihat Zidan yang duduk di anak tangga seorang diri. Aira menggeleng saat Jihan hendak membawanya, berkali-kali dia menahan langkah kakinya. Dan, ini bukan Aira sekali orangnya. Dia tak pernah merasa tak nyaman jika akan menemui Zidan. Namun, hanya untuk memastikan perasaan laki-laki itu, hatinya jadi berdebar tak karuan. Takut saja, apa yang diharapkannya dan ditebak Jihan, berbeda dengan kenyatannya. “Zidan!” Aduh, kenapa juga Jihan jadi seberani ini. Kemana Jihan yang akan malu-malu jika menemui Zidan? Rasanya, jiwa Aira dan Jihan baru saja tertukar. Mereka sudah dihadapan Zidan yang langsung beranjak berdiri. “Ra, Lo gakpapa? Sorry, ya karena gue Lo jadi begini.” ucap Zidan, wajahnya memang datar namun kecemasan tak bisa dia sembunyikan lewat nada suaranya. Aira seharusnya marah seperti biasanya, mengeluh seperti Aira seharusnya. Tapi entah karena apa— gugup mungkin membuat Aira justru mengangguk pelan mendengar permintaan maaf Zidan. “Zi, kita kesini bukan sekedar mau dengar Lo minta maaf.” ucap Jihan, perempuan itu sepertinya akan cepat saja berterus terang tujuan mereka—Ah, maksudnya tujuan Jihan menemui Zidan. Zidan mengerutkan keningnya, “Maksudnya?” “Kita mau konfirmasi omongan Raka. Jadi, sebenarnya itu Lo suka sama siapa?” Aira langsung dibuat terdiam dengan jedag-jedug di dadanya, harap-harap cemas mendengar jawaban Zidan. “Maksudnya, gimana?” Jihan melirik Aira yang hanya diam, dia tersenyum lebar dibuatnya. Dia kembali menatap Zidan, “Gini loh, Lo sama Raka ribut karena Raka marah, cewek incarannya itu suka sama Lo. Dan, Raka bilang, dia juga pernah suka sama cewek yang ternyata Lo suka. Apa itu artinya Aira? Cewek yang Lo suka itu, Aira kan, Dan?” tebak Jihan dengan cepat, dia menggangguk yakin. Zidan terdiam dengan wajah datar. Dia melirik Aira yang juga sama diamnya. “Kalau Zidan suka sama gue, gue bakalan marah besar sama dia.” Kata-kata itu masih teringat jelas dibenaknya, ucapan yang dilontarkan Aira yang didengarnya secara langsung. “Ngaco, Lo!” Jihan mengerutkan keningnya, pun begitu dengan Aira yang ikut tersentak mendengar ucapan Zidan. “Yang gue suka itu Lo, bukan Aira.” Sontak, jawaban Zidan itu membuat yang mendengarnya terkejut, bukan hanya mereka berdua saja, namun orang-orang yang kebetulan berhalulalang di sekitar mereka. Pernyataan yang dikeluarkan Zidan benar-benar tak ada yang sangka. “Aira sahabat gue dan Lo, Jihan, cewek yang gue suka sebenarnya.” Aira tersentak kaget dibuatnya, tak sangka ternyata jawaban ini yang diberikan Zidan. Rasanya, benar-benar menyesakkan. Sedangkan, Jihan menggeleng tak percaya, dia menatap Aira dan Zidan bergantian, matanya mengerjap-ngerjap. “Eh, Dan. Lo jangan ngaco deh. Gue tahu kok, Lo tuh—” “Apa Lo gak sadar, Han?” potong Zidan cepat, dia melirik sekilas Aira yang diam dengan raut wajah yang tak bisa diartikan. Dia kembali menatap Jihan. “Lo adalah cewek selain Aira yang gue bonceng, Lo cewek selain Aira yang gue bawa ke rumah dan gue kenalin ke nyokap gue. Lo gak sadar sama itu?” tanya Zidan, wajahnya terlihat serius. “Gue lakuin itu karena gue suka sama Lo.” Jihan diam, tak bisa mengucapkan apapun. Sedangkan, Aira mencoba mencerna ucapan Zidan. Apa yang diucapkan Zidan benar adanya, selain dirinya memang hanya Jihan yang dekat dengan Zidan, meskipun kedekatan mereka tak sedekat saat Aira bersama Zidan. Jadi, benar tebakannya selama ini? “Tapi,—” “Gue suka sama Lo, Jihan.” Jihan menggeleng tak percaya, dia berdecak kesal. “Gak jelas, Lo!” tukas Jihan kesal, dia menatap Aira dan langsung menggenggam tangan Aira. ”Ra, Lo jangan dengerin Zidan, ya. Gue yakin, Zidan tuh—” Aira terkekeh langsung dibuatnya, dia ikut berdecak. “Ih, apaan sih Lo, Han! Benar kata Zidan, gue itu sahabat Zidan. Lagipula, gue juga gak punya perasaan apapun sama Zidan. Gue sama dia, pure sahabat! Gak lebih!” ucap Aira, dia mencoba berkata semeyakin kan mungkin. “Justru, gue senang dengarnya ternyata sahabat gue ini suka sama Lo. Dan, Lo cocok sama Zidan. Gue setuju kalau Lo sama dia.” Jihan menggeleng, ”Tapi, Ra. Masalahnya—” Ucapan Jihan terhenti saat terdengar pemberitahuan jika jam istirahat telah selesai. ”Udah, ah. Yuk kita ke kelas!” *** “Enggak, Aira, enggak. Jangan kayak gini.” Aira menatap pantulan dirinya didepan cermin di meja riasnya. Pulang sekolah, dia langsung pergi ke rumahnya, tak mampir kemanapun meskipun Zidan menawarinya. Rasanya, lebih baik dia sendiri kini. Aira menghapus air matanya yang tak kunjung berhenti, dia menumpu tangannya diatas meja riasnya, kembali menatap dirinya dan memejamkan mata sejenak. “Sakit banget sih rasanya...” Rasanya memang sakit saat tahu orang yang disuka justru suka sama orang lain, apalagi orang itu orang terdekat kita. Sesak rasanya. “Kenapa harus Jihan juga sih? Kenapa harus benar tebakan gue?” kesal Aira, dia terisak pula. Aira memekik kesal, kembali menangis sambil merebahkan kepalanya di atas meja. Dering ponselnya di saku roknya dia abaikan, namun panggilan itu tak hanya berlangsung sekali dua kali, tapi berkali-kali. Aira mengangkat kepalanya, menatap dirinya yang begitu mengenaskan dengan sisa-sisa air mata di wajahnya. Miris sekali dia. Patah hati karena sahabat sendiri. Kenapa juga dia harus menjatuhkan hati pada Zidan? Kenapa dia justru mengharapkan lelaki itu disaat diluar sana ada yang mengharapkannya? Apa memang sudah hukum alam seperti ini, jatuh cinta pada orang yang justru cinta pada orang lain? Tapi, kenapa hukum ini harus berlaku padanya? Kenapa bukan hukum alam dimana dia mencintai dan dicintai orang yang sama? Kenapa, coba? Kembali, dering ponselnya menyala membuat dia kesal dibuatnya. “Siapa sih yang telpon? Gak tahu apa gue lagi patah hati?” Aira menatap layar ponselnya, dia mengabaikan panggilan yang ternyata dari Zidan. Untuk apa juga lelaki itu menelponnya, tidak tahu kah lelaki itu jika dirinya ini tengah merasakan patah hati yang mendalam karena ulahnya itu? “Hallo, Zi. Ada apa sih Lo telpon gue?” “Lo, baik-baik aja kan Ra?” “Gue baik-baik aja kok. Ada apa?” “Enggak, gue sebenarnya...” Aira menunggu apa lagi yang akan diucapkan Zidan, namun lelaki itu justru masih diam dan tertebak sekali jika sebenarnya lelaki itu ragu untuk mengatakan maksudnya. “Sebenarnya apa?” “Gue—” Tok...tok... Aira menoleh kearah pintu, dia dengan cepat menghapus sisa-sisa air matanya sambil berjalan menuju pintu. “Ada apa, mbak?” tanya Aira saat dirinya membuka pintu dan menemukan Mbak Kiki. “Itu, didepan ada teman non. Katanya mau ketemu.” “Siapa?” “Itu loh, non. Den Ben Ben, Ben?” tanya Mbak Kiki bingung, dia lupa siapa nama teman majikannya ini. “Benny?” tebak Aira. Mbak Kiki menjentikkan jarinya, mengangguk cepat. “Iya non, Den Benny.” “Oh, ya udah. Suruh tunggu dulu aja.” “Oke, non. Mbak permisi ya, non.” “Makasih, ya, mbak.” Aira kembali menempelkan ponsel ke telinganya saat Mbak Kiki beranjak pergi, ternyata panggilan tersebut masih terhubung juga. “Zi, Lo mau ngomong apa tadi? Lo kenapa?” tanya Aira, dia berjalan kearah meja riasnya. “Tunggu! Benny ke rumah Lo?” Aira mengerutkan keningnya, “Iya, kata mbak.” jawab Aira, dia berdecak kemudian. “Udah deh, Lo tadi mau ngomong apa? Buruan!” “Lupain," Aira mendengus, “Gak jelas Lo!” tukas Aira kemudian mematikan panggilan tersebut secara sepihak. Aira menatap dirimu didepan cermin, kembali meneliti penampilannya. Dia menghapus air matanya, sedikit memoleskan liptint di bibirnya. Rambutnya yang acak-acakan karena terurai tadi, dia pilih untuk mengikatnya. Ya, setidaknya saat ini penampilannya lebih baik. Jadi, gak ketahuan juga jika sebenarnya dia sedang patah hati. Aira melangkah keluar dari kamarnya, menghampiri Benny yang ternyata lebih memilih duduk di kursi teras. “Benn,” Benny menoleh, tersenyum menatap Aira yang menghampirinya. Dia beranjak berdiri, berhadapan dengan Aira yang masih mengenakan seragam sekolahnya. Biasa saja, namun tak bisa dipungkiri jika aura Aira ini berbeda. “Ada apa? Tumben banget kesini jam segini.” Aira duduk, diikuti Benny. Benny tersenyum, dia mengambil paper bag kemudian meletakkan diatas meja yang membuat Aira mengerutkan kening bingung dibuatnya. “Apaan nih?” “Hadiah buat Lo. Nyokap senang banget sama tanaman yang Lo pilih.” Aira tersenyum lebar, “Ya ampun... Gak usah repot-repot kali. Gue ikhlas kok bantuin Lo nyari hadiah buat nyokap Lo.” “Tapi, gue yang gak ikhlas kalau gak kasih Lo apa-apa setelah Lo bantuin gue. Di terima, ya.” Aira tersenyum, mengangguk akhirnya. “Thank you, ya... Gue terima deh...” “Oh, iya, Ra. Sebenarnya gue kesini bukan cuma sekedar buat kasih Lo hadiah ini.” Aira mengerutkan keningnya, dia mengangguk-angguk. “Heeh, terus?” tanya Aira, dia menunggu apa yang akan diucapkan Benny selanjutnya. “Gue tahu, ini gak romantis. Tapi, gue suka sama lo. Lo mau kan jadi pacar gue?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN