Bab 18

1189 Kata

Hari ini, giliran Adis yang berkunjung ke rumah Fariz sebagai perkenalan awal. Semoga saja semua berjalan lancar. Orang-orang bilang, calon mertua itu menyeramkan. Lebih menyeramkan lagi, saat kita sudah menjadi menantu. Namun, Adis percaya, tidak semua Fariz mengetuk pintu, lalu, seorang gadis kecil tersenyum riang.”Halo, Om!” “Eh, Tamara, di sini?” Fariz mengusap puncak kepalanya. “Iya, Om. Ayo masuk!”katanya dengan ceria. “Ayo, sayang.” Adis mengangguk deg-degan. Ia tidak membawa apa pun sebagai buah tangan. Tidak seperti calon menantu pada umumnya. Ia tidak menggunakan cara itu untuk menarik hati calon mertua. “Mama!” Panggil Fariz. Wanita tua berkacamata itu menoleh. Ia tertawa dengan begitu bersahaja menyambut Adis dan Fariz. ”Kalian sudah datang....” “Iya, Ma. Ini Adis, pac

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN