Di sebuah desa terpencil, di daerah pegunungan Sitoyo, saya terpanggil melayani anak- anak di sana. Setiap hari Senin sampai Sabtu kami bekerja di kantor yayasan bersama beberapa teman. setiap hari Rabu,Kamis dan Jumat kami turun ke lapangan, tepatnya di SD lerep( sebelah kampung Sitoyo) untuk memberikan les tambahan pelajaran sekolah kepada anak-anak kurang mampu. Di situ anak-anak juga mendapatkan gizi tambahan, jika mereka sakit ada bantuan mereka, jika mereka ulang tahun ada juga hadiah dari seponsor untuk mereka. Tapi aneh, gaji untuk kami para staf sangat minim bahkan terlalu minim. Waktu itu saya tinggal di gereja dan membantu pelayanan gembala tersebut, saya senang sekaligus dilema. Hampir setiap hari saya mendengar pertengkaran antara gembala itu sama jemaat, gembala dengan gembala lain yang tergabung dalam tim yayasan tersebut. Saya berada di tengah-tengah, karena saya tinggal di gereja makanya gembala tersebut leluasa menyetir saya, menyuruh saya ini itu sesuai dengan mau beliau,dan saya sering terjebak dalam situasi panas, saya bingung karena ini situasi yang seharusnya membawa saya untuk mengenal Tuhan lebih dekat tetapi kok malah yang saya lihat tidak seperti itu, tuntutan demi tuntutan,bentakan,tangisan,saling menyalahkan satu sama lain. Bahkan para hamba Tuhan sering kali juga memberi contoh yang kurang baik melalui ucapan mereka. Beginkah kalau jadi pintar? beginikah seorang tamatan Theologia? saya ragu. Tapi waktu itu saya masih teramat rindu untuk sekolah theologi,saya berdoa bahkan berpuasa agar Tuhan jawab doa saya. Setelah 1,5 tahun akhirnya saya mengundurkan diri dari yayasan terebut. Saya bertekad mau melanjutkan study saya, saya melanglang buana selama 3 tahun untuk mencari peluang dan biaya