33. Bersikap Biasa

1097 Kata
Canggung yang ada diantara mereka. Aira yang biasanya mampu mencairkan suasana, kini tidak. Perempuan itu justru ikut-ikutan diam seperti lawan bicaranya. Dan, itu bukan Aira sekali rasanya. “Zi, gue—” Zidan mengangguk cepat, dia menyampirkan tasnya dan kembali memakai helm miliknya. “Oke, gue ngerti kok.” potong Zidan, dia menyalakan mesin motornya. “Yaudah, gue cabut duluan.” lanjut Zidan kemudian melajukan motornya pergi meninggalkan Aira yang bahkan masih belum menyelesaikan ucapannya. Aira hanya bisa diam, menatap kepergian Zidan. Dia memejamkan matanya sejenak dan menghela napas kasar. Kenapa juga hubungannya bersama Zidan jadi seperti sekarang? Aneh sekali rasanya. Hingga kedatangan motor membuatnya kembali tersadar, membuat Aira mendongak dan mencoba menetralkan ekspresi wajahnya. Benny, pacarnya. Mereka resmi pacaran kemarin, saat Benny mengungkapkan perasaannya dan ingin menjadikan Aira kekasihnya. Entah sadar atau tidak, Aira justru mengangguk sebagai jawaban atas ungkapan Benny. Meksipun kemarin sebenarnya, mata Aira tertuju pada Zidan yang berdiri di ambang pintu gerbangnya. “Pagi, Ra. Yuk, berangkat!" ajak Benny sambil menyodorkan helm pada Aira. Aira mengangguk, menerima helm tersebut. “Makasih, ya, Benn. Padahal Lo gak perlu loh jemput dan antar gue, gue bisa bareng sama Zidan loh sebenarnya.” ucap Aira, motor yang dikendarai Benny melaju meninggalkan rumahnya menuju sekolah. “Gakpapa lah, kan sekarang gue ini udah jadi pacar Lo. Bukan masalah buat gue.” balas Benny, dia melirik Aira lewat kaca spion motornya. “Tapi, kita gak searah loh. Nanti, Lo telat lagi.” “Bukan masalah,” Aira hanya mampu menghela napas kasar, dia mengangguk saja akhirnya. Benny ini baik, sepertinya. Karena sejauh dia mengenal Benny, perlakuan lelaki itu selalu baik, selalu menghormatinya sebagai perempuan. Dan, sebenarnya dia bisa saja tulus menerima Benny, sayangnya hatinya belum bisa sepenuhnya. Hati Aira masih tertuju pada satu orang. Disepanjang perjalanan pun, Benny banyak bicara dan justru sebaliknya, Aira hanya menanggapi seadanya. Dan, keadaan ini berbanding terbalik saat Aira bersama Zidan tentunya. “Makasih, ya, Benn.” “Iya. Ya udah, gue cabut, ya. Nanti pulang sekolah, gue jemput lo.” Aira mengangguk, dia tersenyum manis pada Benny. “Lo hati-hati, kabarin gue kalau udah nyampe sekolah.” “Oke, bye!” Aira menatap kepergian Benny, senyum yang tadi ada di bibirnya luntur seketika. Tak pernah Aira semalas ini datang ke sekolah, dia biasanya semangat terus. Tapi, kali ini dia rasa berbeda. Dengan malas, dia berjalan memasuki area sekolah. Namun, ada satu hal yang seketika menghentikan langkahnya, yaitu saat motor Zidan memasuki area sekolah, melewatinya. Bukan masalah Zidan nya, namun perempuan yang dibonceng laki-laki itu. Jihan. *** “Ra, gue tadi gak sengaja ketemu Zidan. Dia nawarin tumpangan buat gue dan dengan terpaksa gue terima tawaran dia.” Aira terdiam sejenak mendengar penjelasan Jihan yang baru datang itu, dia langsung menunjukkan senyum lebarnya, bersikap biasa-biasa saja. “Ya ampun... Terus, apa hubungannya sama gue?” tanya Aira, dia menggeleng heran sambil terkekeh. “Nih, ya, Han. Dengerin gue! Zidan itu suka sama Lo dan apa yang dia lakuin sama Lo adalah cara dia mengungkapkan perasaan dia. Salah satunya itu tadi, dia nawarin tumpangan buat Lo. Dan, gue gak masalah dengan itu. Itu hak Zidan, bukan kuasa gue larang-larang dia ataupun Lo. Itu hak kalian.” Jihan terdiam, dia masih tak enak hati sebenarnya dengan Aira. Niatnya kemarin ingin menyakinkan Aira bahwa perempuan itu yang disuka Zidan, namun kenyataanya justru berbanding terbalik dengan bayangannya. Zidan justru suka dirinya. Meksipun dia tak yakin seratus persen dengan itu semua. Dia sangat ragu! “Tapi, Ra, gue gak enak sama Lo. Apalagi karena kemarin.” Aira mengerucut bibirnya, memukul pelan kedua pipi Jihan. “Ih... Gemas banget sih gue sama Lo!" tukas Aira. “Udah berapa kali gue bilang, kalau gue sama Zidan itu cuma sahabat. Jadi, apa yang terjadi kemarin bukan masalah buat gue. Lagian nih, ya, gue tuh punya perasaan sama cowok lain. Percaya deh!” “Gue gak percaya. Gue yakin, Lo kemarin sakit hati kan sama kebohongan Zidan?” Aira menggeleng, dia patah hati. “Sama sekali enggak karena gue emang tahu itu. Dan, gue gak bohong soal gue punya perasaan sama cowok lain. Mau bukti?” tanya Aira yang tentu saja diangguki Jihan. Aira mengambil ponselnya, menunjukkan potret dirinya bersama Benny semalam. Di potret tersebut ada dirinya dan Benny yang baru saja meresmikan hubungan mereka, dengan senyum lebar tercetak jelas di bibirnya. Aira melirik Jihan yang terkejut. “Gimana, percaya, gak?” tanya Aira yang masih saja membuat Jihan diam tak menjawab. “Dia itu Benny, cowok yang pernah nolongin gue gitu. Nah, dari situ gue suka sama dia. Dan, semalam gue jadian sama dia.” Jihan menggeleng tak percaya. “Lo bohong kan sama gue?” tanya Jihan memastikan, dia benar-benar tak yakin. Aira memutar jengah bola matanya. “Ya elah... harus berapa kali gue jelasin sama Lo? Gue gak bohong. Kalau gak percaya, tanya langsung sama Zidan. Dia bahkan tahu kok, dia juga tahu kalau gue sering banget jalan sama Benny. Tanya gih! “Ra, Lo serius ini?” Aira menunjuk wajahnya, menunjukkan ekspresi seriusnya. “Keliatan becanda?" tanya Aira yang mendapat gelengan dari Jihan. Aira mengendikan bahunya. “Ya udah.” balas Aira. Jihan menghela napas kasar, dia menunduk dan melirik Aira kemudian. “Gue gak nyangka, ternyata Zidan punya perasaan sama gue. Padahal kemarin niat gue bukan kayak gitu, tapi ternyata kenyatannya bikin semuanya kaget.” Jangankan Jihan, Aira saja kaget mengetahuinya. Namun, Aira tak mungkin menjawab demikian. “Gue juga bilang apa kan?” tukas Aira. “Terus, gue harus gimana, Ra? Gue jadi ngerasa canggung jadinya.” Aira juga bingung harus menjawab apa. “Ya... Gimana, ya Han? Gue juga bingung jawabnya.” Jihan mengerucutkan bibirnya, dia langsung menegakkan tubuhnya seketika dan terkejut saat melihat Zidan yang masuk ke kelas mereka. “Aduh, Ra, Zidan ada lagi. Gue ke bangku gue, ya.” ucap Jihan cepat kemudian beranjak pergi. Aira hanya mampu menarik tipis bibirnya melihat gelagat Jihan, salah tingkah sekali perempuan itu. “Mau kemana, Lo?” tanya Zidan saat dirinya datang dan melihat Aira yang membereskan barang-barangnya. Aira tersenyum, “Mau pindah. Jadi, Lo bisa duduk sama Jihan, Zi.” jawab Aira yang membuat Zidan berdecak sambil memutar bola matanya. “Apa sih, Lo?” tukas Zidan kesal, “Duduk!” titah Zidan dengan wajah datar dan sebelah alisnya menunjuk tempat Aira semula. “Tapi,—” “Duduk!” Aira mengerucutkan bibirnya, dia perlahan duduk kembali. Matanya melirik Jihan, menunjukkan wajah sedihnya karena gagal melakukan rencananya. Sedangkan, Jihan langsung menunjukkan wajah kesalnya melihat apa yang akan dilakukan Aira. “Bersikap biasa, jangan berubah, Ra.” Aira terdiam seketika mendengar ucapan Zidan padanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN